
"Annyeong... " kata - kata yang pertama kali Hanna dengar yang meluncur dari mulut Mr. Im saat itu.
Bu Shinta membungkuk menunjukkan salam hormatnya pada mantan mertuanya itu.
Hanna dan yang lainnya pun mengikuti dan meniru dari belakang.
"Sudah lama kita tidak berjumpa, bagaimana kabarmu?" tanya Mr. Im pada bu Shinta.
"Baik, dan sehat, saya berharap anda pun selalu sehat !!" sahut bu Shinta.
Sekilas, tidak nampak keanehan apapun yang terlihat di mata Hanna.
Baik Mr. Im maupun bu Shinta, keduanya nampak terlihat akrab dan saling melemparkan senyuman.
"Apa mereka cucu menantu dan cicitku?" tanya Mr. Im, pandangan matanya beralih pada Hanna dan Hwan.
Bu Shinta menengok ke belakang dan memberi Hanna sebuah isyarat.
Hanna langsung memperkenalkan dirinya dengan menggunakan bahasa Inggris.
"Selamat siang kakek, saya Hanna, istri Siwan Oppa, dan ini anak kami, Hwan namanya," ucap Hanna dengan penuh senyuman.
"Kemarilah, mendekatlah, kau tidak boleh hanya berdiri disitu, kalian pasti lelah, ayo masuklah, cucuku... " sahut tuan Im dengan bahasa Inggris pula.
Hanna dan bu Shinta pun bersamaan melangkahkan kakinya mendekat pada Mr. Im.
Sebelum masuk ke dalam, Mr. Im sempat menyapa Hwan dan menyentuh wajahnya dengan ramah.
Saat langkah kaki Hanna mulai menginjak di dalam mansion bergaya Eropa Klasik itu, ia merasakan takjub akan kemewahan yang ada di dalamnya.
"Kalian belum makan siang kan, bagaimana kalau kita makan bersama sebelum kalian beristirahat," ucap Mr. Im.
"Ayah, dimana dia?" sela bu Shinta.
Mr. Im menatap bu Shinta sesaat kemudian berkata, "dia akan segera kemari," lalu Mr. Im memberi sebuah isyarat pada anak buahnya.
Dan, tidak lama kemudian, dari salah satu sudut ruangan tersebut terdapat derap langkah kaki beberapa orang yang sepatunya menimbulkan suara ribut seakan orang tersebut berlari kencang ke arah mereka.
Secara bersamaan Hanna dan yang lainnya melirik ke arah salah satu sudut ruangan tersebut untuk memastikan apakah benar suara tersebut berasal dari sana.
Dan, ternyata, benar saja, suara derap langkah kaki orang yang berlari itu berasal dari sepatu Siwan dan Aji.
"Chagiya... " dengan nafas terengah-engah Siwan yang sempat berhenti kemudian melanjutkan kembali langkahnya.
Siwan berlari mendekat pada Hanna dan memeluknya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Siwan, kemudian melepaskan pelukannya karena menyadari ada penghalang di antara mereka, yaitu putranya Hwan.
Hanna menganggukkan kepalanya dan menatapnya haru.
"Anakku, papa disini, kemarilah, aku sangat merindukanmu,!!" Siwan menarik Hwan dari pelukan Hanna, lalu memeluk dan menciumi putranya dengan penuh kasih sayang.
Hanna sempat melihat tangan Siwan di balut oleh sedikit perban.
Namun belum sempat ia menanyakannya, Mr. Im kembali berbicara, membuat Hanna tercekat dan mengurungkan niatnya.
"Siwan, ayo ajak mereka makan beristirahat di atas sejenak, lalu bawa mereka menuju ruang makan, kita makan siang bersama," ucap Mr. Im.
Siwan tidak menyahut apa yang di katakan oleh kakeknya, ia kemudian menyapa ibunya dan mengajaknya menuju lantai dua mansion tersebut.
Sepanjang perjalanan menuju lantai dua, tidak ada satupun yang mengeluarkan suaranya. Suasana menjadi kaku dan terlihat menegangkan.
"Apa aku sedang berada di dalam kastil tua milik seorang raja vampire, mengapa hawa dingin sejak aku menginjakkan kaki disini selalu menusuk kulitku," gumam Hanna.
Di lantai dua, Siwan mengajak semua keluarganya masuk ke dalam sebuah ruangan.
Ruangan yang cukup besar yang ada pada sebuah kamar tidur.
"Nak, apa yang terjadi pada kalian?" bu Shinta menatap Siwan, kemudian beralih pada Aji.
Bu Shinta bisa melihat dengan jelas ada bekas luka yang terpampang di wajah mereka, begitupula dengan tangan dan jari-jari mereka.
"Pria tua itu mencoba mengurungku di bawah tanah, dia menyita semua barang kami di hotel !!" ucap Siwan.
"Apa dia melakukan sesuatu selain itu?" tanya bu Shinta.
"Tidak, dia hanya mencoba menahanku selama tiga hari ini, " jawab Siwan.
"Jadi, misi kalian..?" bu Shinta menghentikan ucapannya secara paksa, ia menahan dirinya untuk tidak melanjutkan perkataan selanjutnya.
"Nihil, bahkan kita belum sempat mengerjakan apapun, !!" Aji yang menjawabnya.
"Lalu, apa selanjutnya, apa kita akan tinggal disini untuk sementara?" tanya bu Shinta.
"Sepertinya, hanya tempat ini yang paling aman, untuk kita, tapi kalian harus tetap waspada, masih sering terlihat tikus berlalu lalang di mansion tua ini," jawab Siwan.
"Kak, sebaiknya kita segera turun, biarkan mereka makan siang terlebih dahulu !!" seru Aji.
"Baiklah, siapa tahu pria tua itu mau menjelaskan tentang situasi yang sedang kita alami ini, " ucap Siwan.
Setelah menyimpan tas dan koper ke kamar masing-masing, mereka turun menuju ruang makan di lantai satu.
Sebuah ruang makan yang begitu besar dengan meja makan sangat lebar dan panjang, membuat Hanna kembali takjub. Pasalnya, baru kali ini ia melihat dengan mata kepalanya secara langsung ruang makan sebesar ini. Biasanya ia hanya melihatnya di sinetron atau drakor yang sering ia tonton.
Lampu hias kristal yang sangat cantik menggantung di tengah meja makan yang sudah banyak terhidang beraneka ragam masakan di atasnya, bahkan selain itu beberapa vas dengan bunga-bunga cantik yang bertengger di atasnya mempercantik beberapa sudut meja makan.
Mr. Im duduk di ujung meja, di sampingnya bu Shinta. Diseberang bu Shinta ada Siwan dan Hanna, Hwan pun ikut serta bersama mereka, Hwan duduk pada sebuah kursi bayi di samping Hanna dan bi Lastri. Aji duduk berdampingan dengan bu Shinta dan Elsa.
"Silahkan, nikmatilah makan siang kalian, " ucap Mr. Im.
Yang lain sudah mulai membalikkan piring masing-masing, namun tidak dengan Hanna.
Siwan yang menyadari kebiasaan istrinya secepat kilat dapat memahami apa yang di rasakan oleh istrinya.
"Kau ragu?" tanya Siwan berbisik.
"Iya, maaf !!" jawab Hanna.
Mr. Im nampaknya menyadari kegelisahan Hanna.
"Ada apa, nak Hanna? apa kau takut aku meracuni makananmu?" tanya Mr. Im.
"Tidak...bukan itu kakek, aku tidak selancang itu menuduh makanan ini," ujar Hanna.
"Dia seorang muslim, dia selalu memastikan apa yang ia makan tidak mengandung b*bi ataupun alkohol !!" tegas Siwan.
"Aku tahu, kau pikir aku tidak pernah menyelidiki latar belakangnya," sahut Mr. Im.
"Makanlah nak, aku mengganti koki masakku selama kalian ada disini, kokinya seorang muslim juga, jadi kau tidak perlu cemaskan hal itu, ayo makanlah...!!"
Akhirnya Hanna pun dapat memasukkan makanan yang terlihat lezat di depannya itu tanpa rasa khawatir. Sebelum makan, ia dan Siwan sempat berdoa dengan cara berbeda dengan cara yang di lakukan oleh yang lainnya.
Sesekali, di sela makan siang mereka, Mr. Im menanyakan tentang Hwan, kebiasaanya, makanan kesukaannya, dan mainan favoritnya apa.
Sebelum menjawab semua pertanyaan Mr. Im, Hanna selalu melirik ke arah suaminya dan menjawab pertanyaan itu dengan raut wajah tegang.
Selesai makan siang, mereka kembali ke kamar masing-masing, kecuali Siwan, ia menghampiri ibunya yang sudah lebih dahulu memasuki kamarnya.
"Bu, bisa jelaskan padaku, mengapa kalian pergi menyusulku kemari?" tanya Siwan.
"Aku terpaksa nak, aku takut kau tidak akan pernah kembali lagi," jawab bu Shinta. memalingkan wajahnya dari hadapan Siwan.
"Katakan sejujurnya padaku, bu!!" Siwan merangkul pundak ibunya dan membawanya duduk di sofa yang ada di dalam kamar itu.
Flashback...
Malam itu, hari dimana Siwan pergi ke Seoul bersama Aji, bi Shinta yang baru selesai makan terburu-buru menuju ke kamarnya saat menerima panggilan telepon dari seseorang.
"Hallo, lama tidak mendengar suaramu, bagaimana kabarmu?" tanya seorang pria di sebrang sana dengan menggunakan bahasa Korea.
"Ada apa? untuk apa kau meneleponku?" tanya bu Shinta.
"Datanglah kemari, bawa serta cucu menantu dan anaknya," sambung pria di seberang sana.
"Jangan bermimpi !!" ucap bu Shinta.
"Baiklah, kalau kau tidak mau dia kembali lagi, tidak apa, pilihan ada di tanganmu !!" ucap pria itu, lalu memutus sambungan teleponnya.
Bu Shinta nampak emosi, ia berdecak kesal. Terutama ketika hpnya kembali menyala, ada notifikasi pesan masuk pada salah satu aplikasi yang ada di layar hpnya.
Seseorang mengirimnya beberapa foto, dan bu Shinta tercengang ketika mengklik salah satu foto yang sudah berhasil terunduh di layar hpnya.
"Siwan !!" pekiknya.
Untuk beberapa detik ia masih mencoba mencerna apa yang baru saja di katakan oleh seseorang lewat telepon tadi, dan kini, ia paham apa yang di ucapkan oleh pria itu.
Bu Shinta langsung menelpon seseorang lewat hpnya, mereka mengobrol sangat lama dan entah apa yang mereka bicarakan.
Selesai menelpon orang itu, kemudian bu Shinta menelepon lagi pada orang yang berbeda.
"Temui aku di ruang kerja anakku, sekarang !!" ucapnya, lalu menutup kembali teleponnya.
Kemudian bu Shinta bergegas keluar kamarnya dan menuju ruang kerja Siwan.
Disana, ternyata ia sedang menunggu Elsa. Kemudian bu Shinta menceritakan tentang apa yang di alami oleh Siwan pada Elsa dan berdiskusi dengannya.
"Dia, apa belum cukup dia menyiksaku disisa hidupku !!" gumam bu Shinta, ia terlihat geram.
...****...
Selesai berdiskusi dengan ibunya, Siwan pun kembali masuk ke dalam kamarnya, dan disana, Hanna sudah terbaring dan tertidur bersama Hwan.
Siwan mendekat perlahan dan duduk di bibir ranjang dengan hati-hati karena tidak ingin mengganggu tidur nyenyak kedua orang yang sangat ia cintai kini.
Siwan mengelus wajah putranya kemudian mencium kening dan pipi tembemnya.
Beralih pada istrinya, ia hanya memandanginya saja sambil tersenyum, tangannya sudah melayang, ia ingin mengusap wajah istrinya juga, akan tetapi ia urungkan, karena perlahan Hanna mulai membuka matanya.
"Mas, aku ketiduran," ucap Hanna kemudian bangkit perlahan dan duduk di atas ranjangnya.
"Ssssttt.... " Siwan memberi isyarat pada Hanna agar tidak berisik di dekat Hwan, takutnya nanti dia terbangun.
Siwan lantas beranjak mengitari ranjang dan menarik lengan Hanna agar ia mengikutinya sampai pada sofa letter L yang ada di kamar itu.
Siwan duduk bersandar pada sofa, sedangkan Hanna bersandar pada dada bidang suaminya.
"Mas, apa kau marah padaku? aku tidak menuruti perkataanmu untuk tetap menunggumu pulang, " ucap Hanna, merasa sedih melihat suaminya tidak banyak mengeluarkan kata-kata.
"Tidak, aku tidak bisa marah, kalian justru menyelamatkanku," jawabnya.
"Menyelamatkanmu?" Hanna bangkit dan menatap wajah suaminya dengan penuh curiga.
"Pria tua itu menyekapku di ruang bawah tanah, dia marah padaku karena aku merubah kewarganegaraanku tanpa sepengetahuannya," Siwan mengusap wajah istrinya yang terlihat merasa bersalah. Biar bagaimanapun, Siwan melakukan semua itu pasti salah satu alasannya karena dirinya.
"Tapi kau jangan cemas, aku tidak menyesal sama sekali, aku memang sejak dulu ingin melepas semua yang aku miliki di negara kelahiranku ini, rasanya dadaku selalu sesak saat aku berada disini, terutama di dekat para pria tua itu, " ujar Siwan, dengan nada penuh amarah.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu dan keluargamu, aku tidak akan banyak berkomentar, aku hanya akan mendengarkan, jadi, kumohon, jangan ada yang kau tutupi dariku, apapun itu, aku ini sekarang istrimu, bahkan saat kau pergi beberapa hari yang lalu, kau masih menyisakan tanya di benakku yang belum terjawab, ada apa? apa yang terjadi? apa kau tidak mau menceritakannya padaku? dan ini, kenapa tanganmu sampai terluka seperti ini?" Hanna menyentuh kedua telapak tangan Siwan yang di balut perban.
"Ini hanyalah luka karena kebodohanku, aku meninju pintu besi di ruang bawah tanah karena merasa kesal, tidak apa, jangan cemas !!" ucap Siwan.
Kemudian, Siwan lanjut menceritakan tentang apa yang terjadi padanya belakangan ini.
Niat awal dia pergi ke Seoul bersama Aji adalah untuk membalaskan dendam pada orang yang sudah memberi penderitaan pada Siwan dan keluarganya. Bahkan orang itu juga merupakan orang yang sama yang memberi perintah pada Tiger untuk menculik Hwan dan Hanna saat di Bali dulu.
"Siapa dia? jangan katakan kalau dia kakekmu," Hanna merasa terkejut sendiri dengan pemikirannya.
"Bukan, bukan dia, pria tua itu justru hanya menggagalkan rencanaku, aku kesal padanya !!" Siwan berdecak, dan terlihat mengerutkan keningnya.
"Astagfirullah, aku sudah suudzon, maafkan aku ya Alloh," gumam Hanna.
"Mas, sejak tadi kau terus memanggilnya 'pria tua' pada kakekmu, beliau itu orangtua, kau tidak seharusnya kau memanggilnya begitu, ingat, kau juga sekarang sudah menjadi orangtua !!" Hanna mencoba mengingatkan Siwan agar dia tidak terus menerus bersikap tidak sopan pada keluarganya.
Sesaat, Siwan memalingkan wajahnya dari Hanna.
Namun Hanna kembali menarik wajah Siwan agar mereka saling menatap.
"Kau tidak mau aku ingatkan? kau marah juga padaku?" tanya Hanna.
"Tidak, bukan begitu, ada alasannya, dan aku belum bisa menceritakannya padamu, ini semua kulakukan demi menjaga harga diri seseorang, aku minta maaf, aku belum bisa menceritakan sebuah fakta yang akan membuatmu bingung tentang keluargaku, tapi, percayalah padaku, aku akan selalu setia padamu," ucap Siwan, memasang wajah penuh harap, agar istrinya mau percaya padanya.
"Kenapa jadi membahas kesetiaan, kau ini aneh, kenapa jadi melenceng dari topik pembahasaan awal yang kau ceritakan padaku, " Hanna sedikit tertawa.
"Di hatiku memang selalu ada dirimu, wanita yang mengisi hati dan pikiranku, sejak pertama kali mengenalmu, aku tidak bisa berpaling darimu yang berwajah cantik dan sexy ini, " Siwan mencoba merayu istrinya.
"Ish... gombal, sejak kapan kau belajar menggombal seperti itu?" Hanna tersenyum, namun merasa risih dengan suaminya sendiri yang kini memasang wajah seperti seorang pria mesum.
"Entahlah, saat di dekatmu, rasanya mulutku selalu ingin memujimu, tanganku tidak pernah bisa menahan untuk tidak menyentuhmu, dan bibirmu yang mungil ini, 'cup... Siwan mengecup bibir Hanna' aku tidak pernah bisa tahan untuk tidak menyesapnya, kau ini candu bagiku, aku benar-benar tidak sanggup lagi jauh darimu, rasanya sangat tersiksa sekali,"
"Ahjussi.... hentikan... " ucap Hanna merasa geli sendiri mendengar rayuan suaminya.
"Ahjussi... apa aku pamanmu?"
"Iya, kau paman, eh.. m-maksudku om-om yang merayuku sejak dulu, dasar tukang gombal !!"
"Tapi kau suka kan? " tanya Siwan sambil menggelitik perut kekasihnya.
"Apa sih, hentikan mas, nanti Hwan bangun, ampun mas !!" Hanna memohon ampun agar Siwan menghentikan aksi jahilnya, ia terus tertawa karena tidak bisa menahan rasa geli di gelitik oleh tangan jahil suaminya.
Untuk beberapa saat keduanya nampak bercanda tawa bahagia. Melepas kerinduan yang tertahan selama beberapa hari ke belakang.
Siwan seketika melupakan masalah yang sedang menumpuk di dalam pikirannya. Hanna layaknya sebuah obat, untuk hatinya yang sedang merasakan perih karena luka, luka lama yang kembali menganga.
...***...
Hai readers, mungkin tidak akan lama lagi cerita Siwan dan Hanna akan tamat.
Tapi, masih ada benang merah yang belum terurai.
Akan secepatnya di ungkap oleh othor dalam beberapa episode mendatang.
Apa kalian masih penasaran, siapa dalang di balik semua kesengsaraan Siwan selama ini, terutama tentang rekayasa kecelakaan helikopter yang Siwan alami.
Tunggu cerita selanjutnya yaa...
Makasih banyak atas dukungannya dan juha masih mau baca cerita karya othor ini.
Love u all