My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Tragedi Lukisan



Hanna terpaku selama beberapa detik setelah mendengar pernyataan Rita di depannya. Lalu dia kembali tersadar dan bertanya pada Rita kembali.


" Apa maksud perkataanmu?" tanya Hanna.


" Oke, aku jelasin ya, tapi, jangan bilang Sammy aku yang memberitahumu, deal.. " Ucap Rita.


Hanna menganggukan kepalanya pertanda setuju. Dan Rita mulai menjelaskan kejadiannya secara rinci.


" Hari itu, siang hari tanggal 27 ada seorang pria mendatangi galeri, diantara banyaknya pengunjung hari itu, pria itu terus berdiri lama di depan lukisan mu, lalu temanku yang tadi datang kemari bersamaku, Andi, dia menyapanya, dan dia bilang ingin bertemu dengan orang yang melukis lukisan wajahmu itu.


Lalu Andi pergi mencari Sammy dan mengatakan padanya kalau ada seorang pria yang sedang menunggu nya. Tidak lama kemudian, Sammy dan Andi menghampiri pria itu, yang ternyata Sammy sudah mengenalnya."


Flashback


" Oh.. jadi pelukisnya itu kau rupanya. " Ucap Siwan yang ternyata adalah di yang berdiri sedari tadi di depan lukisannya.


" Iya, itu aku. Kenapa? apa ada masalah ?" tanya Sammy.


" Berapa kau akan menjualnya ?" tanya Siwan tanpa basa - basi.


" Maaf, aku tidak berniat menjualnya !!" ucap Sammy.


" Lalu, untuk apa kau memajangnya disini? tanya Siwan.


" Aku hanya ingin memamerkan nya, itu saja. Ini lukisan karya pertamaku. Ada banyak makna tersembunyi dari setiap inchi goresan warna yang aku tuangkan di atas kanvas ini. Jadi, maaf, tolong lihat lah lukisan yang lain saja, barang kali anda berminat membelinya selain yang satu ini. " Ucap Sammy.


" Begitukah... Berapa banyak angka yang kau butuhkan ? katakan saja padaku, aku akan memberikan sesuai harga yang kau mau. " Ucap Siwan.


" Maaf, sekali lagi, aku tidak tertarik dengan uang anda. Jadi, mohon maafkan saya, masih banyak pekerjaan yang sedang saya lakukan. Saya pamit pergi, permisi !!" Sammy pun pergi dari hadapan Siwan dengan raut wajah marah dan kesal.


Begitu pula dengan Siwan, setelah mematung beberapa detik setelah kepergian Sammy, dia pun pergi meninggalkan galeri dengan raut wajah yang sama seperti Sammy.


Kembali pada Rita dan Hanna.


" Nah, setelah kejadian itu, besoknya, ada beberapa orang pria berkumpul sebelum galeri di buka, mereka memaksa masuk ke dalam, saat itu aku dan Andi yang baru sampai di luar galeri mencoba menjelaskan kalo kami buka siang nanti pukul 11.00 Wita, tapi pria itu mengancam aku dan Andi.


Setelah itu aku lapor pada bli Gusti perihal kejadian itu, karena bli tinggal di mess yang berada di lantai 3 bersama Sammy dan beberapa karyawan lainnya.


Akhirnya, bli Gusti di temani Sammy dan karyawan lainnya menemui mereka di luar dan mempersilahkan mereka masuk ke dalam.


Lalu, seorang pria berbadan tinggi dan kekar mengambil lukisan wajahmu, saat Sammy mencoba menghalanginya pergi, dua orang pria lainnya menjegalnya, dengan sekuat tenaga Sammy mencoba berontak, tapi dia tidak bisa menandingi kekuatan pria yang semuanya berbadan tinggi dan kekar.


Pria itu pergi keluar dari galeri membawa lukisan wajahmu itu, lalu, seorang pria terlihat seperti seorang ketua geng menghampiri Sammy dan mengeluarkan sebuah cek kosong.


" Kau tulis saja berapa angka yang kau mau, sebagai gantinya aku membawa lukisanmu itu. "


Pria itu lalu pergi keluar di susul oleh dua orang yang menjegal Sammy. Dan, saat Sammy akan menyusul mereka, bli Gusti menarik lengan Sammy,


" Jangan Sam, bahaya, kau tidak bisa kesana dengan tangan kosong." Ucap bli Gusti.


" Saat itu Sammy terlihat sangat marah dan frustasi. " Ucap Rita sambil memakan bakso berkuah panas dan pedas nya itu.


" Ya ampun, siapa mereka ya, kok tega sekali. " Ucap Hanna.


" Kau tahu, bahkan, setelah itu, Sammy seperti mencari informasi tentang seseorang yang berhubungan dengan perampasan lukisan itu. Dan, pagi harinya, tanggal 31, Sammy di temukan di luar pintu samping galeri dengan keadaan tidak sadarkan diri dan babak belur. Bli Gusti yang pertama kali menemukannya langsung melarikannya ke rumah sakit terdekat. Untungnya tidak ada luka yang serius, hanya bengkak dan lecet di beberapa bagian saja. " Rita menceritakannya sampai semangkuk bakso di hadapannya habis tak bersisa.


Tiba - tiba Sammy datang menghampiri mereka.


" Maaf ya lama, barusan aku bertemu kolektor penting di galeri. Kau sudah selesai ?" tanya Sammy menatap Hanna.


" Sudah, ayo kita pergi. " Ucap Hanna beranjak dari kursi nya. " Oh iya, Rita, makasih banyak ya, senang bisa berjumpa dan mengobrol denganmu." Lalu Hanna berpamitan dan pergi bersama Sammy meninggalkan Rita di kedai bakso.


" Sam, kenapa tidak jujur padaku !!" Hanna menghentikan langkahnya dan terpaku menatap Sammy yang baru saja berbalik ke arahnya.


" Lukisan itu, siapa yang mengambil nya darimu ? apa dia orang yang aku kenal ?"


Sammy bergumam, " pasti Rita membocorkan rahasianya."


" Tidak usah menyalahkan Rita, kenapa kau tidak bilang yang sejujurnya padaku. Apa kak Siwan yang merebutnya darimu ?" tanya Hanna.


" Sudahlah, aku sudah melupakannya, tidak apa, aku bahkan bisa melukismu lagi secara langsung kan !!" Sammy mencoba menenangkan Hanna yang terlihat begitu kesal.


" Cepat katakan padaku, apa orang itu kak Siwan?" Hanna bertanya dengan nada tegas.


" Bukan, aku tidak mengenalnya. Orang - orang itu, terlihat seperti sekumpulan preman, sedangkan kekasihmu kan, bukan orang yang seperti itu, benar kan? " Perkataan Sammy terdengar penuh kecurigaan bagi Hanna.


" Baiklah, aku turut prihatin atas kejadian yang menimpamu Sam, aku benar - benar kesal mendengarnya. " Ucap Hanna.


" Sudahlah, Han, ayo kita pergi jalan - jalan saja. " Ajak Sammy.


" Maaf Sam, sepertinya aku harus pergi ke suatu tempat, lain kali saja ya. " Dan Hanna menghentikan taksi yang melaju pelan di sampingnya. Dia masuk ke dalam dan pergi berlalu meninggalkan Sammy yang masih berdiri di posisi nya saat itu.


Tidak lama kemudian, Hanna sudah berada di suatu tempat. Di dalam taksi, dia menelepon seseorang dan menanyakan keberadaannya. Setelah orang yang di teleponnya memberitahu lokasi dimana keberadaanya, Hanna menutup teleponnya dan memberitahu supir taksi ke arah tujuan mereka yang sesungguhnya.


Kini, Hanna sudah berada di lokasi, di sebuah taman gedung perkantoran. Dia duduk di bangku dengan tidak sabaran menunggu. seseorang datang. Dan, tiba - tiba dari arah belakang, ada seseorang yang merangkul pundak Hanna.


" Hai, ada apa menyusulku?" ternyata dia Siwan.


Hanna melepaskan tangan Siwan yang merangkul pundaknya. Terlihat kala itu Siwan sedang mengenakan kemeja putih dan setelan jas berwarna Abu - Abu yang pernah ia gunakan saat pertama kali bertemu dengan Hanna di toko buku.


Seketika Hanna sebetulnya terpana melihat penampilan Siwan yang mengingatkannya pada moment pertama kali mereka bertemu, rambutnya yang memakai jelly dan di sisir rapih, membuatnya terkesan seperti seorang pria kantoran yang hendak pergi bekerja.


" Ahjussi, aku ingin bertanya padamu, tolong jawablah sejujurnya padaku, kalau kau memang benar - benar menganggapku orang yang penting bagimu. " Ucap Hanna membuat Siwan terkejut.


" Ada apa ?" Siwan mengerutkan keningnya pertanda curiga.


" Saat itu, ketika aku di rumah sakit, kau mendadak pergi, boleh aku tahu kau pergi kemana?" tanya Hanna.


Tidak ada jawaban dari Siwan. Dia hanya mengubah posisi duduknya dan menatap jauh ke depan.


" Kenapa tidak menjawabnya ? oh.. aku tahu, kau merahasiakan sesuatu dariku. " Ucap Hanna membuat Siwan terpojok.


" Aku yakin, sekarang, kau sebetulnya sudah tahu jawabannya. Aku tidak perlu menjawabnya lagi kan. " Ucap Siwan menatap Hanna.


" Ternyata benar, berarti orang - orang yang memukuli Sammy hingga babak belur, mereka teman - temanmu atau anak buahmu ? atau bahkan kau sendiri?" Ucap Hanna.


" Dia pantas mendapatkannya." Ucap Siwan datar.


" Apa.. sebenarnya disini siapa korban nya? kenapa hanya karena sebuah lukisan kau memperlakukan orang lain dengan begitu kejamnya. Apa kau ini seorang ketua kelompok preman, ahjussi ?" Ucap Hanna.


Siwan terlihat tidak ingin berdebat dengan kekasihnya itu. Dia mencoba menahan diri untuk tidak menjawabnya, dia takut perkataan yang keluar dari mulutnya malah akan melukai kekasihnya itu.


" Sebaiknya kau pulang saja, ayo aku antar !!" Siwan berdiri dari duduknya.


" Tidak usah, aku pulang sendiri saja. " Hanna membentak Siwan dan pergi meninggalkan nya.


Siwan menyusulnya dan menarik lengan Hanna.


" Kau, kenapa terlihat begitu marah sekali, hanya gara - gara pria itu kau sampai rela jauh - jauh menyusulku kemari untuk membahasnya. Apa tidak bisa menungguku saja di tempatmu, aku memang akan menemui mu setelah menyelesaikan pekerjanku disini. " Ucap siwan.


Hanna merasa kecewa, bukan itu yang ingin dia dengar, dia inginkan penjelasan soal Sammy yang di hajar sampai babak belur gara - gara dirinya.


" Lepaskan tanganku, aku tidak mau mendengar apapun lagi dari mulutmu. Jangan menyusulku, jangan menemuiku dan jangan menghubungi ku lagi. " Ucap Hanna dan pergi berlalu meninggalkan Siwan sendirian yang berdiri di sebuah taman yang sebetulnya indah, di kelilingi oleh bunga - bunga berwana - warni. Tapi sayang, keindahan bunga - bunga di taman itu hanya sebagai saksi bisu pertengkaran Siwan dan Hanna.