
Pagi hari, masih di mansion raja vampire berada.
Hanna baru selesai memandikan Hwan putranya, kini ia bersiap turun ke bawah untuk berjemur bersama putranya di taman milik ayah mertuanya, Mr. Im.
Pukul 09.00 KST, Hanna sedang mengikuti setiap langkah anaknya yang menyusuri indahnua bunga-bunga yang berbaris rapih di taman yang indah dan luas itu.
Dari dekat mereka tentu saja ada Elsa dan seorang madi dan dua orang penjaga ikut memperhatikan setiap gerak-gerik batita yang sedang dalam masa paling menggemaskan.
Tak lama berselang, gerbang utama mansion raja vampire terbuka lebar, dan beberapa mobil hitam masuk dan berhenti di samping halaman menuju ke dalam mansion tersebut.
Hanna langsung menarik Hwan ke dalam pelukannya dan melihat siapa orang-orang yang keluar dari mobil.
Yang pertama kali ia lihat adalah suaminya, Siwan.
Hanna langsung tersenyum cerah.
"Lihat Hwan, papa baru pulang, ayo kita kesana !!" Hanna di ikuti oleh para penjaganya termasuk Elsa mendekat menuju Siwan berada.
"Pa-pa..." teriak Hwan dengan penuh semangat.
"Aigooo... Hwanku, kau sedang bermain di taman?" Siwan setengah berlari menghampiri istri dan anaknya, lalu langsung menarik Hwan dari dekapan istrinya, memeluk dan mencium Hwan yang tertawa lepas di depannya.
Hanna melihat di belakang Siwan, dari mobil lainnya keluar Mr. Im di papah oleh beberapa pengawalnya.
"Mas, bagaimana keadaan ayah sekarang?" tanya Hanna.
"Dia sudah terlihat sehat, tidak perlu khawatir !!" ucap Siwan.
"Oh... alhamdulillah, syukurlah. Kalau begitu ayo kita masuk, apa mas sudah makan?" tanya Hanna.
"Sudah, hanya saja, aku belum mandi !!" jawab Siwan saat mereka sedang berjalan menuju ke dalam rumah.
Saat di dalam, Hanna melihat Mr. Im sedang duduk santai di sofa.
"Hwan, kemarilah, aku sangat merindukanmu !!" ucap Mr. Im menggunakan bahasa Inggris.
Siwan memberikan Hwan pada Hanna.
"Aku akan mandi dulu, kau temani saja ayah," pinta Siwan.
"Iya, kau tenang saja !!" Hanna tersenyum lalu menghampiri Mr. Im dan menurunkan Hwan di dekatnya.
"Bagaimana keadaan ayah sekarang?" tanya Hanna. Selebihnya, Hanna dan ayah mertuanya itu berbicara menggunakan bahasa Inggris saja.
"Aku sudah kembali sehat, meskipun aku sudah tua, tapi aku tidak memiliki riwayat penyakit yang serius, paling hanya pegal linu, dan masuk angin, pusing sedikit hanya karena banyak pikiran itu sudah biasa, jangan khawatir !!" ucap Mr. Im.
"Semoga ayah selalu sehat, kuat, dan berada dalam lindungan Tuhan !!" ucap Hanna.
"Amin !!" sahut Mr. Im.
Sebenarnya, di hati kecil Hanna, ia merasa kasihan pada ayah mertuanya ini, di usianya yang sudah tua, dia tinggal sendirian tanpa keluarga di mansion yang besar ini, hanya di temani oleh beberapa asisten rumah tangga dan beberapa pengawal di rumahnya.
Sungguh miris bukan, kedua anaknya malah memusuhinya. Siwan masih belum bisa memaafkan kesalahan yang di perbuat oleh Mr. Im pada ibunya.
"Nak, berapa usia Hwan saat ini?" tanya Mr. Im.
"Bulan ini Hwan akan tepat berusia satu tahun, tanggal 16 agustus nanti, " Hanna menjawabnya dengan penuh senyuman hangat. Ia pribadi tidak memiliki masalah dengan ayah mertuanya itu, jadi ia bersikap sesopan mungkin layaknya terhadap orangtua lada umumnya.
"Wah, cucuku ini akan berulang tahun, kau mau hadiah apa dariku?" Mr. Im bertanya pada Hwan mengajaknya berinteraksi.
"Tidak perlu repot - repot, ayah, doakan saja yang terbaik untuk cucu ayah,"
"Itu sudah pasti !! bagaimana kalau kita buatkan pesta untuknya, aku yang akan mempersiapkan semuanya," ucap Mr. Im.
Hanna tercekat mendengar ucapan ayah mertuanya.
"Padahal aku akan merayakannya di Bali, keluargaku dari Bandung pun akan terbang ke sana, bagaimana ini, tapi, mas Siwan juga belum sempat aku beritahu sebenarnya, haduh... aku harus menjawab apa pertanyaan ayah ?" batin Hanna menggumam.
"Kenapa, apa kau sudah punya rencana lain?" sambung Mr. Im, merasakan sinyal dari perubahan ekspresi wajah menantunya itu.
"Anu, ayah, aku belum membicarakan masalah ini dengan suamiku, aku harus lebih dahulu berdiskusi dengannya," jawab Hanna.
Mr. Im tersenyum, "ya, memang sebaiknya kau bicarakan dulu dengannya, jangan sampai anak itu hutan marah-marah padamu !!" seru Mr. Im.
"A-anak hutan," Hanna merasa tercengang mendengar Mr. Im memanggil Siwan anaknya dengan panggilan 'anak hutan'.
"Iya, anak hutan, apa itu namanya, emh... Tar... " ucapan Mr. Im terhenti karena mencoba mengingat sebuah nama yang cocok untuk sebutan 'anak hutan'.
"TARZAN.... " sahut Hanna.
"Ya... itu dia, Tarzan, di memang si Tarzan, dulu sejak kecil, dia senang berburu, aku sering membawanya ke berbagai hutan di negara ini, bahkan hingga ke Rusia, keahlian memanahnya memang sangat tidak di ragukan, tapi aku tidak tahu apa sekarang dia masih bisa memanah atau tidak, " ucap Mr. Im.
Beberapa menit kemudian, Siwan datang menghampiri Hanna dan ayahnya yang sedang berbincang sambil memperhatikan Hwan yang sedang asyik bermain dengan mainannya di dekat mereka.
"Sebaiknya segera istirahat, kau masih harus minum obat kata dokter !!" ucap Siwan dengan tegas.
"Anak kurang ajar, tidak bisakah bersikap lembut padaku, tidak malu dengan istrimu yang sangat sopan ini," Mr. Im bangkit dari kursi, ia berdiri dan di topang oleh tongkat kayu di tangannya. Hanna mendekat padanya karena takut Mr. Im tidak seimbang karena berdiri secara terburu-buru.
Mr. Im berjalan melewati Siwan yang sudah duduk santai di sofa dengan raut wajah acuh.
Saat menuju tangga, seorang maid dan pengawal mendekat pada Mr. Im dan menggantikan Hanna memapahnya hingga ke kamar.
Hanna kembali menuju sofa mendekat pada Siwan.
"Mas... " ucap Hanna.
"Hemh... " jawab Siwan tanpa melirik padanya.
"Mas.... " ucap Hanna sekali lagi dengan nada agak tinggi.
Barulah Siwan menoleh padanya.
"Ya, kenapa?" tanyanya menatap wajah istrinya yang kedua alisnya sudah mengkerut.
"Dia tetap orangtuamu, kalian berdua itu sifatnya sebenarnya sama, sama-sama keras kepala dan pendendam !!" ucap Hanna.
"Aku... " mata Siwan membulat.
"Ya... kau itu sedarah dengannya, sifatmu menurun darinya, aku tidak melihat sifat ibu yang lemah lembut, sopan dan penyabar ada padamu, tapi setelah mengenal Mr. Im, aku baru mengerti, "
"Jangan samakan aku dengannya !!" ucap Siwan dengan nada kesal.
"Cih... " Hanna membuang wajah dari hadapannya.
Siwan yang juga agak kesal mengacuhkan istrinya yang sedang merajuk.
"Aku minta maaf, maafkan aku !!" ucap Siwan, menarik lengan istrinya dan menggenggam tangannya.
"Minta maaf pada ayahmu !!" ucap Hanna.
"Kenapa masih membahasnya," Siwan menahan rasa kesalnya dan menunjukan senyum seringai dengan terpaksa.
"Masalah yang kau hadapi sekarang sebenarnya masih bisa di bicarakan secara baik-baik, berbicaralah dengan ayahmu tentang apa yang kau inginkan, dia pasti akan mengerti, bicaralah secara sopan dan lembut, beliau orangtua, ingin di hormati, terlebih oleh anaknya sendiri, kau yang harus lebih pengertian, ingat, kau ini sekarang sudah menjadi seorang ayah juga," Hanna mengomeli suaminya yang terlihat masih berkeras hati tidak ingin berdamai dengan ayahnya sendiri.
Malam harinya....
Saat makan malam berlangsung, tidak ada seorang pun yang berani mengeluarkan suaranya di ruang makan itu, yang terdengar hanyalah bunyi sendok dan garpu yang berdenting di atas piring masing-masing.
Mr. Im yang notabene orang Korea, hanya dia sendiri yang makan menggunakan sumpit di meja itu.
Malam itu suasana makan malam kembali mencekam, tidak ada kehangatan sama sekali yang terjadi di keluarga yang baru kembali berkumpul itu.
Pantas saja bi Lastri dan Elsa sebelumnya mencari alasan agar tidak bergabung untuk makan malam bersama keluarga kali itu.
Mr. Im memang terbiasa makan sendiri tanpa asistennya, namun tidak dengan Siwan, Hanna dan bu Shinta yang kerap kali selalu mengajak asisten rumah tangga maupun orang yang ada di rumah mereka lainnya untuk makan bersama.
Bahkan malam itu, Hwan kecil mendadak pendiam, di kursinya, ia hanya fokus pada snacknya berupa beberapa potongan kentang kukus dan potongan kecil buah melon. Hanna selalu membiasakan Hwan agar belajar makan dengan tangannya sendiri supaya ia terlatih untuk mandiri.
Selesai makan malam, Hanna dan bu Shinta menonton tv bersama di ruang keluarga yang berada di lantai bawah sambil memperhatikan Hwan yang sedang bermain seperti biasanya.
Lalu kemana Siwan dan Mr. Im?
Mr. Im sedang duduk di kursi depan meja kerja dan berhadapan dengan laptopnya.
Siwan duduk di sebrangnya di depan meja kerja ayahnya itu.
"Apa yang ingin kau sampaikan? cepatlah, aku masih harus mengecek beberapa file pekerjaan yang masuk, " Mr. Im menatap wajah anaknya yang nampak serius.
"Aku ingin berdamai, aku minta maaf atas segala sikap kurang ajarku pada ayah selama ini," ucap Siwan setulus hati.
"Wah... wah... wah... daebak, jinjja, apa aku tidak salah dengar ?" Mr. Im menyentuh kupingnya dan mengoreknya sesaat.
"Kenapa aku harus menuruti perkataan istriku, aku menyesal rasanya," ucap Siwan dengan lirih sehingga hanya terlihat seperti sedang komat-kamit.
"Aku tidak akan mengatakan untuk kedua kalinya !!" tegas Siwan.
"Hahahaha.... " Mr. Im tertawa terbahak-bahak.
"Baiklah... oke - oke, akhirnya, seseorang berhasil menghancurkan gunung es di kepalamu, aku akan sangat berterima kasih padanya. Dan juga, aku tidak pernah marah padamu, aku cukup mengerti mengapa kau selalu bersikap seperti itu. Asal kau tahu, aku sangat menyesali perbuatanku di masa lalu tentang ibumu, aku benar-benar minta maaf untuknya," ucap Mr. Im.
"Minta maaflah padanya, bukan padaku !!" ucap Siwan, lalu bangkit dari kursinya dan pergi meninggalkan ayahnya yang masih betah duduk di kursinya memandangi layar laptopnya yang penuh dengan tumpukan email masuk yang belum terbaca.
Keesokan harinya
Pagi hari di ruang makan mansion milik keluarga Im.
Sarapan pagi Mr. Im hari itu masih fi temani oleh anak, cucu, menantu dan seorang wanita yang pernah singgah di hatinya, wanita yang seharusnya tidak boleh ia cintai itu masih bertahan di hatinya pada posisi yang sama seperti puluhan tahun yang lalu.
Acara sarapan bersama pagi itu nampak lebih hangat tidak seperti acara makan malam kemarin.
Si kecil Hwan yang ceria membuat semia orang yang berada di dekatnya ikut terbawa suasana bahagia.
"Cucuku, sebentar lagi kau akan berulang tahun, aku tidak tahu harus memberimu apa, kau sudah punya segalanya, ayahmu sudah kaya raya, dia mampu membelikanmu gunung kalau kau memintanya," Mr. Im tersenyum sambil menatap wajah cucunya yang duduk di dekatnya.
Yang lain hanya bisa menahan tawa saat mendengar Mr. Im mengatakan hal tersebut. Dan Siwan, ia hanya menghela nafas dan tidak menghiraukan perkataan ayahnya itu.
"Baiklah, kalau begitu, pulanglah ke negaramu, kau pasti merindukan seseorang yang ada disana kan, anggap saja ini hadiah dariku, aku akan membebaskan ayahmu dari semua bebannya, supaya dia bisa terus berada di dekatmu, menemanimu hingga kau tumbuh besar, pulanglah... !" ucap Mr. Im.
"Ayah... " kata-kata itu lolos begitu saja dari mulut Siwan.
"Aku sedang bahagia, jadi jangan buat aku menarik kembali ucapanku barusan, pergilah, selesaikan semua urusanmu yang tertunda, masalah disini, biar aku yang akan menyelesaikannya, percayalah padaku, mereka tidak akan bisa menyentuhmu dan keluargamu lagi, kalian bersenang-senanglah, jangan pernah khawatirkan aku disini, aku tidak akan sendirian saat menghabiskan masa tuaku ini," sambung Mr. Im.
"Terimakasih, ayah !!" sahut Siwan.
Hanna tidak tau harus ikut berkomentar atau tidak, namun senyum bahagia yang tercetak di wajahnya sudah mampu mewakili apa yang ia ingin katakan pada ayah mertuanya itu.
Bu Shinta pun ikut tersenyum senang, namun ia tidak ikut berkomentar apapun dan hanya fokus pada nasi di piringnya.
Keesokan harinya...
Matahari sudah di atas kepala, namun, silau dan panas yang terpancar di permukaan kulit setiap insan tak membuat seseorang menjadi enggan merasakan sentuhannya.
Hanna, Siwan, Hwan dan bu Shinta kini sedang berada di mobil dalam perjalanan menuju bandara di antarkan oleh supir Mr. Im.
Di mobil lainnya, Mr. Im dan asisten pribadinya turut serta ingin mengantarkan kepergian anggota keluarga mereka.
Elsa dan bi Lastri juga ikut kembali ke Indonesia menaiki mobil yang berbeda.
Mobil mereka saling beriringan.
Di bandara...
"Ayah, terimakasih banyak, setidaknya setelah urusan kami selesai, aku dan suamiku akan sering-sering mengunjungimu kemari," ucap Hanna pada Mr. Im.
"Akan kunantikan kedatangan kalian kembali, setelah ulangtahun Hwan dan resepsi pernikahan kalian, pergilah berbulan madu kemanapun yang kau mau, berbahagialah... !!" ucap Mr. Im.
"Baik, ayah, jaga dirimu selalu, kabari kami kalau ayah memang membutuhkan kehadiran kami !!" ucap Hanna.
"Tentu, dan, terimakasih banyak sudah membuatku merasa menjadi seperti seorang ayah kembali, kau benar-benar mengubah anakku Siwan menjadi lebih baik, semoga pernikahan kalian selalu di berikan berkat dan rahmat-Nya, saling setia dan saling percaya, akan selalu ku doakan kalian tanpa harus kalian minta, " Mr. Im lalu memeluk menantunya yang sudah mulai berkaca-kaca.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Siwan yang sedang menggendong Hwan anaknya memperhatikan interaksi antara ayah dan istrinya.
Karena cukup berisik, ia tidak bisa mendengarkan percakapan yang keduanya lontarkan sejak beberapa menit yang lalu di sela mereka menunggu jam pemberangkatan yang masih cukup lama.
Mr. Im dan Hanna kembali mendekat pada keluarga mereka.
Mr. Im mendekat pada bu Shinta.
Mereka berbincang agak lama, sedangkan Hanna dan Siwan sedang mencoba menebak-nebak apa yang kini tengah keduanya bicarakan.
"Mas, apa kau tidak khawatir ayahmu sendirian tinggal di masion sebesar itu?" tanya Hanna.
"Tidak usah khawatirkan dia, dia tidak akam sendirian !!" jawab Siwan.
"Ma-maksudmu, a-pa ?" tanya Hanna kembali, merasa belum paham aya yang di ucapkan oleh suaminya ternyata sama dengan apa yang di katakan oleh mertuanya tadi malam.
"Sudahlah, nanti akan ku ceritakan saat kita hanya berdua saja, " Siwan mengedipkan sebelah matanya di depan wajah istrinya, membuat Hanna jadi salah tingkah karena salah paham sendiri mengartikan ucapan suaminya barusan.
Akhirnya, pesawat yang di tumpangi oleh Hanna, Siwan dan keluarganya kini sudah mengangkasa, membawa mereka menuju sebuah negara yang di rindukan oleh masing-masing.