My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Tahun baru kedua



Beberapa hari berlalu, kini tiba waktunya bagi semua orang bersiap - siap untuk merayakan malam pergantian tahun.


Ya, malam menuju tahun 2015. Saat itu, sekitar pukul 21.20 Wita, mobil Siwan melaju menuju sebuah tempat, yang ternyata dia sedang berada dalam perjalanan untuk menjemput kekasihnya yang baru pulang bekerja shift siang.


Mobilnya berhenti di depan halte bus, dan terlihat bahwa Hanna sudah berdiri disana menunggu jemputan datang. Lalu dia langsung membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya begitu mobil Siwan berhenti di hadapannya.


" Maaf ya, aku terlambat." Ucap Siwan mengelus kepala kekasihnya.


" Tidak apa, ahjussi, aku lupa memberitahu mu kalau hari ini toko tutup jam sembilan." Hanna berbicara sambil memasang seatbelt.


" Jadi, kau mau pulang dulu atau langsung ke lokasi ?" tanya Siwan.


" Langsung ke lokasi saja, ya, barangku kan sudah siap di bagasi." Ucap Hanna.


" Baiklah, kalau begitu kita langsung menuju kesana. " Siwan menancap gasnya dan mobil pun melaju perlahan di kegelapan malam.


Mobil melaju perlahan karena jalanan ramai, meskipun tidak terlalu padat, Siwan tetap berhati - hati mengendarai mobilnya.


" Kau mengantuk ?" tanya Siwan.


" Iya, aku agak lelah hari ini, toko ramai pembeli." Ucap Hanna.


" Kau tidur saja, nanti aku bangunkan kalau sudah sampai. " Ucap Siwan.


" Baiklah, aku tidur dulu ya, sebentar saja. " Ucap Hanna sambil memundurkan sedikit kursinya ke belakang.


Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 22.30 Wita, Siwan dan Hanna sudah tiba di lokasi tujuan. Mereka tiba di sebuah villa and resort di sebuah kota cukup terkenal di Bali.


" Chagiya, bangun, kita sudah sampai... " Siwan menepuk lembut pipi kekasihnya itu.


Hanna pun membuka matanya perlahan. Lalu dia membenarkan posisi kursinya.


Beberapa menit berlalu, kini Siwan dan Hanna sudah berada di dalam area villa. Terlihat disana sudah ada Austin, Aji, dan seorang wanita bule yang duduk di dekat Austin. Juga ada seorang chef khusus sedang menyiapkan hidangan barbequ an dan lainnya.


Saat itu mereka sedang berada di pinggir kolam renang, duduk pada kursi - kursi yang berada di sekitar nya sambil menghangatkan diri di dekat api unggun.


" Wah, lama sekali, ku kira kalian batal dan pergi menciptakan acara dadakan berduaan saja. " Ucap Austin dari kejauhan.


" Ish..." Hanna hanya meringis kesal mendengar ucapan Austin tadi.


" Maaf, tadi jalanan agak padat, aku tidak bisa mengebut." Ucap Siwan membela diri.


" Ahjussi, aku ingin ganti baju dulu !!" ucap Hanna menarik lengan Siwan.


" Baiklah, aku antar. " Lalu mereka berdua pergi masuk ke dalam sebuah kamar. Siwan memberi waktu pada kekasihnya untuk mengganti bajunya di dalam kamar mandi. Setelah selesai, mereka berdua lalu menghampiri teman - temannya yang ada di kolam renang.


" Hai, aku Patricia, aku pacarnya Austin. " Wanita bule itu menyambut Hanna dengan ramah saat Hanna menghampiri nya.


" Hallo, aku Hanna. Senang bisa berkenalan denganmu. " Ucap Hanna dan mereka pun berpelukan cium pipi kanan dan kiri ala - ala para gadis remaja.


Hanna mencium bau alkohol pada Patricia, dan dia hanya bisa memaklumi nya. Terlihat memang ada beberapa botol minuman disana, dan Austin dan Aji juga sepertinya sudah meminumnya terlihat dari gelas dan botol yang sudah terbuka di samping meja mereka.


Dan sang chef memberitahu bahwa hidangan sudah siap di santap. Lalu, dia pamit pergi meninggalkan kami karena sudah selesai melakukan tugasnya.


Kami pun menuju meja yang berada tidak jauh dari kolam.


" Ahjussi, apa ini halal?" tanya Hanna berbisik pada Siwan.


" Iya, kau tenang saja, aku sendiri yang memesan semua hidangan ini pada chef masaknya." Ucap Siwan.


" Bagaimana kakimu sekarang ?" tanya Austin pada Hanna.


" Alhamdulillah, sekarang sudah normal, meskipun masih ada rasa sakit di area yang bengkak. " Ucap Hanna.


" Kau tidak lupa mengoleskan salepnya kan?" tanya Austin.


" Tentu saja, aku tidak pernah lupa. " Ucap Hanna.


Setelah selesai makan, Hanna, Siwan dan Aji berkumpul di sebuah taman dekat kolam, mereka duduk pada kursi dari potongan batang pohon yang di tata rapih melingkar setinggi 60 sentimeter kurang lebih, dan di tengahnya ada pula meja terbuat dari potongan batang pohon yang lebih besar. Sedangkan Austin dan Patricia, mereka duduk pada sebuah ayunan tidak jauh dari mereka.


Mereka berkumpul di sana untuk menunggu detik - detik pergantian tahun tiba. Aji sudah bersiap - siap dengan beberapa kembang api di dekatnya, Austin dan pacarnya sedang asik bercanda mesra dengan obrolan berbahasa Inggris mereka, padahal sebetulnya Hanna mengerti apa isi percakapan mereka.


" Ahjussi, apa kau mengantuk ?" Ucap Hanna.


" Tidak, aku tidak apa - apa. " Ucap Siwan.


Lalu Aji menyela obrolan mereka berdua


" Dia pasti tidak kuat menahannya, dia ingin meneguk minuman yang ada di botol - botol itu, ahahaha... " Aji menatap dan mentertawakan Siwan.


" Benarkah itu ?" tanya Hanna pada Siwan yang sedang tersenyum menatap langit malam.


Siwan menatap kekasihnya dan menggenggam tangannya. " Tidak usah di pikirkan, kita nikmati saja acaranya. "


Hanna melepaskan genggaman tangan Siwan, lalu beranjak menuju meja di dekat kursi santai yang berada di pinggiran kolam renang. Dia membawa sebotol minuman dan satu gelas kosong lalu menyerahkan nya pada Siwan.


" Ini, tidak apa, jangan terlalu banyak, dan, jangan mabuk di dekat wanita lain, di dekatku saja. Aku tahu bagaimana kebiasaan orang kalau sedang mabuk apalagi kalau mabuk berat. Ingat ya, jangan mabuk bersama wanita lain !!"


Siwan tersenyum memandang kekasihnya itu, di iringi dengan sela tawa Aji di sampingnya. Dan terdengar suara bisikan Patricia pada Austin, " Kenapa dia seperti itu ?" dengan bahasa inggrisnya.


" Dia seorang muslim. " Jawab Austin dalam bahasa inggris.


Meskipun Hanna mendengar dan memahami obrolan sepasang kekasih itu, tapi dia tidak menghiraukannya. Dia memberi kesempatan pada mereka berdua untuk bermesraan.


Siwan mengambil botol minuman yang sudah berada di atas meja, tanpa pikir panjang dia langsung menuangkan sedikit isinya dan meminumnya.


" Maaf ya, aku tidak tahan melihatnya. " Siwan menyimpan gelasnya kembali ke atas meja setelah meneguk habis isinya.


Hanna tidak menjawabnya, dia hanya tersenyum pada Siwan. Dia tidak bisa melarang Siwan, dia pikir apa haknya, dia hanya kekasihnya, bahkan Siwan bukan seorang muslim, apalagi dia seorang warga negara Korea, setahu Hanna bahkan disana minuman beralkohol sudah menjadi kebiasaan bagi mereka. Hal itu dia ketahui dari film drama Korea yang sering ia tonton. Bukan hanya di club malam minuman beralkohol berada, bahkan soju beredar luas di setiap kedai makan pinggir jalan, restoran, supermarket, minimarket, dan beberapa toko lainnya.


Saat waktunya tiba, terdengar suara terompet dari berbagai penjuru dan di iringi dengan letusan kembang api. Begitu juga dengan Aji, dia mulai menyalakan kembang api miliknya.


Hanna sempat mengabadikan moment tersebut, dia merekamnya lewat video dan beberapa foto. Bahkan mereka berlima sempat berfoto bersama dengan latar kembang api yang bertaburan indah di atas langit.


Setelah kembang api milik Aji habis, mereka mulai kelelahan, lalu Austin dan Patricia, mereka berdua sudah lebih dahulu masuk ke dalam kamar karena sudah mabuk berat.


Di susul oleh Aji yang terlihat mengantuk karena sempat berkali - kali menguap. Lalu Hanna dan Siwan yang berada di belakang Aji pun masuk ke dalam, Siwan memastikan pintu villa sudah terkunci rapat di berbagai sudut untuk menghindari adanya kemungkinan orang jahat masuk ke dalam area penginapan mereka.


Hanna masih membuntuti Siwan dari belakang, yang Siwan pikir dia sudah masuk ke dalam kamar.


" Kenapa kau tidak masuk saja ke dalam kamar !!" Aji terlihat seperti tidak terlalu sadar dengan ucapannya. Karena dia sempat menghabiskan satu botol penuh minuman saat di luar tadi.


" Ayo, kita tidur. " Hanna menarik lengan Siwan. Dan saat di depan pintu kamar, Siwan melepaskan genggaman tangan Hanna.


" Aku takut tidak bisa mengontrol diriku." Ucap Siwan menatap kekasihnya itu. Padahal sesungguhnya dia sangat ingin bersama dengannya menghabiskan sisa malam tahun baru kali ini.


" Aku yang akan menahanmu kalau kau berbuat macam - macam. " Ucap Hanna lalu kembali menarik lengan Siwan dan mereka berdua masuk ke dalam kamar. Siwan dengan senang hati mengikuti kemauan kekasihnya itu yang juga kemauannya. Dia tersenyum senang lalu menutup dan mengunci pintu kamarnya dari dalam.