My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Goodbye...



Pagi itu...


Siwan yang sedang terduduk di lantai rumah sakit dengan wajah sendu, dia mulai menitikan air matanya. Ia mulai meratapi kesedihannya.


Bagaimana bisa dia menerima kenyataan yang begitu pahit ini, bagaimana bisa dia di tinggalkan tanpa salam perpisahan sama sekali.


Aji dengan setia menemaninya, duduk si sampingnya dan mencoba menghiburnya.


" Kak, kumohon, setelah semua ini terjadi, setelah kepergiannya, berbahagialah, setidaknya, setelah kepergiannya, dia ingin agar kau kembali bangkit dan selalu berbahagia " ucap Aji.


Satu jam kemudian...


Siwan dan Aji kini sedang berada di sebuah lokasi kuburan yang berlokasi tidak jauh dari rumah sakit itu.


Dua orang di depannya tengah sibuk menggali tanah untuk menjadi tempat peristirahatan terakhir sesosok mahluk yang terbujur kaku, yang sudah tidak bernyawa di samping mereka.


Siwan kembali mengingat momen - momen kebersamaan dengannya.


Saat dia selalu menemaninya, menghiburnya, pergi makan bersama, jalan - jalan bersama, bercengkerama, semua melintas begitu jelas di ingatannya.


Beberapa menit kemudian...


Kini Siwan dan Aji tengah berjongkok di hadapan sebuah nisan yang terbuat dari papan kayu kecil yang sudah di beri nama tanggal lahir dan tanggal wafatnya.


Siwan menyentuh nisan tersebut dengan begitu lembut dengan wajah sendu.


" Maafkan aku, aku tidak menemanimu di detik - detik terakhirmu, maaf... " ucap Siwan.


" Sudah kak, kita harus segera pergi " ucap Aji.


Siwan pun bangkit, dia mencoba untuk kembali menguatkan dirinya, dia mencoba mengatur nafasnya sebelum beranjak pergi.


Setelah menjauh beberapa meter, langkah Siwan terhenti, dia kembali menoleh ke belakang, ke arah sebuah kuburan yang sudah di penuhi oleh taburan bunga di atasnya.


" Maafkan aku, LUCA " ucap Siwan kembali.


Ternyata, yang pergi meninggalkannya untuk selamanya adalah LUCA, si anjing kesayangannya peninggalan mendiang istrinya, Yuri.


Luca pergi karena memang usianya sudah tua untuk ukuran seekor anjing. Dia merasa kesepian di sisa akhir hidupnya, dia merindukan Siwan yang selalu membelainya lembut, merindukan Siwan yang selalu menyempatkan waktunya untuk sekedar menemaninya bermain ataupun makan, nampaknya Luca merasa terluka saat Siwan bersedih dan terpukul karena di tinggalkan pergi oleh Hanna yang sudah hampir 2 bulan ini.


Dua hari sebelum kepergiannya, Siwan sempat pulang ke kediamannya untuk mengambil alat kerjanya yang tertinggal di ruang kerjanya. Sekalian menjenguk Luca, pikirnya.


Saat Siwan pulang, Luca selalu menunggunya di teras depan, meskipun hanya suara langkah kaki Siwan yang baru turun dari mobilnya, Luca sepertinya sudah memiliki insting yang kuat dan segera berlari menuju teras depan dan duduk dengan setia menunggunya.


Tapi hari itu, saat Siwan pulang, Luca tidak bertingkah seperti biasanya. Dia hanya duduk diam di gazebo belakang dan termenung.


" Bi, Luca dimana ? kenapa dia tidak menyambutku ?" tanya Siwan.


" Luca di gazebo den, udah 3 hari dia diam terus, kalo gak di gazebo paling di sofa " jawab bi Asih.


" Dia sakit ?" tanya Siwan.


" Engga den, nak Agus udah bawa dia ke dokter Prima ( dokter hewan ) dia baik - baik aja " jawab bi Asih kembali.


Sebelum naik ke lantai 2, Siwan pergi ke belakang rumahnya untuk menemui Luca yang memang sedang termenung di gazebo.


" Hai boy... " ucap Siwan, dan duduk di sampingnya.


Luca nampak tidak bergeming, dia sepertinya marah pada Siwan.


Siwan mulai menyentuh kepalanya, mengusap kepala hingga punggungnya, barulah Luca merespon. Dia menggeser tubuhnya dan menaruh kepalanya di atas pangkuan Siwan.


" Kau kenapa, kau marah padaku ?"


" Maafkan aku, aku jarang pulang kemari, kau pasti merindukanku kan ?" tanya Siwan sambil terus mengelus bulu tebalnya.


" Masuk yuk, kita menonton tv di dalam !" ajak Siwan.


Siwan mengajak Luca menonton tv, dia sengaja memutar kaset khusus animal terutama tentang kehidupan anjing dan keluarganya.


Bi Asih datang menghampiri mereka.


" Den, mau bibi bawakan camilan ?" tanya bi Asih.


" Tidak usah bi, aku sudah makan tadi " jawab Siwan.


" Den, Luca sepertinya rindu den Wan, Luca sangat sensitif, dia selalu tahu kalau tuannya sedang merasa sedih, kalau masalah jarang pulang itu beda lagi, den Wan bahkan pernah berbulan - bulan ninggalin Luca pas pergi ke luar negeri, dia rindu den Wan yang seperti dulu lagi, saran bibi sebaiknya lupain aja den, hiduplah normal seperti biasanya, mungkin memang ini jalan yang terbaik buat den Wan dan mbak nya " ucap bi Asih yang tidak berani menyebutkan nama Hanna di depan Siwan.


Siwan terdiam dan mencoba mencerna perkataan bi Asih. Siwan selalu menganggap bi Asih seperti ibu kedua baginya, sejak ia kecil, bi Asih sudah bekerja bersama ibunya, dan semenjak Siwan sering tinggal di Bali untuk mengurus bisnisnya, Siwan meminta ibunya mengizinkan bi Asih bekerja di rumahnya.


Siwan tidak pernah memberikan tugas yang berat untuk bi Asih, hanya sekedar memasak, mencuci dan menyetrika, kalau masalah membersihkan rumah dari luar dan dalam, Siwan selalu memakai jasa cleaning servis panggilan, bahkan sudah memilih petugas tetap yang khusus datang ke rumahnya sesuai pilihan bi Asih.


Siwan selalu mempercayakan urusan rumah pada bi Asih, membeli kebutuhan rumah, dapur, masalah pajak rumah, menggaji supirnya yang bernama Agus, sekaligus pengasuh Luca, semua bi Asih yang mengurusnya. Siwan hanya tinggal mentransfer uang ke rekening khusus yang bi Asih kelola, yang tentunya berbeda dengan rekening pribadi bi Asih.


Pahit manis, baik buruk sifat Siwan, bi Asih sudah tahu, bahkan sepertinya dia lebih tahu dan lebih peka di banding ibu Siwan sendiri yang selalu sibuk mengurus anak - anak di panti ketimbang darah dagingnya, anaknya sendiri.


" Tiap pagi setelah berolahraga dan makan di temani Agus, biasanya Luca selalu menemani bibi masak, mencuci, menjemur pakaian atau menyetrika, tapi udah beberapa hari ini Luca hanya diam dan melamun, bahkan nak Oz yang selalu menjahilinya tidak di anggap sama sekali " ucap bi Asih.


" Aku akan pulang kemari nanti malam, aku akan tinggal disini lagi " ucap Siwan.


" Baiklah, nanti bibi bershikan kamarnya " jawab bi Asih, lalu pergi meninggalkan Siwan dan Luca di ruang tengah.


" Luca boy, apa hatimu sedang terluka sama sepertiku, kenapa, apa kau ingin aku kembali padamu !" Siwan mengangkat Luca dan memeluknya.


Selama dua hari itu Siwan pulang ke kediamannya sendiri. Namun Luca masih tetap bersikap sama, meskipun Siwan mengajak jalan - jalan ataupun bermain bola, Luca hanya diam di tempatnya dan terus menatap Siwan.


Siwan pun kembali mengajaknya menonton tv, acara favorit Luca.


" Luca, apa kau ingin berkumpul bersama keluargamu lagi ?" tanya Siwan.


Luca merespon, dia menengadahkan kepalanya dan menatap Siwan.


" Aku keluargamu, aku disini... " ucap Siwan.


" Luca, lihat aku, kau kenapa menjadi lesu seperti ini, dokter bilang kau baik - baik saja " ucap Siwan lalu mencium Luca.


Malamnya, karena Siwan sangat lelah, ia terpaksa menunda pekerjaannya yang setiap malam selalu mengecek laporan keuangan dari beberapa usaha restoran, villa and resort serta beberapa bisnis kecil lainnya.


Siwan bergegas kembali ke kamarnya.


Sebelum tidur, dia sempat memandangi kembali foto dirinya bersama Hanna yang berada di atas nakasnya.


Siwan bahkan sempat menyentuh wajahnya yang tercetak di atas foto, menciuminya dan memeluk figuranya hingga ia bawa tidur berharap bertemu Hanna walaupun hanya di alam mimpi.


Dan, keesokan paginya, Siwan terbangun karena ketukan di pintu kamarnya yang terdengar sangat keras dan tidak berhenti sebelum ia membukanya.


Ternyata Aji lah pelakunya, dia memberitahu Siwan bahwa Luca di bawa ke rumah sakit hewan oleh Agus subuh tadi karena sesak nafas.


Siwan pun bergegas mengganti bajunya setelah mencuci wajahnya di kamar mandi.


Aji dan Siwan pergi menyusul Agus dan Luca.


Namun, saat Siwan sampai di rumah sakit khusus hewan itu, Luca sudah pergi. Hanya dokter dan Agus yang menemaninya di detik - detik terakhir sebelum Luca menghembuskan nafasnya yang terakhir.


Lagi - lagi Siwan harus di tinggalkan tanpa sempat menyampaikan salam perpisahannya. Yuri dan Luca, mereka meninggalkan Siwan tanpa sempat saling menatap untuk yang terakhir kalinya.


Bwehehehe.... bukan Hanna ternyata yang meninggoy... ber**syukur deh othornya gak jahat** !!


Maaf yaa readers, hari ini gak sebanyak hari sebelumnya di karenakan lagi ada acara kumpul keluarga. Bab ini cuma buat mengurangi rasa penasaran readers aja.


Jangan lupa kasih othor dukungan like vote sama komen juga yaa biar tambah semangat ngetik ceritanya.


Next bakal ada pertemuan antara Siwan dan Hanna kembali, tapi belum pasti updatenya nanti malam atau besok, gimana situasi di rumah dulu ya... Hatur Nuhun...