My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
She is back...



" Chagiya, apa kau sedang PMS ?" tanya Siwan secara tiba - tiba.


Perlahan Hanna menoleh pada Siwan yang berada di belakangnya dengan tatapan tajam, dia tidak bisa menghiraukan nya lagi. Antara ingin tertawa namun masih merasa kesal dan marah, ingin rasanya dia meninju kekasihnya itu.


Tanpa menunggu lama pukulan - pukulan manja mendarat di dada Siwan berkali - kali selama beberapa detik, Siwan tidak menahannya sedikitpun, ia merelakan dada bidangnya menjadi sasaran kemarahan kekasihnya saat ini.


Karena sudah merasa tidak tahan lagi, air mata di pelupuk mata Hanna yang sedari tadi ia tahan akhirnya pecah juga. Siwan menarik lengannya dan memeluknya dengan erat.


Hanna pun menangis di pelukan Siwan selama beberapa saat. Siwan dengan setia menunggu nya hingga tangisannya perasaannya mulai reda. Berkali - kali Siwan mencium kening kekasihnya, menepuk - nepuk pundaknya, mengelus rambut dan kepalanya.


Akhirnya, penantian Siwan selama beberapa menit tiba juga.


" Mau apa ahjussi kemari ?" tanya Hanna, dia masih tetap merasa kesal walaupun sudah menumpahkan berember - ember air mata ke baju Siwan.


" Maaf, ku mohon, aku hanya merasa bersalah karena kejadian kemarin, aku benar - benar takut kau terluka gara - gara aku !!" ucap Siwan.


" Begitukah caramu menyesali semuanya, kapau seperti itu caranya lebih baik aku biarkan saja orang lain menculikku lagi supaya kau merasa bersalah dan pergi dariku selamanya " ucap Hanna dengan nada tinggi.


" Tidak, bukan begitu maksudku !!" Siwan benar - benar tidak berkutik lagi.


" Sudahlah, aku mengantuk, besok aku kerja pagi !!" ucap Hanna lalu berdiri dari duduknya.


Tiba - tiba Siwan menarik lengan dan pinggangnya hingga membuat Hanna kembali terjatuh di pelukan Siwan.


Tanpa menunggu lama Siwan langsung mencium bibir kekasihnya dengan mesra, dan akhirnya Hanna pun membalas ciumannya dengan penuh nafsu, karena sebetulnya dia memang merindukan kekasihnya itu.


Selang beberapa menit, kini Hanna kembali terbenam di pelukan Siwan dengan posisi saling merebahkan tubuhnya di atas sofa, berdempetan.


Siwan memejamkan matanya, namun tangannya belum berhenti mengelus pundak dan kepala Hanna.


" Ahjussi, kau belum makan malam " ucap Hanna.


" Aku sudah merasa kenyang dengan ciumanmu " jawab Siwan.


" Ish... gombal, mau makan tidak ? nanti aku buatkan sesuatu di dapur !!"


" Tidak usah, saat kau tidur tadi, aku sempat mencicipi dessert yang ada di kulkas " Siwan membuka matanya dan melihat kekasihnya memasang kembali wajah marah dan kesal.


" Apa... dessert puding and cake choco mousse ku kau makan sampai habis ?" tanya Hanna dengan kerutan di wajahnya.


" Iya, enak sekali, kau beli dimana, nanti aku belikan satu lusin sebagai gantinya !!" ucap Siwan dengan entengnya.


" Ish... kau mencuri makananku, itu temanku yang berjualan online, aku sudah menunggu selama 3 hari tapi baru bisa di kirim kemarin soalnya selalu keburu close order, dia sedang kebanjiran pesanan !!" Hanna mengernyit dan mendengus kesal.


" Suruh siapa cuma beli satu !!" jawab Siwan kembali tanpa merasa dosa.


" Suruh siapa kau tidak datang kemari selama berminggu - minggu, lagipula aku beli 2, yang satu aku berikan pada bli Aji kemarin " ucap Hanna.


" Jadi, aku memang tidak kau absen ?" tanya Siwan memasang wajah seram.


" Tidak, salahmu sendiri mencampakanku !!" Hanna tidak mau kalah.


" Oke, tapi pada akhirnya aku yang menghabiskan milikmu, hahaha... " Siwan tertawa penuh kemenangan.


" Ish... jahat... !!" Hanna cemberut.


" Ahjussi, kaosmu basah, ganti dulu sana, nanti kau masuk angin !!" ucap Hanna lalu bangun dari posisinya.


" Air mata dan ingusmu pelakunya !!" Siwan pun terbangun dari posisinya dan berjalan menuju kamar mencari kaos miliknya di gantungan lemari Hanna.


Sedangkan Hanna sendiri pergi ke kamar mandi untuk menggosok giginya dan mencuci wajahnya dengan facialwash miliknya.


Saat masuk ke dalam kamar, Hanna melihat Siwan sudah terbaring di atas ranjangnya dengan posisi tengkurap.


" Ahjussi, kau tidak mau mencuci wajah atau menggosok gigimu dulu ?" tanya Hanna.


" Sudah, tadi setelah makan dessert box mu, untuk menghilangkan jejak !!" jawab Siwan tanpa bergerak sedikitpun.


" Cih... masih kau bahas lagi soal dessert ku, ku suruh kau tidur di lantai malam ini " Hanna kembali kesal, lalu pergi menghampiri deretan skincare miliknya yang berbaris rapih di atas meja rias.


Dengan luwesnya Hanna menempelkan berlayer - layer cairan di wajahnya mulai dari toner, essence, serum, night cream dan eye cream.


Setelah itu dia mengganti bajunya dengan piyama tidur. Dan menghampiri Siwan yang nampak sudah tertidur.


" Ahjussi, mobilmu sudah kau amankan belum ?" tanya Hanna sambil menyelimuti Siwan dan dirinya.


" Hemh... "


" Eh... kau mau tidur di sini kan, awas ya jangan macam - macam !!"


" Hemh... "


Hanna mencoba memejamkan matanya setelah berdoa. Akan tetapi ia kembali membuka matanya dan kembali bertanya.


" Ahjussi... " Hanna menggoyangkan tubuh Siwan.


" Hemh... "


" Caramu masuk ke dalam rumah tadi bagaimana ?" tanya Hanna terlihat penasaran.


Siwan pun hanya memutar wajahnya ke arah Hanna.


" Sudah cepat tidur, aku sangat mengantuk !!" ucap Siwan, dan melingkarkan lengannya sebelah di atas perut kekasihnya.


" Ish... dasar, tua bangka !!" ucap Hanna, keceplosan, dia langsung menutup mulutnya dengan tangannya.


Namun tidak ada respon dari Siwan.


" Hufth... untung dia sudah pindah ke alam mimpi, selamat malam tua bangka tampan ku!!" ucap Hanna merasa lega karena Siwan tidak mendengar umpatannya tadi.


Keesokan harinya...


Pagi sekali Hanna sudah terbangun dari tidurnya karena perutnya terasa sakit. Ia terbangun dengan terburu - buru dan pergi ke kamar mandi.


Selesai setor pupuk, dia langsung mandi karena hari ini dia masuk kerja shift pagi.


Saat kembali ke kamar, Siwan masih tidur begitu lelapnya sampai Hanna tidak tega membangunkan nya.


Begitu juga setelah dia selesai membuat sarapan, Siwan masih saja di posisi rebahannya.


" Ahjussi, apa kau sakit ?" Hanna mencoba mengecek suhu tubuhnya.


" Hemh... aku masih mengantuk " jawab Siwan.


" Aku sudah buatkan sarapan, mau sarapan sekarang atau nanti ?" tanya Hanna.


" Nanti saja !" jawab Siwan dengan suara berat.


" Kalau begitu aku pergi kerja di antar pak Bram aja ya !!" ucap Hanna.


" Hemh... "


Hanna kembali keluar dan sarapan sendirian.


Beberapa menit kemudian, Hanna sudah siap untuk pergi bekerja, sebelumnya dia berpamitan pada Siwan yang masih tertidur di kamarnya.


" Ahjussi, aku pergi ya !!" ucap Hanna.


Namun tidak ada jawaban dari Siwan. Sebelum pergi Hanna kembali mengecek suhu tubuh Siwan dan memastikan bahwa Siwan masih bernafas. Barulah dia pergi dengan perasaan tenang. Hanna hanya takut kalau Siwan sedang sakit, makanya ia terus mengecek kondisinya. Padahal sesungguhnya Siwan memang belakangan ini kurang tidur karena sibuk bekerja dan memikirkan kekasihnya dari jauh. Baru malam tadi dia bisa tidur lelap kembali dan rasanya enggan untuk bangun.


Di dalam perjalanan menuju tempat kerja...


" Lagi godain saya, pak Bram !!" Hanna terlalu percaya diri.


" Bukan, maksudku lebih ceria, apa gara - gara udah ketemu lagi sama pacarnya, pasti seneng banget kan " sahut Bram.


" Engga juga, masih kesel akutu sama dia " timpal Hanna.


" Jangan gitu dong, kasihan kak Wan akhir - akhir ini sering lembur kerja, udah gitu pas ketemu malah di marahin, padahal dia udah sekuat tenaga manjat ke lantai dua rumah mbak kemarin di bantuin saya, Aji dan Tio !!" ucap Bram.


" Apa... manjat ke atas ? gimana caranya ?" tanya Hanna.


Lalu Bram menceritakan tentang cara Siwan kemarin bisa masuk ke dalam rumahnya. Awalnya Siwan meminjam tangga milik tetangga, setelah itu dia naik ke atasnya. Karena tangga nya kurang tinggi, Siwan sempat melompat dan bergelantungan di atas balkon sebelum akhirnya tubuhnya bisa terangkat dan mendarat di area jemuran baju. Setelah itu Aji menyusulnya ke atas, dan membantunya membuka kunci engsel dari luar. Tidak lama kemudian Aji keluar lagi lewat pintu rumah dan kembali lagi setelah membeli kunci engsel baru dan mengganti kunci engsel di atas yang sudah rusak.


" Oh... begitu ternyata, aku pikir dia malah memanggil tukang servis kunci atau ahli kunci buat ngebobol paswordnya " lalu Hanna tertawa terkekeh - kekeh bersama Bram.


" Padahal aku juga udah usulin kaya gitu loh mbak, tapi Kak Wan ngotot, mendingan manjat ke atas katanya biar lebih heroik " ucap Bram.


Sontak membuat Hanna yang mendengar nya kembali tertawa sampai tiba di lokasi tempatnya bekerja.


" Terima kasih banyak ya, pak Bram !!" ucap Hanna.


" Jangan panggil bapak dong mbak, aku masih seumuran kak Wan kok !!" ucap Bram.


" Udah nikah ?" tanya Hanna.


" Udah !!" jawab Bram.


" Udah punya anak ?" tanya Hanna kembali.


" Udah !!" jawab Bram lagi sambil menganggukkan kepalanya.


" Berapa anaknya ?" tanya Hanna.


" Dua " dua jari Bram terangkat ke atas.


" Berarti udah jadi bapak... " ucapan Hanna terhenti.


" Bapak... " sahut Bram.


" Nah, itu ngerti, udah ah, nanti aku kesiangan kalo terus di ajak ngobrol " ujar Hanna lalu turun dari mobilnya.


Bram yang masih belum paham terlihat menggaruk kepala plontosnya yang tidak gatal, lalu kembali menyalakan mesin mobilnya dan pergi.


Sebelum menaruh hpnya di dalam loker, Hanna mengetik pesan di layar hpnya untuk Siwan. Dia memberitahu pasword baru padanya.


" 201410


pasword barunya


awas jangan sampai manjat ke atas lagi


kayak mau maling aja. Hahaha... "


Begitulah isi pesan whussup dari Hanna untuk Siwan.


Dan baru terbaca pukul 07.30 wita saat Siwan baru terbangun dari tidurnya.


Beberapa jam kemudian...


Saat Hanna hendak pulang bekerja, dari belakang, seorang security memanggilnya dan memberitahunya ada seseorang yang ingin bertemu dengannya.


" Siapa pak ? " tanya Hanna.


" Ini, dia nitip memo buat kamu " pak Gagah sang security menyerahkan secarik kertas yang sudah terlipat kecil.


" Makasih banyak ya pak !!" ucap Hanna.


Setelah membaca pesan di kertas itu, Hanna langsung buru - buru pergi menuju suatu tempat.


Kini, Hanna sedang duduk berhadapan bersama seorang wanita di sebuah private restaurant di sebuah hotel terdekat dengan tempat kerja Hanna.


Sebelumnya Hanna memberi kabar pada Bram yang akan menjemput nya bahwa dia sedang kerja lembur sampai jam enam sore nanti. Bram yang sudah berada di titik lokasi penjemputan pun kembali melajukan mobilnya pulang kembali ke markas.


Hanna terpaksa berbohong karena dia tidak mau Bram mengadu pada Siwan bahwa dia akan menemui seseorang di suatu tempat.


Setelah memastikan mobil Bram pergi, Hanna pun pergi menuju hotel tempat pertemuannya dengan seseorang, dengan menaiki ojeg pangkalan dari departemen store hingga ke pintu gerbang hotel.


Hanna sedang menatap wanita cantik di depannya dengan penuh senyuman.


" Apa kabar, Hanna ? lama tidak berjumpa !!" ucap Seo Jihye dengan bahasa Korea.


" Baik, bagaimana kabarmu sendiri ?" tanya Hanna.


" Seperti yang kau lihat, aku masih bernafas, walaupun rasanya sesak, aku masih terlihat segar walau usiaku sudah berkepala tiga, dan aku masih setia menunggu orang yang ku cintai walau dia sedang jauh dariku !!" ucap Jihye seolah menyindir.


Deg... jantung Hanna mulai berdebar kencang.


" Apa dia sedang berakting, apa dia masih belum tahu kalau aku dan ahjussi... "


" Maafkan aku, terlalu banyak bicara, aku mengajakmu bertemu mau mentraktir mu makan, sebagai ucapan terima kasihku karena beberapa waktu lalu membantuku mencarikan hadiah yang pas untuk calon tunanganku, dan dia memang sangat menyukainya " ucap Jihye masih tetap menyindir Hanna.


" Begitukah... !!" jawab Hanna. Tangannya di bawah meja terlihat sedang meremas tas di pangkuannya.


" Ayo, silahkan, pilihlah menu yang kau suka !!" ucap Jihye.


Hanna berdiri dari kursi nya, lalu berpamitan pada Seo Jihye.


" Maaf, saya tidak pantas, saya tidak pernah merasa anda berhutang budi, itu sudah tugas saya, pekerjaan saya seperti itu, jadi maaf, permisi... " ucap Hanna.


Jihye mendelik dan tersenyum sinis. Ia mengambil nafas dalam - dalam dan membuangnya perlahan.


Baru tiga langkah, namun Hanna tertegun saat mendengar perkataan Seo Jihye dari kejauhan.


" Kenapa kau berbohong waktu itu... ? apa memang kau pandai berakting di kehidupan mu yang sesungguhnya !!" pekik Jihye.


Hanna berbalik dan kembali duduk di kursinya tadi, di hadapan Seo Jihye.


" Apakah menurutmu aku pantas berada di sampingnya ?" tanya Hanna.


" Apa perasaanmu saat kau tahu aku adalah calon tunangannya waktu itu ?" tanya Jihye.


" Lalu, apa perasaanku itu penting bagimu ? kau akan peduli ?" tanya Hanna.


" Kenapa kau pandai berkelit, tinggal jawab saja pertanyaan ku, kau sungguh tidak sopan !!" ucap Jihye. Matanya yang besar mendelik, bibor tipis mungilnya yang kriting terangkat ke atas, seolah sedang melecehkan Hanna dengan ekspresi wajahnya.


" Aku mungkin terlihat seperti bukan orang yang sopan, karena aku bukan anak seorang bangsawan ataupun konglomerat yang di beri pendidikan khusus kepribadian. Aku hanya seorang wanita yang akan pergi, saat seseorang sudah benar - benar tidak menginginkan ku !!" ucap Hanna.


Tidak ada komentar apapun yang terlontar dari mulut manis nona Seo Jihye kali ini. Dia bahkan menghindari tatapan Hanna.


" Maaf, sepertinya saya harus segera pergi " Hanna berdiri kembali, dan membungkukkan badannya di depan Jihye lalu pergi meninggalkannya.


Setelah Hanna keluar dari ruangan tersebut, Jihye terlihat berkaca - kaca.


Dia pun mengambil tasnya di atas meja lalu pergi juga dari ruangan tersebut.


Hanna pulang dengan berjalan kaki, sepanjang perjalanan dia sedang melamun dan memikirkan hal yang barusan terjadi.


" Kenapa dia harus kembali, si tua bangka bilang padaku kalau dia sudah memberitahu keluarganya di Seoul kalau dia menolak pertunangan ini, cih... dasar pendusta !!" Hanna terlihat sangat kesal.


Hanna terus berjalan sepanjang trotoar di tengah kepulan asap dan suara bising kendaraan bermotor di sore hari yang memenuhi jalanan setiap harinya.