My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Awkward...



Setelah Satria pergi dari ruangan tersebut, Hanna merasa bahwa dirinya sangat mengantuk, entah mungkin efek obat, dia berkali - kali menguap.


" Hanna, kau mengantuk ? kau tidur saja, aku tidak akan pergi kemana - mana. " Ucap Rayhan.


" Emh... a Rey, bagaimana hubunganmu dengan kak Mila ?" entah mengapa pertanyaan seperti itu langsung terlontar dari mulutnya. Sebetulnya, dia masih sangat merasa penasaran akan kenyataannya, saat itu apakah Rayhan atau Mila yang berbohong.


" Aku sekarang hanya berteman, kami lebih cocok berteman saja. " Ucap Rayhan, dengan wajah serius.


" Oh... begitu, terus, pas terakhir kali a Rey sakit, apa kalian masih jadian atau sudah putus ?"


" Itu, emh.. kita sudah putus selama dua minggu. Sebelum mengerjakan proyek besar itu, aku mengakhiri hubungan ku dengannya. Aku tidak mau menyakitinya lebih jauh lagi. "


" Tidak mau menyakiti nya lebih jauh lagi, maksudnya ?" Hanna merasa masih sangat penasaran.


" Sudahlah, matamu sudah sangat merah, kau tidur dulu sana, aku disini akan menjagamu. " Lalu Rayhan membantu menidurkan Hanna mengubah posisi bantalnya dan menyelimuti nya.


" Terimakasih ya, a Rey. " Lalu Hanna memejamkan matanya.


Tapi, belum juga tertidur, Rayhan pun menanyakan sesuatu pada Hanna karena merasa penasaran.


" Han, apa aku boleh bertanya ?"


Hanna lalu membuka matanya dan melirik ke arah Rayhan yang sedang duduk di kursi pinggir ranjangnya.


" Bertanya itu gratis tau. Ada apa ?" tanya Hanna.


" Apa kau sedang menjalin hubungan dengan kak Wan ?" tanya Rayhan.


" Emh... iya.. " Jawaban Hanna singkat.


" Kamu, tidak masalah ? dia kan.. " Rayhan tidak melanjutkan perkataannya.


Hanna langsung terbangun kembali dari tidurnya dan duduk menghadap Rayhan perlahan.


" Aku tidak masalah, dia memang seorang anggota club motor yang terlihat seperti seorang gangster seperti yang a Rey dulu pernah bilang, dia juga seorang duda yang sudah berumur matang, Hanna tidak masalah soal usia yang terpaut lumayan jauh dengannya." Hanna nyerocos pada Rayhan, terlihat pada raut mukanya agak kesal dengan pernyataan Rayhan.


" Bukan itu maksudku, tolong jangan salah mengartikan ucapanku.. " Jawab Rayhan merasa kikuk.


" Lalu..." Hanna menatap nya tajam.


" Keyakinan, kalian berbeda keyakinan kan ? Apa kau menjalin hubungan yang serius dengannya ?"


" Aku... " Hanna tidak melanjutkan ucapannya.


" Aku tidak masalah, selama kau bahagia dan merasa aman dan nyaman, aku tidak masalah kau berhubungan dengan siapa saja, tapi apa orangtua mu tahu? Kalau kau menjalin hubungan serius, lambat laun orangtua mu pasti akan mengetahuinya kan. "


" Hanna.. tidak memberitahu mereka, hanya kak Siska dan sahabat Hanna saja yang tahu. Lagi pula, Hanna tidak terlalu memikirkannya, perbedaan keyakinan, soal itu, Hanna memang sudah tahu resiko apa yang akan Hanna jalani, jadi tidak usah khawatir ya, aku, masih bisa mengendalikan perasaanku padanya, aku belum dan tidak akan sampai hati menggadaikan imanku hanya demi cinta. "


Lalu Hanna kembali berbaring di ranjangnya dan mencoba memejamkan matanya dan menutupi wajahnya dengan selimut.


Bahkan, sebetulnya Hanna belum memikirkan sampai sejauh itu perihal hubungannya dengan Siwan. Bagaimana nanti ke depannya, lalu bagaiman dengan perasaanya pada Siwan dan sebaliknya, pasti akan sulit berpisah kalau memang perasaan mereka sudah semakin dalam.


Hanna menjadi merasa kepikiran dengan pertanyaan dan pernyataan Rayhan tadi. Tapi, rasa kantuknya sudah tidak tertahankan lagi, dia lalu tidur dengan posisi selimut masih menutup kepalanya.


Entah berapa lama Hanna tertidur, yang jelas saat dia terbangun, alangkah terkejutnya dia saat di ruangan itu, bukan hanya Rayhan saja yang sedang menunggunya.


" Ahjussi, Sammy... kalian.. ada disini ?" Ucap Hanna lalu berusaha bangun dan duduk.


Siwan yang duduk di samping ranjangnya membantu nya terduduk. Lalu memberinya segelas air minum.


" Ini, minum dulu, kau pasti haus. " Ucap Siwan, karena melihat kekasihnya itu berkeringat, lalu mengelapnya dengan tissue.


" Terimakasih, ahjussi."


Sammy menghampiri Hanna, terlihat Rayhan dari sofa di dekat pintu masuk hanya menatap Hanna dari kejauhan.


" Hai, gimana sekarang kondisinya ?" tanya Sammy.


" Aku, tidak terlalu parah, kakiku hanya sedikit lecet dan bengkak. Kau, tau darimana aku berada di sini ?"


" Ahjussi, kau juga, tahu dari siapa ?" Hanna beralih menatap Siwan, lalu ke Sammy lagi.


Di sisi lain, beberapa jam sebelum Hanna terbangun.


Sebetulnya, saat itu Rayhan juga merasa sangat mengantuk, dia tertidur di sofa dekat pintu masuk kamar inap tersebut. Sampai ada bunyi telepon yang mengganggu nya, lalu dia menemukan bahwa seseorang menelpon di layar hp Hanna.


Sammy merasa aneh karena yang mengangkat telepon nya suara laki - laki, lalu bertanya dimana Hanna, dan Rayhan menjelaskan duduk perkaranya.


Tidak lama kemudian, Sammy pun sudah berada di dalam ruangan, dia melihat Hanna masih tertidur dan Rayhan menjelaskan lebih detail kejadian yang sebenarnya dengan pelan, takut Hanna terbangun.


Setelah Sammy mengerti dan duduk di sofa panjang berdampingan dengan Rayhan, tiba - tiba, ada lagi panggilan telepon masuk, kali ini dari Siwan. Rayhan pun secepat kilat mengangkat teleponnya, dan menjelaskan pada Siwan tentang kondisi Hanna juga. Siwan pun langsung buru - buru pergi menuju rumah sakit.


Dan alangkah terkejutnya saat Siwan sampai di dalam kanar inap Hanna, dia melihat sudah ada dua orang pria yang sedang menunggu disana.


Kembali ke Hanna dan para pria nya...


" Itu, tadi aku mengangkat telepon dari mereka, takutnya penting, soalnya mereka tidak berhenti menelponmu sebelum ku angkat." Rayhan menjelaskannya pada Hanna sambil tetap terduduk di posisinya.


" Aku, mau memberikan ini, mangkuk mu sudah selesai." Sammy menyodorkan sebuah paper bag berisi mangkuk yang sudah di packing dengan sebuah kotak kardus.


" Wah.. terimakasih banyak ya Sam, padahal tidak usah terburu - buru, tadinya aku yang akan menghampiri mu ke galeri." Hanna tersenyum lalu membuka dan melihat hasil mangkuknya.


Sepersekian detik, Hanna baru sadar ada sepasang mata lain juga yang sedang menatapnya. Dia lalu menyimpan mangkuknya kembali ke dalam kotak dan paper bag.


" Emh... ahjussi,...." Hanna tidak melanjutkan perkataannya karena merasa tidak enak, bukan dia sendiri yang memberitahu kekasihnya itu tentang kondisinya.


" Aku tadi pergi ke tempat kerjamu, tapi aku tidak melihatmu disana, rekan kerjamu, aku bertanya padanya, ternyata kau izin tidak masuk kerja. Makanya aku menelponmu. "


" Maafkan aku ahjussi, tidak segera memberitahumu setelah kejadian itu terjadi. " Hanna menatap Siwan penuh penyesalan, dia benar - benar takut Siwan salah paham dengan keadaan ini.


" Tidak apa - apa, aku bersyukur lukamu tidak terlalu parah. Lain kali berhati - hatilah.. " Siwan mengelus pipi Hanna.


Hanna tersenyum, tapi seketika raut wajah bahagianya memudar, dia jadi merasa canggung dengan kondisinya saat ini.


Bagaimana tidak menjadi canggung, tiga orang pria, yang pernah singgah di hati dan kehidupannya, kini mereka sedang berkumpul di hadapannya. Dia jadi bingung harus mengajak ngobrol siapa, dia bingung harus bagaimana.


Lalu, tiba - tiba Rayhan memecah suasana hening dan awkward di dalam ruangan tersebut.


" Han, kau mau ku bawakan baju ganti ? biar aku saja yang mengambil nya di kostan. "


Sontak saja mendengar Rayhan berkata seperti itu, Siwan terkejut dan melotot melirik ke arah Rayhan, di susul dengan tatapan curiga Sammy.


" Aahh.. itu.. aku memang sepertinya butuh baju ganti, tapi.. "


" Bagaimana kalau minta tolong Siska saja ." Ucap Siwan menyahut.


" Ahjussi, kak Siska sudah pulang ke Jakarta di malam hari sebelum natal." Jawab Hanna.


" Emh.. kalau begitu aku saja, maksudku, aku akan menyuruh Aji membawa bi Asih kemari, karena dia perempuan mungkin akan lebih mengerti apa saja yang harus di bawa, kebutuhan wanita lainnya, itu maksudku.. " Ucap Siwan.


" Apa tidak merepotkan ?" tanya Hanna.


" Tentu saja tidak, kalau begitu aku akan menelpon Aji dulu ya, sebentar... " Siwan lalu beranjak dari kursinya hendak pergi menelpon di luar kamar.


Lalu, suasana, berubah menjadi hening kembali.


" Han, dia siapa ?" Sammy bertanya pada Hanna. Tentu saja maksudnya bertanya tentang Siwan, karena Rayhan, Sammy sudah mengenalnya.


" Oh... dia itu... " sebelum Hanna menyelesaikan kalimatnya, Siwan tiba - tiba masuk ke dalam kamar.


" Mereka segera datang kemari, tunggu sebentar ya." Siwan berbicara sambil berjalan menghampiri ranjang Hanna.


Sammy pun pamit, karena merasa sudah tidak ada urusan dan sudah merasa tidak di butuhkan lagi di sana.


" Sam, makasih banyak ya." Hanna mengangkat paper bag yang di berikan oleh Sammy.


" Sama - sama, semoga kau cepat pulih lagi ya. " Ucap Sammy lalu pergi setelah bersalaman dengan Siwan dan Rayhan.


Tinggal lah sekarang mereka bertiga, Rayhan, Hanna dan Siwan.


" Chagiya, kau ingin makan sesuatu? nanti akan ku belikan." Ucap Siwan.


Dalam hati Hanna berkata, tumben sekali dia memanggilku chagiya. Artinya panggilan sayang dalam bahasa Korea.


" Emh... sebentar lagi pasti ada makan siang yang di kirim perawat kemari. " Hanna tersenyum.


" Baiklah, kalau kau ingin sesuatu, segera beritahu aku saja, ya.. " Siwan menatap Hanna penuh rasa cinta.


Dari kejauhan Rayhan merasakan seperti ada sesuatu yang menikam jantungnya. Seketika berubah menjadi api cemburu menjalar ke seluruh tubuhnya.