My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Curiga berlebih...



Malam hari, mereka berlima berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama.


Suasana di meja makan nampak hening, namun, antara Hanna dan Austin, tercium gelagat yang mencurigakan bagi Aji, Siwan dan Pat. Terutama untuk Aji, berkali - kali dia mendapati matanya bertemu dangan mata Aji dan mata Hanna, dia merasa sedang di awasi oleh mereka berdua.


" Kalian sedang mengawasiku ?" tanya Aji.


Siwan dan Pat merasa heran, mengapa Aji tiba - tiba berkata seperti itu. Sedangkan Hanna dan Austin, mereka langsung merasa pucat dan gelagapan.


" A-apa maksudmu bli ?" tanya Hanna.


" Aku sudah curiga, kau dan si Os pasti membicarakanku tadi sore di mobil kan." Ucap Aji.


" Kenapa denganku ?" Austin pura - pura tidak tahu apa - apa.


Lalu mereka melanjutkan makan malam dengan penuh ketegangan.


" Aku sudah selesai, aku mau ke kamar dulu mengambil hpku." Ucap Hanna lalu berlalu pergi meninggalkan yang lainnya di meja makan.


Selang satu menit kemudian, giliran Austin yang menyusul Hanna.


" Aku juga sudah selesai, aku mau menggosok gigiku dulu. " Austin beranjak dari kursinya lalu pergi menuju kamar.


Namun, dari kejauhan, terlihat Hanna bersembunyi di balik tirai menuju pintu belakang, menunggu Austin lewat di hadapannya.


" Sssstt.... " Hanna memberi isyarat pada Austin. Dan dengan cepat Austin dapat menangkap sinyalnya, dia langsung melipir ke belakang dan menghampiri Hanna. Lalu mereka berdua pergi ke belakang membuka pintu perlahan dan berbicara berdua di luar.


" Ini semua gara - gara kau." Ucap Austin.


" Kenapa jadi gara - gara aku ?" tanya Hanna.


" Iya, itu semua gara - gara kau yang berbicara seperti itu tadi siang, soal Aji dan Siska."


" Aku hanya berbicara fakta, aku juga tahu dari ahjussi."


" Lalu, sekarang bagaimana, aku jadi mencurigai Aji seperti ini, rasanya sangat canggung sekali. "


" Karena kau dekat dengannya, kau tanyakan langsung saja padanya, pasti dia akan memberitahu mu yang sebenarnya."


" Kau sungguh yakin sekali, semudah itu kau menyuruhku bertanya padanya. "


" Daripada kita terus mencurigai bli Aji terus kan, lebih baik kita bertanya saja langsung padanya, aku akan menemanimu, tenang saja. "


" Mencurigaiku ? ada apa dengan kalian ?" tiba - tiba suara Aji dari samping membuat mereka terkejut dan mematung saling bertatapan untuk beberapa detik, dan mereka menoleh secara bersamaan, perlahan, menatap Aji yang sudah berdiri tidak jauh dari mereka entah sudah berapa lama.


" Hehe... hallo, se-sedang a-apa bli kau disitu ?" tanya Hanna terlihat kikuk dengan pertanyaan bodohnya.


" Astaga, kalian berdua ini kenapa, dari tadi tingkah kalian begitu mencurigakan." Ucap Aji.


Kini, mereka berlima sedang berkumpul di ruang tengah, Hanna duduk di samping Pat, sedangkan Siwan dan Austin duduk berdampingan berdua, lalu Aji, dia sedang berdiri sambil mondar mandir menatap antara Hanna dan Austin bergantian.


" Cepat, katakan, ada apa ini ?" tanya Aji.


" Tidak ada, kami hanya sedang berdiskusi." Jawab Hanna.


" Hah... jawabanmu sama saja seperti tadi sore." Ucap Aji.


" Kami hanya sedang berdiskusi soal siapa sebenarnya ayah dari bayi yang di kandung Siska." Ucap Asutin merasa frustasi karena terus merasa sedang di dakwa oleh Aji.


Sontak mendengar ucapan Austin, Siwan, Aji dan Pat merasa tercengang.


" Mengapa kalian masih mengurusi soal wanita itu, dia bahkan kabur tanpa kabar apapun." Ucap Aji.


" Chagiya, ada apa ?" tanya Siwan pada Hanna.


" I-itu, aku hanya memberitahu kak Os, kalau kau pernah berkata padaku, waktu itu kau pernah melihat bli Aji dan kak Siska makan berdua di Bali. Kami hanya sedang membahas soal siapa laki - laki yang sedang dekat dengan kak Siska saat itu. Itu saja !!" Jawab Hanna dengan perlahan.


" Owh.... aku mengerti sekarang, jadi, kalian ini menuduhku bahwa aku adalah ayah dari anak yang di dalam perutnya, begitu ?" tanya Aji.


" Tidak. " Ucap Hanna dan Austin bersamaan.


" Sudah ku bilang kami hanya sedang berdiskusi, itu saja, ya kan, kak Os ?" tanya Hanna menatap Austin.


" Iya, siapa yang berkata kami menuduhmu. Haha.. kau aneh.. " Ucap Austin.


Aji duduk di sebelah Pat, lalu dia menceritakan bahwa saat itu dia terlihat makan di salah satu restoran di Bali karena mereka tidak sengaja bertemu, saat itu, Aji pulang mengunjungi temannya di dekat kantor Siska, dan saat itu pula Siska hendak makan siang di jam istirahat. Dan mereka memutuskan untuk makan siang bersama sebagai seorang teman. Begitu ceritanya.


" Owh... seperti itu rupanya. " Ucap Siwan membuat semua orang menatapnya.


" Kak, kau juga mencurigai ku ?" tanya Aji.


" Tidak, aku hanya penasaran, itu saja." Siwan memasang muka datar dan menghindari tatapan Aji.


" Ish... ahjussi, akui saja, kau bahkan mengira awalnya bli Aji yang akan menikah dengan kak Siska. " Ucap Hanna menyipitkan matanya menatap Siwan.


" Hahaha.... sepertinya sekarang sudah jelas. Baiklah, maafkan aku ya, sudah sempat mencurigaimu, Ji. " Ucap Austin.


" Hihi... maafkan aku juga ya, bli. " Ucap Hanna.


" Lain kali tidak usah pakai rahasia, langsung saja tanyakan padaku, kalian ini, membuatku jadi salah tingkah saja. " Ucap Aji.


Setelah lelah menghabiskan malam dengan mengobrol dan bercanda, mereka memutuskan untuk tidur. Pat dan Hanna tidur bersama, Siwan sendiri, lalu Aji dan Austin tidur di kamar yang sama. Itu pun sebenarnya Aji tidak mau, tapi Austin menyeretnya masuk ke dalam kamar.


Saat yang lain tertidur, Aji dan Austin masih terjaga, mereka terlihat sedang berdiskusi mengenai sesuatu hal yang penting di dalam kamar. Mereka seperti sedang menyusun sebuah strategi. Entah apa yang mereka bicarakan, mari kita lihat saja nanti.


Keesokan harinya, pukul 09.00 wib, mereka berlima sudah berada di bandara dengan tujuan masing - masing, Austin dan Aji akan terbang kembali ke Bali, Patricia akan pulang ke Asutralia, sedangkan Hanna dan Siwan akan pergi ke Bandung.


Mereka semua berpisah lalu menuju gate penerbangan sesuai tujuan masing - masing.


" Ahjussi, kenapa kita tidak naik mobil saja, jaraknya tidak terlalu jauh kan ?" tanya Hanna.


" Macet, sudahlah, ayo masuk." Siwan mendorong Hanna masuk ke dalam pesawat.


Di dalam pesawat mereka berdua mengobrol selama perjalanan.


" Ahjussi, kenapa bli Aji tidak jadi ikut bersama kita ?" tanya Hanna.


" Dia harus pulang dan mengurus sesuatu di Bali." Ucap Siwan.


" Emh... begitu ya, terus, nanti ahjussi mau menginap dimana selama di Bandung ?" tanya Hanna.


" Aku sudah membooking hotel terdekat dari alamat rumahmu, tapi maaf ya, aku hanya bisa dua hari berada di Bandung. Ada rapat penting yang tidak bisa di wakilkan." Jawab Siwan.


" Baiklah, aku kan sudah bilang, tidak usah mengantarku segala, lagipula, nanti, disana, aku tidak bisa mengenalkanmu pada kedua orangtua ku. Maafkan aku ya !!" Ucap Hanna terlihat sedih.


" Tidak apa, aku mengerti. Tetaplah tersenyum, setidaknya saat kita masih bisa bersama seperti ini." Ucap Siwan menatap wajah kekasihnya yang terlihat sedih. Dia lalu mencium tangan kekasihnya itu, dan sedikit menggodanya dengan candaan tidak lucunya.


Sesampainya di Bandung, sudah ada seseorang yang menjemputnya di bandara, Siwan memang terkenal memiliki banyak rekan bisnis yang tersebar di beberapa kota di Indonesia.


" Hallo mr. Im, apa kabar ?" tanya seorang pria paruh baya.


" Baik, bagaimana keadaanmu pak Adi ?" tanya Siwan sambil menjabat tangannya.


" Saya alhamdulillah, sehat mister." Jawab pak Adi.


" Kenalkan, dia Hanna, dia asli dari Bandung." Ucap Siwan.


" Hallo, neng Hanna, saya yang akan mengantar jemput mr. Im selama di Bandung. " Ucap pak Adi sambil mengulurkan tanganya pada Hanna.


" Iya pak Adi, terima kasih banyak ya atas bantuannya." Hanna menjabat tangan pak Adi.


Setelah sedikit berbincang dan bertanya tentang majikan pak Adi di Bandung yang adalah sahabat Siwan sewaktu masih tinggal di Bali, kini mereka pun pergi menuju parkiran mobil yang tidak jauh lokasinya.


Saat mereka sudah berada di dalam mobil, " sekarang kita mau kemana dulu nih ?" tanya pak Adi sudah siap untuk membawa Siwan dan Hanna keliling kota Bandung.


" Apa kau mau langsung pulang ? atau mau pergi jalan - jalan dulu ?" tanya Siwan pada Hanna.


" Kau tidak lelah ?" tanya Hanna.


" Tidak, aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama mu sebelum kita berpisah." Jawab Siwan.


" Baiklah, karena sebentar lagi sudah jam makan siang, bagaimana kalau kita pergi cari makan setelah itu jalan - jalan sebentar." Ucap Hanna.


" Oke, terserah kau saja." Ucap Siwan.


" Pak, ke daerah Lembang ya !!" pinta Hanna.


" Siyap neng !!" Jawab pak Adi.


" Neng." Ucap Siwan berbisik di telinga Hanna.


" Ish... apa sih, tau tidak artinya apa ?" tanya Hanna menjawabnya dengan berbisik pula.


" Aku tahu, aku kan sudah lama tinggal di Indonesia, katanya gadis dari Bandung cantik dan manis, mereka senang di panggil neng gelis... " Jawab Siwan.


" Ih.. tau darimana itu ?"


" Dari temanku, dulu, saat dia sempat tinggal di Bali dia banyak bercerita tentang Bandung karena istrinya itu asli dari Bandung."


" Owh.. begitu rupanya, tapi ahjussi, cara mengucapkannya bukan gelis, tapi geulis, pake 'u' yah.. geulis.." Ucap Hanna mengajarkan Siwan.


" Oke, neng geu-lis... begitu kan ?" tanya Siwan.


" Yap, betul, lalu, aku punya nama sunda untukmu, mau tahu ?" tanya Hanna.


" Apa itu ?" Siwan nampak penasaran.


" Akang Iwan, kang Iwan.. Hihihi... " Hanna tertawa geli sendiri.


" Kenapa tertawa ?" tanya Siwan heran.


" Tidak, hanya lucu saja, Im Siwan, jadi kang Iwan, sunda banget... " Ucap Hanna.


" Kau sedang meledekku rupanya." Siwan menggelitik perut kekasihnya hingga tertawa terpingkal - pingkal.


Pak Adi yang melihat kebahagiaan antara Siwan dan Hanna pun ikut tersenyum. Sepanjang perjalanan menuju tempat tujuan mereka selalu bercanda tawa dan mengobrol tentang berbagai hal. Kini, giliran Hanna yang memberikan pelajaran sejarah dan bahasa daerah kota kelahirannya itu pada Siwan. Dan Siwan nampak begitu antusias mendengarkan dan mempelajarinya.