My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
ibu...



Hanna sedang duduk di meja makan, ia hanya tertunduk menatap 2 potong sandwich yang ada di hadapannya.


Dan, seketika lamunannya menjadi buyar saat seseorang menyentuh tangannya yang berada di atas meja dan berkata...


" Nak, ayo, makanlah, kau pasti sudah merasa lapar kan !!"


Hanna tersenyum dan menjawab " baik bu !!"


Dengan tangan yang gemetar, Hanna mengambil sepotong sandwich dari atas piringnya lalu memasukkannya ke dalam mulutnya.


Gigitan pertama belum terasa apapun di lidahnya, begitu pula dengan gigitan selanjutnya. Entah ini merupakan sarapan sehat tanpa garam atau bagaimana, atau mungkin di karenakan situasinya kali ini yang membuat dadanya terus berdebar karena serasa terus di perhatikan oleh wanita yang berada di hadapannya.


Sesekali, Hanna melirik pada bi Asih yang sedang meracik bahan masakan untuk makan siang nanti di meja lainnya di area dapur.


Bi Asih seperti menyadari bahwa saat itu Hanna merasa canggung berhadapan dengan ibunya Siwan di meja makan. Bi Asih tersenyum, bukan, seolah menahan tawa menatap Hanna dari kejauhan.


Saat Hanna dan ibunya Siwan sedang menikmati acara sarapan bersama mereka, datanglah Aji, dan duduk di samping ibu Siwan.


" Bibi, sudah lama ?" tanya Aji pada ibunya Siwan.


" Belum satu jam, kau ini, kenapa baru bangun jam segini ?" tanya ibu Siwan.


" Iya, maafkan aku, semalam, tidurku terlalu nyenyak, karena ada yang menggantikan tugasku menjaga kak Wan !!" jawab Aji sambil melirik Hanna.


Hanna hanya tersenyum menatap balik Aji yang terlihat menggodanya.


Lalu, tidak lama datang pula Austin menyapa mereka di meja makan.


" Hallo bibi, sudah lama tidak bertemu !!" ucap Austin menghampiri ibu Siwan lalu memeluknya dari belakang.


" Kau sudah mau berangkat, sarapan dulu lah, perutmu jangan sampai kosong !!" ucap ibu Siwan terdengar sangat perhatian.


Austin mengambil dua potong sandwich yang ada di meja lalu berkata...


" Lain kali saja ya bi, aku ada operasi dua jam lagi... " Austin kembali memeluk ibu Siwan seraya berpamitan.


Dan, sebelum pergi, dia sempat menggoda Hanna.


" Han, pendekatanlah dengan calon ibu mertua mu, dia tidak galak kok, hanya sedikit cerewet. Hahaha... bye... !!" Austin melambaikan tangannya, sambil memasukkan sandwich ke mulutnya dan pergi meninggalkan mereka di ruang makan.


" Ish... dasar si Os, kelakuannya masih seperti itu saja !!" ucap ibu Siwan.


Hanna hanya tersenyum sambil melanjutkan sarapan paginya. Sedangkan Aji, dia seolah tidak menghiraukan ada orang di sekitarnya. Padahal Hanna saat itu begitu membutuhkan pertolongan nya untuk memecah kecanggungan di sekitarnya. Seandainya Austin yang ada di meja saat itu, pasti keadaan tidak akan secanggung ini.


Selesai sarapan, ibu Siwan mengajak Hanna untuk mengobrol di ruang tengah. Padahal saat itu Hanna ingin membantu bi Asih di dapur untuk sekedar mencuci piring atau meracik bahan masakan.


Flashback...


1 jam yang lalu...


Tanpa di duga - duga, ibunya Siwan datang ke rumah, lalu orang yang pertama kali ia cari adalah bi Asih.


Bi Asih yang berada di dapur nampak kaget.


" Kenapa bi ? tidak senang aku datang kemari ?" tanya ibu Siwan.


" Ish... ya seneng lah, sudah lama gak ketemu juga, saking sibuknya jarang kemari !!" ucap bi Asih.


" Siwan, bagaimana keadaannya sekarang ?" tanya ibu Siwan.


" Emh... den Wan, dari semalam badannya demam, sekarang sudah mendingan, paling sedang makan." Jawab bi Asih.


" Dia sakit... kenapa tidak memberitahuku dari kemarin !!" ucap ibu Siwan lalu berlalu meninggalkan bi Asih sendirian di dapur dan berjalan menuju kamar Siwan.


Sesampainya di depan pintu kamar Siwan, ibunya ingin mengetuk pintu kamarnya, namun, dia tidak jadi melakukan nya, dia langsung membuka pintunya perlahan.


Dan, saat ia masuk, betapa terkejutnya dia, saat melihat ada seorang wanita berada di kamarnya.


" Ibu... " ucap Siwan.


Hanna menatap sekilas pada ibu Siwan, dan menatap ke arah Siwan dan berkata " ibu " ucap Hanna lalu kembali menatap wajah ibu Siwan yang kini berada di sampingnya.


Hanna yang sedang duduk di kursi langsung berdiri dan menyapa ibu Siwan dengan kikuk. Sebelumnya, ia sempat menyimpan mangkuk yang di tangannya, ke atas nakas.


" Ha-hallo bu !!" ucap Hanna terdengar gugup, ia mengulurkan tanganya dan mencium tangan ibu Siwan tanda memberi hormat pada orang yang lebih tua.


" Hallo nak ' ibu Siwan menatap Hanna lalu beralih pada Siwan ' siapa gadis cantik ini Wan ?" tanya ibu Siwan.


Siwan tersenyum, lalu menjawabnya dengan nada pelan, " dia kekasihku, bu !!" ucap Siwan.


" Saya Hanna. " Ucap Hanna.


" Wah, kenapa tidak memberitahuku kalau kau sudah punya kekasih, masih muda, cantik lagi !!" ucap ibu Siwan.


Hanna nampak tersipu mendengarnya, pipinya terlihat merah. Ia tersenyum sambil menatap Siwan dan beralih menatap pada ibu Siwan.


" Bagaimana kondisimu ? kenapa tidak memberitahu ibu kalau kau sedang sakit !!" ucap ibu Siwan.


" Demam ku sudah hilang, tinggal lemasnya saja bu, maaf, aku tidak mau membuatmu khawatir. " Jawab Siwan.


Setelah berbincang sebentar dengan Siwan dan menyuruhnya meminum obat lalu menyuruh Siwan istirahat kembali, ibu Siwan bertanya pada Hanna, apakah dia sudah sarapan, dan Hanna menjawab belum. Lalu ibunya mengajak Hanna untuk turun dan sarapan bersama di meja makan.


Hanna sulit untuk berkata tidak, apalagi Siwan sendiri pun menyuruhnya untuk segera mengisi perutnya yang kosong dari semalam.


Akhirnya, dengan perasaan yang tidak karuan dia mengikuti ibu Siwan dari belakang, menuju ke ruang makan untuk sarapan bersama.


...****...


Kini, Hanna bersama ibu Siwan sedang duduk berdampingan di sofa ruang tengah.


" Nak, sudah lama kenal dengan Siwan ?" tanya ibu Siwan sebagai permulaan.


" Kira - kira, sekitar hampir mau 2 tahun bu, saya pertama kali kenal dengan ahjussi awal tahun 2014." Jawab Hanna.


" Ahjussi.... !!" ucap ibu Siwan.


" Maksud saya, kak Wan !!" ucap Hanna langsung merasa kikuk.


" Tidak apa, kalau kau memang biasa memanggilnya begitu, aku tidak apa - apa kok, tapi... memangnya, boleh aku tahu usia mu berapa sekarang ? tanya ibu Siwan.


" Saya, baru menginjak usia 24 tahun bu, awal oktober kemarin." Jawab Hanna.


" Owh... pantas saja, kau memanggilnya paman, dia memang sudah tua." Ucap ibu Siwan lalu tertawa.


" Hihi... tidak apa bu !!" Hanna tersenyum menatap ibu Siwan.


" Kau sepertinya suka menonton drama Korea ya, sampai tahu nama panggilan dari bahasa Korea !!" ucap ibu Siwan.


" Iya bu, dulu sering menonton, tapi akhir - akhir ini, saya jarang menonton karena tidak ada waktu." Jawab Hanna.


" Ih... kamu, jangan terlalu formal gitu lah, aku jadi seperti lagi wawancara calon pegawai di perusahaan, santai saja, ya... !!" ucap ibu Siwan.


Lalu, ibu Siwan mulai bercerita tentang kisahnya dan Siwan dulu. Ternyata, ibunya melahirkan Siwan di usia 19 tahun, setelah lulus sekolah langsung menikah dan di ajak tinggal di Korea Selatan oleh ayah Siwan.


Dan, ibunya Siwan mulai bertanya tentang tempat tinggal dan kegiatan Hanna.


Hanna tanpa rasa canggung dan dengan percaya diri memperkenalkan tentang dirinya dan keluarganya.


Ibu Siwan nampak begitu antusias mendengarkan semuanya, sesekali ia pun menyelangi dengan cerita tentang Siwan kecil yang dulu sangat nakal.


Hingga tanpa terasa, selama 1 jam mereka berbincang di ruang tengah dengan asyiknya. Lalu bagaimana dengan Siwan di kamarnya ?


Mereka sepertinya lupa ada pasien di atas sana yang membutuhkan perawatan.


...*****...


1 jam sebelumnya...


Selesai berolahraga, Aji masuk ke dalam lalu hendak naik ke lantai 2 menuju kamarnya untuk membersihkan badannya.


Ia sempat melirik pada Hanna dan ibunya Siwan yang sedang mengobrol serius.


Sebelum menuju kamarnya, ia sempat mengecek Siwan di dalam kamarnya. Ternyata Siwan sedang tertidur. Lalu ia berlalu menuju kamarnya dan mandi.


Selesai mandi, dia kembali keluar dari kamar dan dari atas, dia masih melihat Hanna dan ibunya Siwan masih mengobrol, malah seperti nya mereka kali ini terlihat begitu akrab, ada gelak tawa dari masing - masing di sela obrolan mereka.


Aji menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua wanita itu sedang asyik bergosip tanpa memperdulikan Siwan yang sedang terkapar di atas ranjang.


Aji pun masuk ke dalam kamar Siwan kembali, dan, kali ini, ia melihat Siwan sudah terbangun.


" Kak, bagaimana kondisimu ?" tanya Aji.


" Aku, sudah lumayan bertenaga lagi. Ji, dimana mereka ?" tanya Siwan.


Aji seperti nya mengerti siapa yang di maksud oleh Siwan saat itu, " oh... mereka, sedang tertawa bersama di atas penderitaan mu, kak !!" jawab Aji.


" Maksudmu ?" tanya Siwan nampak tidak memahami ucapan Aji.


" Iya, kudengar mereka sedang asyik mengobrol dan menggosipkan masa kecil mu sampai tertawa terbahak - bahak. " Jawab Aji.


Siwan tersenyum mendengar nya.


Lalu, Siwan meminta bantuan pada Aji untuk mencabut selang infusan nya, karena sepertinya dia sudah tidak membutuhkan nya kali ini. Dia juga meminta tolong Aji memapahnya kedalam kamar mandi. Dia ingin mengganti bajunya yang kini basah karena keringat.


Selesai membersihkan diri dan mengganti bajunya, Siwan kembali terduduk di ranjangnya.


" Mau ku panggilkan mereka ?" tanya Aji menatap Siwan.


Belum juga menjawabnya, terdengar suara pintu kamar Siwan terbuka.


Dan, masuklah Hanna beserta ibunya Siwan ke dalam kamar dan menghampiri Siwan.


" Nak, kau sudah bangun rupanya !!" ucap ibu Siwan.


" Sudah dari tadi, saat kalian sedang asiknya menggosipkan ku !!" jawab Siwan.


Hanna hanya menatapnya sambil menahan tawa.


" Ish... kau ini, kami pikir kau masih tertidur lelap, jadi kami asik mengobrol saja di bawah. Bagaimana sekarang ?" tanya ibu Siwan sambil menyentuh jidat dan pipi Siwan.


" Aku sudah baikan bu, tenang saja !!" ucap Siwan.


" Baguslah, kalau begitu ibu jadi merasa tenang, soalnya ibu tidak bisa menginap disini, ibu harus segera pergi sekarang." Ucap ibunya Siwan.


" Kenapa tidak menginap bi ? sudah lama padahal tidak datang kemari !!" ucap Aji.


" Yah... aku kemari juga karena mau ada pertemuan bersama beberapa donatur di hotel xxx nanti siang, setelah itu aku akan langsung pulang saja, aku sedang banyak kesibukan. " Jawab ibu Siwan.


" Baiklah bu, jaga kesehatan mu ya, semoga selamat di mana pun ibu berada." Ucap Siwan.


" Amin. Kau harus lekas sehat kembali ya, nanti, ajaklah pacarmu ini main ke rumah ibu, kau ini, sudah lama punya pacar tapi tidak mengenalkannya pada ibu, keterlaluan sekali kau !!" ucap ibu Siwan.


" Maafkan kami bu, lain kali, kami akan berkunjung ke sana !!" jawab Hanna membela Siwan.


" Baiklah, aku tunggu ya !!" ucap ibu Siwan.


Beberapa menit kemudian, kini Hanna dan Aji sedang berada di halaman, sedang melambaikan tangannya pada ibu Siwan yang sudah berada di dalam mobil dan melajukannya keluar dari halaman rumah Siwan.


Ibu Siwan harus segera pergi karena ada pertemuan rapat dan makan siang bersama para donatur di sebuah tempat tidak jauh dari lokasi rumah Siwan.


Setelah mengantarkan dan memastikan ibu Siwan sudah pergi, Hanna kembali masuk ke dalam rumah lalu menuju kamar Siwan.


" Apa ibu sudah pergi ?" tanya Siwan.


" Iya, aku dan bli mengantarkannya sampai depan. Ahjussi, apa kau masih lemas ?" tanya Hanna lalu duduk di samping Siwan.


" Iya, aku masih lemas dan pusing." Jawab Siwan lalu menarik lengan Hanna, seakan memberi isyarat bahwa ia ingin di manja oleh kekasihnya.


" Mau makan lagi ?" tanya Hanna.


" Tidak mau, nanti saja kalau waktunya minum obat. Perutku kembung, banyak minum air putih dari tadi." Ucap Siwan.


Lalu, Hanna pun mengelus - elus perut Siwan yang nampak sudah membuncit karena terlalu banyak minum.


" Chagiya, sebelum berangkat kerja, makanlah dulu disini, aku tidak mau kau juga sakit !!" ucap Siwan.


Hanna menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Lalu dia naik ke atas kasur dan duduk di samping Siwan sambil bersandar ke belakang. Dan, Siwan pun dengan sigap langsung bersandar di pelukan Hanna. Dia merasakan kenyamanan saat berada di dekat kekasihnya itu.


Hanna mengelus - elus kepala Siwan, lalu mengelus punggungnya, membuat Siwan merasakan kantuk kembali melanda.


Tidak ada percakapan di antara mereka, Siwan terlalu lemas untuk banyak berbicara, dan, Hanna pun memahami situasi Siwan yang seperti itu, makanya, dia hanya menemani Siwan dan membantunya untuk banyak beristirahat agar tubuhnya benar - benar fit dan tenaganya kembali pulih.


Dan, tanpa terasa, Hanna pun merasa mengantuk, dan iapun ikut tidur. Mereka sama - sama tertidur sambil berpelukan.


Hingga pada pukul 12.00 wita, Aji mulai merasa cemas, karena dia tahu, Hanna harus pergi bekerja hari ini. Sedangkan Hanna tidak kunjung keluar dari kamar Siwan.


Aji pun memberanikan dirinya mengetuk pintu kamar Siwan. Namun, tidak ada jawaban sama sekali dari dalam. Lalu, setelah berpikir panjang, Aji pun membuka pintu kamar Siwan dan masuk ke dalamnya.


Dan, seketika langkahnya terhenti di saat melihat Hanna dan Siwan sedang tertidur pulas sambil saling memeluk.


Entah mengapa, ada sesuatu yang menghantam dadanya saat itu, saat ia melihat Hanna tengah berduaan bersama Siwan.


Aji memberanikan diri menyentuh pundak Hanna untuk membangunkannya.


" Han, bangun, sudah siang. " Bisik Aji di dekat telinga Hanna.


Dan, akhirnya Hanna membuka matanya perlahan, dan mencoba terbangun , lalu membetulkan posisi wajah Siwan ke atas bantal, lalu ia turun dari ranjang dan membetulkan selimut Siwan.


Hanna pun pergi ke kamar mandi. Dan Aji, sejak Hanna tadi membuka matanya, dia langsung pergi lagi keluar dari kamar Siwan dan turun ke bawah menunggu Hanna di ruang tv.


Setelah selesai mandi dan memakai seragam dan make up, Hanna menghampiri Siwan lalu mengecup keningnya. Dia tidak berani membangunkan Siwan untuk berpamitan pergi bekerja. Dia hanya bisa menatap wajah kekasihnya itu sambil tersenyum dan mendoakannya di dalam hati.


" Ahjussi, aku pergi dulu ya !!" ucap Hanna.


Saat turun ke bawah, Aji yang melihatnya langsung menghampiri nya dan mengajaknya untuk makan siang bersama sebelum pergi bekerja.


Bahkan Aji menyuruh bi Asih untuk menyiapkan bekal untuk Hanna, karena dia tahu, Hanna sering membawa bekal dari rumah di bandingkan membeli makan di luar.


" Den Siwan masih tidur ?" tanya bi Asih pada Hanna.


" Iya bi, ahjussi masih tidur pulas, padahal sebentar lagi harus minum obat. " Jawab Hanna.


" Tidak apa, cah ayu berangkat saja kerja dengan tenang, nanti biar bibi yang mengurusnya !!" ucap bi Asih.


" Baik bi, terima kasih ya !!" Hanna tersenyum lalu mengelus - elus tangan bi Asih.


Selesai makan siang, Hanna langsung pamit pergi pada bi Asih, di antarkan oleh Aji dengan mobil milik Siwan.


Di dalam mobil, selama perjalanan, tidak ada percakapan sama sekali. Hanna sibuk dengan hpnya dan berkirim pesan dengan ibunya, sedangkan Aji sibuk dengan setir dan melihat jalanan di depan yang lumayan macet.


Hingga saat Hanna ingin mengambil tissue dari kotak yang ada di sampingnya, karena matanya terlalu fokus pada layar hp, ia malah menarik tangan Aji yang berada di atas rem.


Sontak, Aji pun terkejut karena sentuhan dari Hanna.


" Maaf, aku mau ambil tissue... " ucap Hanna.


Aji hanya menatap Hanna, lalu tersenyum dan kembali fokus pada jalanan yang ada di depannya.


Bagi Hanna mungkin biasa saja, tapi bagi Aji, hal kecil seperti itu bisa membuat hatinya goyah dan dadanya terus berdebar.


Sekuat apapun ia berusaha untuk menepis dan menyamping kan perasaannya, tapi ia sudah terlanjur jatuh hati pada wanita yang kini berada di dekatnya.


Seharusnya perasaan itu tidak boleh ia miliki, " aku tidak boleh jatuh cinta padanya !!" ucap Aji di dalam hati.