
Flashback
Pertengahan bulan April 2018...
Siwan sudan mengetahui segala sesuatu tentang kehidupan Hanna dan Hwan dari Aji lewat hasil pengintaian Elsa selama ia di tugaskan untuk menjadi mata-mata di Bandung.
Ia merasa rindu, ingin sekali rasanya saat itu juga ia mendekat pada keduanya dan memberitahu kekasihnya bahwa dia masih hidup, dia masih Siwan yang sama yang selalu merindukan dan mencintai Hanna segenap jiwa dan raganya. Terlebih lagi ia tahu bahwa kini ada seseorang yang menguatkan hubungan mereka yaitu Hwan, benih darinya yang berkembang dan hidup dengan sehat di dalam rahim Hanna serta lahir ke dunia dengan selamat dan sehat.
Seseorang yang tak ia sangka akan hadir di antara kehidupan mereka. Siwan tidak pernah berpikir sekalipun bahwa hasil perbuatan nakalnya hari itu akan benar-benar menjadikan kekasihnya itu mengandung selama sembilan bulan lamanya.
"Nak, sampai kapan kau akan merahasiakan semua ini darinya, ibu ingin kalian kembali bersama, kau pantas berbahagia, " ucap bu Shinta, menghampiri Siwan yang duduk di bangku taman panti asuhan milik ibunya. Semenjak Siwan kembali, ibunya kembali mengurua panti asuhan dan tinggal disana.
"Aku takut bu, aku tidak ingin melibatkan mereka, setidaknya untuk saat ini, " jawab Siwan.
Bu Shinta duduk di samping anaknya, dan menatap wajah anaknya itu dengan tajam.
"Lihat aku, katakan, itu hanya alibimu saja kan?" tanya bu Shinta.
"Katakan, apa yang benar-benar mengganggumu ?" sambung bu Shinta.
"Aku takut, keluarganya tidak menerimaku bu, perbedaan diantara kami, mereka belum tentu bisa menerimanya meskipun sudah ada seseorang yang memungkinkan kami untuk bersama, yaitu Hwan, bahkan aku belum meminta maaf atas perbuatanku hari itu, aku sudah menodai anaknya tanpa ikatan pernikahan, apa ayah dan ibunya bisa menerimaku ?" tanya Siwan, menatap wajah ibunya.
"Hei... kemana perginya kedewasaanmu, hah? kau tidak ingat umurmu berapa? sudah berkepala empat tapi kau masih berpikir seperti anak muda berusia dua puluhan, kau seperti pengecut yang tidak ingin mengakui perbuatanmu dan ingin mencuci tanganmu dengan berbagai alasan, kau bukan anakku !!" cerca bu Shinta, dengan nada bicara dan raut wajah kesal.
"Apa ibu mengizinkan aku, seandainya aku menjadi seorang mualaf ?" tanya Siwan.
Bu Shinta menghela nafas panjang. Lalu menghembuskannya perlahan.
"Semua keputusan di hidupmu, apa aku di izinkan untuk ikut campur di dalamnya ?"
Siwan kembali melirik ibunya.
"Pesanku hanya satu, jangan bermain-main, kalau kau ingin mengubah keyakinanmu karena seseorang, jangan pernah menyesalinya di kemudian hari, kau harus merubah semua mindsetmu tentang segala aturan hidupmu yang sebelumnya kau jalani, tentu akan sangat berbeda, menjadi seorang muslim, sangat bertolak belakang dengan aturan hidup yang kau jalani selama ini, apa kau sanggup menjalaninya ? semoga saja kau berubah kearah yang lebih baik, aku hanya bisa mendoakanmu agar selalu selamat dan berbahagia !!" bu Shinta beranjak dari kursi lalu melangkah pergi meninggalkan Siwan sendirian di taman.
Keesokan harinya...
Pagi hari, Siwan sudah berada di bandara. Aji terlihat selalu bersamanya. Ada Bram dan seorang pria yang berdiri di sampingnya.
"Bram, segera laporkan padaku jika ada pergerakan dari Chou, terus lanjutkan pencarian Oz bersama Tio dan tim," ucap Aji pada Bram.
"Keenan,siang nanti jangan lupa, kau akan menggantikanku untuk bertemu klien yang akan merenovasi villanya, dengan Yoka, kau harus berhasil memenangkan proyek ini, aku percaya kau pasti bisa !!" ucap Siwan, menepuk pundak pria yang bernama Keenan itu. Pria itu adalah suami baru dari Ayu, adik sepupu Siwan yang mengelola toko kue di gedung miliknya dulu, yang kini sudah ia hibahkan pada Ayu.
"Percayakan padaku kak, aku akan berjuang semampuku !!" jawab Keenan.
"Aku yakin kau pasti berhasil, desainmu sangay unik, bos Imperial group pasti akan menyukainya, " sahut Siwan.
Beberapa menit kemudian, Siwan dan Aji kini sudah berada di dalam pesawat. Perjalanan mereka kali ini bukan merupakan perjalanan bisnis, namun perjalanan menuju hidup dan mati kisah asmaranya bersama Hanna.
Beberapa jam kemudian, Siwan dan Aji sudah sampai di Bandung.
Mereka di bandara di jemput oleh Andi, supir yang selalu mengantar Siwan kemanapun ia pergi saat berada di kota kembang itu. Andi merupakan supir sahabat Siwan yang sudah lama menetap di kota yang juga di juluki Paris Van Java.
Siwan dan Aji kini berada di dalam mobil yang di kemudikan oleh Andi. Tujuan mereka kali ini adalah sebuah pasar tradisional yang berada di salah satu kota itu.
Siwan dan Aji turun di salah satu parkiran pasar tradisional yang terlihat masih padat oleh pengunjung.
Siwan dan Aji kini berada di depan sebuah kios yang di kerumuni oleh para pembeli.
Dan, terlihat seorang pria yang seumuran dengan ayahnya dan seorang pria lainnya yang terlihat seumuran dengannya sedang sibuk melayani para konsumen di kios mereka.
Bukan perkara sulit bagi Siwan untuk mencaritahu keberadaan seseorang dan latar belakangnya.
"Permisi, maaf bisakah saya berbicara sebentar dengan bapak ?" tanya Siwan, mendekat pada pria yang seumuran dengan ayahnya.
"Dengan saya ? boleh, ada apa bung ?" tanya pria itu yang tak lain adalah pak Bagyo, nyaring, di tengah suara bising yang berasal dari orang-orang yang berlalu lalang di sekitar pasar dan juga kiosnya.
"Perkenalkan, saya Siwan, Im Siwan !!" ucap Siwan, mengulurkan tangannya.
"Siwan, oh ya, Siwan mana yaa? sepertinya tidak asing !!" pak Bagyo masih tidak bisa mengenalinya.
Dan, ketika melihat pria yang berada di belakang Siwan menampakkan wajahnya, barulah pak Bagyo sadar, kalau pria yang kini sedang berjabat tangan dengannya adalah orang yang menjadi sumber kesedihan anaknya selama ini.
"K-kau... ?" pak Bagyo menarik lengannya dari tangan Siwan, lalu menjabat tangan Aji yang juga ingin menyapanya.
"Apa bapak ada waktu untuk berbincang sebentar ? maafkan kami datang di waktu yang tidak tepat !!" ucap Aji.
"Bisa.. bisa," pak Bagyo menyahut Aji, namun pandangan matanya tak beralih dari wajah Siwan sedetikpun. "Ayo kita cari tempat yang tenang untuk mengobrol, " sambung pak Bagyo. Setelah berpamitan pada orang yang berdiri di sebelahnya yang sedang sibuk melayani konsumen, pak Bagyo pun keluar dari kiosnya dan membawa Siwan serta Aji menuju sebuah warung kopi terdekat di area pasar.
Beberapa menit kemudian...
Ketiganya sudah duduk di sebuah bangku panjang yang muat untuk beberapa orang di sebuah warung kopi kecil yang sudah tua dan reyot.
Tak jauh di luarnya berjejer motor milik para konsumen yang sedang berbelanja di pasar serta motor milik beberapa tukang ojeg yang sedang mencari penumpang yang terlihat kesusahan mengangkat barang belanjaan mereka.
Di atas meja yang sudah penuh dengan coretan berupa kata mutiara, rumus matematika catatan para pengunjung warung kopi yang selalu sibuk menuliskan angka keberuntungan mereka (sebut saja merumus nomor togel), bahkan beberapa nomor telepon pun terpahat diatasnya yang entah siapa orang yang dengan sengaja menulisnya.
Di seberangnya, Siwan dan Aji pun duduk dengan santai. Siwan di suguhi hanya segelas air teh hangat oleh pemilik warung, sesuai permintaannya, sedangkan Aji, memesan satu gelas kopi hitam sachetan.
"Jadi, apa benar ini nak Siwan yang anu, itu, siapa ya, anakku Hanna, apanya ?" mulut pak Bagyo seakan kebingungan untuk merangkaikan kata-kata yang tepat saat itu.
"Benar pak, ini saya Siwan, saya orang yang harus bertanggung jawab atas yang telah saya perbuat terhadap anak bapak, sebelumnya saya ingin meminta maaf, atas segala tindakan saya yang merugikan anak bapak !!" ucap Siwan.
"Tapi, bukankah kau sudah, emh.. anu.. kecelakaan helikopter, benar kan ? apa yang terjadi sebenarnya ?" pak Bagyo begitu terheran - heran.
"Saya belum meninggal pak, saya masih hidup, atas kuasa Tuhan, saya bisa menemui bapak dalam keadaan sehat sekarang ini, " Siwan berkata dengan tegar, meskipun bayangan masa lalunya melintas di kepalanya, bayangan saat ia di siksa dan di seret oleh anak buah Austin dan Andrew Chou satu tahun yang lalu.
"Pak, biarkan saya menjelaskan semuanya, saya tidak akan berbohong atas nama Tuhan, saya menjadi saksi bagaimana saya menemukan kak Wan dalam kondisi yang mengenaskan awal tahun baru kemarin, " sela Aji.
Aji pun menjelaskan semuanya pada pak Bagyo secara garis besarnya saja. Ia juga menceritakan tentang kasus DNA Hwan, agar ia tidak terus menerus salah paham terhadapnya.
Saat itu, mereka memang belum mempunyai cuup bukti, karena belum berhasil menemukan Austin, hanya saja, Aji berani bersumpah kalau ia belum pernah menyentuh Hanna sedikitpun.
Pak Bagyo begitu terkejut mendengar semua cerita Aji.
"Nak, lantas, tujuanmu selain ini, apa ada hal lainnya ?" tanya pak Bagyo.
"Saya ingin bertanggung jawab tentang apa yang dialami oleh anak bapak, saya ingin bertanggung jawab untuk menikahi anak bapak, apakah bapak mengizinkannya ?" tanya Siwan, penuh harap.
Pak Bagyo nampak berpikir sesaat.
"Nak, setahuku, kau tidak seiman dengan anakku, bagaimana bisa aku mengizinkannya bersanding denganmu, meskipun ada Hwan yang bisa mengikat hubungan kalian kembali, aku tidak ingin membiarkan anakku melakukan dosa untuk kesekian kalinya, aku ayahnya, aku yang akan mempertanggung jawabkan semuanya di akhirat nanti !!" tegas pak Bagyo.
Siwan tahu, pasti inilah yang akan menjadi kendala satu-satunya baginya untuk menjadikan Hanna sebagai pendampingnya.
"Beri saya waktu, saya akan mempelajari semuanya, dan saya tidak akan main-main, anda bisa memegang perkataan saya, bahwa saya serius dengan anak bapak, sejak dulu, sebelum adanya insiden yang memisahkan kami, saya sudah memikirkannya dengan matang tentang hal ini, saya ingin menjadi seorang mualaf !!" ucap Siwan, yang mengejutkan Aji saat telinganya mendengar kalimat terakhir dari mulut Siwan.
Pak Bagyo masih nampak tidak percaya dengan apa yang di ungkapkan oleh Siwan.
"Bukti apa yang bisa kau berikan padaku?" tanya pak Bagyo.
"Beritahu saya bagaimana cara menjadi seorang muslim, saya ingin anda menjadi saksinya, saya benar-benar tulus ingin menjadi seorang muslim !!" ucap Siwan.
Pak Bagyo kembali berpikir, sambil menyesap kopi di gelasnya yang hanya tinggal beberapa tetes lagi.
"Baiklah, berapa lama kau berada di Bandung ?" tanya pak Bagyo.
"Saya akan pulang setelah menyelesaikan urusan saya yang satu ini, saya menyerahkan semua keputusannya pada anda !!" jawab Siwan.
"Oke, baiklah, aku tidak punya lagi kekuatan untuk melihat anakku tersenyum penuh kebahagiaan lagi, kau sudah merenggutnya, dan hanya kau yang bisa mengembalikan lagi kebahagiaan anakku, aku akan persiapkan semuanya, nanti aku akan menghubungimu, berikan nomormu padaku, nanti kutelepon saat aku sudah mendapatkan lokasi yang tepat untuk mewujudkan keinginanmu," pak Bagyo menyerahkan hpnya pada Siwan.
Lalu Siwan pun menerimanya dan menyimpan nomor ponselnya di kontak hp pak Bagyo.
"Aku akan membawa istri dan anakku untuk bertemu denganmu nanti, " pak Bagyo lantas memasukkan hpnya ke saku kemejanya.
"Pak, bisakah anda merahasiakan semua ini dari Hanna anakmu ?" tanya Siwan.
"A-apa maksudnya?" kedua alis pak Bagyo bertaut.
"Saya belum ingin menemui Hanna dan Hwan sebelum mendapatkan bukti tentang hasil DNA Hwan yang asli," jawab Siwan.
"Maksudmu, aku harus tutup mulut tentang pertemuan kita?" pak Bagyo sungguh tidak mengerti, kenapa Siwan mengatakan hal itu, apa dia tidak ingin bertemu Hanna dan Hwan.
"Saya ingin menyelesaikan permasalahan saya terlebih dahulu dengan orang-orang yang berada di balik insiden ini. Saya tidak ingin melibatkan mereka maupun bapak karena itu akan sangat membahayakan keselamatan kalian, " Siwan tertunduk dan terlihat sedih.
"Lagipula, saya tidak bisa menjamin, kalau saya bisa menahan diri saat menemui mereka, sekali bertemu dengan mereka, pasti esok dan seterusnya saya ingin melakukannya, saya tidak bisa membiarkan keduanya dalam bahaya, saya harus menemukan siapa orang yang berhasil memisahkan kami,"
"Sebenarnya, kau ini siapa ? dan apa pekerjaanmu, sampai orang-orang melakukan hal yang begitu kejam padamu dan orang yang ada di sekitamu, " pak Bagyo terlihat goyah setelah mendengar penjelasan Siwan.
"Saya hanya seorang pebisnis, dan beberapa saingan bisnis saya ada yang melakukan kecurangan dengan cara yang kotor, mereka merasa terancam dengan tindakan saya yang tidak ingin bersekongkol dengan mereka untuk memuluskan bisnisnya, karena saya tidak bermain kotor dalam bisnis !!" ucap Siwan.
"Oke, baiklah, setiap orang mempunyai masa lalunya sendiri, aku tidak akan memperdulikannya, asal kau bisa menjamin keamanan dan kebahagiaan anak cucuku, aku tidak bisa berbuat apa-apa saat dia hanya memilihmu seorang, bahkan pria yang dulu sangat ia cintai dengan segenap jiwa dan raganya tidak mampu menggeser posisimu di hatinya, apalagi pria lain yang baru ia kenali, sudahlah, aku tidak ingin membahasnya lagi, " pak Bagyo terlihat kebingungan sendiri. Apakah keputusannya menerima Siwan adalah hal yang tepat.
Setelah pertemuannya dengan ayah Hanna, Siwan dan Aji pergi menuju salah satu hotel terdekat dari lokasi mereka.
Mereka menunggu kabar dari pak Bagyo tentang kesediaannya menjadi saksi baginya mengucapkan dua kalimat syahadat untuk menjadikannya sebagai seorang muslim.
Dan, malam harinya, pak Bagyo memberitahunya bahwa ia dan istrinya bu Hani sudah berunding dan sepakat untuk menerima permintaan Siwan.
Pak Bagyo memberitahu lokasi sebuah masjid yang akan menjadi tempat dimana Siwan merubah status agamanya menjadi seoranh muslim.
Ternyata esoknya pak Bagyo tidak hanya membawa serta bu Hani istrinya, tapi juga membawa Abdul adik Hanna sebagai saksi lainnya.
Siwan, Aji dan pak Andi terlihat sangat rapih dan bersih dengan balutan baju koko pakistan berwarna putih susu yang mereka beli secara dadakan di salah satu departemen store yang ada di kota Bandung setelah pertemuannya dengan pak Bagyo di warkop pasar tradisional. Sebuah peci tak luput ikut menutupi sebagian rambut di kepala mereka.
Moment bersejarah bagi Siwan berlangsung penuh khidmat dan lancar. Tak lupa Aji mengabadikan moment tersebut lewat kamera yang bertengger di atas tripod miliknya.
Akhirnya Siwan sudah sah menyandang status sebagai seorang muslim pada hari itu, tanpa sepengetahuan Hanna, dan hanya di saksikan oleh keluarganya Hanna.