My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Mirrors



Cause with your hand in my hand and a pocket full of soul


I can tell you there's no place we couldn't go


Just put your hand on the past, I'm here tryin' to pull you through


You just gotta be strong


Cause I don't wanna lose you now


I'm lookin' right at the other half of me


The vacancy that sat in my heart


Is a space that now you hold


Show me how to fight for now


And I'll tell you baby, it was easy


Comin' back into you once I figured it out


You were right here all along


It's like you're my mirror


My mirror staring back at me


I couldn't get any bigger


With anyone else beside of me


And now it's clear as this promise


That we're making two reflections into one


Cause it's like you're my mirror


My mirror staring back at me, staring back at me


Justin Timberlake - Mirrors


Ketika mendengar arti dari lirik lagu tersebut, Siwan merasa tertegun. Dia merasa bahwa itu merupakan ungkapan perasaan Hanna untuknya. Sangat pas sekali lagu tersebut sebagai musik pengiring kisah asmaranya denga kekasihnya.


Dan, lamunan Siwan terhenti saat mendengar suara tepuk tangan dari para pengunjung cafe dan dari Eriko yang berada di dekatnya.


" Wah... pacarmu, suaranya bagus sekali, dia berhasil membuat pendengarnya bertepuk tangan meriah. " Ucap Eriko.


Siwan hanya tersenyum sambil menatap Eriko.


Lalu, tidak lama kemudian, kini Hanna sudah duduk kembali di kursinya.


" Wah, suara mu sangat bagus, apa kau berminat jadi penyanyi di cafe ku ?"tanya Eriko.


" Sudahlah, dia sibuk bekerja. " Sahut Siwan.


" Kau bekerja dimana memangnya ?" tanya Eriko pada Hanna.


" Aku bekerja di departemen store di jln xxx. " Jawab Hanna.


" Emh... begitu ya,, eh.. tapi kalau seandainya berminat, datang saja kemari, oke.. !!" Ucap Eriko.


Hanna hanya tersenyum menatap Eriko, lalu, tiba - tiba Siwan mengajaknya pulang.


" Ayo, sebaiknya kita pulang, sudah malam. " Ucap Siwan menatap Hanna.


" Oke, yuk.. habiskan dulu minumnya." Ucap Hanna lalu meneguk kopi yang sudah mulai dingin.


" Kenapa buru - buru, belum terlalu larut kok.. " Sahut Eriko.


" Dia harus bangun nanti subuh, sedang berpuasa harus makan sahur." Jawab Siwan.


" Sahur.. ? kau seorang muslim ?" tanya Eriko pada Hanna.


" Iya, aku seorang muslim." jawab Hanna.


" Baiklah, ayo kita pulang. " Siwan berdiri dari kursinya di susul oleh Hanna dan Eriko.


" Oke, lain kali jangan lupa mampir lagi kemari ya, tapi lain kali harus mencicipi menu yang ada di cafe ku, deal.. " Seru Eriko.


" Oke.. deal... " jawab Hanna.


Setelah berpamitan lalu Siwan dan Hanna pergi menuju parkiran mobil dan Siwan mengantarkan Hanna pulang menuju tempat kost.


Di tengah perjalanan...


" Chagiya, kau sangat menghayati sekali saat tadi bernyanyi, aku suka lirik lagunya.. " Ucap Siwan.


" Kau tahu, bahkan terlalu banyak lagu, yang sepertinya sangat cocok sebagai musik pengiring kisah kita. Ini hanya salah satunya." Ucap Hanna.


" Kau sering mendengarkan musik ternyata, ku kira kerjaanmu hanya menonton drama Korea atau sinetron azab. Hihihi... " Siwan tertawa.


" Ish... mentertawakan ku, dulu sejak smp, aku di belikan radio oleh ibuku, masih zaman radio mini, dengan antena yang panjang, katanya itu juga dia beli dari tetangganya yang sedang butuh uang, ibuku merasa kasihan lalu membelinya untukku. Sejak saat itu, aku jadi sering mendengar musik kalau sedang berada di kamar, setiap mau tidur aku selalu mendengarkan radio terlebih dahulu. Lagu lawas, lokal dan barat, berbagai genre musik, kecuali dangdut." Ucap Hanna.


" Kenapa kau tidak suka lagu dangdut ?" tanya Hanna.


" Entahlah, padahal setiap hari, dulu, aku selalu mendengar ibuku menyanyi lagu dangdut kalau sedang beres - beres rumah, menyetrika, bahkan sedang mencuci pun, katanya biar lebih semangat saat mengerjakan tugasnya. Hihihi... aku masih ingat, lagu favorit ibuku, semua lagu Rita Sugiarto dan Evie Tamala, ibuku sangat hapal sekali setiap lirik lagunya. " Ucap Hanna.


" Dangdut kan musiknya sangat enak untuk berjoged." Ucap Siwan.


" Jadi kau suka lagu dangdut ? suka berjoged ?" tanya Hanna.


" Tidak. " Jawab Siwan, tegas.


" Ish.. ahjussi sendiri pun sama sepertiku, lalu kenapa bertanya padaku. " Ucap Hanna.


" Sudah sampai..." Ucap Siwan.


" Wah, aku tidak sadar kalau kita sudah sampai. " Ucap Hanna lalu membuka seatbelt nya dan membuka pintu lalu turun dari mobil, di iringi oleh Siwan.


" Ahjussi, tidak usah mengantarku, kau langsung pulang saja. " Ucap Hanna.


" Tidak mau, aku ingin mengantarmu sampai depan pintu." Jawab Siwan.


" Oke, terserah kalau begitu. " Mereka pun masuk ke dalam menuju lantai dua.


Setelah memastikan kekasihnya masuk ke dalam kamar, Siwan pun pergi meninggalkan gedung kost dan pulang menuju rumahnya.


Sesampainya di rumah, setelah berganti pakaian dan membersihkan diri, dia sengaja memutar musik video lagu yang tadi di nyanyikan oleh Hanna di cafe. Lalu mencari beberapa cover versi akustik lagu tersebut.


Entah mengapa, perasaannya jadi melow setelah mendengar lagu tersebut. Dia teringat kembali akan suara dan gestur kekasihnya saat bernyanyi di cafe tadi. Karena tidak mau terus terbawa perasaan, dia pun mematikan hpnya dan mencoba untuk tertidur.


Keesokan harinya, setelah selesai sahur dan sholat subuh, Hanna tidak tertidur lagi karena harus pergi bekerja shift pagi. Dia menghabiskan waktu dengan menyetrika baju sebelum pergi bekerja.


Saat hendak pergi bekerja, di dekat halte bus, Andre sedang mengantri bersama beberapa orang, ada pula Rayhan di sana. Hanna hanya menyapa mereka lewat lambaian tangan dan senyuman saja karena bingung apabila Hanna mengajak salah satunya untuk pergi bekerja bersama naik motor dengannya, lalu bagaimana dengan seorang lagi, karena mereka berdua kenal dengannya.


Saat di halte bus, seorang pria berkata pada Andre.


" Dia, wanitanya Siwan kan?" tanya pria itu pada Andre setengah berbisik.


" Sssttt... jangan keras - keras, nanti ada yang mendengar." Jawab Andre sambil menganggukkan kepala.


Rayhan yang mendengarnya menjadi curiga. Namun ia pura - pura sibuk dengan buku yang sedang ia pegang.


" Dia tidak sadar, wanita itu bisa dalam bahaya. " Ucap pria itu kembali.


" Siwan tidak mungkin melepaskan pandangannya dari wanita itu, kau lihat kan, tadi di belakang wanita itu, ada mobil dan motor yang membuntutinya dari belakang. " Jawab Andre.


" Oh iya betul, lagi pula ini kan wilayah kekuasaannya kan ?" tanya pria itu.


" Yap, kau tahu, gedung kost kita, dan dua gedung kost yang di samping dan di sebrang kita, Siwan sudah membelinya hanya untuk melindungi wanitanya itu. " Ucap Andre.


" Waw, sekaya itukah dia ? ngomong - ngomong, kau tahu darimana ?" tanya pria itu.


" Apa kau meragukan kemampuanku, selama ini aku bisa bertahan hidup karena pekerjaanku." Ucap Andre terlihat kesal.


" Iya, baiklah, kau yang terbaik di tim kita. " Ucap pria itu pada Andre.


Dan, tidak lama kemudian bus datang dan Andre serta pria itu masuk terlebih dahulu ke dalam bus, sedangkan Rayhan masih berdiri di posisinya seperti masih mencerna apa yang baru saja dia dengar di telinganya dari obrolan dua orang tadi di belakangnya.