My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Makan malam keluarga



Beberapa jam kemudian, kini Hanna dan Siwan sedang dalam perjalanan menuju tempat tinggal Hanna yang baru.


Lokasinya tidak terlalu jauh dengan tempat kerja Hanna.


Sesampainya disana, Hanna merasa terkejut. Dari awal dia sudah merasa curiga, bahwa Siwan pasti memilihkan tempat yang berbeda dari sebelumnya.


Sebelum turun dari mobil, Hanna sempat ragu karena masih bingung mempermasalahkan berapa uang sewa yang harus ia bayar setiap bulannya.


Saat masuk ke dalam rumahnya. Hanna merasa terkejut, isi rumahnya sudah tersusun rapih di setiap sudut, meskipun masih banyak bagian yang kosong karena kali ini bisa di bilang bukan rumah kost, tapi rumah kontrakan yang notabene nya lebih luas dari sekadar rumah kost yang dulu ia tempati.


" Pantas saja ia menawariku untuk membeli furniture tambahan, ternyata lebih luas dari sebelumnya." Ucap Hanna di dalam hatinya.


Setelah berkeliling, Hanna menghampiri Siwan yang sedang menyiapkan segelas air minum dari dalam kulkasnya di area dapur.


" Ahjussi, apa bli Aji dan teman - temannya yang membereskan semua ini ?" tanya Hanna.


" Iya, kalau mau ada yang kau rubah posisinya katakan saja, aku akan membantu mu!!" Seru Siwan lalu meneguk air dari gelasnya.


" Berapa uang sewa yang harus aku bayar tiap bulannya ?" tanya Hanna.


Siwan yang merasa terkejut pun tersedak oleh air yang belum sepenuhnya dia minum. Hanna membantunya kembali mengisi gelasnya yang kosong supaya Siwan dapat minum kembali.


Siwan menjelaskan bahwa, Hanna tidak perlu membayarnya, dan selama hampir satu tahun terakhir, dia sudah menabung uang hasil sewa bulanan dari Hanna di tempat sebelumnya.


" Dan sebaiknya uang itu kau belikan saja furniture baru untuk disini !!" Seru Siwan.


" Aku masih belum paham, uang apa maksudnya ?" tanya Hanna pada Siwan.


Siwan lupa, bahwa dia tidak memberitahu Hanna, bahwa, sudah lama sebenarnya Siwan sudah membeli gedung kost yang Hanna tempati sebelumnya, dan uang sewa yang Hanna berikan lewat transfer pada pemilik gedung sebelumnya selalu Siwan simpan dan kumpulkan. Dia bekerja sama dengan pemilik gedung sebelumnya agar tetap mearahasiakannya dari Hanna.


Dan kini, Siwan terpaksa memberitahunya agar Hanna mengerti apa maksudnya.


" Wow, daebak.. jinjja ( sungguh ) ?" tanya Hanna merasa terkejut.


Siwan merasa lega karena kekasihnya tidak marah - marah padanya setelah ia memberitahukan semuanya.


" Baiklah, kalau kau memang memaksa, dan kau bilang kan itu uangku, kalau begitu ayo kita membeli beberapa barang tambahan untuk rumah baruku ini !!" Seru Hanna dengan penuh semangat mengajak Siwan untuk segera pergi keluar dari rumahnya.


Siwan tersenyum senang karena akhirnya kekasihnya mau sependapat dengannya.


Sesampainya di toko furniture, Hanna terlihat sibuk memilih dari satu tempat ke tempat lainnya. Dia merasa bingung, ingin memiliki semuanya karena terlihat sangat bagus semua di matanya.


Hanna sempat bertanya, berapa banyak uang yang terkumpul, apa cukup untuk membeli ranjang baru, sofa, lemari dan meja makan.


Dan Siwan menjawab, bahkan untuk membeli kulkas baru pun bisa.


Namun Hanna merasa tidak percaya, tidak mungkin uang yang terkumpul sebanyak itu. Tapi Siwan terus meyakinkannya untuk membeli apa saja yang Hanna butuhkan.


" Baiklah kali ini aku akan menurut padamu, tapi kalau kurang, nanti aku cicil ya... hehe.. " Ucap Hanna pada Siwan.


Siwan hanya tersenyum lebar tanpa menjawabnya. Padahal, Siwan, bisa saja membelikan semua isi rumahnya dan mengganti perabot Hanna dengan barang yang baru.


Selesai membeli berbagai macam furniture dan perabotan, sebelum kembali ke rumah, Hanna dan Siwan makan siang di sebuah resto salah satu tempat favorit mereka.


Dan mereka baru kembali setelah dua jam, mereka menghabiskan waktu untuk makan siang dan berbelanja bahan masakan dan stok isi kulkas.


Saat mereka kembali ke rumah, ternyata semua barang yang mereka pesan tadi sudah tertata rapih di posisi yang seharusnya.


" Ahjussi, kapan semua ini sampai disini, pasti bli Aji kan yang merapihkan semuanya ?" tanya Hanna pada Siwan yang sedang duduk di sofa baru yang berada di ruang tengah, ruang tv.


" Iya, tadi aku menyuruhnya berjaga disini. Chagiya, kemarilah sebentar, aku ingin berbicara padamu mengenai hal penting. " Ucap Siwan.


Lalu Hanna yang sedang merapihkan belanjaanya di dapur pun menghentikan aktifitas nya dan menghampiri Siwan, lalu duduk di sampingnya.


" Chagiya, dua hari lagi aku akan terbang ke Seoul, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan kembali bersama adikku disana." Ucap Siwan menatap wajah kekasihnya yang terlihat kecewa.


" Emh... berapa lama ?" tanya Hanna.


" Aku belum bisa memastikannya, semoga tidak terlalu lama." Siwan merangkul kekasihnya yang berada di sampingnya.


" Baiklah, aku akan selalu mendoakanmu semoga kau selalu sehat dan selamat dimanapun kau berada, dan semoga urusan pekerjaanmu cepat selesai. Hehe..." Ucap Hanna yang kini bersandar di pelukan Siwan.


" Aamiin. Aku pasti akan sangat merindukanmu." Ucap Siwan lalu mencium tangan Hanna.


" Kalau begitu, malam ini, jangan pulang ya, temani aku disini sebelum kau pergi, lihatlah... sofa baru ini sangat luas, aku akan mengizinkan mu sebagai orang yang pertama kali menidurinya. " Ucap Hanna sambil tersenyum usil pada Siwan.


" Begitu ya, jadi, aku harus menemanimu disini malam ini, dan tidur di sofa sendirian, begitu ya...." Sahut Siwan sambil menggelitik perut kekasihnya.


Mereka bercanda tawa untuk sesaat, Siwan membuat Hanna tertawa terpingkal - pingkal karena perbuatannya yang terus menggelitiknya tanpa ampun sampai Hanna tersungkur di atas sofa.


Beberapa jam kemudian, kini Siwan dan Hanna sedang berada di sebuah rumah yang tidak jauh dari lokasi rumah baru yang Hanna tempati.


Mereka berdua sedang berada di rumah ketua rt setempat untuk memberi laporan pindahan Hanna sebagai warga baru.


Nampaknya Siwan sudah sangat mengenali para pengurus wilayah disana, Hanna merasa hanya menjadi obat nyamuk di antara Siwan dan pak Sugeng sang ketua rt, mereka berdua asyik mengobrol sambil sesekali menyeruput secangkir kopi yang di suguhkan oleh ibu rt sejak kedatangan mereka disana.


Hampir satu jam lamanya mereka berada di rumah pak rt, bahkan Hanna sempat di ajak mengobrol oleh bu rt di ruang tengah untuk menghilangkan rasa bosan sambil berkenalan antara Hanna dan ibu rt disana.


Dan kini, setelah berpamitan pada bapak dan ibu rt, Hanna dan Siwan sedang berada di perjalanan menuju rumah Hanna kembali. Mereka berjalan kaki karena lokasinya tidak terlalu jauh.


Sambil menikmati suasana sore hari yang begitu sejuk, mereka berjalan sambil mengobrol.


" Ahjussi, sepertinya kau sudah sangat kenal dengan pak Sugeng dan keluarganya !!" Ucap Hanna.


" Sebetulnya, dulu aku sempat tinggal disini, rumah yang kau tempati sekarang, dulu aku sempat tinggal disana. Lalu, setelah tiga tahun disini, aku mencari rumah yang lebih luas agar bisa tinggal bersama Aji dan Austin, dan aku meminta bi Asih untuk menemani ku mengurus rumah saat itu. " Jawab Siwan.


" Emh... kalian bertemu dimana ? setahuku bi Asih bukan asli warga Bali. " tanya Hanna.


Lalu Siwan pun menceritakan sedikit tentang bi Asih.


Jadi, dulu bi Asih menemani ibunya mengurus rumah dan panti asuhan, saat kelas tiga sma, saat Siwan berlibur ke Bali ke rumah ibunya, di sanalah Siwan dan bi Asih bertemu.


" Apa kau mau bertemu dengan ibuku ?" tanya Siwan, yang membuat Hanna seketika langsung menghentikan langkahnya dan menatap wajah Siwan dengan raut kebingungan.


" Ahjussi, bukannya aku tidak mau, tapi aku takut mengecewakan harapan ibumu !!" Jawab Hanna.


Siwan termenung selama beberapa detik, dan ia pun berkata sambil mengusap kepala Hanna.


" Iya, baiklah, aku mengerti." Siwan tersenyum dan kembali mengajak Hanna melanjutkan perjalanan menuju rumahnya yang hanya beberapa langkah lagi di depan mereka.


Kini, Hanna dan Siwan sudah berada di dalam rumah. Mereka sibuk dengan aktifitas masing - masing.


Hanna sedang menyiapkan beberapa masakan untuk makan malam di dapur, sedangkan Siwan membantu Hanna menata pajangan di setiap sudut ruangan dan membersihkan lantainya setelah itu.


Selesai dengan pekerjaannya, Siwan pun bergegas pergi mandi karena badannya penuh keringat. Hanna masih sibuk dengan pekerjaannya di dapur.


Beberapa menit kemudian, terdengar suara bel berbunyi. Hanna mematikan kompornya sebentar lalu bergegas menuju pintu untuk membukanya.


" Bli, masuklah... " Ucap Hanna pada seorang pria yang ia kenal, Aji.


" Wah, sudah nampak lebih hidup sekarang, siapa yang mengerjakan semua ini ?" tanya Aji, matanya berkeliling menilik seluruh sudut ruangan yang sekarang sudah terpasang berbagai macam dekorasi yang sangat minimalis namun aesthetic.


" Tentu saja aku !!" Dari kejauhan Siwan yang sedang bertelanjang dada dan hanya memakai handuk menjawab pertanyaan Aji.


" Wah... kalian, kalau sedang asyik berduaan kenapa mengundangku segala, aku jadi merasa tidak enak malah mengganggu acara kalian. " Ucap Aji yang kini sudah duduk di atas sofa baru milik Hanna.


Siwan hanya tersenyum kecut, sedangkan Hanna terlihat sangat panik.


" Aku juga mengundang kak Os, tenang saja, kau tidak sendirian !! Ucap Hanna yang kini sudah mendekat pada Siwan.


Lalu, Siwan berbisik dan meminta tolong Hanna untuk mengambilkan tas miliknya yang ada di bagasi mobil.


Hanna pun pergi keluar dengan membawa kunci mobilnya dan mencari tas berisi baju milik Siwan dan masuk kembali ke dalam rumah.


Setelah mendapatkan barang miliknya, kini Siwan pun kembali masuk ke dalam kamar untuk memakai pakaiannya yang baru di ambilkan oleh Hanna dari bagasi mobil.


Hanna kembali melanjutkan acara memasaknya. Dan dalam beberapa menit semuanya sudah beres, sambil menunggu Austin datang, Hanna memutuskan untuk mandi terlebih dahulu karena badannya penuh keringat.


Kini, Siwan dan Aji sedang duduk berhadapan sambil membicarakan beberapa pekerjaan di sofa ruang tv. Mereka nampak serius.


Siwan meminta Aji untuk tetap mengerjakan tugasnya sambil memantau Hanna selama dia pergi ke Seoul. Dan Aji akan menyuruh beberapa orang untuk berjaga bergiliran seperti biasanya dari kejauhan.


Lalu, Siwan meminta Aji untuk tinggal di lokasi terdekat rumah Hanna untuk sementara, tanpa sepengetahuan Hanna. Siwan sudah menyewa sebuah rumah kosong sebagai tempat tinggal Aji untuk sementara waktu di dekat rumah Hanna.


Dan, saat mereka sedang mengobrol dengan serius, tiba - tiba bel rumah berbunyi.


" Itu pasti si Os." Ucap Aji lalu menghampiri pintu untuk membukanya.


Dan ternyata memang benar, Austin sedang berdiri di ambang pintu sambil membawa satu ikat bunga yang cantik sebagai ucapan selamat untuk Hanna.


Lalu, Hanna yang sudah selesai mandi pun keluar dari kamarnya dan mendapati Austin sedang memegang seikat bunga yang sangat cantik.


" Wah, kak Os sudah datang, sudah lama ?" tanya Hanna sambil tersenyum.


" Iya, sudah lama aku berdiri di sini sampai keriputan begini. " Jawab Austin menggoda Hanna, lalu dia tertawa sendirian walau tidak ada yang lucu.


" Ish... jangan mulai deh..." Ucap Hanna.


" Ini, untukmu yang sangat cantik, satu ikat bunga yang cantik pula !!" Austin menyerahkan bunga yang ada di tangannya pada Hanna.


" Wah... terima kasih banyak ya, kau memang sangat romantis !!" Ucap Hanna sambil mencium bau dari bunga tersebut.


Siwan yang melihat tingkah kekasihnya itu pun terbakar api cemburu, dia beberapa kali berdehem, tenggorokan nya tiba - tiba merasa kering dan terbatuk - batuk. Entah itu pura - pura atau sungguhan.


Aji yang melihat nya pun meringis menatap Austin dan Hanna.


" Ah... cuma seikat bunga, bahkan tenaga ku lebih berharga dari itu. " Ucap Aji lalu memijat - mijat tangannya dan bertingkah seperti sedang memamerkan otot lengannya.


" Hihi... kalian kenapa sih, cemburu ya !!" Sahut Austin.


Hanna tetawa kecil melihat para lelaki bertingkah aneh. Lalu mengajak mereka menuju meja makan untuk segera menyantap hidangan yang sudah dia sediakan sedari tadi.


" Ayo silahkan di nikmati, maaf ya kalau rasanya tidak senikmat makanan di restoran." Ucap Hanna.


" Tidak apa, aku merasa tersanjung kau mau mengundangku makan malam. Masakanmu pasti enak, kak Wan sudah memastikannya sendiri. " Jawab Austin.


.


Hanna tersenyum mendengarnya, lalu berkata sesuatu pada Aji.


" Bli, terima kasih banyak ya, kau sudah membantuku dari kemarin. Aku merasa berhutang padamu. " Ucap Hanna.


" Ah, tidak usah sungkan, tanganku ini sangat berotot, jadi, aku bisa mengangkut berbagai macam barang dan perabot tanpa kesulitan. " Jawab Aji terdengar menyombongkan diri.


" Kau tidak usah berlebihan, aku juga tahu Doni dan Sandi yang membantumu dari kemarin." Sahut Austin membuka kartu Aji.


" Kau ini, selalu membocorkan rahasia." Timpal Aji menatap Austin kesal.


Hanna dan Siwan tertawa melihat kelakuan Aji dan Austin bagaikan tom and jerry.


Mereka pun menikmati acara makan malam dengan penuh canda dan di selangi berbagai macam obrolan hangat. Seperti sebuah keluarga, mereka terlihat sangat akrab dan intim. Mereka merasa nyaman satu sama lainnya.


Hanna merasa bahwa dia benar - benar beruntung, saat dia jauh dari keluarganya, kini dia pun menemukan suasana kehangatan dari keluarga barunya. Ya... Austin dan Aji terlihat seperti seorang kakak bagi Hanna, lalu Siwan, dia... tentu saja orang yang sangat spesial baginya.


Hanna menatap wajah mereka masing - masing bergantian. Mereka yang sepanjang makan malam dengan mulut penuh makanan namun tetap sibuk saling menyahut dan sesekali tertawa, membuat Hanna berpikir, suatu hari nanti, dia pasti akan merindukan momen kebersamaan ini. Entah kapan waktu itu akan datang.


Tiba - tiba Hanna merasa sedih, hatinya kembali merasa hancur bila harus memikirkan kembali waktu itu tiba. Ya, waktu dimana dia dan Siwan harus mengakhiri hubungan mereka. Namun, secepat kilat dia menepis semua pikirannya saat itu. Saat Siwan menatap wajahnya dengan penuh senyuman dan harapan.


Hanna kembali tersenyum menatapnya, di dalam pikirannya kali ini dia berkata, " semoga ada solusi yang terbaik untuknya dan hubungannya bersama Siwan suatu hari nanti. Aamiin."