
Setelah gagal menyalakan motornya, akhirnya Hanna pergi menuju toko buku dengan berjalan kaki dari rumah, dan menunggu bus di halte dekat persimpangan jalan dari komplek perumahan nya.
Hari itu, pukul 16.10 wita, Hanna tiba di toko buku. Ia berjalan mengitari rak buku dari ujung satu ke ujung lainnya. Mencari sebuah buku yang sedang menjadi best seller di bulan itu.
Hingga matanya tertuju pada sebuah buku karya penulis favoritnya yang kini sudah meluncurkan sebuah judul baru.
" Sudah lama sekali sepertinya aku tidak membeli buku, ini sejak kapan ya di rilis "
Hanna terduduk di lantai, di ujung loronh sebuah rak sambil memangku beberapa buku yang sudah sempat ia pilih sebelumnya.
Hanna pun hanyut dalam sebuah cerita novel bergenre romance yang di suguhkan lewat sebuah buku. Ia begitu terhipnotis mengikuti kata demi kata pada alur ceritanya. Halaman demi halaman ia singkap dengan ujung telunjuknya.
Belum sempat ia menyelesaikan buku tersebut, ia lalu menutupnya dan memutuskan akan membeli bukunya. Ia akan melanjutkan membaca buku di rumah saja, sambil menikmati berbagai macam camilan.
Saat sedang membayar setumpuk buku di kasir, hpnya terus bergetar. Ia melihat Siwan mencoba menelponnya. Tapi Hanna mengacuhkannya. Ia memasukkan kembali hpnya ke dalam tas kecilnya.
Saat keluar dari toko buku, ia begitu terkejut melihat Siwan sudah berdiri di hadapannya sambil masih mencoba menelponnya.
Siwan yang sudah melihat kekasihnya pun langsung menghentikan panggilannya dan menyimpan hpnya ke dalam saku pants nya.
" Kenapa kau tidak mengangkat panggilan telepon dariku ?" tanya Siwan terlihat kesal.
" Aku tadi sedang transaksi di kasir, maaf !!" jawab Hanna.
" Kau mau pulang atau masih mau pergi ke suatu tempat ?" tanya Siwan.
" Aku ingin pulang saja, tapi... tunggu sebentar, bagaimana ahjussi bisa tahu aku ada di sini ?" Hanna merasa penasaran.
" Itu, aku tadi ke rumahmu, tapi kau tidak ada padahal Aji bilang sudah mengantarmu sampai ke rumah, jadi, aku hanya menebaknya saja, ternyata tebakanku sangat tepat... " jawab Siwan panjang lebar, padahal berbohong.
" Owh... begitu ya... !!" ucap Hanna, lalu menatap kekasihnya itu dengan penuh curiga.
" Baiklah, ayo ku antar pulang " Siwan menggandeng lengan kekasihnya menuju parkiran mobilnya.
Di sisi lain...
1 jam sebelumnya...
Aji tiba di rumah yang menjadi pos jaga atau lebih tepatnya markasnya bersama dua orang temannya. Rumah yang hanya berjarak beberapa meter dari sebrang rumah Hanna.
Aji masuk ke dalam rumah.
" Bram, bagaimana ?" tanya Aji.
" Tio sedang membuntutinya sekarang, motornya tadi kehabisan bensin, tadi aku mencoba menawarkan diri untuk pergi ke pom bensin, tapi Hanna menolak, dia bilang sedang terburu - buru, jadi mau naik bus saja " jawab Bram.
" Lalu, sudah ada kabar dari Tio ?" tanya Aji.
" Belum, sepertinya belum sampai di tempat tujuan, Tio bilang, Hanna baru naik bus 5 menit yang lalu " jawab Bram kembali.
Tidak lama kemudian, hp Aji berdering.
" Hallo, Tio, bagaimana ?" tanya Aji.
" Owh... oke, tetap awasi dulu dia, jangan sampai ketahuan !!" seru Aji, lalu menutup sambungan teleponnya.
" Dia pergi ke toko buku " ucap Aji pada Bram.
Karena merasa lelah, Aji pun terduduk di sofa dan bersandar sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia lalu menutup wajahnya dengan sebelah lengannya.
" Kau kenapa, dari kemarin kau seperti kembali sibuk dengan pikiran mu sendiri, apa mengurus pacar si bos sangat merepotkan mu ?" tanya Bram yang kini duduk di sofa lainnya di dekat Aji.
" Aku hanya merasa lelah, aku butuh istirahat sebentar " Aji mengubah posisinya menjadi terlentang di atas sofa.
Namun, baru saja ia memejamkan mata, hpnya kembali bergetar.
" Mampus, lupa belum kasih tau kak Wan lagi " ucap Aji, lalu buru - buru mengangkat telepon darinya
" Hallo kak... " ucap Aji.
" Kenapa dia tidak di rumah, kau bilang sudah mengantar nya pulang !!" ucap Siwan.
" Maaf kak, baru saja dia pergi lagi ke toko buku, Tio mengikutinya sampai kesana, aku juga baru sampai di markas lagi 5 menit yang lalu " jawab Aji.
Siwan menutup sambungan teleponnya. Ia lalu berjalan keluar dari rumah Hanna dan pergi dengan mobilnya menuju suatu tempat.
...****...
Di perjalanan pulang ke rumah...
" Bagaimana kabar teman mu ?" tanya Siwan.
" Rayhan, dia sehat, baik - baik saja " jawab Hanna.
" Apa kau senang bertemu dengannya ?" tanya Siwan.
" Maksud dari pertanyaan mu apa ?" Hanna merasa tersinggung.
" Aku hanya bertanya, apa pertanyaan ku salah ?" tanya Siwan.
" Kenapa dia jadi agak sensitif sejak kembali kesini " Siwan.
" Tentu saja senang, sudah lama aku tidak bertemu dengannya, sekarang dia sudah berhasil memenuhi salah satu cita - citanya, aku sebagai teman tentu saja merasa senang melihat pencapaian hidupnya." Jawab Hanna.
Siwan hanya tersenyum sesaat, melirik Hanna dan kembali fokus pada jalanan di depannya.
Di sebuah perhentian lampu merah, mata Hanna begitu terbelalak saat melihat seseorang yang ia kenal sedang berboncengan pada sebuah motor. Tepat di samping kiri mobil Siwan mereka berhenti, menunggu lampu merah berganti menjadi hijau.
" Ahjussi, lihat, itu seperti kak Siska " ucap Hanna, lalu membuka jendela mobilnya.
" Kak Siska..." pekik Hanna dari dalam mobil.
Siska mencari sumber suara yang memanggil namanya. Saat ia berhasil menemukannya, ia tersenyum kegirangan melihat wajah Hanna yang menclok di jendela.
" Hai... Hanna, aku kangen, mau kemana ?" tanya Siska.
" Aku mau pulang ke rumah kak, kakak mau kemana ? sama siapa ?" Hanna merasa penasaran pada pengemudi motornya yang tidak menoleh sedikitpun padanya.
" Aku mau pulang juga Han, nomormu masih yang dulu kan, nanti aku kabari ya, nanti kita ketemu " ucap Siska.
Suara klakson mobil dan motor dari belakang sudah ramai di telinga, tanpa sadar ternyata lampu merah sudah berganti menjadi hijau.
Siwan pun perlahan melajukan kembali mobilnya, begitu pula dengan motor yang di kendarai Siska.
Siska yang berada di depan mobil masih menengok ke belakang..
" Nanti aku telepon " teriak Siska pada Hanna yang masih menatapnya dari belakang.
Hanna pun menutup kembali jendela mobilnya.
" Kau belum pernah bertemu lagi dengannya ?" tanya Siwan.
" Belum, terakhir aku bertemu dengannya di rumah sakit, dia dalam kondisi yang mengenaskan. Saat aku kembali seminggu kemudian, saat libur kerja, ternyata kak Siska sudah keluar dari rumah sakit, aku kehilangan kontaknya, aku juga lupa tidak meminta nomor hp bang Andre saat itu "
" Andre ?" Siwan mencoba mengingat nama itu.
" Apa ahjussi masih ingat, orang yang mencoba merampokku saat kita pertama kali bertemu !!" ucap Hanna.
" Oh... dia, jadi, orang yang menyelamatkan Siska itu Andre yang itu " ucap Siwan.
" Yap, memangnya bli tidak menceritakan nya padamu ?" tanya Hanna.
" Mungkin, aku yang lupa " ucap Siwan.
" Ish... kau harus mulai sering minum multivitamin untuk mempertajam daya ingat " Hanna pun tertawa.
" Akhirnya, aku melihatmu ceria kembali " Siwan.
" Kau pikir aku setua itu ?" Siwan pura - pura terlihat kesal, memasang wajah garangnya.
Siwan tak menoleh sedikitpun, ia masih berakting kesal pada kekasihnya.
" Ahjussi, apa kau tahu, bang Andre ternyata seorang anggota BIN " ucap Hanna.
" Benarkah ? tak ku sangka seorang perampok ternyata seorang anggota BIN " ucap Siwan.
Lalu Hanna menceritakan alasan kejadian penjambretan Andre dulu. Saat itu, Andre sedang depresi, dia di fitnah oleh rekan satu tim nya sehingga mendapatkan skorsing dari kantor, selain itu dia di denda potongan gaji selama 3 bulan, bak sudah jatuh tertimpa tangga dan genteng pula, saat itu ia pun sedang patah hati karena di putuskan oleh tunangannya.
" Bang Andre bilang, saat itu, aku merupakan korban percobaan perampokan pertamanya " ucap Hanna dengan percaya diri.
" Kau, enteng sekali berbicara seperti itu, padahal kau hampir jadi korbannya, aku bahkan masih ingat wajah shock mu saat itu " sahut Siwan.
" Aku sudah memaafkannya, seiring berjalannya waktu, aku lupa hal jahat yang di lakukan orang lain terhadapku, siapapun itu, hidupku jadi tanpa beban, saat aku memaafkan kesalahan orang lain dengan penuh keikhlasan " ucap Hanna.
Siwan nampak kagum dengan sikap kekasihnya, ia sendiri bahkan masih menyimpan dendam pada beberapa orang hingga saat ini.
Tanpa terasa, mereka pun sudah sampai di halam rumah Hanna. Perjalanan agak lambat karena kondisi jalanan yang lumayan macet saat sore hari apalagi menjelang malam.
Mereka masuk ke dalam rumah. Hanna meminta Siwan menunggu karena dia sudah tidak tahan ingin mandi karena cuaca yang lumayan cukup panas hari ini.
Setelah selesai mandi, Hanna memasak untuk makan malam di dapur. Siwan dengan setia menunggu nya sambil menonton tv dan tiduran di sofa.
Selesai memasak...
" Ahjussi, kau mau makan sekarang ?" teriak Hanna dari dapur.
Namun, tidak ada jawaban dari Siwan.
Hanna penasaran, ia pun melangkah menuju ruang tv menghampiri Siwan.
" Ternyata dia ketiduran "
Tv masih menyala, namun penontonnya sudah berada di alam lain. Alam mimpinya.
Hanna mematikan tvnya, lalu menyelimuti Siwan yang nampak tertidur lelap.
Hanna terduduk di samping Siwan, memandang dan mengusap wajahnya yang begitu mempesona saat tertidur pun.
" Mengapa, aku begitu mencintaimu ? apa jadinya kalau hari itu tiba, apa aku sanggup berpisah denganmu ?" ucap Hanna dengan suara lirih.
Tak terasa butiran air mata hampir menetes di pipinya. Namun, Hanna dengan cepat menengadahkan kepalanya dan mengedipkan matanya berkali - kali lalu mengambil selembar tissue yang ada di meja.
Ia pun berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
Ternyata, Siwan mendengar jelas apa yang di ucapkan kekasihnya saat itu. Ia sudah terbangun saat Hanna duduk di sampingnya dan mengusap - usap wajahnya.
Saat Hanna pergi menuju kamarnya, ia duduk perlahan, dan hanya menatap punggung kekasihnya itu yang semakin menjauh. Ia terdiam dan terpaku, tak bergerak sedikitpun.
Beberapa menit kemudian...
Tok... tok... tok...
Suara ketukan di pintu kamar Hanna terdengar jelas.
Hanna yang sedang duduk di atas ranjang dan bersandar pada tembok belakangnya sambil melamun pun terperanjat.
Ia turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu kamar, dan membukanya.
" Kau tidur ?" tanya Siwan.
" Tidak, aku hanya sedang melipat baju yang baru kering " ucap Hanna berbohong.
" Apa aku tertidur sangat lama ? kenapa tidak bangunkan aku, sudah malam, kau pasti belum makan malam kan ?" tanya Siwan.
" Tidak apa, aku tidak mau mengganggu tidur mu, kau terlihat sangat lelah " jawab Hanna.
" Baiklah, ayo kita makan !!" seru Siwan.
Siwan merangkul pundak Hanna, lalu mereka berjalan berdampingan menuju meja makan.
" Besok, kau kerja pagi kan ? apa kau mau ku antar di hari pertama mu bekerja kembali ?" tanya Siwan.
" Ish... lebay " Hanna pun tertawa sebentar.
Namun, ia teringat kembali tentang motornya.
Hanna menepuk jidatnya, " ya ampun, aku lupa mau beli bensin, motorku mogok gara - gara tangki bensinnya kosong. "
" Kenapa tidak bilang daritadi, kita kan bisa mampir ke pom bensin dulu tadi " sahut Siwan.
" Namanya juga lupa, baru inget sekarang lah... " ujar Hanna.
" Jadi, bukan hanya aku yang harus makan penambah daya ingat sepertinya !!" ucap siwan.
" Iya - iya, maaf aku tadi meledekmu. Hihi... " Hanna tersipu malu.
" Baiklah, besok aku suruh Aji membawa motormu ke bengkel juga, belum di servis lagi kan ?" tanya Siwan.
" Belum, hihihi... maaf aku selalu merepotkan mu dan bli Aji !!" Hanna tertunduk lemas.
" Tidak apa, kami tidak merasa kerepotan kok " jawab Siwan.
Selesai makan, mereka mengobrol di sofa kembali. Duduk berdampingan dan saling berpegangan tangan.
Kepala Hanna bersandar di pelukan Siwan. Tangan Siwan merangkul pundak dan mengusap - usap tangan kekasihnya, sesekali mencium tangan Hanna yang di genggaman olehnya.
" Aku merindukan mu, ahjussi, tapi aku sedang kesal padamu, apa sebaiknya aku tanyakan saja ya soal wanita di cafe dan villa itu " Hanna.
" Aku tahu kau sedang merasa gundah, tapi aku tidak tahu apa sebabnya, tidak bisakah kau mencurahkan segala isi hatimu padaku, apa kau tidak mau menjadikanku pelipur laramu ?" Siwan.
Meskipun tubuh mereka dekat, namun tidak dengan pikiran mereka. Seolah - olah kemelut di dalam pikiran masing - masing menjadi sebuah tembok penghalang kemesraan mereka malam ini.
" Bagaimana ini, aku merasa lelah, namun aku tidak dapat memejamkan mata barang sedetikpun, aku sangat penasaran tentang wanita itu " Hanna.
" Sial, sudah berapa lama kita terus berdiam seperti ini, mataku tertuju pada tv, tapi otakku terus berpikir tentangmu, aku tidak bisa terus diam seperti ini." Siwan.
" Chagiya " Siwan.
" Ahjussi " Hanna.
Secara bersamaan, mereka berdua mulai mengeluarkan suara dari mulut masing - masing.
" Sudah malam, aku harus istirahat, besok aku harus terbiasa bangun subuh lagi " ucap Hanna.
Siwan merasa kecewa mendengar perkataan kekasihnya itu. Sepertinya Siwan mengharapkan Hanna berkata hal lainnya kali itu.
" Aku, tidak akan pulang, aku akan menginap di sini malam ini, besok ku antar kau pergi bekerja " ucap Siwan yang tiba - tiba mendapat ide cemerlang.
Hanna bergerak menjauh dari pelukan Siwan. Ia menatap wajah Siwan yang penuh harap menatapnya pula.
Tiba - tiba, Siwan yang sudah tidak bisa menahan dirinya sedari tadi langsung menarik dagu kekasihnya dan mencium bibirnya dengan penuh kemesraan.
Hanna yang sebenarnya pun merindukan nya, membalas ciuman mesra kekasihnya itu.
Mereka hanyut dalam kemesraan, hingga tanpa sadar kini Hanna bergerak naik ke pangkuan Siwan. Ia duduk di atas pangkuan Siwan dan terus ******* bibir kekasihnya sambil melingkarkan lengannya pada leher Siwan.
Rasa rindu yang menggebu membuat mereka lupa akan rasa cemas yang berada di dalam pikiran masing - masing.
Malam itu, Siwan dan Hanna melanjutkan aktifitas kemesraan mereka di dalam kamar. Siwan mengangkat tubuh kekasihnya dan menggendongnya seperti koala, lalu berjalan perlahan menuju ke dalam kamar.
Selanjutnya... coba bayangkan sendiri aktifitas apa saja yang mereka lakukan di dalam kamar. Seperti yang mereka lakukan di malam tahun baru waktu itu. Sekian...
Eits... tapi masih bersambung kok... tenang aja, konflik baru akan di mulai...
Terima kasih yang sudah setia membaca. Tetap ikuti ceritanya ya... Jangan lupa dukungan like dan vote nya.
Terimakasih sobat halu ku...