
Pukul 02.00 wita, Hanna terbangun dengan tubuh berkeringat.
Matanya mengerjap sangat cepat dengan wajah pucat penuh rasa takut.
Tiba-tiba, sentuhan seseorang mengejutkannya.
"Chagiya, kau mimpi buruk?" suara parau Siwan menyadarkannya.
"Ahjussi, a-aku," Hanna menelan salivanya saat ia melihat tubuh suaminya hanya di balut oleh selimut, saat ia melihat tubuhnya dari balik selimut pun demikian, kini ia menyadari semalam telah terjadi sesuatu padanya dan Siwan.
"Ahjussi... semalam k-kau... " Hanna tergagap mendapati kenyataan bahwa mereka berdua sudah melakukan penyatuan tubuh mereka.
Siwan membuka matanya lebar-lebar.
"Kau kenapa? apa jangan - jangan kau lupa bahwa kita sudah menikah?" tanya Siwan.
"Menikah... benarkah?" Hanna tercengang.
Siwan lalu menarik lengan Hanna dan memperlihatkan sebuah cincin yang mrlingkar di jari manisnya.
"Ini buktinya, apa kau benar-benar lupa, ya Alloh," Siwan menepuk jidatnya.
"Hehe... maafkan aku, mas Siwan, aku tadi masih terbawa suasana mimpi buruk, aku pikir kita masih berpacaran, saat aku membuka mata aku berada di kamar ini, tentu saja aku langsung bahwa berpikir seperti itu," Hanna membela diri.
"Jangan-jangan kau pun lupa kalau saat ini kau sudah punya anak," sela suaminya sambil melingkarkan kembali lengannya di tubuh istrinya dan membenamkan kepalanya di leher istrinya dan kembali menutup matanya.
"Ah iya, jam berapa ini, apa Hwan tidur nyenyak tanpa kita,"
Hanna sekuat tenaga mencoba meraih hpnya tanpa bergerak sedikitpun karena tubuh Siwan yang berat menguncinya membuatnya tidak leluasa bergerak.
Saat melihat layar kaca hpnya yang menyala, ia tidak mendapat sebuah pesan dari siapapun yang artinya situasi aman, Hwan bisa di kendalikan.
Saat menelepon bi Asih beberapa jam yang lalu, Hanna mewanti-wanti bahwa jika Hwan rewel, maka bi Asih harus segera meneleponnya dan Hanna akan segera pulang secepat kilat bersama suaminya.
Melihat jam di layar hpnya yang menunjukkan pukul 02.30 wita, Hanna kembali merenung tentang kejadian beberapa waktu yang lalu tentang mimpi-mimpi buruknya yang selalu menghantuinya pada pukul 02.00 wita/wib setiap malamnya.
Namun ia segera menepis masa kelamnya itu. Ia tidak ingin terus mengingatnya karena hanya membuat hatinya kembali merasakan sakit.
Hanna pun kembali tertidur di samping suaminya. Saling berpelukan di bawah selimut yang hanya menutupi tubuh keduanya.
Beberapa hari kemudian....
Di kediaman Siwan, kini sudah bertambah anggota keluarga lainnya.
Kedua orangtua dan adik Hanna datang jauh - jauh dari Bandung untuk menghadiri pesta resepsi pernikahan yang di satukan di hari yang sama dengan acara ulang tahun Hwan.
Mereka memutuskan hal itu demi mempersingkat waktu, supaya keluarga dan sahabat dekatnya dari Bandung tidak bolak - balik antara Bandung dan Bali yang memakan biaya tidak murah bagi mereka. Karena awalnya mereka menolak untuk mendapatkan bantuan dari Hanna yang akan menanggung seluruh biaya ongkos pulang pergi. Kalau masalah penginapan tidak perlu mereka khawatirkan karena villa, resort, dan hotel milik Siwan bertebaran di pulau Bali.
Dan, akhirnya Siwan memutuskan untuk menyewa private jet milik temannya di Bali untuk menjemput seluruh keluarga Hanna dan sahabatnya dari Bandung. Dan mereka tidak bisa menolaknya karena merasa tidak enak dengan Siwan.
Keluarga inti Hanna berkumpul di kediaman Siwan.
Sedangkan para sahabat dan saudaranya langsung menempati resort yang akan menjadi lokasi berlangsungnya acara resepsi dan ulang tahun yang akan di adaka dua hari kemudian.
Hanna memberi waktu pada para sahabat dan saudaranya untuk bersenang - senang menikmati liburan gratis mereka di Bali.
Selesai fitting baju untuk acara resepsi, Hanna makan sianh dengan suaminya, berdua, di foodcourt yang ada di Mall karena setelahnya mereka hendak membeli sesuatu di Mall tersebut.
"Mas, boleh aku bertanya?" Hanna terlihat segan, tapi, mulutnya seakan tidak tahan bila hanya terkatup rapat saja.
"Tentu saja, bertanya itu gratis!!" Siwan tersenyum.
"Anu, aku ingin bertanya tentang Austin, aku tahu, pasti ini akan membuat moodmu berubah, tapi aku sangat penasaran," ucap Hanna.
Siwan mengangkat sebelah alisnya, kemudian ia mundur ke belakang, merubah posisi duduknya menjadi bersandar di kursinya.
"Katakan saja!!" serunya.
"Tanyakan jangan ya, kalau tidak jadi, dia akan semakin kesal padaku, tapi aku takut dia tersinggung," gumam Hanna, menimbang sesaat sebelum untaian kata berikutnya terlontar dari bibirnya.
Siwan semakin terlihat menekan walau hanya dengan raut wajah yang tersirat.
"Apa kau masih marah padanya?" tanya Hanna.
Tiba-tiba Siwan tertawa, terkekeh dan hal itu malah membuat Hanna semakin tertekan.
"Ya ampun, kenapa harus bertanya seperti itu, jawabannya ya sudah pasti, dasar bodoh kau Hanna," Hanna merutuki dirinya di dalam hatinya.
"Langsung saja ke intinya, apa yang ingin kau katakan atau mungkin yang sebetulnya ingin kau tanyakan?" tanya Siwan.
"Maaf, pertanyaan bodoh itu keluar begitu saja dari mulutku, aku tahu, kau pasti masih marah dan begitu tersiksa selama ini akibat dari pengkhianatan yang dia lakukan padamu," ucap Hanna.
"Lalu?" tanya Siwan.
"A-aku ingin menemuinya, apa kau bisa memberiku izin?" tanya Hanna dengan hati-hati.
"Untuk apa?" tanya Siwan.
"Ada banyak hal yang ingin kutanyakan tentang semua hal yang telah dia lakukan pada kita, aku masih belum melampiaskan amarahku padanya, aku kesal ingin menjambaknya, ingin menghajarnya habis-habisan," ucap Hanna dengan penuh semangat dan amarah.
"Haha... ada-ada saja kau ini," sahut Siwan.
"Baiklah terserah kau saja, mau kuantar?" tanya Siwan.
Sebelum Hanna menjawabnya, Siwan kembali bersuara.
"Tapi sebaiknya bukan aku yang mengantarmu, akan ku beritahu Aji agar dia meluangkan waktunya untuk mengantarmu pergi," sambung Siwan.
"Terimakasih banyak Mas, percayalah padaku, aku tidak akan macam-macam, aku hanya ingin menghajarnya saja, aku belum melampiaskan amarahku padanya, meskipun, dia sempat menyelamatkan nyawaku, tapi apa yang dia lakukan padamu sebelumnya lebih membuatku ingin menghajarnya," sahut Hanna.
Siwan hanya tersenyum lalu mulai meneguk minuman yang sudah terhidang di hadapannya.
"Aku paham, aku tidak akan banyak bertanya, aku percaya padamu !!" gumam Siwan sambil memandangi wajah istrinya yang masih komat kamit sambil memakan menu yang ia pesan siang itu.
Siwan sangat mengerti, apa yang ada di dalam pikiran istrinya itu, karena dia sudah lama mengenalnya. Saat ini, dia harus menahan sedikit rasa egoisnya di depan seseorang demi kedamaian mereka berdua. Meskipun sebetulnya, dalam hati kecilnya Siwan tidak ingin istrinya pergi menemui pria lain, terlebih lagi dia adalah Austin, orang yang berhasil membuat mereka tersiksa dan sengsara karena perpisahan.
...****...
Hari itu tiba...
Bukan hari dimana pesta pernikahan maupun ulangtahun, karena acara tersebut akan dilaksanakan di keesokan harinya.
Siang itu, Hanna sudah duduk di kursi sebuah ruangan.
Ruangan yang tidak seperti biasanya ia datangi, kali itu, dia sedang berada di ruangan kunjungan para tahanan di sebuah rutan yang ada di kota Denpasar.
Hanna memasang wajah serius dan tanpa senyuman.
Sedangkan pria yang berada di seberangnya sudah menyunggingkan senyuman selebar mungkin.
"Bagaimana kabar Hwan? dia sehat kan? dia pasti tumbuh besar dan kuat seperti ayahnya, dan berhati baik dan lembut seperti ibunya, aish... aku sangat ingin bertemu dengannya, aku merindukannya, dia pasti sudah lebih pintar dan-" ucapan Austin terhenti saat ia mendengar sebuah kata yang begitu nyaring di telinganya.
"Menyedihkan!!"
"Apa?" Austin tercengang.
"Inikah jalan hidup yang kau pilih? inikah akhir jalan yang kau pilih itu?" ucap Hanna dengam nada meninggi.
Austin tersenyum sinis.
"Pukul aku, bahkan hingga aku mati, lakukanlah jika itu membuat hatimu merasa lega, ayo, lakukanlah, " Austin menantang Hanna yang sudah mengepalkan tangannya dan merekatkan giginya hingga terdengar bunyi gesekan.
Pada akhirnya, Hanna hanya menatapnya dengan tatapan penuh kebencian dan kemarahan, air mata menumpuk di pelupuk matanya menyamarkan penglihatannya akan wajah pria yang kini duduk di hadapannya.
Hanna membuang muka dari hadapan Austin, menarik nafas dan menghembuskannya kasar lalu mengusap air mata yang lolos menyusuri pipinya.
"Meskipun kau pernah menyelamatkan nyawaku, tapi aku tidak bisa melupakan perbuatan jahatmu pada kami, terutama pada suamiku, ku harap kau menyesalinya," ucap Hanna, kemudian beranjak dari kursinya lalu keluar dari ruangan tersebut.
Austin tertawa untuk beberapa saat, namun setelahnya, ia menundukkan wajah dan menutupnya dengan telapak tangannya. Ia menangis terisak-isak dalam sendirinya, tak berselang lama, polisi datang menghampirinya dan memaksanya untuk beranjak dan mengantarnya kembali ke balik jeruji besi.
Di perjalanan pulang, Hanna yang di antarkan oleh Aji kini sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah suaminya.
"Aku tidak patut menangisinya, untuk apa, penderitaan suamiku jauh lebih dari ini," ucap Hanna, takut Aji salah paham. Ia terus mengusap matanya yang berlinangan air yang tak mau berhenti keluar dari matanya.
"Aku hanya tidak menyangka, setega itu dia padaku dan pada suamiku," sambungnya.
Aji yang fokus pada jalanan di depan hanya diam dan mendengarkan ocehan istri majikannya itu.
"Kenapa kau diam saja, aa kau sedang sakit gigi?" Hanna mulai terlihat kesal karena Aji tak menyahut ucapannya atau mencoba menenangkan hatinya.
"Aku hanya takut salah, aku tidak pandai merayu wanita!!" ucapnya tanpa beban.
"Siapa yang menyuruhmu merayuku, memangnya aku minta kau rayu, jangan gila kau !!" Hanna jadi semakin tersulut emosi.
Aji kemudian tertawa.
"Kau, sangat lucu, aku lebih suka melihatmu marah-marah daripada melihatmu menangis, marahi saja aku, tapi tidak dengan air mata," Aji kembali tersenyum.
"Pantas saja, sampai saat ini tidak ada wanita yang mau dekat denganmu, kau sangat aneh dan kaku," ucap Hanna.
"Terserah kau saja !!" pungkas Aji.
Hanna sudah tidak menitikan air matanya, kini, yang ia lakukan hanya menceramahi Aji sepanjang jalan hingga mereka tiba di kediaman Siwan.
Malam harinya...
Hanna sudah siap untuk tidur, saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 22.30 wita, ia sudah berada di atas ranjang dan sudah memakai selimut.
Siwan masih belum juga datang ke kamar dan menemaninya.
Hanna kembali menjadi kesal.
"Padahal besok acara penting untuknya, tapi dia masih saja di sibukkan dengan pekerjaan, memangnya tidak bisa di tunda dulu apa, dia juga harus istirahat," gerutu Hanna.
"Aku ingin tidur dengan Hwan saja kalau begitu," kemudian Hanna beranjak dari ranjangnya dam hendak menghampiri Hwan yang sudah terlelap di ranjang miliknya yang berada di salah sudut ruangan kamarnya.
Namun, baru saja Hanna bersiap merebahkan tubuhnya di atas ranjang Hwan, tiba-tiba pintu terbuka dan seseorang masuk ke dalam kamarnya.
"Kau belum tidur, chagiya?" tanya Siwan.
"Aku menunggumu, tapi kau lama sekali, tadinya aku berniat tidur dengan Hwan saja, "
Hanna kemudian menghampiri suaminya dan memeluknya sangat erat.
"Kau kenapa?" tanya Siwan.
"Entahlah, hatiku sedikit melow malam ini, aku ingin memelukmu terus seperti ini,"
Siwan yang sudah memeluknya pun kemudian berinisiatif untuk melakukan sesuatu.
"Ayo kita putar sebuah musik, tidak usah keras - keras, pelan saja, tunggu sebentar,"
Siwan kemudian mengeluarkan hp dari saku celananya dan mencari sebuah lagu dalam sebuah aplikasi di hpnya.
Ia memutar sebuah instrumen musik romantis yang membuat istrinya merasa lebih rileks dalam pelukannya. Mereka terlihat seperti sedang berdansa dengan perlahan, menikmati alunan musik romantis yang terdengar di telinga mereka.
Hanna membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Sambil terus memeluknya dengan erat ia mengikuti gerak langkah Siwan yang menuntunnya berdansa dengan gerakan sangat lembut.
"Kenapa kau menemuinya kalau memang hanya membuat suasana hatimu bersedih," ucap Siwan.
Hanna semakin menelusuk di dalam pelukan suaminya.
"Setidaknya, kau bisa menemuinya nanti, setelah semua acara kita selesai," sambung Siwan.
"Hatiku sedikit lega, melihat dia baik-baik saja, aku hanya takut terus merasa bersalah setelah kejadian hari itu, meskipun aku tidak pernah memintanya untuk melindungiku, setidaknya, dia pernah menyelamatkan hidupku, aku tidak akan melupakan hal itu," ucap Hanna.
"Hatimu memang sangat lembut, aku tahu, kau hanya merasa kecewa, benarkan dugaanku?" tanya Siwan.
"Ya benar, aku kecewa, kenapa harus dia orang yang mengkhianatimu, mengkhianati kita, seandainya orang itu adalah orang lain, aku tidak akan berpikir seperti ini, cih, dasar picik, dia bahkan tidak mengucapkan kata maaf padaku, " ucap Hanna.
Malam itu, Hanna tertidur dalam pelukan suaminya di atas sofa yang ada di sudut kamar mereka.
Setelah istrinya tertidur lelap, Siwan kemudian memindahkannya ke atas ranjang, kemudian ia pun merwbahkan tubuhnya di atas ranjang di samping istrinya.
Sebelum tidur, Siwan mengusap wajah istrinya dan menatapnya dengan tatapan sendu.
"Hatiku lebih merasa kecewa, saat harus dikhianati oleh orang yang sudah ku anggap sebagai saudaraku sendiri," ucap Siwan dengan lirih, kemudian ia mengecup kening Hanna dan setelahnya ia tertidur di samping istrinya sambil memeluknya dengan erat.
...****...
Hallo readers...
Apa kabar?
Maaf yaa baru sempet update lagi, bukan pundung gara2 sebelumnya gagal update berkali kali judulnya ini mah, tapi gara gara tugas daring anak banyak, plus bikin kerajinan, othor pusyiiiiiiiing.
Semoga anak anak sekolah cepetan tatap muka, semoga pandemi ini segera berakhir.
Jaga kesehatan dan tetap jalani prokes yaa readers, jangan lupa pakai masker!!