
Pukul 16.30 Wita,
Hanna sedang dalam perjalanan pulang menuju tempat kostnya. Sammy sebenarnya ingin menemani nya pulang, tapi Hanna menolak, lebih baik dia pulang sendiri saja dengan alasan ingin mengunjungi sebuah tempat sebelum pulang ke tempat kost.
Beberapa meter menuju gerbang kost, disana, terlihat sudah ada Siwan yang menunggunya. Dia sedang bersandar di mobilnya sambil mencoba menelpon seseorang.
" Ahjussi... " Hanna berlari ke arah Siwan.
Siwan menengok ke arahnya dan menutup telepon nya.
" Kau dari mana ? " Siwan bertanya sambil memeluk Hanna.
" Aku, tadi habis main ke galeri seni yang ada di jalan xxx. " Jawab Hanna.
Siwan tidak merasa curiga sedikitpun.
" Eh iya, aku membawa oleh - oleh untukmu, tunggu sebentar." Siwan membuka pintu mobilnya dan mengambil sesuatu di dalamnya.
" Ini, aku bingung memilih nya, tapi semoga kau suka. " Siwan menyodorkan satu buah paper bag.
" Wah apa ini, tidak perlu repot - repot ahjussi." Ucap Hanna sambil melihat isi dalam paper bag tersebut.
" Itu kain tenun khas NTT, lain kali aku akan mengajakmu berlibur ke Sumba, kau mau ?" Siwan menatap Hanna sambil mengelus - elus rambutnya.
" Harus menungguku dapat cuti kerja dulu kalau begitu. Hihi..." Hanna memeluk Siwan.
Di sisi lain, di sebrang sana, ada sepasang mata yang memperhatikan kemesraan mereka. Dia adalah Rayhan. Cinta Pertama Hanna.
" Ahjussi, kau bukannya sedang berkumpul bersama keluarga merayakan natal bersama ?"
" Aku baru pulang dari rumah ibuku, di sana juga banyak saudara ku berkumpul. Tapi, aku lebih baik menemui mu disini, aku sangat merindukan mu. "
" Jangan begitu ahjussi, berkumpul bersama keluargamu juga sangat penting, jarang - jarang kan kalian berkumpul bersama selain hari raya. "
" Iya - iya, aku sudah bertemu mereka tadi. "
" Ahjussi, kau mau makan malam di tempatku tidak, aku habis belanja bahan, mau ku masakkan sesuatu ?" Hanna memperlihatkan satu kantong keresek hasil belanjanya tadi setelah pulang dari galeri.
" Wah, tentu saja, dengan senang hati. "
Mereka berdua pun masuk menuju ke lantai dua kamar kostan Hanna.
Sesampainya di dalam tempat kost, Hanna langsung menaruh semua belanjaannya di dapur. Dia mempersilahkan Siwan untuk menunggu, duduk dan menonton tv saja. Siwan sempat menawarkan diri untuk membantu, tapi karena Siwan tamu di tempatnya, dia tidak membiarkan Siwan menyentuh pekerjaan apapun di dapur.
Saat sedang menunggu, lama kelamaan Siwan merasakan dirinya sangat mengantuk karena merasa lelah. Sejak dari kemarin malam dia memang kurang istirahat. Dia berkali kali menguap, dan Hanna sepertinya mendengar karena jarak antara dapur dan ruang tv di kostan Hanna sangat dekat.
" Ahjussi, apa kau mengantuk?"
" Iya, sepertinya aku butuh istirahat sebentar. " Siwan menghampiri Hanna di dapur.
" Kalau kau mau tidur, di dalam kamarku saja, jangan di luar, nanti badanmu sakit. " Ucap Hanna sambil masih fokus memotong sayuran.
" Bolehkah.. " tiba - tiba Siwan memeluk Hanna dari belakang. Dan membuat Hanna kaget.
" I-iya, kau tidur saja dulu sana, nanti aku bangunkan saat sudah siap."
" Baiklah, aku tidur dulu ya. " Siwan mencium kening Hanna dan pergi ke dalam kamar.
Di dalam kamar, Siwan sempat melihat - lihat isi di sekitarnya. Dia melihat foto keluarga Hanna, sahabatnya dan juga ada foto dirinya dan Hanna terpampang di sebuah tembok di dalam kamar kekasihnya itu. Dia tersenyum merasa senang melihatnya.
Lalu dia melihat koleksi makeup dan skincare yang sering Hanna gunakan, dan sempat mencium aroma parfum yang sering di gunakan kekasihnya dan memyemprotkannya pada kemeja yang ia pakai.
Setelah itu dia berbaring di atas kasur, dia merasa sangat nyaman walau tidur di atas kasur kecil dan tidak seempuk kasurnya di rumah. Dia tersenyum dan memejamkan matanya. Dalam hitungan detik, dia sudah berada di alam mimpi.
Satu jam kemudian, Hanna sudah selesai memasak satu panci sedang sayur sop buntut dan kentang mustopa. Tidak lupa dia membuatkan semangkuk kecil sambal rawit dan memotong jeruk limau dan menyediakan bawang goreng dan beberapa kerupuk di dalam toples. Dia bahkan sempat mencuci piring sehingga dapurnya terlihat rapih dan bersih lagi.
Setelah merasa selesai di dapur, Hanna pergi ke dalam kamar hendak membangunkan Siwan. Tapi, setelah melihat kekasihnya itu tidur begitu nyenyak, dia jadi tidak tega. Lalu dia memutuskan untuk membiarkannya tertidur saja dan lebih baik ia mandi dulu, pikirnya setelah mencium bau keringat dari tubuhnya.
Selesai mandi, saat mengeringkan rambut dengan handuknya, Hanna mencari hpnya dari dalam tas yang ia pakai tadi, dan dia melihat hpnya menyala, saat dia melihat isinya, ternyata ada chat masuk dari Rayhan.
A Rey...
Hanna, lagi dimana? Aku mau ketemu.
18.45 Wita
Langsung Hanna buru - buru membalasnya.
Maaf A, Hanna lagi sama paman. Hanna baru selesai masak dan kami mau makan malam bersama.
18.47 Wita
Tidak lama, Rey membalas kembali.
A Rey...
18.48 Wita
Apa maksud dari chat balasan Rey itu, Hanna tidak memahami nya. Dan dia lalu menaruh hpnya kembali di atas meja riasnya.
Dia lalu menghampiri Siwan, berniat membangunkan nya, karena sudah malam waktunya mereka untuk makan malam.
Dia menatap wajah Siwan dalam beberapa detik, lalu dia mengelus pipinya dan memainkan beberapa helaian rambut nya. Wajahnya yang begitu tenang saat tertidur, membuat Hanna ingin sekali tidur di sampingnya juga.
Lalu, tidak lama, dalam posisi duduknya, Hanna mencium kedua pipi Siwan, kedua matanya, lalu bibirnya.
Siwan yang merasakannya, dia tersenyum dalam tidurnya. Padahal, sepertinya Siwan sudah bangun gara - gara kelakuan kekasihnya itu.
Siwan lalu mengubah posisi tidur terlentang nya menjadi menyamping ke hadapan Hanna, dia lalu menarik tubuh Hanna agar tertidur di sampingnya dan mendekap tubuh ramping kekasihnya.
" Ahjussi, ayo kita makan, semuanya sudah siap. " Ucap Hanna.
" Heemmhh... sebentar lagi, aku ingin seperti ini, sebentar lagi ya. " Siwan berbicara dengan suara parau nya.
Lalu Hanna pun memeluk tubuh Siwan. Walaupun jantungnya terus berdegup kencang, tapi Hanna berusaha membuat dirinya relax saat di samping Siwan.
" Ahjussi, aku ingin bertanya. "
" Heemhh.. " Siwan hanya berdehem tanda setuju.
" Itu, tatto mu, apa itu permanen ?"
" Iya, permanen. " Siwan lalu mengucek kedua matanya dan bertanya kembali.
" Kenapa ? kau tidak suka ?" tanya Siwan menatap Hanna.
" Bukan begitu, itu hakmu. Kalau aku, mana berani kalau harus mentatto tubuhku permanen seperti itu. Aku hanya berani memakai tatto dari stiker hadiah permen karet. " Hihi... Hanna tersenyum.
" Kau ini, ada - ada saja. "
" Apa tattomu itu ada artinya ?"
" Tidak ada, hanya senang saja melihat motifnya. Kau mau lihat... " Siwan membuka kancing kemejanya. Lalu membuka seluruh kemejanya.
" Ih.. nanti kau kedinginan, kenapa di buka semua. " Ucap Hanna memukul manja dada Siwan.
" Aku tidak pernah merasa kedinginan saat di dekatmu. "
Hanna tersipu malu mendengar perkataannya, lalu dia menyentuh tatto yang berada di pundak Siwan.
" Ini gambar apa sebenarnya..?"
" Kau tidak melihat ada kepala naga disini? " Siwan menunjuk pada gambar tatto di lengannya.
" Oh.. iya.. ku kira itu bukan kepala. "
" Aku sudah lama membuatnya, jadi mungkin gambarnya agak luntur sekarang. Tapi, ini tidak akan menghilang karena permanen. "
" Memangnya kapan kau membuatnya?"
" Waktu itu, saat aku berumur 26 tahun, setelah selesai Wajib militer. "
Hanna terus menerus menyentuh tatto di pundak Siwan secara lembut dan perlahan, membuat Siwan merasakan sensasi yang berbeda saat mendapat sentuhan dari jari jemari kekasihnya itu.
" Apa kau sedang mencoba menggodaku ?" Siwan menatap Hanna dan memegang tangan Hanna yang sedang menyentuhnya.
" Kau ini, kau saja yang berfikir seperti itu. " Lalu Hanna menarik lengannya dari genggaman Siwan.
Tapi dalam beberapa detik, Siwan menarik tubuh Hanna dan menidurkannya di atas kasur, dan Siwan kini berada di posisi atas menindih tubuh Hanna. Lalu, Siwan menggelitik tubuh mungil kekasihnya itu sehingga membuat Hanna tertawa terpingkal - pingkal meminta ampun, tapi Siwan tidak menghentikannya malah menggelitik tubuhnya lebih cepat. Mereka berdua bercanda seperti anak kecil.
Setelah merasa lelah, Siwan berhenti menjahili kekasihnya itu. Dia lalu merebahkan tubuhnya kembali di samping kekasihnya.
" Aku menyerah, ampun, jangan lakukan lagi. " Ucap Hanna.
Siwan melingkarkan lengannya pada tubuh Hanna, yang Hanna pikir akan menggelitiknya lagi. Lalu Hanna menahan lengan Siwan agar tidak melakukannya.
" Tidak, aku tidak akan menyiksamu."
Lalu, Siwan mencium kening kekasihnya itu, lalu turun ke bagian leher, dan lalu mencium bibir tipis kekasihnya. Selama beberapa detik mereka berciuman. Lalu, Siwan menghentikannya sebelum terjadi hal yang sangat dia inginkan.
" Ayo, kita makan, aku sudah lapar." Siwan menatap kekasihnya lalu terbangun dari tempat nya.
" Baiklah, ayo kita makan nasi, sebelum kau memakanku." Hanna tersenyum menggoda Siwan.
Lalu, Siwan memakai kembali kemejanya, dan, mereka berdua pergi keluar dari kamar menuju dapur dan bersiap untuk makan.