
Beberapa waktu berlalu...
Hanna dan Siwan sepertinya sedang dalam menjalani masa krisis hubungan mereka.
Tidak ada komunikasi di antara keduanya setelah kejadian hari itu. Bahkan sekedar mengirim pesan dan bertanya kabar pun tidak.
Masing - masing sepertinya sedang menahan diri dan mencoba memulihkan pikiran dan perasaan mereka seperti sedia kala.
Ego di antara keduanya terbilang cukup tinggi. Bahkan, Hanna berpikir mungkin ini lah waktu yang tepat baginya untuk mengakhiri hubungannya dengan Siwan.
" Ya, mungkin ini jeda waktu agar aku bisa mempersiapkan diri sebelum perpisahan itu tiba, setidaknya... aku akan di tinggalkan saat bukan dalam keadaan sayang - sayangnya " gumam Hanna saat ia sedang sarapan di meja makan.
Pikiran Hanna sudah melayang kemana - mana, dia mengira bahwa Siwan benar - benar mencampakannya kali ini.
Rasa sakitnya kali ini melebihi rasa sakit yang dulu pernah ia alami karena pria lain.
Hanna seolah hidup, tapi tidak bernafas. Dadanya terasa sesak, hatinya ingin menjerit, namun keadaan selalu memaksanya untuk selalu tersenyum.
Setiap malam, air mata selalu membanjiri pipinya, bantalnya dan selimutnya.
Hanya ring tinju tempatnya menumpahkan seluruh emosinya.
Kalian tahu, sudah satu minggu lamanya, Hanna beralih hobinya meninju samsak. Tentu saja sang pelatihnya adalah Aji. Dia sendiri yang turun tangan membantu Hanna meluapkan emosinya yang selalu tertahankan saat berhadapan dengan orang lain. Senyuman yang tersirat di wajah Hanna, tapi sedang begitu tersiksa di dalam hatinya.
Aji selalu di tugaskan kembali oleh Siwan untuk mendampingi Hanna saat ia tidak bisa menemuinya. Ia selalu memantau aktivitas Hanna di luar rumah dari kejauhan. Bukan Tio atau Bram, tapi Aji sendiri yang turun tangan.
Aji mana tahu setiap malam Hanna selalu menguras air matanya hingga kering tak bersisa.
Hanna begitu pandai menyembunyikan rasa sedih di hatinya saat berhadapan dengan Aji.
" Hanna, kamu gak apa - apa kan ?" tanya Aji menatap Hanna yang terlihat sedang melamun saat mereka makan bersama.
" Aku, tidak apa - apa, bli.. hihi.. !!" Hanna menyeringai memperlihatkan barisan gigi kelinci putih rapihnya.
Namun, Aji tahu, kalau Hanna, maksudnya hatinya sedang dalam keadaan tidak baik - baik saja. Hanya saja, ia tidak pernah dengan sengaja ingin membuat Hanna mencurahkan segala isi hatinya padanya.
Aji sendiri sedang bergelut dengan hati dan perasaannya, ia sedang membatasi diri agar tidak terlalu dekat dalam artian berbeda bersama Hanna. Ia seolah membentengi dirinya agar tidak berani menerobos masuk dan mengambil kesempatan dalam kesempitan. Ia tahu dan sadar diri akan posisinya. Hanna, hanyalah seseorang yang sedang ia jaga, ya... dia sedang menjaga jodoh orang istilahnya. Tenang saja, ada Austin yang selalu membantu Aji agar tetap teguh pada pendiriannya. Lalu, kemana Siwan ???
Sejujurnya, saat itu Siwan sedang kembali ke Seoul untuk melakukan pekerjaan di perusahaan ayahnya, adiknya selalu memintanya pulang dan mengatasi masalah yang terjadi di tubuh perusahaan ayahnya saat itu. Perusahaan ayahnya sedang mengalami suatu masalah intern, Siwan sendiri harus turun tangan karena dia merupakan orang yang berpengaruh di perusahaan ayahnya dulu, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk melepaskan jabatannya dan menyerahkan tanggung jawab pada adiknya.
Siwan kembali ke Seoul bersamaan dengan Seo Jihye yang mengakhiri liburannya di Bali yang tidak menyenangkan baginya. Ia terlalu berekpektasi bahwa selam ia di Bali, Siwan yang akan menemaninya kemanapun ia pergi, tapi nyatanya, hanya seorang supir suruhan Siwan lah yang menemaninya. Pulau Bali yang begitu indah di mata para wisatawan, menjadi biasa saja di mata Jihye karena dia sendiri tidak bisa menikmati nya dengan hatinya.
Matanya memandang hamparan laut dan pantai luas di depannya, namun hatinya tidak bisa menikmati kepuasan dan kegembiraan kala itu.
" Untuk apa aku jauh - jauh kemari kalau pada akhirnya aku tetap sendiri, cih... " ucap Jihye.
Ia pun lalu kembali ke villa dan hanya merebahkan dirinya di atas ranjang. Kadang berenang, menonton acara tv, melakukan yoga dan workout, berfoto selfi, makan, ngemil, dan menikmati liburannya di dalam sebuah villa sendirian.
Ah tidak... ada seorang koki dan seorang pengurus villa yang menemaninya di sana, bahkan pak supir pun selalu tidak bisa pergi jauh darinya karena Jihye selalu menugaskannya membeli ini dan itu, kebutuhannya selama berada di Bali, di salah satu villa milik Siwan.
Aji selalu melaporkan segala aktivitas Hanna pada Siwan. Bahkan, dia tidak pernah bosan menyarankan Siwan agar mau menghubungi Hanna sendiri. Karena ia tahu, sebenarnya dalam hati kecil dua orang itu, sedang saling merindukan.
Hari minggu, beberapa hari menjelang natal tiba...
Hanna yang baru pulang dari shift siangnya dengan mengendarai motor merasa ada seseorang yang membuntutinya dari belakang.
Ia merasa cemas, karena takut sedang di intai oleh begal atau orang yang hendak berbuat jahat lainnya.
Sepanjang perjalanan, mulutnya tiada henti bergerak memanjatkan doa. Perjalanan yang biasanya hanya 10 menit dari toko menuju rumahnya, kini terasa bagaikan 10 jam. Padahal ia mengendarai motornya dengan kecepatan melebihi biasanya.
" Aduh... bagaimana ini, aku takut dia mengikutiku sampai depan rumah, terus, pas aku turun dari motor gimana, aku takut dia bawa senjata, aduh... gimana ini " ucap Hanna sambil sesekali memperhatikan arah belakangnya lewat kaca spion motornya.
Dan, saat ia sedang melihat ke arah belakang lewat kaca spion, karena ia jadi tidak fokus melihat ke arah depan, tiba - tiba ia terkejut saat di depannya ada sebuah mobil yang sedang berputar arah. Mobil itu sepertinya sudah memberi petunjuk, namun, Hanna yang tidak fokus bukannya menarik rem, ia malah terus menancap gas motornya, hingga akhirnya ia menabrak pinggiran mobil tersebut dan terjatuh setelah menghantam mobil dengan cukup keras.
Beberapa saat, Hanna masih dapat mendengar suara klakson mobil di sekitarnya dan melihat orang - orang yang mulai mendekat padanya. Namun, lama - kelamaan, ia semakin merasa pusing lalu hilang kesadaran.
Beberapa jam kemudian...
Hanna mulai membuka matanya. Ia memutar kepala ke kanan dan ke kiri, menilik sekeliling ruangan yang nampak asing baginya.
Hingga, saat suara seseorang di sampingnya memanggil namanya, barulah ia tersadar bahwa kini ia sedang berada di rumah sakit.
" Han, Hanna... "
" Kak Os, apa aku di rumah sakit ?" tanya Hanna.
" Tidak, kai sedang di alam mimpi, rumah sakit alam mimpi " jawab Austin.
Hanna mencoba menggapai tangan Austin yang sedang mencoba memeriksa dirinya setelah akhirnya ia tersadar.
Hanna menarik lengan Austin, lalu mencubit nya sangat keras.
" Aaaaww... sakit, kau ini kenapa ?" tanya Austin.
" Ah... terasa nyata, berarti aku sedang tidak bermimpi " ucap Hanna dengan wajah datar.
" Iya - iya, kau masih hidup di dunia ini, kau sedang terbaring di ranjang rumah sakit, ini dunia nyata... " Ucap Austin dengan nada kesal dan mengusap tangan yang tadi Hanna cubit, dan kembali mengomel.
" Lagi pula, harusnya kau mencubit dirimu sendiri kalau ingin memastikan apa ini mimpi atau bukan... " pekik Austin.
Hanna nampak tidak memperdulikan ocehannya.
" Kak Os, aku haus... !!" ucap Hanna.
" Ish... kau, kalau bukan pacar kak Wan, sudah aku tinggalkan kau dari tadi " ucap Austin, lalu membantu Hanna duduk di atas ranjang dan menyodorkan satu botol air mineral yang sudah ia buka tutup ya.
Saat Hanna ingin menggerakkan tangan kanannya hendak mengambil botol minumnya, tiba - tiba ia merasa kesakitan.
" Aww... kenapa sekarang tanganku jadi sakit sekali " ucap Hanna.
Austin menaruh botol air mineral yang di pegangnya di atas nakas dan memeriksa pergelangan tangan Hanna.
" Sepertinya kau hanya bengkak, mudah - mudahan tidak ada keretakan, nanti kita periksa lebih lanjut lagi, mungkin tanganmu terbentur atau tertindih stang motor saat terjadi tabrakan " ucap Austin.
Hanna nampak berpikir sejenak, ia mencoba kembali mengingat kejadian tadi di jalan saat ia menabrak mobil orang lain.
" Kak, siapa yang membawaku kesini ?" tanya Hanna.
" Jin... kau di bawa oleh Jin, tring... langsung ada di sini " jawab Austin menggoda Hanna.
" Ish... syukur aku tidak di bawa alien ke luar angkasa " sahut Hanna.
" Hahaha... masih bisa bercanda rupanya, bagus, berarti kepalamu masih baik - baik saja meskipun berdarah tadi " ucap Austin.
" Aji, dia yang membawamu kesini, kebetulan saat itu dia ada di lokasi kejadian, dan langsung membawamu kesini bersama orang yang kau tabrak mobilnya " jawab Austin.
" Bli Aji... apa jangan - jangan... " ucapan Hanna terhenti, dan dia berpikir dan mengingat tentang orang yang membuntutinya tadi saat ia dalam perjalanan pulang ke rumah setelah bekerja.
" Apa mungkin dia orangnya, kalau benar, berarti aku celaka gara - gara dia... ah, tidak, aku tidak bisa menyalahkannya, ini salahku yang tidak fokus dan tidak hati - hati !!" gumam Hanna.
" Kenapa, ada apa Han... ?" tanya Austin sambol melambaikan tangannya di depan wajah Hanna yang terlihat sedang melamun.
" Ah... tidak kak, emh... lalu, sekarang dimana bli Aji ?" tanya Hanna.
" Dia sedang mengurus masalah yang kau buat, dia pergi bersama orang yang kau tabrak mobilnya untuk bertanggung jawab supaya kau tidak di laporkan ke polisi " jawab Austin.
Hanna terlihat frustrasi, ia menundukkan kepala dan menahannya dengan kedua tangannya lalu mengacak - acak rambut kepala belakangnya.
" Ya Alloh, apalagi ini, aku benar - benar menyusahkan orang lain " gumam Hanna.
Saat sedang bergumam, tatapan Hanna dan Austin tertuju pada pintu yang tiba - tiba terbuka.
" Kau sudah sadar !!" ucap Aji, berjalan mendekati ranjang Hanna.
" Bli, aku benar - benar minta maaf, selalu membuatmu kesusahan !!" ucap Hanna dengan segenap jiwa dan raga.
" Tidak apa, masalah dengan korban sudah selesai, sekarang bagaimana kondisimu, apa yang kau rasakan sekarang, bagian mana saja yang kau rasa sakit ?" tanya Aji.
Austin memicingkan kedua matanya mendengar Aji memberondong pertanyaan pada Hanna.
" Aku, hanya sakit di bagian pergelangan tangan ini ' memperlihatkan tangan kanannya ' lalu, kakiku si sebelah sini terasa cenat - cenut ' menunjukkan pada area kaki juga ' dan ini, badanku rasanya pegal sekali, lalu ini kepalaku " Hanna menunjuk bagian kepalanya yang kini sudah di perban karena tadi sempat berdarah, kepalanya tergores setelah membentur body mobil dan terseret ke aspal jalan.
" Ck... ck... ck... yang dokter di sini siapa, mengapa kau tidak mengatakan semuanya padaku sedari tadi !!" ujar Austin mendelik dan menatap Hanna tajam.
Hanna dan Aji hanya tersenyum menatap Austin.
" Kau istirahat lah, ini masih terlalu dini untuk terus mengoceh !!" ucap Austin kembali.
" Kak Os, apa kau sedang shift jaga malam ?" tanya Hanna.
" Iya, karena sekarang sudah ada yang menemani mu, aku kembali ya, besok temanku yang akan memeriksamu !!" ucap Austin.
Flashback...
Padahal, sebetulnya saat itu, pukul 10.30 wita, ia baru saja tiba di depan rumah, ia baru turun dari mobil nya dan tiba - tiba Aji menelponnya dan memberitahu bahwa Hanna kecelakaan, sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Austin langsung masuk kembali ke mobil dan melajukannya menuju rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, ia langsung menuju igd dan melihat Hanna sedang terbaring tak sadarkan diri. Perawat sedang membersihkan lukanya, ia bertanya tentang kondisi yang terjadi pada Hanna, pada sang perawat tanpa jeda.
Dan, setelah lukanya di obati, Hanna langsung di pindahkan ke ruangan vip sesuai instruksi Austin.
...****...
" Terima kasih banyak ya kak Os, kai sangat perduli padaku, sampai kau mau menjagaku di sela kesibukan mu !!" ucap Hanna.
" Traktir aku, kalau sudah sehat, oke !!" ucap Austin.
" Siyappp.... " jawab Hanna.
Austin pun melengos keluar dari ruangan tersebut setelah sebelumnya menepuk pundak Aji.
Setelah Austin keluar ruangan, suasana nampak menjadi awkward bagi Hanna dan Aji.
" Bli, apa besok aku bisa pulang ke rumah ?" tanya Hanna.
" Kita tunggu keputusan dokter siang nanti ya, sekarang, sebaiknya kau istirahat dulu saja, masih jam 2 pagi, tidur lah, aku tidak akan kemana - mana " ucap Aji.
Hanna merasa lega, ia pun mencoba kembali membaringkan tubuhnya perlahan. Ia takut di tinggal sendirian di kamar rumah sakit. Makanya setelah mendengar Aji berbicara seperti itu, Hanna merasa senang.
" Ah... aku bahkan lupa, siapa pacarku sebenarnya !!" gumam Hanna.
Beberapa jam kemudian, pukul 07.00 wita, Hanna baru terbangun kembali dari tidurnya. Badannya terasa sangat ngilu dan sakit di beberapa titik, melebihi rasa sakit yang kemarin ia rasakan.
Hanna bahkan tidak dapat menggeser tubuhnya untuk sekedar duduk di atas ranjang sendirian. Tangannya terasa sakit, tak ada kekuatan untuk menahan beban tubuhnya untuk terbangun dari posisinya.
" Bli... bli..." Hanna memanggil Aji, namun tak ada juga jawaban bahkan nafasnya pun tak terdengar.
Dan, tidak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka, Aji yang mendengar suara Hanna dari dalam kamar mandi terburu - buru menghampiri nya.
" Ada apa ?" tanya Aji.
" Aku, sulit bergerak, aku haus !!" ucap Hanna.
Hanna merupakan tipe orang yang banyak minum, sebelum tidur dan saat terbangun dia selalu minum air putih satu gelas, kadang hangat, kadang dingin sesuai cuaca saat itu. Apalagi saat beraktivitas, bahkan saat bekerja atau pergi jalan pun ia selalu membawa sebuah botol minum di tas nya.
Aji pun membantu Hanna bersandar pada tumpukan bantal di belakangnya, ia merubah posisi ranjangnya sedikit naik di bagian belakang. Lalu memberinya segelas air putih.
Selesai minum, Hanna merasa tidak tahan ingin pergi ke kamar mandi.
" Bli, aku mau ke kamar mandi " ucap Hanna sambil meringis.
Tanpa persiapan, Aji pun langsung memangku tubuh Hanna ala bridal style.
Hanna nampak terkejut awalnya, namun ia terpaksa karena ia sudah tidak tahan. Kalaupun ia berjalan, pasti butuh waktu cukup lama untuk sampai ke pintu kamar mandi.
Aji pun sebenarnya nampak gugup, apalagi saat Hanna melingkarkan kedua lengannya di lehernya. Dadanya berdebar lebih kencang, entah Hanna merasakannya atau tidak, karena mereka sekarang sedang berkontak fisik lebih dekat.
Sesampainya di kamar mandi, perlahan Aji menurunkan Hanna di atas toilet duduk. Lalu ia pun keluar dari kamar mandi.
Aji menyentuh dadanya, berkali kali ia menepuk dadanya lalu mengambil nafas panjang dan membuangnya kasar ke udara.
Setelah Hanna selesai membuang air seninya, ia merayap perlahan menuju wastafel, ingin menggosok giginya dan mencuci mukanya, namun, di tengah jalan, kakinya yang berat tersandung oleh kakinya sendiri hingga ambruk.
Aji yang mendengar suara dari ambang pintu pun langsung menerobos masuk ke dalam, dan mendapati Hanna sedang terduduk di lantai.
Aji membantu Hanna berdiri dan, sebelum ia memangkunya untuk kembali ke ranjang, Hanna berkata..
" Bli, aku ingin mencuci muka dan menggosok gigi, bawa aku kesana " ucap Hanna menunjuk wastafel di depannya.
Aji pun memapahnya dan menunggu Hanna di sampingnya yang sedang melakukan aktivitas nya.
Setelah mengelap wajahnya dengan handuk kecil yang ada di bawah buffet, Aji kembali menggendongnya ala bridal style.
Dan, saat mereka keluar dari kamar mandi, seseorang sudah berdiri di depan ranjang Hanna, lalu menoleh ke belakang menatap Hanna dan Aji yang berdiri beberapa meter di depannya.