My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
HANNA New Story... End



3 hari kemudian...


Hari itu hari kamis, biasanya Hanna selalu libur hari kamis saat bekerja di toko, namun, saat bekerja di kantor pusat hari liburnya menjadi hari minggu, dan hari sabtu dia bekerja setengah hari.


Sore itu, Hanna dan Reni pergi ke sebuah kafe di lokasi perbatasan antara kota dan kabupaten, Hanna sengaja memakai masker, kacamata hitam dan hoodie meskipun saat itu sore hari sangat panas, namun demi sebuah misi dia rela keringat bercucuran di dalam balutan hoidi berwarna abu - abu miliknya.


Di kafe, Hanna dan Reni sudah tiba lebih dulu di lokasi. Mereka menunggu Melly dan Teguh yang katanya masih di perjalanan.


Saat Melly sampai di parkiran kafe tersebut, dia menelepon Reni terlebih dahulu dan menanyakan posisinya. Reni pun memberitahunya.


Hanna pun bersiap bangkit dari kursinya dan bersembunyi beberapa meter dari posisi mejanya tadi.


Selang beberapa menit, Melly sudah bisa melihat Reni yang tengah duduk di sudut ruangan pada sebuah kursi sambil memainkan gawainya.


" Ren... maaf ya telat, ini nih si Teguh pake acara habis bensin segala, jadinya kan gue cape dorong motor dulu nyari pom bensin, mana gitu sendal gue copot lagi, dan bla bla bla... " Melly terus nyerocos di depan Reni yang sedang duduk sendirian menunggu kedatangannya.


" Kebiasaan deh loe kalo udah ngomel - ngomel, pusing gue sumpah, bukannya peluk dulu kek temennya !" mata Reni mengerling.


" Hehe... maafkan aku kawan, sini peyuk duyu, kangeun akutu... " Melly menarik Reni ke dalam pelukannya, lalu cipika cipiki.


Teguh sudah lebih dulu duduk tanpa di suruh pun ia langsung membuka daftar menu dan memanggil pelayan kafe tersebut.


" Cih... lu ya, nyelonong gitu aja, gak kangen ama gue lu " ucap Reni menatap Teguh tajam.


" Haus gue Ren, buruan lu Mel, mau pesen apaan nih " Teguh menarik Melly yang masih berdiri agar duduk di sampingnya.


" Cih... kampr*t dasar !" gerutu Reni.


Setelah pesanan minuman kedua orang rese di depan Reni sampai, barulah Reni membuka obrolan serius setelah sebelumnya berguyon seperti bocah remaja.


" Eh... kalian gak kangen seseorang ?" tanya Reni.


" Seseorang, siapa ?" Melly menatap Reni aneh.


" Ya seseorang... " perkataan Reni terdengar ambigu.


" Eh... iya, gue mau cerita, gue di datengin pacar si Hanna hari senin kemarin, tanyain si Teguh, gue merinding tau terus di tatap dengan tajam sama dia " ucap Melly.


" Iya, dia hampir mau pipis di celana tau Ren, hahaha... " Teguh tertawa puas.


" Anjrit, fitnah lu " Melly menyedot minumannya sebentar lalu melanjutkan lagi obrolannya " lagian tu anak kemana sih, aduh, mana dia ngilang mendadak gitu, gue masih punya utang rujak cuka sama dia, inget terus gue, ampun bener dah baru kali ini punya temen yang misterius kek gitu, tapi gue kangen juga... " ucap Melly.


" Serius... " ucap seseorang.


" Serius lah.. " jawab Melly, namun tiba - tiba dia memantung dan terkejut, menatap Reni yang mulutnya penuh makanan sampai tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun, lalu...


" Barusan siapa ?" tanya Melly penasaran, kepalanya menelaah ke seluruh penjuru ruangan di kafe itu, dan matanya membulat kala menatap seseorang yang duduk tepat di belakang kursinya, manik matanya fokus menatap orang yang sedang membuka masker dan kacamata nya lalu, menyingkap kupluk hoodienya.


" Astaga, Hanna... " pekik Melly.


" Hah.. mana.. " Teguh pun menoleh ke belakang kursinya.


" Ih... kejam kamu ya " Melly menghampiri Hanna dan memukul bisep Hanna.


" Aww.. ampun, sakit tahu... " Hanna melindungi dirinya sendiri, sedangkan Reni hanya tertawa cekikikan sambil masih dengan lahapnya memasukkan sesuap demi sesuap makanan di depannya.


Beberapa menit berlalu, Hanna sudah menjelaskan alasannya mengapa ia berbohong pada Melly dan Teguh, karena ia sudah memprediksi bahwa Siwan akan mencari mereka berdua, dan Hanna tidak mau mereka berbohong di depan Siwan karena sudah pasti mereka akan gagal.


" Yasudah, yang penting aku udah lega tau kondisi kamu baik - baik aja, aku khawatir banget tau, sumpah, aku kepikiran kamu terus " ucap Melly.


" Maaf banget yaa... " Hanna memeluk Melly yang duduk di sampingnya.


" Lu bener - bener dah, gak ngerti gua, napa sih mesti kabur segala, kasihan pacar lu tau, dia kelihatan banget frustrasi nyariin lu " Teguh malah membela Siwan.


" Ish... jangan gitu Guh " Melly menyikut perut Teguh hingga ia mengerang kesakitan.


" Pasti ada alasannya Guh, kita gak akan paham, cuma dia sendiri yang tahu bagaimana caranya menghadapi masalahnya sendiri, iya kan Han " sahut Reni.


Hanna hanya tersenyum simpul.


Satu jam kemudian, kini Hanna dan teman - temannya sudah berada di rumah kostan yang baru.


Teguh hanya mengantarkan Melly yang akan menginap di rumah kost Hanna dan Reni, karena dia tidak di izinkan menginap disana, Teguh pun langsung pulang ke rumahnya di daerah Denpasar.


Ketiga Charlie Angels itu kini sedang duduk di depan tv sambil memegang minuman segar di tangan mereka masing - masing.


Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 wita. Ketiganya belum menunjukkan adanya tanda - tanda ingin mengakhiri hari dengan berpindah ke alam mimpi sesegera mungkin.


" Hanna, yakin kamu baik - baik aja ?" tiba - tiba mulut ember Melly bertanya pertanyaan yang begitu sensitif pada Hanna.


Reni mengerutkan dahinya sambil menatap Melly dengan tajam.


Hanna terlihat mengatur nafasnya sesaat.


" Apa aku kelihatannya baik - baik saja, menurutmu kak ?" Hanna bertanya balik.


" Di luar, tapi di dalam, kau sedang ambruk, sedikit demi sedikit, tubuh sama pikiranmu bakal kacau kalo kamu belum meluapkan semua kesedihanmu, jangan bohong kamu Han, aku juga pernah di posisi kayak kamu " ucap Melly, lalu dia merentangkan kedua tangannya lebar - lebar, dan saat Melly menepuk pundaknya sendiri, " pundakku udah siap nih..." sambung Melly.


Dan, tanpa di sangka - sangka oleh Reni, ternyata Hanna langsung memeluk Melly dan menangis tersedu - sedu di pelukannya. Melly hanya mengusap dan menepuk pundaknya perlahan, tanpa kata. Cukup lama Hanna menangis dan membanjiri hampir seluruh piyama bagian atas Melly.


Reni membawakan sekotak tissue ketika Hanna sudah mulai mereda, tangisannya sudah benar - benar pecah malam itu.


" Udah enakan ?" tanya Melly.


Hanna hanya berusaha tersenyum sambil mengusap air matanya dengan tissue.


" Maaf ya, nanti ganti lagi aja piyamanya " ucap Hanna.


" Hihi... udahlah gampang, pindah ke kamar yuk, ngobrolnya di kamar aja " ajak Melly.


Beberapa menit kemudian, di dalam kamar, Hanna sudah mulai mencurahkan isi hatinya pada kedua temannya itu. Tentang bagaimana perasaannya, alasannya dia pergi menjauh dari Siwan, semua baru dia ungkapkan di hadapan kedua temannya itu.


" Kenapa sih loe gak cerita sama gue dari kemarin - kemarin Han, loe gak percaya ya sama gue ?" tanya Reni.


" Loe nya aja yang gak peka, temen udah pasti lagi sedih loe malah anggurin gitu aja, hibur dia kek " sahut Melly.


" Ya maaf, gue bukannya gak peka, tapi gue cuma mau ngasih privasi aja gitu tadinya, gue ngerasa gak sopan aja gitu, kesannya gue jadi so tahu atau ikut campur kehidupan pribadinya " timpal Reni.


" Jadi maksud loe gue so tahu dan so ikut canpur gitu... " serang Melly tidak mau kalah.


" Ish.. udah udah, kenapa jadi malah kalian yang ribut sih, kangen ya, udah lama cekcok, dulu ampir tiap hari kalian ribut mulu... " Hanna mencoba melerai.


Reni dan Melly saling membuang muka berlainan arah.


" Haha... aku jadi terhibur lagi ngeliat kalian kaya gini, aku suka banget liat kalian ribut lagi, ayo, ribut lagi donk... " ucap Hanna.


" Anjrit loe, malah ngomporin kita..." sahut Reni.


" Abisnya kalian sendiri yang mulai, katanya mau dengerin aku curhat, belum selesai nih " ujar Hanna.


" Eh iya, sorry - sorry, trus, apa lagi lanjutin dong ceritanya... " imbuh Melly.


" Udah ah, males aku, nanti kalian malah cekcok lagi, bukannya ngasih solusi malah bikin tambah puyeng, udah ah aku mau tidur aja " Hanna mulai beranjak menuju kasurnya dan bersiap untuk tidur.


" Hih.. gak asik banget sih, nanggung tau gak curhatnya " Melly merasa kesal. " Yaudah, gue juga mau tidur aja ah, gue mau tidur sama si Hanna aja " sambung Melly dan beringsut menuju Hanna yang sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur.


" Ye... sapa juga yang mau tidur sama loe, sakit badan gue tidur sama yang sering mimpi gulat " Reni pun mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur.


" Hih... pertahanan diri tahu " jawab Melly yang memang tidurnya selalu heboh, saat mereka berlibur pun beberapa kali Hanna dan Reni terjatuh dari atas ranjang karena Melly yang tidurnya di posisi tengah terlalu lincah.


Sebelum benar - benar memejamkan matanya, Hanna kembali melontarkan kata - kata dari mulut manisnya.


" Kak, makasih banyak ya, kalian masih mau anggep aku temen kalian, kak Reni.... " Hanna menyebut nama Reni.


" Hemh... " jawab Reni.


" Makasih udah nolong aku, maksih udah cukup pengertian sama aku, bukannya aku gak percaya sama kak Reni, aku cuma lagi butuh waktu aja buat ungkapin isi hati aku di depan kalian, makasih banyak kalian mau dengerin curhatan aku " ucap Hanna.


" Yoi... its oke tsay, aku ngerti kok " suara Reni sudah mulai terdengar lemah.


Lalu bagaimana dengan Melly....


Dia sudah pindah ke alam mimpi sejak dia naik ke atas kasur dan memeluk Hanna yang berada di sampingnya bagaikan memeluk guling. Di atas kasur berukuran kecil Hanna harus terpaksa tidur berdempetan dengan Melly dan harus mau menerima resiko tendangan - tendangan kecil Melly saat dia terlelap nantinya.


Apa dan bagaimana perasaan Hanna sebenarnya ??


Tentu saja hatinya hancur, harus meninggalkan orang yang dia cintai itu bukan hal yang mudah, pria yang setulus hati ia cinta dan sayangi, bahkan rasa sakitnya melebihi rasa sakit saat patah hati oleh Rayhan dulu. Rasa sakit yang berlipat - lipat karena selain hatinya yang sakit, bagian tubuhnya yang lain pun masih terasa sakit karena berhasil di rampas oleh Siwan.


Namun, semua sudah menjadi resiko untuknya, yang sudah Hanna pikirkan dengan matang jauh hari sebelumnya. Mau bagaimanapun, hubungannya bersama Siwan memang harus di akhiri sesegera mungkin, lebih cepat lebih baik, namun dia tidak menyesali apa yang sudah terjadi. Antara dirinya dan Siwan, pertemuan mereka, hubungan mereka, tidak ada yang patut di sesali, masing - masing pernah merasa saling bahagia dan membahagiakan, jadi untuk apa menyesal karena harus bertemu dan menjalin kasih.


Merasa berdosa, tentu saja, Hanna sudah banyak melakukan dosa dalam hidupnya.


Dosa - dosa yang akan mereka tanggung, biarlah menjadi urusan mereka dan sang pencipta - Nya.


" Aku harus mulai menata hatiku kembali, aku hanya ingin fokus pada tujuan awalku, menyelesaikan kontrak kerja dan pulang kembali ke Bandung " batin Hanna sebelum ia benar - benar menutup matanya.


Bukan Hanna namanya kalau harus terus larut dalam kesedihan. Secepatnya dia selalu bisa bangkit dan menjalani kehidupan normalnya kembali. Dia selalu mempersibuk hari - harinya dengan kegiatan - kegiatan yang ada di depan matanya.


Terlebih lagi pekerjaan barunya membuat otaknya tak pernah berhenti berpikir saat dia berada di kantor. Bahkan kadang merasa frustrasi sendiri.


" Ish... apaan sih, gimana ini aku gak paham, bego banget sih aku "


" Aih... ngulang lagi deh dari awal, oon banget sih gue... "


" Aarrrghhh.... apaan nih, komputernya loading banget, apa gue yang lemot "


Begitulah Hanna saat bekerja di kantornya kini, saat merasa kesal dia hanya bisa menggerutu dengan suara pelan di balik mejanya.


Sudah beberapa kali Hanna meminta tolong rekan kerjanya, namun dia merasa tidak enak harus terus mengganggu jam kerja rekannya. Meskipun rekan - rekannya selalu senantiasa membantunya dan menyemangatinya, tetap saja Hanna merasa sungkan.


Dia mulai berpikir untuk mengupgrade dirinya dan otaknya. Dia pergi membeli beberapa buku panduan yang berhubungan dengan pekerjaannya dan sering melihat tutorialnya di yucup, lewat layar laptopnya.


Dan, usahanya membuahkan hasil, sudah 3 bulan ia bekerja di kantor barunya, akhirnya dia sudah mulai merasa bersahabat dengan pekerjaannya.


Meskipun kadang dia merasa bosan karena terus menerus bekerja di depan layar komputer sambil duduk, namun dia harus bertahan di detik - detik terakhirnya.


Begitulah pekerjaan orang kantoran, bila di pikir lebih dalam, Hanna lebih senang bekerja di lapangan, melayani dan berinteraksi bersama konsumen yang berbeda beda, meskipun pekerjaannya harus membuat kakinya pegal karena berdiri sepanjang jam kerja dengan mengenakan sepatu high heels. Namun, dia jadi bisa cuci mata saat sedang suntuk, kala menatap konsumen yang datang ke konternya yang kebanyakan pria, baik lokal maupun bule. Hahaha...


Hanna selalu berinteraksi dan memperkuat kedekatan bersama rekan kerja barunya di kantor, namun dia selalu membatasi dirinya untuk tidak terlalu dekat dengan teman prianya, karena dia tidak berniat mencari pasangan lagi. Terlebih lagi, hampir semua pria yang dia kenal di kantornya beragama non muslim, dia tidak ingin mengulangi hal yang sama saat bersama Siwan.


Namun, hal yang paling utama yang membuatnya tidak ingin dekat dan di dekati pria lain adalah, karena dia belum move on dari Siwan. Hanna belum benar - benar bisa melupakan Siwan dari dasar hatinya yang paling dalam.


Saat sendiri di kostan, Hanna kadang teringat kembali pada Siwan. Momen kebersamaannya bersama Siwan selalu melintas secepat kilat di pikirannya. Hal itu selalu membuat matanya berkaca - kaca bahkan menangis sejadinya.


Reni mana pernah tahu Hanna masih suka menangisi Siwan, karena sepanjang ada dirinya di rumah, Hanna tidak pernah terlihat bersedih apalagi menangis lagi di hadapannya. Karena Reni bekerja 3 shift di hotel, jadi dia kadang tidak bisa menghabiskan waktunya bersama Hanna. Terkadang kalau berada di rumah pun Reni hanya tidur dan tidur karena lelah bekerja.


Pada dasarnya dia memang tergolong kaum rebahan, tidak seperti Hanna yang selalu memanfaatkan waktunya untuk belajar kembali, memasak, membuat cookies atau bereksperimen camilan lainnya, membersihkan rumah, atau jalan - jalan dan jogging pagi saat sedang libur bekerja.


Beda kepala beda sifat, beda kepala beda karakter, beda kepala berbeda pula motto hidupnya.