
Keesokan harinya...
Seperti biasa, setelah sholat subuh, Hanna maupun Rayhan dan sahabatnya yang lain selalu berkumpul di lantai 1 untuk berdiskusi tentang rencana mereka selanjutnya saat mereka masih di Bali.
"Hari ini, kita berangkat jam 10 menuju bandara, inget, jam 10 udah harus ready, oke, cepetan packing dari sekarang jangan sampai ada yang ketinggalan, " ucap Yasmin menatap sahabatnya satu persatu, terutama Karina, dia yang selalu heboh sendiri saat hendak berpergian karena terlalu santai, tapi saat waktunya pergi, dia yang belum siap sepenuhnya selalu jadi biang keladi keterlambatan mereka.
"Oh ya Hanna, apa kau baik - baik saja ? maksudku apa tubuhmu baik - baik saja ? bagaimana dengan luka yang ada di tubuhmu ?" tanya Yasmin, sangat mendetail.
"Hanya sedikit bengkak di bagian sini, sini dan ini, 'menunjuk bagian - bagian tubuhnya yang bengkak,' selebihnya tidak apa - apa, ini akan seger sembuh, " jawab Hanna.
"Apa tidak sebaiknya kau periksa saja ke dokter Han, kemarin Rayhan bilang kau sampai terbanting cukup jauh, terkena pukulan beberapa kali, aku takut terjadi sesuatu pada tulangmu, !" sahut Audrey terlihat khawatir.
Ada yang aneh dengan Rayhan saat itu, dia hanya diam saja bahkan tak berani bertatap wajah dengan Hanna.
"Tidak apa, aku pernah latihan karate dan judo, bahkan sampai cedera, kalian jangan terlalu khawatir oke, aku masih bisa berjalan, masih bisa meninju si Karina yang hobinya tidur ini, " Hanna mengepalkan tangannya dan meninju Karina yang sudah mulai hendak tidur lagi, ia meninjunya dengan lembut kok, tenang saja.
"Ish... apaan sih ah... !" Karina menepis tangan Hanna.
Hahaha... suara tawa terdengar dari mulut Audrey dan Gani, suami Yasmin.
Rayhan dan Yasmin tersenyum melihatnya.
"Habisnya kau ini, orang lagi diskusi kebiasaan malah tidur, pindah ke alam mimpi, " ucap Hanna.
"Gak nyangka aku punya temen yang bisa gelut, sama penjahat beneran lagi, gak kebayang aku kalau si Karina yang berhadapan sama itu penjahat, paling cuma gaya jambak - jambakan sama tu penjahat, atau colok - colokan mata, paling banter lah di gigit tu penjahat, " ucap Audrey.
"Sama di tendang anunya, " sela Yasmin.
Gelak tawa terdengar kembali menghangatkan suasana subuh hari yang dingin itu.
Selesai berdiskusi, masing - masing kembali ke kamar untuk membereskan barang mereka yang belum di rapihkan ke dalam koper.
Kecuali Hanna dan Rayhan.
Mereka berdua masih duduk di sofa dan kini berdampingan.
"A Rey kenapa ? kau sakit ?" tanya Hanna yang merasa curiga melihat Rayhan hanya diam dan menyimak diskusi mereka sejak tadi.
"Tidak, aku baik - baik saja !" jawab Rayhan, menatap Hanna sekilas, kemudian tersenyum sambil membuang muka ke arah lain.
"Hey, aku tahu, kau pasti sedang banyak pikiran kan, ada apa, katakan padaku tidak usah kau sembunyikan, " pinta Hanna.
"A-aku, aku hanya merasa bersalah padamu dan Hwan, seandainya saja kalau kemarin aku tidak lupa menaruh barangmu di toko itu, dan seandainya kalau kita tidak kembali ke toko itu, mungkin kejadian kemarin tidak akan terjadi,!!" ucap Rayhan dengan wajah sendu.
"Aku bahkan tidak bisa berbuat apa - apa untuk melindungi kalian, aku merasa gagal sebagai seorang pria, aku hanya bisa menyaksikan dua orang wanita yang berusaha sekuat tenaga melindungiku dan Hwan, aku tidak melakukan apapun untuk kalian, aku minta maaf, aku tidak berguna !!" Rayhan mulai menitikan air mata meskipun langsung menghapusnya kembali.
Hanna sejak tadi tidak berkomentar, ia dengam begitu setianya mendengarkan apa yang menjadi masalah Rayhan sampai membuat hati dan pikirannya risau, sedih dan merasa terpuruk. Baru kali ini Hanna melihat Rayhan sesedih itu.
Hanna menarik wajah Rayhan hingga mereka berhadapan.
"Hei, lihat aku !!" sejurus Hanna menatap Rayhan dengan mata membulat, kemudian melonggar ketika kedua netra Rayhan balas menatapnya dengan sendu.
"Kau salah, justru kau sangat berjasa menjaga Hwan, kau sudah sekuat tenaga menenangkannya saat ia mulai rewel, kau juga hebat, di tengah tekanan dan keadaan bahaya seperti itu, kau masih bisa tenang dan menenangkan Hwan saat itu, kau sudah melakukan yang terbaik, aku sangat berterimakasih untuk hal itu, " ucap Hanna.
Hanna masih mengingat hari kemarin, di bawah gelapnya malam dan pencahayaan yang seadanya, Hwan nampak mulai rewel karena sudah mulai mengantuk dan merasa lapar, ia meronta menginginkan pelukan dari ibunya, Hanna yang saat itu sedang mencoba segala cara menahan anak buah Tiger agar tidak mendekat pada Rayhan dan Hwan sesekali melirik ke arah mereka mencoba menjauhkan keduanya dari jangkauan para penjahat itu.
Rayhan terus mencoba mengajak Rayhan berkomunikasi dan menenangkannya dengan jokes ala pria yang sangat receh. Di tengah ketegangan yang terjadi saat itu, Rayhan pun berusaha dengan keras menjaga Hwan dengan cara yang berbeda. Kalau saja saat itu ia tidak melakukan apapun, mungkin Hwan akan terus rewel, bahkan menangis dan menjerit sehingga membuat fokus Hanna akan buyar nantinya yang sedang bertarung dengan para penculik.
"A Rey, kau juga pahlawan bagi Hwan, bahkan karenamu, Tiger tidak pernah berhasil menyentuh Hwan saat kesempatan itu memungkinkan Tiger langsung mengambil Hwan darimu, jadi, siapa bilang kau tidak berguna, tidak ada yang boleh berkata seperti itu, kau paham ?" Hanna kemudian memeluk Rayhan dan mengusap punggungnya dengan lembut.
"Terimakasih, kau selalu menyayangi Hwan meskipun aku sangat mengecewakanmu, aku tidak menerima perasaan tulus yang kau berikan padaku, tapi kasih sayangmu pada Hwan tidak pernah berkurang, aku sangat berterimakasih padamu, A Rey," ucap Hanna.
Rayhan pun membalas pelukannya dengan erat. Mungkin kesempatan ini tidak akan pernah datang lagi padanya, jadi dia memanfaatkan kehangatan detik itu sebaik mungkin. Karena ia tahu, Siwan telah kembali, dan kesempatan itu pun tidak akan pernah ada lagi. Kesempatan untuk memiliki Hanna dan hatinya, tidak akan pernah ia dapatkan lagi.
"Terimakasih Hanna, kau mampu membuatku merasa tersanjung oleh perkataanmu tadi, setidaknya, rasa bersalahku sedikit menghilang meskipun tidak akan pernah pergi dari pikiranku, aku merasa lega, " ucap Rayhan.
"Hei, tidak seperti itu, kau harus melupakan kejadian ini, itu akan sangat mengganggu, aku bahkan selalu berusaha tersenyum di depan Hwan, karena aku hanya bisa memberikan kebahagiaanku padanya, tidak dengan kesedihanku, jadi ayo, mari kita berbahagia kembali, " Hanna menepuk pundak Rayhan.
"Masalah kemarin itu, semua merupakan takdir kita, ujian untuk kita, aku yakin, kalaupun tidak terjadi malam tadi, mungkin di waktu lainnya pasti akan terjadi juga, kau tenang saja, ahjussi pasto tidak akan tinggal diam, dia akan mencari siapa mereka sampai ke lubang cacing sekalipun, percayalah padanya, aku dan Hwan akan baik - baik saja, dan juga, ada Alloh yang akan selalu melindungi kita dan menunjukkan kita jalan untuk bangkit dari masalah ini, kita harus menghadapinya, bukan menghindarinya, doakan saja aku dan Hwan, oke !!" pinta Hanna.
Rayhan pun mulai kembali cerah. Ketampanan wajahnya yang pernah membuat Hanna jatuh cinta bisa saja membuatnya kembali jatuh ke dalam lubang yang sama. Hanya saja, di mata Hanna, sudah ada Siwan yang selalu bertahta di hatinya.
"Sudahlah, ayo kita siap - siap cari sarapan !!" ucap Hanna.
Keduanya pun kembali ke kamar masing - masing.
Pukul 07.30 wita, Siwan sudah datang berkunjung ke villa yang Hanna diami untuk melihat anaknya, Hwan.
Rasa rindunya pada Hwan semakin bertambah dari detik ke menit, menit ke jam dan seterusnya.
Siwan datang ke dalam kamar saat Hwan sedang di pakaikan baju setelah selesai mandi bersama ibunya.
Hanna yang saat itu masih mengenakan Handuk lebih mendahulukan Hwan supaya anaknya tidak kedinginan.
Pintu kamar di ketuk...
"Masuk," teriak Hanna.
Siwan mendekat pada keduanya yang sedang berada di dekat ranjang. Hanna sedang membungkuk ketika Siwan masuk karena ia sedang memakaikan Hwan baju.
Melihat Hanna yang sexy meskipun hanya dari bagian belakangnya saja. Namun Siwan hanya bisa mengelus dadanya dan menelan salivanya karena ia masih harus menahan hasrat untuk bisa kembali skinship dengan Hanna.
"Chagiya... "
"Ahjussi... a-aku pikir tadi Yasmin mau mengembalikan hairdryer ku, " ucap Hanna. Karena beberapa menit lalu Yasmin datang ke kamar dan meminjam hairdryer miliknya.
"Apa Hwan sudah selesai ?" tanya Siwan.
"Ya, dia sudah selesai, bisa tolong kau bawa dia ke bawah, aku mau pakai baju dulu !!" ucap Hanna. Ia menutupi bagian dadanya yang terbuka dengan handuk milik Hwan. Karena saat itu Hanna hanya memakai handuk biasa berukuran kecil yang hanya menutupi dada hingga pahanya. Ia malas membawa handuk besar ataupun piyama handuk karena terlalu memakan banyak tempat di dalam kopernya nanti, sedangkan barang milik Hwan saja sudah sangat memenuhi hampir seluruh kopernya.
Rambut panjangnya yang di gulung ke atas memperlihatkan leher indah sang pemilik tubuh, membuat Siwan pun mengalihkan pandangannya demi kewarasannya. Ia hanya fokus pada Hwan, anaknya.
"Ayo, kemarilah nak, kita sambut matahari terbit..." ajak Siwan, kemudiam menggendong Hwan yang sangat antusias menanti pelukan dari ayahnya.
Setelah Siwan dan Hwan keluar dari kamar, barulah Hanna bisa menghembuskan nafasnya. Rasanya sangat sesak, dadanya terus berdebar sejak keberadaan Siwan di hadapannya tadi.
"Apa karena sudah lama tidak berjumpa, kenapa rasanya malah seperti orang yang baru berpacaran lagi, aneh, dadaku selalu berdebar kencang begini... " ucap Hanna sambil lengannya sibuk mengancingkan kemeja casualnya yang berwarna biru muda, di dalamnya seperti biasa ia selalu memakai tanktopcrop, di padukan dengan pants berwarna cream 3/4 serta sepatu slip on berwarna putih.
Selesai berpakaian, Hanna menyeret kopernya serta satu tas travel berukuran besar dan menyilangkan slingbag di pundaknya.
Rencananya, mereka akan sekalian pergi dari villa sambil mencari sarapan saat perjalanan menuju bandara. Karena rencana awal yang tadinya akan pergi jam 10 dari villa takutnya malah molor, mereka takut terlambat sampai di bandara.
Saat turun ke bawah, sebagian sudah siap, hanya tinggal menunggu Yasmin, Gani dan anaknya turun. Maklumlah, emak - emak kalau mau pergi - pergian selalu repot mengurus anak dan perlengkapannya.
Hanna mencari Siwan dan anaknya.
"Dia di luar, sedang berjemur," ucap Rayhan.
Hanna pun memutuskan untuk menunggu di luar menyusul keduanya.
Saat menghampiri Siwan yang sedang duduk di halaman, ia melihat Siwan sibuk berkomunikasi bersama seseorang lewat handphone miliknya.
Dan, ternyata dia sesang bervideo call bersama ibunya, bu Shinta.
Hanna pun mendekat dan menyapa bu Shinta.
"Bagaimana kabarnya bu ?" tanya Hanna.
"Ibu sehat nak, ya ampun, ibu sangat merindukan kalian, seandainya ibu tahu kalian akan ke Bali, ibu tidak akan kemana - mana, ibu akan menunggu kalian di rumah, kenapa tidak memberitahu ibu, kau ini... " bu Shinta terlihat kesal.
"Maafkan aku bu, memangnya ibu ada dimana sekarang ?" tanya Hanna.
"Ibu di Yogya, lagi kumpul di rumah adik ibu, mamahnya Ayu, kamu masih ingat ? dia juga ada disini, kami berkumpul di Yogya sejak hari raya idul fitri, " jelas bu Shinta.
"Oh ya, kalau begitu titipkan salamku bu untuk kak Ayu dan bude, " ucap Hanna.
"Pokonya, pulang dari Yogya ibu mau langsung ke Bandung ketemu Hwan, ibu mau pulang besok pagi, langsung meluncur kesana, oke !!" ucap bi Shinta.
"Baik bu, aku tunggu kedatangannya," timpal Hanna.
Siwan yang duduk di samping Hanna merasa bahagia melihat kedekatan di antara kedua wanita yang paling ia sayangi.
Kemudian percakapan di lanjutkan dengan bu Shinta yang terus mengajak Hwan berintraksi, meskipun Hwan sendiri malah sibuk memakan biskuit bayi yang berada di tangannya kini.
Percakapan berakhir ketika para sahabat Hanna sudah keluar dari dalam villa.
Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, merekapun masuk ke dalam mobil setelah merapihkan koper dan tas ke dalam bagasi.
Siwan mempersiapkan 4 buah mobil untuk Hanna dan sahabatnya.
Siwan, Hanna dan Hwan satu mobil dengan Audrey yang duduk di depan di samping pak supir.
Di belakang ada Gani, Yasmin dan anaknya di antarkan oleh supir anak buah Siwan.
Dan di mobil belakang, ada Aji, Elsa, Rayhan dan Karina.
Satu mobil lagi merupakan mobil penjaga untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang ada.
Mobil mereka beriringan menuju sebuah lokasi resto terdekat Karen mereka sudah tidak bisa menahan lapar.
Mereka semua duduk bersama untuk sarapan bersama dalam dua meja panjang yang di jadikan satu.
Saat menunggu makanan tiba, Hanna dan Yasmin sibuk mempersiapkan makanan para bocah terlebih dahulu.
Dan seperti biasa, Siwan selalu ingin mengambil peran menjadi figur seorang ayah idaman semenjak pertemuannya dengan Hwan. Siwan nampak telaten menyuapi Hwan yang sudah nampak kelaparan.
Di iringi sela tawa dari yang lainnya karena kelucuan Hwan, Siwan larut dalam suasana kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Saat Hanna pergi ke toilet, ternyata seseorang pun mengikutinya. Ia menunggu sampai Hanna keluar dari dalam toilet.
"Hanna, aku ingin bicara sebentar, " ucap Aji, yang berdiri di hadapannya kini.
Hanna dan Aji duduk di bangku taman dekat toilet tadi.
"Hanna, maaf, karena aku tidak memberitahumu sejak awal tentang kak Wan dan tentang masalah DNA Hwan waktu itu," ucap Aji.
"Sudahlah kak, aku sekarang paham mengapa kau dan Ahjussi melakukan semua padaku dan Hwan, aku sudah tidak ingin mempermasalahkannya, karena rasa bahagiaku saat ini sudah berhasil menutupi amarahku sebelumnya, " Hanna kembali tersenyum lebar di hadapan Aji.
"Dan, maafkan aku soal kemarin, sungguh aku sangat merada bersalah karena ceroboh kehilangan jejakmu saat kalian menuju resto aku minta maaf Hanna, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri kalau sampai terjadi sesuatu pada kalian kemarin, terutama pada Hwan, " Aji kembali bersedih hati.
"Bli, kau hanya manusia biasa, tak mungkin kau bisa mengawasiku dan Hwan setiap saat kan, kau hanyalah manusia yang tak luput dari kesalahan, sama sepertiku dan yang lainnya, jadi plisss bli, ini semua bukan salahmu," pungkas Hanna.
-Aji dan Hanna pun menyudahi percakapannya dan berniat kembali ke tempat duduk tempat mereka.