
Di pagi hari yang cerah, ketika surya sudah mulai naik untuk memberi kehangatan lewat sinarnya, pagi itu, Siwan yang terlihat memakai sebuah bathrobes berjalan mendekat ke arah tirai untuk membiarkan cahayanya masuk menembus dinding kamarnya.
Srettt.... tirai berwarna silver itu terbuka lebar dalam satu kali hentakan.
Dan... silaunya cahaya matahari memantul hingga pada wajah sesosok wanita yang masih tertidur di atas ranjang. Dia adalah Hanna.
" Ah... silau, kak Mel, kak Ren, tolong tutup tirainya... " ucap Hanna.
Karena tidak juga ada yang menyahut atau menuruti perkataannya, Hanna pun memiringkan tubuhnya membelakangi arah cahaya matahari yang masuk melalui jendela.
Dan, Siwan berjalan mendekat ke arah Hanna yang malah ingin kembali tertidur di atas ranjangnya.
Siwan membuka selimut yang membungkus tubuh Hanna lalu melipatnya dengan rapih.
" Ah... dingin... " Hanna terpaksa bangun dari tidurnya. Dan, betapa terkejutnya dia saat melihat orang yang sedari tadi mengganggunya adalah Siwan.
" Ah... kepalaku.. " Hanna memegang kepalanya yang terasa sakit dan berat, juga ia merasa pusing.
" Minum... " Siwan yang masih terlihat marah menyodorkan segelas air putih pada Hanna.
Tanpa banyak bertanya Hanna langsung meminumnya dan kembali menyerahkan gelas yang sudah kosong pada Siwan.
" OMG, kenapa aku cuma pakai handuk, terus, ini aku ada dimana, kemana temen - temenku, kenapa ahjussi ada disini, sebentar... aku coba ingat - ingat dulu... " gumam Hanna sambil menyipitkan kedua matanya.
" Ah... aku baru ingat... " gumam Hanna kembali sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
" Sudah ingat... ?" tanya Siwan dengan wajah datar.
" Ke-kenapa ahjussi ada disini, kita dimana ?" tanya Hanna.
" Tidak penting, aku hanya ingin memastikan, apa kau ingat semalam sudah melakukan apa ?" tanya Siwan.
" Emh... anu, i-itu.. " Hanna menundukkan kepalanya karena merasa takut dengan tatapan tajam Siwan.
" Sudahlah, nanti saja kita bahas lagi, sekarang bangunlah, kau sarapan dulu " ucap Siwan.
Dan, Siwan pun keluar dari kamar itu meninggalkan Hanna yang masih kebingungan sendiri.
" Aduh... hpku mana ya... ?" Hanna mencari hpnya, dan matanya pun langsung tertuju pada sebuah slingbag berwarna coklat yang berada di atas sofa.
" Ah... tasku, disana rupanya " ucap Hanna.
Dan, saat ia turun dari ranjang, Hanna kembali baru menyadari kalau dia pun sedang memakai bathrobes, hanya sebuah bathrobes, tanpa pakaian dalam apapun.
" Kenapa ini, bajuku dimana... aduh, sial, apa yang terjadi semalam, aku gak inget sama sekali, kenapa ahjussi saat ini ada bersamaku, apa dia memang membuntuti ku dari jauh selama ini... huh... beg* beg* beg*, napa sih aku mau - maunya ikutan game si Teguh kampr*t itu... " ucap Hanna terlihat frustrasi.
Setelah mendapatkan hpnya, Hanna harus kembali kecewa karena ternyata hpnya mati, alias lowbatt.
Dan, tiba - tiba terdengar pintu kamar di ketuk oleh seseorang dari luar.
Hanna melangkah terseok - seok menuju pintu kamar sambil memegangi kepalanya yang masih pusing. Dia membuka pintu perlahan dan...
" Pagi mbak Hanna, ini bajunya sudah datang " ucap seorang wanita yang berdiri di ambang pintu luar kamarnya dengan menenteng sebuah koper kecil milik Hanna.
" Hah... itu kan barangku, darimana itu ? dimana teman - temanku ?" tanya Hanna.
" Boleh saya masuk ?" tanya wanita itu.
Hanna pun mempersilahkannya masuk ke dalam kamar.
Seorang wanita bertubuh tinggi namun terlihat kekar dan berotot, memakai setelan casual t-shirt lengan pendek dan celana jeans.
" Silahkan mbaknya lebih baik mandi dan pakai bajunya dulu, sudah itu sarapan " ucap wanita itu.
" Emh... sebentar, apa aku boleh tahu ini ada dimana ?" tanya Hanna.
" Kita sekarang ada di villa xxx milik kak Wan mbak, semalam dari klub kak Wan langsung bawa mbaknya kesini " jawab wanita itu.
" Ya Alloh... mampus dah, beneran kan... aish... " Hanna benar - benar merasa frustrasi. Secepatnya dia meminta maaf dan berdoa dan meminta ampun pada Tuhannya di dalam hatinya di depan wanita yang masih berdiri di sampingnya.
" Saya keluar dulu ya mbak, oh iya, temen - temen mbaknya udah saya kasih tahu kalo mbak di bawa kak Siwan, mereka sempet khawatir sama mbak tadi pas bangun gak lihat mbaknya, saya kesana di suruh bawain baju - baju punya mbak buat ganti sekarang, permisi ya... " ucap wanita itu lalu pergi.
" Terima kasih mbak " pekik Hanna sebelum wanita itu belum bebar - benar keluar dari kamarnya.
Hanna pun memutuskan untuk mandi terlebih dahulu dan berpakaian serapih mungkin.
...***...
Beberapa jam yang lalu, di sebuah villa xxx yang terdiri dari 2 kamar tidur, 1 kamar mandi dan sebuah ruang tengah berukuran lumayan besar dengan satu set sofa melingkar, dua orang wanita dan satu orang pria tengah asyik berbincang sambil sarapan pagi disana.
Saat itu waktu menunjukkan pukul 05.30 wita.
" Bram, kenapa lu mukanya kek gitu, makan dulu napa mumpung masih anget !" seru Dewi, seorang instruktur aerobik di fitness and health center milik Siwan.
" Gua khawatir Wi, mbak Hanna pasti di amuk kak Wan, kasihan gue..." jawab Bram yang merasa mencemaskan Hanna.
" Lah, elu emang sapa khawatirin dia, bapaknya juga bukan " sahut Aline, seorang security wanita di tempat gym milik Siwan.
" Gue udah nganggep dia kayak adik tahu, dia baik banget, gue sering nganter jemput dia kalo pergi kerja, kasihan dia gak bisa bebas, terus di pantau sama kak Wan... " ucap Bram yang mulai menyendok makanan ke mulutnya.
" Emang kerja dimana dia ? jadi model ? apa artis ?" tanya Dewi.
" Dia karyawati di departemen store xxx " jawab Bram.
" What.... gue pikir pacarnya artis atau minimal model kayak mantannya dulu " ucap Dewi.
" Sstt... ketahuan kak Wan bisa di kepret lu " ucap Aline.
Bram fokus menyantap sarapannya kali ini.
" Eh Bram, di toko dia pasti jadi manager kan, tapi cocoknya kayaknya sekertaris iya kan, model begitu cantik dan bohai pasti kerjanya sekertaris pribadi managernya " ucap Aline kembali.
" Dia cuma karyawati biasa, dia kerja jagain konter pakaian pria " jawab Bram.
" Oh my God, sumpeh lu, kayak spg gitu maksudnya ? gak nyangka, sederhana sekali ya selera kak Wan kali ini " sahut Dewi.
" Yang penting orangnya baik banget, gak macem - macem, padahal kak Wan pernah mau memfasilitasi dia segalanya, tapi dia nolak, dia bukan cewe matre, dan udah gitu yang paling istimewanya, dia masih perawan " bisik Bram.
" Anjritt, yang bener lu, belum di apa - apain juga sama kak Wan, tahu darimana lu, suka ngintip emang lu pas mereka lagi berduaan ?" tanya Dewi.
" Gak sengaja pas mancing - mancing obrolan, kak Wan juga sangat menghargai dan melindungi dia, dia udah cinta banget sama tu cewe makanya nurut banget " ucap Bram.
" Eh, gue denger dia muslim ya, kalo iya pantes aja kak Wan marah banget pas tahu pacarnya masuk nightklub tadi malem, dia bener - bener protektif banget sama tu cewe ampe kemana - mana di buntutin, beneran cinta mati kayaknya kak Wan sama dia " ucap Aline.
" Emang bener, dia muslim, si Lastri pernah kerja di rumahnya sebentar, tanyain aja ama dia " ucap Bram.
Dan, seketika mereka bertiga hening saat makanan di hadapan mereka sudah habis tak bersisa. Lalu mereka membereskan sampah sisa makanannya dengan rapih dan membuangnya ke tong sampah diluar.
Mereka bertiga dengan setia menunggu dan menjaga teman - teman Hanna sampai mereka bangun sesuai perintah dari Siwan semalam.
" Gak bakal lah, takut di pecat gue, cicilan mobil belum lunas " sahut Dewi.
Dan, tidak lama kemudian, tiba - tiba salah satu pintu kamar yang ada di dalam villa itu terbuka. Dua orang wanita bertubuh tinggi dan pendek berjalan beriringan seperti zombie.
Kedua wanita itu adalah Reni dan Melly.
Keduanya terkejut, karena mendapati orang - orang yang tidak mereka kenali sedang duduk di atas sofa.
Dan, saat itu juga kebetulan Rama dan Teguh keluar dari kamar mereka dengan keadaan kusut, nampaknya mereka pun baru terbangun.
" Selamat pagi semuanya, hallo... silahkan duduk, ada yang ingin kami sampaikan " ucap Bram mewakili Dewi dan Aline.
Dengan ragu mereka berjalan perlahan dan terpatah - patah karena merasa takut melihat otot Bram yang kekar dan Bram yang berwajah sangar meskipun sudah menebar senyuman termanisnya.
Bisik - bisik mereka berempat menanyakan keberadaan Hanna.
" Silahkan duduk dulu, saya ingin menyampaikan pesan dari kak Siwan " ucap Bram.
Sontak keempat teman Hanna merasa terkejut ketika mendengar nama Siwan di sebutkan.
Tubuh mereka menjadi lemas, seketika keringat dingin bercucuran. Nyawa mereka seperti sedang melayang, mendadak merasa pusing seperti ada beberapa ekor burung tweety berputar - putar di atas kepala mereka.
Sepersekian detik, keempat teman Hanna sudah duduk di sofa berdempetan sambil tertunduk. Tangan dan kaki mereka terlihat bergetar dan gugup, ah tidak... hanya Rama yang tetap bersikap santai dan tenang.
" Maaf, kami di tugaskan menjaga kalian dari semalam, kami takut ada orang jahat masuk saat kalian sedang tidak sadarkan diri " ucap Bram.
" Te-terima kasih banyak pak !" sahut Teguh.
" Santai saja, tidak usah gugup mas, kami tidak akan berbuat jahat kok, kami hanya menunggu kalian karena kami di suruh membawa barang - barang milik mbak Hanna oleh kak Siwan, bisa tolong saya kemasi barangnya sekarang ?" tanya Bram.
" Bisa, tunggu sebentar " pekik Reni.
" Aku juga mau bantu dulu temenku ya " timpal Melly.
Mereka berdua berlarian menuju kamar untuk membereskan koper milik Hanna.
Di dalam kamar...
" Mampus gue, gara - gara si Teguh ngajak mabora, si Hanna jadi ikut - ikutan pan " ucap Melly.
" Dari awal kudunya kita juga ingetin dan cegah dia buat mabora, kita malah kayak maksa dia juga haduh... berabe nih punya temen pacarnya gengster... " sahut Reni.
Secepat kila Reni dan Melly kembali dengan satu koper mini milik Hanna dan satu travel bag berukuran sedang miliknya juga.
" Sudah yakin tidak ada yang tertinggal ?" tanya Bram.
" Yakin pak, silahkan, kalaupun ada nanti kami yang langsung kasihin sama Hanna di tempat kerja " jawab Melly.
" Baiklah kalau begitu kami permisi dulu ya " Bram berdiri dari kursinya di susul oleh Dewi dan Aline.
" Pak, dimana Hanna ?" tanya Rama.
" Dia aman, kak Siwan akan mengantarnya pulang setelah dia bangun pagi ini, dan juga ini ' Bram menunjuk pada tumpukan kotak makanan di atas meja ' ini sarapan untuk kalian, makanlah sebelum kembali ke rumah masing - masing, ada obat pereda pengar juga, hati - hati di jalan yaa !!" ucap Bram, lalu melangkah pergi keluar.
Di ambang pintu, Dewi menoleh kembali pada mereka yang masih mematung menatap kotak - kotak nasi yang ada di atas meja.
" Makan saja, tidak ada racunnya kok, kami juga tadi sarapan makanan yang sama, masalah Hanna tidak usah khawatir, secepatnya dia juga akan kembali ke Denpasar bersama kami " ucap Aline, lalu pergi menyusul Bram menuju mobil.
Sepeninggalan ketiga tim keamanan Siwan.
" Mampus... beg*, lu sih semalem pake adain acara games segala, jadi ikutam mabora kan si Hanna " pekik Melly.
" Salah gue, semua salah gue, tembak aja gue sekalian " sahut Teguh yang merasa bersalah.
" Udah, gapapa, kalian tenang aja dulu, cepet sarapan dulu udah gitu mandi terus kita cabut dari sini " Rama mencoba menenangkan ketiga temannya.
" Si Hanna gimana ya nasibnya, mudah - mudahan kagak kenapa napa dia !" ucap Reni.
" Percaya aja, pacarnya gak mungkin kan ngehukum dia, mereka saling mencintai kan, udah cepet makan... " jawab Rama.
Mereka pun sarapan dengan perasaan yang tidak karuan, makanan yang di belikan Bram padahal makanan mewah, rasanya juga tentu enak terlihat dari ekspresi Rama yang menyantapnya dengan lahap, tapi tidak dengan trio kwekkwek, mereka sungguh merasakan lidahnya kelu, semuanya hambar dan terasa pahit. Mereka masih terus memikirkan nasib temannya dan nasib mereka sendiri.
...***...
Selesai mandi, Hanna berjalan mengendap - endap keluar mencari Siwan, tapi dia tidak menemukannya, dia malah berpapasan dengan Aji di ruang depan.
" Ah... bli, kau juga ada disini, hehe... " ucap Hanna, terlihat polos.
" Kkaau, ish... apa kau sengaja.... ah sudahlah, cepat sarapan dulu sana, di meja makan sana, makan sendiri saja " ucap Aji.
" Ahjussi mana ?" tanya Hanna.
" Dia di kamar, jangan temui dia kalau kau belum makan, dia bakal tambah kesal padamu " ucap Aji, lalu pergi meninggalkan Hanna yang masih mematung di posisinya.
Hanna pun melangkah dengan lemas menuju ruang makan. Disana sudah ada seorang maid sedang mencuci piring di dapur.
" Mbak, ayo sarapan dulu, makanannya sudah dingin, mau saya hangatkan dulu, tunggu sebentar ya... " ucap maid tersebut.
" Tidak usah, biarkan saja mbak, gapap kok !" pekik Hanna.
Maid itu kembali melakukan aktivitas mencuci piringnya.
" Mbak, namanya siapa ?" tanya Hanna.
" Saya Rumi mbak, saya salah satu pegawai villa xxx, dari semalam saya bertugas disini, saya juga yang membuka semua baju mbak, oh iya bajunya lagi saya jemur, nanti nunggu kering saya kasih ke mbaknya " ucap Rumi.
" Oh... syukurlah, aku pikir orang lain " bisik Hanna. Dia pasti mengira Siwanlah yang melucuti semua pakaiannya dan memakaikan bathrobes sebagai gantinya.
Dan, tiba - tiba Hanna teringat sesuatu...
" Eh mbak, kok baju aku di buka semua sih, emangnya aku keringetan banyak, atau kehujanan terus baju aku basah gitu... " tanya Hanna.
" Mbaknya gak inget ya pastinya, semalem pas datang ke villa, mbaknya di gendong Pak siwan, udah gitu muntah di punggung pak Siwan, baju mbaknya juga kotor, tapi udah saya cuci kok, lagi di jemur " ucap Rumi.
Doeeng.... Bugh...
Hanna merasa kepalanya seperti di hantam oleh sebuah balok kayu, cukup keras, sangat keras bahkan, sehingga dia merasa pusing seketika dan menundukkan kepalanya di atas meja makan setelah sebelumnya menaruh sendok di atas piringnya.
" Mbak, kenapa, aduh... maaf ya saya ngomongin hal yang bikin mbak jadi mual kembali pas lagi makan, maaf ya mbak... " ucap Rumi merasa bersalah.
Padahal Hanna sedang merutuki kelakuannya semalam yang pastinya membuat Siwan kesal dan marah di tambah lagi dia semalam muntah di badan Siwan, di punggung Siwan.
" Astagfirullah ya Alloh, maafkan aku, sungguh aku meminta ampun padamu " bisik Hanna saat sedang menundukkan kepalanya di atas meja.
" Bisa - bisanya aku muntah di badan ahjussi setelah bikin dia marah, haduh... pantes aja tadi pagi mukanya serem begitu, udah gitu gak mau nemenin aku sarapan lagi... aissh.... menjijikan sekali... " gumam Hanna di dalam hati.