My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 Malam horor



Menyerahlah othor kalau yang ini masih di tolak juga


Happy reading pokonya ya readers... jangan berharap lebih sama othor


Sesampainya di negara kelahirannya, meskipun bukan di kampung halamannya, Hanna merasa lega, bisa kembali menghirup udara segar di negara yang ia cintai itu.


Sore hari, di Pulau Dewata, Bali...


Setibanya di rumah kediaman suaminya itu, beberapa wajah yang sangat familiar sudah berdiri tegak menyambut kedatangan mereka.


Bi Asih, dan Aji sudah menunggu mereka di depan, di halaman rumah.


Yang pertana kali mereka sambut tentu saja si kecil Hwan.


"Ya ampun den Hwan, makin tampan saja, sini bibi gendong !!" bi Asih kemudian mengambil alih Hwan yang sejak tadi menempel terus pada Siwan, ayahnya.


Aji membantu para supir menurunkan koper. Setelah itu, ia mengajak Siwan untuk berbicara di belakang rumah.


Hanna hanya menggelengkan kepalanya, suaminya benar-benar harus kembali di sibukkan dengan berbagai laporan yang Aji sampaikan, padahal ia baru saja lima menit menginjakkan kakinya di lantai rumahnya.


Hanna yang merasa badannya mulai lengket pun berniat untuk mandi sesampainya di dalam kamar, ia menitipkan Hwan pada bi Asih untuk menjaga dan mengurusnya karena Hwan harus segera di beri makan setelah perjalanan panjangnya di pesawat tadi yang ia habiskan hanya terus tertidur di selingi dengan kegiatan menyedot ASI ibunya.


Hanna mulai membuka bajunya dan menyalakan shower air hangat, mengatur suhunya dan mulai membilas tubuhnya dari atas sampai bawah.


Setelah itu, ia mulai menghampiri bathtubnya yang juga sudah di penuhi oleh air hangat, tak lupa sebuah bathbomb pun sudah ia larutkan ke dalam air yang sudah memenuhi bathtubnua sejak ia membilas tubuhnya beberapa detik yang lalu.


Ia pun mulai membenamkan tubuhnya ke dalam air yang sudah di penuhi oleh busa, airnya pun sudah berubah menjadi wangi yang mampu membuat tubuhnya yang terasa pegal dan kaku menjadi rileks. Wangi jasmine bercampur dengan ylang ylang oil benar-benar membuatnya otot-otot di tubuhnya menjadi lentur kembali.


Saat ia bersantai di dalam bathtub sambil menutup matanya, tiba - tiba ia merasakan sebuah sentuhan di pipinya.


"I miss you !!" suara seorang pria berbisik dengan lembut di telinganya.


Hanna membuka matanya sambil tersenyum, ia sudah tahu siapa pelakunya.


"Mas, ayo kita mandi," Hanna kemudian melingkarkan lengannya dan menarik tengkuk leher suaminya yang sedang berjongkok di samping bathtub, lalu ia mengecup bibir suaminya itu.


Siwan tersenyum dengan dada yang terus bergemuruh, ia benar-benar merindukan kebersamaan dan kehangatan bersama istrinya. Sudah hampir dua minggu statusnya sebagai suami dari wanita yang di cintainya itu, namun ia masih belum juga bisa melaksanakan tugasnya sebagai seorang suami.


Ya, terlalu banyak rintangannya, mulai dari istrinya yang tiba - tiba datang bulan, lalu perpisahannya karena ia harus pergi ke Korea, dan saat mereka kembali bertemu dan bersama selama di Korea, pikiran mereka terlalu sibuk dengan masalah yang berkecamuk di pikiran masing-masing, hingga tidak ada rasa dan niat untuk keduanya menghabiskan malam panas di tengah masalah yang tengah mereka hadapi itu.


Hanna lalu membuka satu persatu kancing kemeja suaminya dan melemparkannya ke sembarang arah, Siwan pun melepaskan celananya dan perdalamannya secepat kilat.


Ia langsung masuk ke dalam bathtub setelah ia menanggalkan semua pakaian yang menempel di tubuhnya itu.


"Chagiya, bisakah kita memulainya?" tanya Siwan.


"Disini?" Hanna malah balik bertanya.


"Kau ingin dimana?" tanya Siwan kembali.


"A-anu, emh... itu mas, apa kau tidak takut masuk angin?" pertanyaan bodoh itu terlontar begitu saja dari mulut manis istrinya Hanna yang membuat Siwan tak mampu menahan tawanya.


"Baiklah, nanti malam, ayo kita lakukan di atas ranjang kita !!" seru Siwan. Ia akan bersabar demi kelancaran prosesi unboxing istrinya malam nanti.


Selesai membersihkan kedua tubuh mereka, keduanya pun buru-buru keluar dari kamar mandi.


Selesai mandi, masih menggunakan bathrobe, Siwan merebahkan tubuhnya di atas ranjang lalu tertidur karena merasa kelelahan.


Hanna yang sedang mengeringkan rambutnya hanya tersenyum melihat kelakuan suaminya. Ia buru-buru memakai bajunya dan membantu suaminya memakaikan baju di tubuh suaminya yang sudah terlelap itu.


Selesai melakukan tugasnya, barulah Hanna keluar kamarnya dan turun ke bawah mencari anaknya. Sebenarnya, ingin rasanya Hanna ikut tertidur lelap di samping suaminya saat itu. Namun, karena di kehidupannya kini sudah hadir seseorang yang mana hasil dari buah cinta mereka, ia harus rela mengesampingkan rasa egoisnya sejak kehadiran buah hatinya di dunia ini. Ia sadar, sebagai seorang wanita, kini tugasnya bukan hanya melayani suaminya setelah menikah, namun, ia juga harus mengurus anaknya yang masih membutuhkannya di usianya sangat muda.


Hanna turun ke bawah dan melihat Hwan anaknya sedang duduk di sofa sambil menikmati snack miliknya dan menonton acara favoritnya di temani oleh Aji dan Elsa.


"Aish... anak bubu, sudah makan belum?" tanya Hanna, lalu duduk di samping Hwan, anaknya.


"Sudah, tadi bi Asih yang menyuapinya, tubuhnya juga sudah di lap dan ganti baju, " jawab Aji.


"Wah... wah... pantas, harum sekali anak bubu !!" Hanna mencium dan menggoda anaknya yang sedang fokus pada acara favoritnya, pororo.


Aji yang semula duduk di samping Hwan, kini sudah pindah duduk di sofa lainnya di samping Elsa.


"Bli, bagaimana kabarmu?" tanya Hanna, basa basi.


"Ya, seperti yang kau lihat, aku sehat dan aku bahagia," jawab Aji.


"Ck... baguslah kalau memang seperti itu," sahut Hanna, tersenyum.


"Baiklah, kalau begitu, aku harus pulang dulu, sudah sore, aku juga masih banyak pekerjaan yang belum ku selesaikan," Aji bangkit dan menghampiri Hwan kecil.


"Jangan rewel ya, ponakan paman yang tampan, lain kali paman datang lagi bawakan mainan untukmu, " Aji mencium pipi Hwan yang tembem, putih dan mulus seperti bakpau.


Sejak Siwan menikah dan membawa Hanna tinggal di rumahnya, Aji memang sudah pindah, tidak tinggal di rumah Siwan lagi, ia pindah ke apartemen dekat dengan lokasi Woods Art Studio milik Siwan.


Saat Aji sudah berada di ambang pintu hendak keluar, Hanna mengejarnya dan mencegahnya untuk melanjutkan langkahnya.


Sebelumnya ia sempat menitipkan Hwan pada Elsa untuk menjaganya.


"Bli... tunggu... " pekik Hanna.


Aji menghentikan langkah dan menoleh padanya.


"Anu... emh... di luar saja kita bicaranya !!" Hanna mendorong tubuh Aji keluar.


"Ada apa?" tanya Aji, terlihat penasaran.


"Aku ingin bertanya sesuatu, tolong jawab saja tanpa bertanya kenapa, oke !!" pinta Hanna.


"Apa itu?" Aji semakin terlihat penasaran.


"Soal Austin, bagaimana kelanjutannya?" tanya Hanna.


"Untuk apa kau bertanya tentang dia?" kening Aji berkerut.


"Jangan salah paham, aku hanya ingin tahu apakah dia masih hidup atau tidak, itu saja !!" ucapa Hanna.


"Dia masih hidup !!" tegas Aji menjawabnya dengan keterpaksaan.


"Oke, terimakasih,"


Hanna pun berbalik untuk kembali masuk ke dalam rumah.


Namun, sebelum ia melangkahkan kakinya, tangannya di tahan oleh seseorang dari belakang. Ya, siapa lagi kalau bukan oleh Aji.


"Aku akan mengantarmu, kalau memang kau ingin menemuinya !!" pungkas Aji. Kemudian ia melepaskan genggaman tangannya dan berbalik meninggalkan Hanna yang masih mematung di ambang pintu masuk.


...****...


Malam harinya....


Hwan sudah tidur saat pukul 19.00 wita, Siean dan Hanna menitipkannya pada ibunya dan bi Asih serta Elsa, karena ia ingin mengajak Hanna makan malam di luar.


Mereka ingin bernostalgia sambil membicarakan hal-hal yang tengah mereka rencanakan yaitu tentang resepsi pernikahan dan acara ulang tahun Hwan.


Di sela waktu menunggu makanan tiba.


"Ahjussi, kau sangat tampan malam ini, " gofa Hanna, lalu mengusap pipi suaminya.


"Ahjussi... " kedua bola mata Siwan membulat.


"Aku rindu memanggilmu seperti itu, ahjussi... ahjussi... ahjussi... " Hanna benar-benar berhasil membuat Siwan tertawa terkekeh di malam yang seharusnya romantis bukan penuh dengan acara komedi.


Siwan menggenggam kedua tangan Hanna dan mencium punggung tangannya yang halus fan lembut itu.


"Aku mencintaimu, istriku !!" ucap Siwan.


"Aku mencintaimu, suamiku !!" balas Hanna.


"Aku sangat mencintaimu !!" ucap Siwan kembali.


"Aku pun saaaangaaattt mencintaimu !!" balas Hanna, dan selanjutnya keduanya terus saling berbalas hingga membuat sebagian pengunjung resto yang mejanya berada di dekat mereka merasa malu mendengarnya. Pikir mereka mungkin Hanna dan Siwan adalah pasangan yang baru jadian hari itu, sehingga mereka terlalu lebay atau berlebihan mengekspresikan perasaan mereka.


"Dia istriku !!" ucap Siwan pada pramusaji yang baru datang dan menata hidangan di atas meja mereka.


"Dia suamiku !!" ucap Hanna, tak mau kalah.


Sang pramusaji hanya tersenyum sambil sedikit meringis tidak mengerti apa yang sedang Siwan dan Hanna lakukan.


Siwan dan Hanna menikmati malam pertama mereka melakukan kembali kencan setelah sekian purnama tidak pernah kembali merasakan suasana seperti ini.


Saling menyuapi dan saling memuji, membuat mereka benar-benar menjadi pusat perhatian sebagian orang yang duduk di dekat mereka maupun yang baru saja melintasi keduanya.


"Apa mereka pasangan pengantin baru?"


"Eh, lihatlah, mereka baru jadian sepertinya,"


"Eh, tapi lihat, prianya sepertinya terlalu tua untuk wanita itu,"


"Jangan-jangan wanita itu sugar baby nya, sekarang kan sedang musim,"


Begitulah kiranya yang terdengar di telinga Hanna dan Siwan malam itu. Netizen nyinyir sedang melakukan pekerjaan di sekitar mereka malam itu.


"Biarkan saja mereka iri, tidak usah di perdulikan !!" tegas Siwan.


"Mereka tidak tahu apa saja yang sudah kita lalui selama ini, mereka tidak berhak berkomentar, hadeuh... membuat moodku anjlok saja, " ucap Hanna, menatap ke arah sebagian netizen nyinyir yang ada di belakang suaminya dengan tatapan tajam seakan ingin membunuh.


Siwan tersenyum melihat wajah menyeramkan istrinya.


Selesai makan malam, mereka berkeliling dengan mobil. Siwan melajukan mobil dengan kecepatan rendah, untuk menikmati keramaian malam yang terjadi di malam minggu, hari itu.


"Mas, aku ingin mengunjungi sebuah tempat !!" ucap Hanna.


"Kau mau kemana?" tanya Siwan.


Dan, beberapa menit kemudian, mobil yang di bawa oleh Siwan sudah sampai di halaman sebuah rumah di daerah perumahan elit yang ada di daerah xxx kota Denpasar.


Sebuah rumah yang menjdi saksi kebersamaan dan kehangatan yang terjadi antara dua insan yang saling mencinta. Sebuah rumah yang menjadi saksi bisu hilangnya kesucian seorang wanita yang kini sedang menatap rumah itu dengan seksama dari setiap sudut luar area rumah kenangannya.


"Semua masih terlihat sama !!" ucap Hanna.


"Aku tidak berniat menjualnya, aku menugaskan seseorang merawat rumah ini, ayo masuklah !!" ajak Siwan.


Keduanya keluar dari mobil. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan menuju pintu rumah.


Siwan mulai memencet beberapa angka sebagai pasword rumah itu.


Dan, saat keduanya masuk ke dalam rumah itu.


"Wah... semuanya masih terlihat sama juga ternyata, kau tidak pernah mengganti semua perabotan disini?" tanya Hanna.


"Hanya beberapa, karena aku sempat tinggal disini dalam beberapa waktu saat aku kembali ke Bali," jawab Siwan.


Hanna mulai berjalan menuju area kamar.


Saat pintu kamar terbuka, Siwan yang mengikutinya dari belakang memeluk tubuhnya dengan erat.


"Ayo kita lakukan disini, malam ini !!" bisik Siwan di telinga istrinya.


Siwan mulai mencium tengkuk leher istrinya yang saat itu rambut panjangnya di ikat ponytail ke atas.


Hanna mulai merasakan sensasi bagaikan tersengat aliran listrik terlebih lagi kala tangan suaminya mulai menjelajahi tubuhnya dari balik dress nya.


Siwan mendorong tubuh Hanna ke belakang perlahan hingga istrinya itu terbaring di atas ranjang, dan terjadilah sesuatu yang sangat mereka nantikan selama ini.


******* lembut mulai terdengar di telinganya, membuat ia semakin tertantang untuk terus melakukan aksinya yang selama ini ia idamkan bersama wanita yang di cintainya itu.


"Aku akan memulainya, apa kau siap ?" tanya Siwan.


Anggukan dan tatapan mesra menjadi pertanda bahwa Hanna sudah siap dengan apa yang si lakukan oleh suaminya.


Cut... cut... cut.. cut...


TIDAK LULUS SENSOR


Dan, dalam hitungan beberapa detik kemudian, suara erangan dan ******* lembut memenuhi seluruh isi ruang kamar di rumah kenangan mereka malam itu.


Ngehalu sendiri aja lah, terserah...


Kepuasan kini sudah menghinggapi keduanya.


Tinggallah rasa lemas yang tersisa.


Siwan ambruk di samping tubuh istrinya.


Ia sempat mencium kening istrinya dan menatapnya dengan tatapan lembut dan wajah penuh senyum kebahagiaan.


"Akhirnya, aku bisa melakukannya tanpa rasa cemas sedikitpun, aku sangat mencintaimu, Chagiya !!" Siwan mengecup bibir Hanna dengan lembut lalu merebahkan tubuhnya di samping tubuh istrinya. Lalu ia menyelimuti tubuh keduanya.


"Ayo kita tidur disini malam ini, beritahu seseorang di rumah kalau kita tidak akan pulang, Hwan pasti akan baik-baik saja dengan neneknya," ucap Siwan.


Hanna pun menuruti permintaan suaminya dan mulai mengambil hpnya yang berada di dalam tasnya di atas nakas. Ia menelepon bi Asih dan memberitahunya bahwa malam itu mereka tidak akan pulang dan menitipkan Hwan padanya dan ibu mertuanya.


...***...


Entahlah... gak lolos riview ke berapa kalinya lupa ngitung.


Mungkin otak othor yang terlalu mesum atau othor yang terlalu senang menjabarkan kemesraan Siwan dan Hanna sampai lupa mungkin ada anak di bawah umur yang baca karya othor ini.


Mohon maaf yang sedalam dalamnya.


Jangan mengharapkan lebih dari itu yaa readers suciku, othor gak sanggup lagi di tolak terus pihak noveltoon.


Semoga kali ini tidak di tolak lagi.