My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Horor story..



Setelah selesai membantu mencuci rambut kekasihnya, lalu Siwan mengeringkan rambutnya dengan Handuk dan menyisirnya.


" Ahjussi, apa kau punya mantan pacar ? emh... maksudku, sebelum denganku apa kau pernah menjalin hubungan dengan orang lain dalam waktu dekat ini ?" tanya Hanna.


" Kenapa kau bertanya tentang hal itu ? apa Aji yang memberitahumu?" Siwan balik bertanya.


" Tidak, aku tidak mengobrol apapun dengan bli Aji, aku hanya penasaran saja. Kalau kau tidak mau menjawabnya tidak apa - apa. " Raut wajah Hanna terlihat kesal, tapi Siwan tidak melihatnya karena posisinya saat itu berada di belakang Hanna, masih menyisir rambutnya.


" Aku, pernah menjalin hubungan dengan wanita disini, tapi itu satu tahun yang lalu, lagi pula hanya sebentar." Ucap Siwan sambil masih fokus menyisir rambut kekasihnya.


" Dia pasti lebih cantik dariku...!!!"


" Biasa saja. " Jawab Siwan, singkat.


" Masa sih... " Hanna tidak percaya.


Siwan sudah menyangka, pasti terjadi sebuah percakapan antara Aji dan Hanna saat dia pergi tadi.


" Iya, dia cantik, semua wanita pasti cantik, dengan pesonanya tersendiri." Ucap Siwan.


" Sexy... ?" tanya Hanna terdengar sinis.


" Kau juga sexy... " Siwan menggoda Hanna.


" Ih... jangan mengalihkan topik pembicaraan." Hanna terlihat kesal.


Siwan hanya menghela nafas panjang dan terlihat sedikit tersenyum melihat kekasihnya itu seperti merasa cemburu.


" Sebenarnya, ada apa ? Apa Aji membicarakan sesuatu yang membuatmu penasaran ?" Kali ini Siwan berbicara di hadapan wajah Hanna, karena sudah beres menyisir rambutnya lalu dia mengubah posisi duduknya ke hadapan kekasihnya itu.


" Emh... a-ku, ha-nya.. " Hanna berkata dengan terbata - bata dan tidak menyelesaikan kalimatnya.


" Kau mulai merasa penasaran tentang masa lalu ku?" tanya Siwan menatap dalam mata kekasihnya.


" Aku hanya penasaran, seperti apa mantan pacarmu. Kalau mendiang istrimu, aku sudah tahu ceritanya darimu secara langsung walau hanya sedikit." Ucap Hanna.


" Tapi menurutku, kau yang sekarang lebih penting bagiku. Untuk apa membahas orang lain di antara kita, tidak ada gunanya, yang ada nantinya kau malah membuatnya hanya sebagai bahan perbandingan. " Ucap Siwan sambil mengelus rambut Hanna.


" Aku tidak berniat membandingkan, aku hanya... ah.. sudahlah... aku tidak mau berdebat lagi. " Hanna memalingkan mukanya dari hadapan Siwan.


" Hei... tuh.. kan, kau kesal lagi padaku. " Siwan menarik wajah Hanna.


" Aku mencintaimu, aku hanya memikirkan mu, apa kau masih belum percaya padaku ?" tanya Siwan.


" Maafkan aku, aku hanya penasaran." Ucap Siwan.


" Baiklah, lain kali, kalau ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, katakan saja, dan tanyakan saja padaku, aku akan menjawabnya sejujur mungkin, tapi jangan sekarang ya.. aku sedang merasa sedikit lelah hari ini." Uca Siwan sambil memutar kepalanya dan memijat belakang lehernya.


" Ahjussi, kau lelah karena berada disini menamaniku, kau jadi kurang istirahat dan kau tidak terbiasa tidur di ranjang rumah sakit ya, maafkan aku ya !!" Hanna merasa menyesal.


" Tidak, bukan seperti itu, tadi saat pergi dari sini, aku ada sedikit pekerjaan yang menguras tenagaku. " Ucap Siwan.


" Baiklah, aku tidak akan banyak bertanya lagi. Ahjussi, mau ku pijat ?" tanya Hanna.


" Bukannya tanganmu sedang sakit juga?"


" Yang sakit hanya lengannya, bukan jari - jarinya, sini aku pijat. "


Lalu Siwan merubah posisi duduknya membelakangi Hanna. Dan dia menerima pijatan lembut kekasihnya itu dengan senang hati.


" Wah, pijatanmu enak sekali, aku jadi merasa lebih rileks, tolong pijat kepalaku juga !!" Siwan rupanya ketagihan dengan pijatan kekasihnya.


Beberapa menit kemudian..


" Ahjussi, tanganku sudah pegal. " Ucap Hanna.


" Hihi, baiklah, maaf ya, dan terimakasih banyak. " Siwan mengelus kedua tangan kekasihnya lalu mencium tangannya itu.


" Kau mengantuk ya ?" tanya Hanna.


" Iya, aku jadi agak mengantuk, aku harus tidur dulu sepertinya. Aku tidur di sofa saja ya. " Ucap Siwan.


Hanna hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum.


Tapi Siwan memberi isyarat sebelum beranjak dari posisinya. Dia meminta Hanna mencium pipinya, lalu Hanna pun menurutinya dengan mencium kedua pipinya, kiri dan kanan. Tapi Siwan masih belum beranjak juga.


" Apa lagi ?" tanya Hanna sedikit tertawa.


Ternyata Siwan menunggu Hanna mencium bibirnya, tapi sepertinya Hanna tidak peka dan jadinya Siwan duluan yang mencium bibirnya. Mereka berciuman selama beberapa detik bahkan hitungan menit.


Dan, tiba - tiba, ada seseorang yang masuk ke dalam ruangannya.


" Maaf, a-aku lupa ti-dak mengetuk pintunya. " Ucap Aji sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kamar.


" Aduh.. lagi - lagi ketahuan orang lain." Ucap Hanna setengah berbisik lalu menutup wajahnya dengan sebelah tangannya karena malu.


" Kau sudah selesai makan?" tanya Siwan mencoba mencairkan suasana.


" Sudah kak, emh... sebaiknya aku pulang saja sekarang ya. " Ucap Aji sambil menghampiri ranjang Hanna.


" Baiklah, kalau begitu, aku titip ini, tolong suruh bi Asih cuci kan baju - baju kotornya." Siwan lalu beranjak dari posisinya dan mengambil satu paper bag berisi cucian baju kotor milik Hanna.


" Ah.. iya, terimakasih banyak ya, bli. " Hanna berkata sambil menghindari kontak mata dengan Aji karena masih merasa malu.


Aji berjalan menuju pintu sambil membuka matanya lebar dan memajukan bibirnya ke depan, serasa tidak percaya dan kaget dengan kejadian yang baru saja di lihatnya.


Setelah Aji keluar dari ruangan,


" Ah... aku malu pada kedua temanmu itu. Sudah dua kali ketahuan saat kita sedang... " Hanna tidak melanjutkan perkataannya dan merasa frustasi karena malu.


" Tidak apa - apa, mereka bukan anak di bawah umur. " Siwan memeluk kekasihnya.


" Bukannya ahjussi mau istirahat." tanya Hanna.


" Iya, baiklah. " Lalu Siwan beranjak menuju sofa dan membaringkan tubuhnya disana.


Saat Siwan sedang tidur, Hanna sibuk berkirim chat lewat aplikasi whatsupp nya dengan ibunya, sahabatnya, dan juga Siska. Lalu, tidak lupa dia berselancar di dunia maya untuk beberapa waktu hingga dia tidak menyadari bahwa hari sudah mulai gelap.


Hanna masih ingat, saat Aji pulang tadi, dia sempat melihat jam yang menempel di dinding bahwa saat itu sudah masuk pukul 15.25 Wita. Dan sekarang, saat ini, Hanna melihat waktu sudah menunjukkan pukul 17.56.


Tiba - tiba, pintu kamar terbuka, Hanna merasa kaget, karena suasana ruangan sedang sepi, dan lampu di salah satu sudut kamarnya belum menyala, hanya cahaya dari luar yang masuk melalui jendela yang membuat kamarnya tidak nampak terlalu gelap.


Seketika, ada seorang perawat masuk ke dalam, dia tidak mengenali siapa perawat tersebut, karena perawat yang biasa mengurusnya bernama Andien. Hanna merasa ada sesuatu yang aneh dengan perawat itu, Hanna sempat melirik ke arah Siwan, tapi dia masih tertidur begitu lelap hingga tidak mendengar ada seseorang masuk ke dalam kamarnya.


Perawat itu semakin mendekat pada Hanna, dia membawa alat tensi darah dan stetoskop di tangannya. Perawat bernama Susi itu tersenyum pada Hanna, dan bersiap mengecek tensi darah di lengan Hanna.


Entah mengapa, suasana di sekitar Hanna di rasanya menjadi lebih dingin, dan Hanna tidak mengeluarkan sepatah katapun saat sang perawat memeriksanya, tangan perawat itu pun terasa sangat dingin. Tanpa di sadari, bulu kuduk Hanna berdiri.


Hanna seperti terdiam dan terpaku hanya menatap setiap gerak gerik perawat itu. Dan, setelah selesai mengecek tensi darah pun, sang perawat hanya membereskan alat - alatnya lalu pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun.


Hanna merasa sangat keheranan, lalu dia memberanikan diri untuk menyapa sang perawat bernama Susi itu, yang sudah berada di ambang pintu kamar.


" Emh, suster Susi, maaf, boleh minta tolong nyalakan lampu di sudut sana !!" Hanna menunjuk ke arah ujung samping kiri sang perawat.


Tapi, anehnya, meskipun sang perawat itu berhenti saat Hanna berbicara, dia tidak menoleh sedikitpun, dan pergi keluar tanpa menyalakan lampu seperti yang Hanna minta.


" Aneh sekali, kenapa dia.. ?" tanya Hanna. Lalu mencoba menebak - nebak, "apa dia sedang menstruasi, kok jutek sekali sih."


Saat sedang sibuk bergelut dengan pikirannya, tiba - tiba ada seorang perawat lagi yang masuk ke dalam kamarnya. Hanna terlihat sangat terkejut, hingga..


" Ya Alloh. " Hanna berkata agak keras.


Siwan langsung terbangun mendengar suara kekasihnya.


" Kenapa kak ? " tanya sang perawat sambil menyalakan lampu karena terlihat masih gelap.


Sebelum menghampiri Hanna, perawat itu sempat menutup jendela dan tirainya.


" Ada apa kak? kenapa bengong saja ?" tanya perawat sambil menyentuh pundak Hanna, sontak Hanna pun tersadar dari lamunannya.


Lalu Siwan pun menghampiri Hanna setelah sempat mencuci muka di wastafel yang menempel di dinding dekat pintu kamar mandi.


" Ada apa ? kau baik - baik saja ?" Siwan menyentuh pipi Hanna yang terlihat pucat.


Lalu Hanna bertanya pada perawat bernama Andien itu.


" Suster, apa disini ada perawat yang bernama Susi ? " tanya Hanna terlihat serius.


" Ada, tapi dia bertugas di ruang anak, dan hari ini dia sedang cuti mau menikah, nanti awal tahun baru. Memangnya kenapa?" tanya perawat itu sambil mengecek luka di kaki Hanna.


" Tapi tadi, ada seorang perawat masuk kemari, mengecek tensi darahku, lalu pergi begitu saja, padahal aku sempat minta tolong untuk menyalakan lampu disana, tapi dia hanya berhenti tanpa menoleh, lalu pergi begitu saja. Ku lihat dia bernama Susi. " Ucap Hanna menjelaskan panjang lebar.


" Kapan ?" tanya suster Andien.


"Barusan, sebelum suster Andien masuk kemari." Ucap Hanna tegas.


" Tapi aku tidak melihat siapa - siapa di luar. " Ucap suster Andien.


" Emh.. aku tidak bohong, sus. " Hanna menatap suster Andien yang keheranan.


" Chagiya, apa kau tidur, mungkin kau sedang bermimpi. " Ucap Siwan.


" Aku tidak tidur lagi, ahjussi, aku bahkan mendengar suaramu berkali - kali melantur dalam tidurmu. Aku dari tadi hanya sibuk memegang hpku. " Hanna berkata dengan penuh keyakinan, menatap Siwan di sampingnya.


" Apa dia orangnya ?" Suster Andien menunjukkan beberapa foto seorang wanita di hpnya.


" Iya, betul, itu dia orangnya." Ucap Hanna merasa sangat yakin karena kejadiannya belum terlalu lama, dia masih ingat akan senyuman dan raut wajah perawat bernama Susi itu.


Setelah selesai melihat foto di hp suster Andien, Hanna menyerahkan kembali hpnya karena ada pesan yang masuk ke hpnya.


Setelah membuka apa isi pesan itu, lalu suster Andien terlihat sangat terkejut.


" Astaga... " suster Andien menutup mulutnya.


" Kenapa, sus ?" tanya Hanna penasaran.


" A-Anu.. i-itu, emh.... maaf, saya harus segera pergi, ada panggilan dari kepala perawat. " Suster Andien terlihat sangat kebingungan, lalu segera berpamitan dan pergi meninggalkan ruangan.


Hanna dan Siwan hanya saling menatap dengan raut wajah keheranan.