
Beberapa jam kemudian, wanita itu terbangun, menggeliat dari atas tempat tidurnya. Lalu, dia pun teringat sesuatu,
" Ya ampun, aku, berapa lama aku tertidur disini? " Lalu mencari keberadaan jam dinding di sekitar kamar itu.
" Wah, sudah malam. " Dia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 18.45 wita.
" Aku harus segera turun, paman pasti menungguku !!" Dia turun dari tempat tidurnya dan melihat ada pakaian yang menggantung di gagang pintu lemari di kamar itu.
" Bajuku, sudah kering rupanya. " Lalu buru - buru memakai pakaian tersebut. Tidak lupa dia merias sedikit wajahnya dengan makeup kit yang selalu ia bawa di tasnya. Dan menyemprotkan parfum ke bajunya.
Setelah memastikan semuanya terlihat rapih, lalu dia keluar dari kamar itu dan turun ke bawah menuju dapur. Terlihat disana ada seseorang orang yang sedang sibuk, seperti sedang menyiapkan makan malam.
" Bi Asih.. !!" dia menyapanya.
" Eh, cah ayu sudah bangun. " Bi Asih menyambut nya dengan ramah.
" Paman, ada dimana ?" tanya Hanna.
Ya wanita bernama Hanna itu, si pelaku sudut pandang pertama, pemeran utama wanita di novel bergenre romance ini.
" Oh... den Siwan, sepertinya dia ketiduran di sofa ruang tv, non. Mau bibi bangunkan ?"
" Oh... tidak usah, biar aku saja. "
Bi Asih lalu tersenyum padanya. Hanna memutar badannya, tapi tidak lama dia langsung berbalik kembali pada bi Asih.
" Bi, sedang menyiapkan makan malam?"
" Iya non. Sebentar lagi selesai kok. "
" Ada yang bisa kubantu ?" tanya Hanna.
" Tidak usah non, ini tinggal sedikit lagi kok. " Dengan nada bicara khas logat orang jawa.
" Emh... makasih banyak ya bi, sudah mencuci dan menyetrika bajuku. "
" Sama - sama non, jangan sungkan minta bantuan bibi selama non ada di rumah ini, ya.. !!"
" Siap bi Asih. " Mereka tertawa bersama.
" Eh bi, sepertinya bibi juga bukan warga asli sini ya ?" tanya Hanna.
" Iya betul itu, kampung halaman bibi di Sidoarjo. Non Hanna sendiri dari daerah mana?"
" Kalo aku dari Bandung, bi. "
" Wah.. orang sunda toh.. "
" Yups.. betul sekali. Eh, sudah selesai ya, aku bangunin dulu paman sebentar ya bi. "
" Iya, silahkan non. "
Hanna pergi menuju ruang tv, dan terlihat disana Siwan memang sedang tertidur di sofa berwarna coklat muda.
" Ahjussi, bangun, makan malam sudah siap. Ahjussi... " Hana sedikit menggoyangkan lengan Siwan dengan posisi membungkuk.
Dan Siwan membuka matanya perlahan, di depannya terlihat wajah seorang wanita cantik pujaan hatinya itu sedang mencoba membangunkan nya dengan posisi membungkuk.
Lalu tidak lama Siwan langsung menarik lengannya, membiarkannya jatuh dalam dekapannya dan mereka bertatapan dan Siwan mencium bibirnya, mereka berciuman.
Tapi, sayang sekali, itu semua hanyalah lamunan Siwan sendiri. Sepertinya dia masih berada di alam mimpi.
Hanna masih mencoba menyadarkan nya, menjentikkan jari tangannya di depan mata Siwan. Tidak lama Siwan terbangun dari tidurnya lalu dia duduk di atas sofa sambil menyentuh kedua sudut matanya.
" Kau sudah bangun ternyata ?" tanya Siwan.
" Iya, aku tadi mencarimu ke dapur, disana hanya ada bi Asih yang sedang menyiapkan makan malam. Maaf ya, tadi aku sangat mengantuk. " Jawab Hanna dan duduk di pinggir Siwan.
" Tidak apa - apa, aku tadi sedang membuat sesuatu di dapur untukmu, aku tidak tahu kalau kau ketiduran. "
Lalu, terdengar sebuah suara, suara alarm alamiah para cacing dari dalam perut seseorang.
" Kau lapar ? kalau begitu ayo kita makan malam dulu. "
Hanna hanya menganggukan kepalanya.
Mereka berdua terjatuh di atas sofa dengan posisi Siwan tentunya berada di bawah, tangan kirinya melingkar erat pinggang Hanna dan tangan kanannya memegang pinggulnya. Lagi - lagi mereka beradu tatapan. Seperti sebuah dejavu. Mereka memang sudah 2x mengalami kejadian seperti itu, dalam satu hari ini.
Saat sedang bertatapan seperti itu, layaknya orang yang akan berciuman, tiba - tiba terdengar suara,
" O.. oow..., apa aku salah masuk rumah ?"
Hanna langsung terkejut dan mendorong Siwan. Lalu ia terbangun dari sofa dan melihat ke arah sumber suara tadi.
Di sebrang sana, tidak jauh, dekat pintu masuk rumah Siwan, berdiri seorang pria berkacamata sambil menenteng sebuah tas kerja berwarna hitam. Hanna belum mengetahui siapa dia.
" Hai.. Hallo.. maaf aku mengganggu waktu kencan kalian. " Seru pria itu.
" Ah.. tidak, bukan seperti itu, kau salah paham. " Hanna menoleh pada Siwan seraya meminta bantuan agar menjelaskan sesuatu padanya.
Siwan yang sudah duduk kembali saat itu hanya berkata,
" Kenapa kau sudah pulang, bukannya jam segini masih terlalu pagi untukmu ?" tanya Siwan pada pria itu.
" Aku seperti mendapatkan sebuah feelling yang sangat kuat supaya cepat - cepat pulang ke rumah. " Jawab pria itu yang masih belum Hanna ketahui namanya.
Pria itu mendekati Hanna dan mengulurkan tangannya.
" Hai, aku Austin, temannya kak Siwan. " Seorang pria bule bermata biru dan berbadan ramping.
" Oh.. hai, aku Hanna. "
" Baiklah, kalau begitu, silahkan lanjutkan kencan kalian ya, aku, mau mandi dulu. " Ucap Austin membuat Hanna salah tingkah.
" Bukan.. bukan seperti itu. Jangan berfikiran yang aneh - aneh.. " Pinta Hanna pada Austin.
" Kami mau makan malam, kau cepatlah turun dan bergabung. " Sahut Siwan.
" Oke.. kalian duluan saja. Daahhhh.. dadah kakak ipar... " Austin sepertinya menggoda Hanna.
" Ahjussi... " Hanna menatap Siwan dengan mimik muka memelas seperti seorang adik kecil yang di goda oleh kakaknya, lalu mengadu dan meminta bantuan ayahnya.
" Sungguh lucu" Siwan berkata di dalam hatinya.
" Ayo kita makan saja sekarang, kau sudah lapar kan. " Siwan menggenggam tangan Hanna mengajaknya menuju ruang makan.
Siwan membukakan kursi untuk Hanna, dan dia pergi sebentar ke toilet untuk mencuci muka.
Saat makan malam sedang berlangsung.
" Ahjussi, dimana bi Asih ? Apa bibi tidak pernah bergabung makan bersamamu disini?" tanya Hanna.
" Bi Asih tidak pernah makan malam, dia hanya akan memakan sayuran, singkong atau ubi rebus setiap malam, katanya dia sedang diet. "
" Wah... aku kalah. Aku tidak bisa menahan nafsu makanku. Cacing dan pikiranku, tidak bisa diajak berkompromi untuk melakukan diet. " Ucap Hanna.
" Untuk apa kau berdiet, bentuk tubuhmu sudah bagus. " Ucap Siwan sambil menyuap satu sendok nasi ke mulutnya.
Hanna langsung merasa malu dan menyilang tangan pada tubuhnya, seperti menutupi sesuatu.
" Apa maksudnya ?" tanya Hanna sambil mengerutkan halis dan masih menyilang tubuhnya dengan kedua lengannya.
Siwan tidak menyadari ucapannya tadi dan fokus makan, lalu, saat perlahan ia menatap Hanna, dia terlihat sedang cemberut, dan, dia baru menyadari kalau ucapannya nya tadi sepertinya salah.
" Aku tidak ada maksud apa - apa. Maksudnya, kau sudah kelihatan kurus jadi tidak perlu berdiet segala macam. " Siwan berkata dengan gugup takut Hanna marah karena salah paham.
Hanna pun melanjutkan makan malamnya.
" Oh iya, apa kau takut dengan seekor anjing ?" Siwan kembali bertanya.
Siwan sempat melihat cctv di sekitar kolam, mencari tahu apa penyebab Hanna bisa sampai tercebur ke dalamnya.
Hanna menghela nafas dalam - dalam dan menghembuskannya perlahan sambil menjawab
" Iya, aku takut sekali. Makanya aku tadi kaget saat melihat ada anjing di dekat kolam, dan, tercebur deh.. " Hanna menjawabnya dengan lesu.
" Maaf, aku tidak tahu kamu takut dengan hewan peliharaan yang satu itu. Tapi, dia sebetulnya anjing yang jinak. Dia sudah lama bersamaku, jadi, dia tidak pernah menggigit orang yang dekat denganku. Mungkin tadi dia hanya ingin berkenalan. " Siwan menjelaskan tentang anjingnya.
" Siapa namanya ?" Hanna bertanya.