
Sesampainya di tujuan.
" Ahjussi, aku pulang dulu ya, terima kasih untuk hari ini. " Ucapku.
" Hanna, aku belum mau berpisah denganmu malam ini, sebentar lagi ya, kau jangan dulu keluar dari mobilku !!"
Dia lalu menggenggam kedua tanganku dan menciumnya.
" Ahjussi, apa kau tidak bosan mencium tanganku terus dari tadi ?"
" Lalu, kalau aku ingin mencium bibirmu, bolehkah ?"
Aku mendekatkan wajahku padanya, menutup mataku dan memonyongkan bibirku.
Dia malah tertawa terbahak - bahak.
" Ih, apa sih... kok malah tertawa. " Aku jadi merasa konyol sendiri.
" Maaf, habisnya kau sangat lucu. "
" Memangnya aku badut. "
" Iya maaf ya, yasudah, besok kau kerja pagi kan, langsung pulang ke tempatmu dan istirahat ya. "
Paman lalu mencium keningku. Dan kami kembali berciuman.
" Aku sangat menyukai mu, terima kasih suadah mau menerima perasaanku ini. " Ucap paman sambil mengelus pipiku.
Aku hanya menganggukan kepalaku dan pergi keluar dari mobil paman.
Aku langsung menuju ke lantai dua tempat kostku. Sebelum aku naik ke atas tangga, dari arah belakang ada suara seseorang memanggilku.
" Hanna... aku lihat loh.. aku lihat..." suara kak Siska tampak sumringah.
" Apa sih kak, dari mana kakak jam segini baru pulang ?" tanyaku sambil terus melanjutkan langkah kaki ku.
" Ih, habis ngedate lah sama si pacar. Kamu sendiri, habis kencan kan, hayo ngaku... ?"
" Apa sih ah. " Aku sambil tersenyum pura - pura tidak mengerti.
Sesampainya di lantai dua..
" Awas ya, kau jangan dulu tidur, aku bakal menggedor pintumu sampai rusak. Aku mau mandi dulu, nanti aku langsung ke kamarmu. Tunggu aku ya...!! " kak Siska mewanti - wanti dengan nada mengancam.
Akupun langsung mandi setelah sampai di dalam ruangan kostku. Dan, benar saja, setengah jam kemudian, kak Siska datang ke kamarku sambil membawa sekotak brownis kukus untuk menyogok ku.
Dia benar - benar penasaran setelah melihat ku berciuman bersama paman di mobil tadi.
Aku pun langsung menceritakan kejadiannya. Dan dia sangat tercengang,
" Wah... secepat itu kamu move on, padahal tadi subuh aku sendiri melihat mu menangis meraung - raung gara - gara Rey. " Ucap kak Siska
" Mungkin, sebetulnya, selama ini aku juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya, hanya saja aku baru menyadari nya, bukan karena terbawa perasaan yang sedang kualami kali ini. " Tegasku.
" Nah, gitu dong, masih ada pria yang benar - benar tulus padamu, jadi, lupakan saja masa lalumu itu. "
" Iya, sekarang aku lelah mau tidur, kakak mau menginap disini? " tanyaku sambil fokus menempelkan berbagai tahap skincare di wajahku.
" Iya nih, aku juga udah ngantuk, aku nginep disini aja, udah gak kuat jalan aku. " Kak Siska berbicara sambil menguap beberapa kali. Dia lalu menarik selimut dan bersiap untuk tidur.
Sebelum memejamkan mata, aku kembali memikirkan hal - hal yang sudah terjadi hari ini. Seketika pemeran utama pria dalam hidupku berubah dari Rayhan menjadi paman.
Keesokan harinya,
Aku dan kak Siska hampir bangun kesiangan, padahal jam beker sudah berdering entah berapa lamanya, tapi kami malah tidur kembali menutupi kebisingan suara jam beker dengan bantal masing - masing.
Sama sekali tidak ada yang berinisiatif untuk mematikan jam bekernya, karena kami tahu, jika salah satu diantara kami ada yang mematikan suara alarmnya, maka sampai nanti jam 12 siang pun, entah siapa yang akan terbangun lebih dulu dari mimpi - mimpi indah kami.
Alhasil, kami memang bangun siang, namun kami masih sempat sarapan dan siap - siap pergi bekerja tepat waktu.
Saat sedang menunggu bus di halte, ku lihat Rayhan sedang berjalan menuju halte pula sambil mengobrol dengan salah satu penghuni kost di gedungnya.
Aku yang berada di belakangnya, tidak berniat untuk menyapa nya, bahkan aku sengaja menghindari nya. Dia bahkan masuk ke dalam bus lebih dulu dibandingkan aku. Memang aku sengaja menjaga jarak agar kami tidak saling bertemu dan mengobrol. Aku sudah malas meladeninya. Dia seorang pendusta, bagiku, saat ini.
Saat aku akan menaiki busnya, tiba - tiba seseorang dari dalam mengulurkan tangannya. Aku yang setiap bekerja memakai sepatu heels ini memang selalu agak kesulitan untuk menaiki kendaraan umum ini.
Saat menengadah kan wajahku, aku menatap pada orang yang mengulurkan tangannya, yah... siapa lagi kalau bukan Rayhan. Tapi, aku tidak menerima uluran tangannya itu. Aku hanya berpegangan erat pada tiang besi yang ada di dekat pintu.
" Hanna.. duduk disini." Sapa Rayhan sambil menunjukkan kursi kosong untukku.
Aku hanya tersenyum dan terpaksa duduk di dekatnya lagi.
" Sudah sembuh a ?" tanyaku hanya basa - basi.
" Alhamdulillah, makasih ya hari itu udah nemenin dan ngerawat aku. "
" Hemh.. sama - sama. " Jawabku singkat. Aku lalu pura - pura melihat ke arah luar lewat kaca jendela.
Rayhan yang merasa ada yang aneh denganku lalu berkata,
" Hanna, Mila adalah mantan pacarku. " Dia menatapku dengan serius.
" Lalu.. untuk apa a Rey ngasih tahu Hanna." Aku pura - pura tidak peduli.
" Maaf, Aa belum sempat cerita sama kamu. "
" Gapapa, emangnya harus ya cerita sama Hanna, itu urusan kehidupan pribadi Aa sendiri. Hanna bukan siapa - siapa cuma temen Aa, jadi gak usah merasa bersalah gitu, ok. "
Di dalam hati padahal sempat bertanya, siapa yang sedang berbohong. " Malam itu, Mila berkata padaku kalau dia itu pacarnya, sudah dua bulan mereka jadian. Lalu sekarang, Rayhan bilang dia itu mantan pacarnya. Jadi sebenarnya mereka masih jadian apa udah putus ?"
Aku tidak terlalu menghiraukannya, hanya fokus pada hpku, kebetulan saat itu aku sedang membalas chat dari paman.
" Kamu ganti hp, Han ?"
" Oh.. ini, emh.. iya, soalnya hp yang dulu rusak, ke injek sama orang."
" Kok bisa..? " tanya Rayhan penasaran.
Padahal biasanya aku selalu menceritakan setiap kejadian secara rinci dan panjang lebar padanya, entah mengapa kali ini aku benar - benar malas menjawab semua pertanyaannya. Untung saja, kantor Rayhan bekerja, tidak terlalu jauh, dan bus pun sudah berhenti di halte dekat kantor nya.
Rayhan pun pamit untuk turun duluan. Aku hanya menganggukan kepalaku sambil tersenyum kecut.
Dalam hati kecil, aku sebetulnya ingin mendengar penjelasan dari Rayhan. Bukannya dia berprinsif tidak akan berpacaran sebelum sukses. Ya.. ya.. aku tahu dia hanya manusia biasa, dia bukan robot pekerja keras, terlebih lagi dia seorang pria dewasa dan normal, pasti lah ada satu dua wanita yang ia sukai karena dia bukan pria berhati batu.
Lalu, selama ini, dia tidak pernah membalas perasaanku, aku sebetulnya tidak tahu harus marah atau benci. Tapi aku tidak bisa, Rayhan memang tidak pernah memintaku untuk menunggunya. Dia bahkan menyuruhku untuk tetap bahagia walaupun bersama pria lain.
Ya, ini memang salahku. Salahku yang selalu menunggu dan mengharapkan nya. Salahku yang selalu ingin di dekatnya. Salahku yang harus jauh - jauh menyusulnya hingga ke Bali padahal aku tahu dia tidak akan pernah membalas perasaanku.
Tapi, apa rasa cinta ini salah? Apa aku salah mencintainya ?
Aku hanya bisa menerima semua ini hanya sebagai pelajaran hidupku yang berharga. Tidak semua yang kuinginkan, bisa kudapatkan. Walaupun aku berjuang keras, mati - matian, bila takdir berkata lain, aku tidak akan pernah bisa menggenggam nya.