My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
The real, malam minggu kelabu.



" Hanna, malam minggu sekarang, karaokean yuk ?" ajak kak Siska.


" Gak ada acara ngedate gitu, tumben malam minggu ngajak jalan." jawabku.


" Aku lagi males ketemu sama dia ah... "


" Oke, nanti pulang kerja aku langsung ke kostan ya, tadinya aku mau ke toko buku. "


" Eh, tapi, lupa, kamu sekarang kan udah punya pacar, pasti bakal di ajak malmingan kan sama doi... "


" Paman lagi ada di Seoul kak, hari jumat, kemarin malam aku anter dia ke bandara malahan. " jawabku.


" Wah, asyik deh.. aku tunggu kamu pulang yaa. "


Aku dan kak Siska janjian akan pergi karaokean malam minggu ini.


Malam hari, sekitar pukul 07.15 Wita, aku dan kak Siska sudah berada di plaza, sebelum pergi karaokean, kami makan terlebih dahulu di restoran ayam KaePsih di sana.


Setelah selesai makan, aku pergi ke toilet sebentar. Tapi, saat aku kembali, ku lihat orang - orang berkerumun di sekitar meja tempat aku duduk bersama kak Siska.


Saat aku menghampiri nya, ternyata ada seorang wanita, terlihat sudah berumur sekitar 40 tahun seumuran dengan bibiku, berpakaian modis, rambutnya berwarna pirang. Di sampingnya, ada seorang gadis remaja terlihat seperti anak SMA, sedang menahannya untuk tidak melakukan sesuatu.


Dan, saat kulihat kak Siska, dia sedang mengelap wajahnya dengan tissue, bajunya terlihat basah. Aku langsung menutupi badan kak Siska yang terlihat basah dengan sweater yang aku pakai.


" Udah dong mam, malu di lihat orang. " Teriak gadis remaja itu.


" Yang harus nya malu itu dia ( menunjuk kak Siska). Biarkan saja, biar orang tau kalau dia ini seorang wanita simpanan, perebut suami orang. " Teriak wanita berumur itu.


" Seharusnya kamu malu, tidak bisa menjaga dan melayani suami mu dengan baik. " Ucap kak Siska sambil berdiri dari duduknya.


Aku hanya berusaha menahan kak Siska sambil merangkulnya dari belakang agar tidak terjadi perkelahian di antara mereka.


" Apa kau bilang, berani - beraninya ya bicara seperti itu padaku." Wanita itu mengangkat tangannya seperti hendak menampar kak Siska.


Tapi, tiba - tiba, ada seseorang yang menahan lengan wanita itu.


Seorang pria berbadan tinggi dan berotot, berkulit coklat dan berhidung mancung.


Pria itu menahan lengan wanita yang hendak menampar kak Siska dengan sangat kuat.


" Lepaskan... !!" seru wanita itu.


Saat pria itu melepaskan tangannya, wanita itu hendak menampar lagi kak Siska. Tapi, dengan sigap pria itu menahan lengannya lagi.


" Lepaskan, jangan ikut campur.. !!" seru wanita itu lagi.


" Nyonya, tolong, banyak saksi mata disini, jangan kotori tangan cantikmu ini dengan perbuatan kasarmu, kau bisa saja di tuntut untuk kasus kekerasan atas wanita muda ini" pria itu menunjuk pada kak Siska.


" Udah lah mam, ayo kita pulang aja !! " ajak gadis remaja di samping wanita itu.


" Awas ya, aku akan hancurkan kamu. Ingat itu... !!" ucap wanita itu.


Lalu, mereka berdua pergi meninggalkan kami, begitu pula dengan orang - orang yang berkerumun disana, kecuali pria yang menahan lengan wanita itu tadi. Dia masih berdiri si samping kami.


" Kak, kakak gapapa kan ?" aku menatap kak Siska yang sedang menahan air matanya agar tidak keluar.


" Aku, gapapa. Ayo kita pulang aja, bajuku basah !!" seru kak Siska.


Lalu, tiba - tiba pria itu berkata..


" Sudah malam, biar aku yang mengantar kalian pulang !!" ucap pria itu.


" Maaf, tidak usah terima kasih. " Ucapku.


" Tidak, aku akan mengantar kalian. " ucap pria yang belum aku ketahui namanya itu.


Aku dan kak Siska saling menatap ke heranan.


" Oh iya, aku Aji. Temannya kak Siwan, satu rumah dengan kak Wan dan Austin. " Pria itu mengulurkan tangannya padaku.


" Oh begitu ya, apa dari tadi kau membuntuti kami ? Aku sempat melihatmu di pintu masuk plaza dan di depan toilet tadi. " Tanyaku sangat penasaran.


" Ti.. dak.. aku hanya kebetulan saja sedang ingin ke toilet. Aku tadi juga bersama temanku di.. si.. ni.. " ucapnya ragu.


" Sebaiknya kita pergi dari sini dulu, kasian temanku sudah kedinginan. " Ucapku.


Kami lalu menuju ke basement parkiran mobil Aji, pria yang katanya teman paman itu.


Di dalam mobil, aku dan kak Siska duduk di belakang. Kak Siska, sejak kejadian tadi, dia hanya diam tanpa kata, di dalam mobil pun dia hanya menatap ke arah luar jendela mobil.


Aji beberapa kali menatap kami dari kaca spion mobilnya.


" Kau, fokus saja menyetir mobil, aku takut terjadi kecelakaan." Ucapku pada Aji.


" Apa temanmu baik - baik saja ?" tanya Aji.


Lalu, tiba - tiba kak Siska menatapku dan, dia menangis ke dalam pelukanku. Dia menangis sangat kencang. Aku, hanya bisa mengusap punggungya, mencoba menenangkannya dengan sedikit kata - kata manis.


Aji yang melihatnya, langsung menyodorkan sekotak tissue padaku.


" Terima kasih. " Ucapku pada Aji.


Saat tiba di depan gedung kost, aku sebenarnya tahu, kalau kita sudah sampai. Mesin mobil pun sudah berhenti, hanya saja, aku memberi isyarat pada Aji untuk tetap diam dan menunggu. Kami menunggu kak Siska berhenti menangis selama beberapa menit di dalam mobil.


Dan tiba - tiba.


" Udah sampai, kenapa gak bilang - bilang ?" tanya kak Siska.


" Tidak apa - apa kak, kami bisa menunggu kakak sampai benar - benar merasa tenang. " Jawabku.


" Ayo kita pulang saja !!" seru kak Siska.


" Baiklah, ayo kita turun. " Ucapku.


Kami bertiga pun turun dari mobil.


Kami berpamitan pada Aji dan mengucapkan terima kasih banyak atas tumpangan di mobilnya. Lalu aku dan kak Siska naik ke atas menuju kamar kost kami.


" Kak, aku temani ya malam ini, aku menginap disini. " Ucapku saat kami sampai di depan kamar kak Siska.


" Tidak Han, beri aku waktu untuk sendiri ya, aku janji, nanti aku akan ceritain semuanya sama kamu."


" Tapi, kakak gak akan macam - macam kan ? aku hanya khawatir aja. "


" Tentu saja Han, aku masih waras kok. "


" Baiklah, maaf aku udah berpikir yang aneh - aneh. Jangan lupa ganti baju dulu ya."


Aku pun pulang ke kamarku sendiri.


Setelah selesai mencuci muka dan bersiap - siap untuk tidur, aku dan paman melakukan video call lewat laptop kami masing - masing


Aku menanyakan apa benar, Aji adalah temannya. Dan ternyata memang benar, paman menyuruh Aji untuk melindungi ku selagi paman sedang berada di Seoul.


Dan, sepertinya paman pun tahu kejadian yang terjadi pada kak Siska.


" Bagaiman temanmu sekarang?" tanya paman.


" Aku juga khawatir, aku bahkan berniat menginap di kamarnya malam ini, tapi dia bilang lagi mau sendiri. Tapi aku sudah memastikan kalau kak Siska tidak akan berbuat macam - macam. "


" Syukurlah kalau begitu."


" Ahjussi, apa kau tau cerita kak Siska dari Aji ?"


" Emh... iya."


" Ayolah, apa paman menyuruh Aji membuntutiku ? Aku baik - baik saja tidak perlu berlebihan seperti itu. " Ucapku merengek.


" Aku hanya khawatir, karena aku sedang tidak di samping mu. "


" Ahjussi, saat di Bali pun kau tidak setiap detik berada di sisiku. Aku baik - baik saja. Percayalah padaku, ada Alloh, Tuhanku yang akan menjagaku !!"


" Baiklah, aku minta maaf. " Paman tersenyum manis padaku.


" Aish... aku merindukan mu. " Ucapku tanpa sadar.


" Apa, kau bilang apa barusan, aku tidak mendengar nya. "


" Tidak, aku cuma bilang aku mengantuk." Aku berbohong.


" Kalau begitu kau tidurlah dulu, besok masih masuk shift pagi kan? " tanya paman.


" Iya masih. Kalau begitu aku mau tidur dulu ya."


" Tunggu, jangan di matikan dulu, kau tidur saja aku ingin melihatmu beberapa menit lagi. " Tukas paman.


" Ih.. kau membuatku malu tau. Baiklah tunggu sebentar. "


Aku pun tidur menyamping ke arah layar laptop yang masih menyala. Selama beberapa detik aku memejamkan mata, tapi aku merasa sungguh tidak nyaman di tatap oleh paman walaupun hanya lewat layar kaca laptop.


" Ahjussi, ayolah, aku tidak bisa tidur kalau seperti ini. Ucapku merengek.


" Hahaha.. kau sangat lucu, aku sangat merindukankan mu. Baiklah kalau begitu matikan saja. Kita akhiri dulu sampai sini. Saranghae.. " Paman mengucapkan kata aku mencintaimu dengan bahasa Korea.


Aku tersenyum dan tersipu malu lalu menjawabnya, " nado saranghae.. muach, bye.. ," lalu mematikan panggilan video call kami.


Sebelum tidur, aku sempat mengirim pesan pada kak Siska, tapi dia tidak membalasnya. Lalu aku memutuskan untuk tidur saja, aku berdoa dan hanya bisa mendoakan agar dia baik - baik saja.