
..." Chagiya... Chagiya... Chagiya... "...
...Suara Siwan kala memanggil namanya dengan panggilan kesayangan darinya menghiasi mimpi Hanna malam itu....
...Dan, Hanna pun terbangun dengan mata nyalang dan mulut terbuka lebar dan terlihat seperti seseorang yang kehabisan nafas....
..." Han, istigfar... " seorang pria yang sedang menggendong bayi Hanna malam itu menyadarkan lamunan Hanna....
..." Astagfirullah, jam berapa ini ?" tanya Hanna....
..." Jam 2 Han, kau pasti masih lelah, tidur saja, biar Hwan aku yang jaga " ucap pria itu....
..." Apa Hwan rewel ?" tanya Hanna....
..." Tidak, dia hanya buang air besar, aku sudah mengganti popoknya dan memberinya sedikit susu formula, sepertinya Hwan mulai mengantuk lagi, biar aku saja yang menidurkannya !!" ujar pria itu dengan lirih....
...Pria itu menina bobokan bayi Hanna yang bernama Hwan, di pundaknya. Dengan sikap yang lembut, pria itu mengayunkan tubuhnya perlahan ke kiri dan ke kanan dengan sambil menepuk nepuk punggung bayi Hwan dengan lembut....
...Hanna mengusap pelipisnya yang nampak basah karena keringat dengan tangannya, lalu ia mengambil segelas air putih yang berada di atas nakas, lalu meminumnya....
...Setelahnya, Hanna berjalan menghampiri pria itu dan melihat dengan seksama wajah bayinya yang kini sudah menutup matanya di pundak sang pria....
..." Dia sudah tidur " bisik Hanna di telinga pria itu....
Hanna terbangun dari tidurnya tepat saat jam di dinding menunjukkan pukul 02.00 wita.
Peluh bercucuran di pelipisnya. Dalam hitungan detik ia kemudian tersadar lalu mengucapkan kalimat "astagfirullah" sambil menarik nafas dan menghembuskan dengan perlahan. Lalu seketika ia merasa lega saat kedua netranya terfokuskan pada sebuah foto yang bertengger di dinding di seberang ranjangnya. Sebuah foto yang sangat besar dimana potret dirinya, Siwan dan buah hatinya terpampang pada sebuah pigura berukuran foto 20 R.
Ia merasa lega karena ternyata apa yang menghiasi mimpinya beberapa menit yang lalu hanyalah sepenggal kisah masa lalunya, mimpi yang merupakan dejavu saat detik-detik pertemuan antara dirinya dan kekasih hatinya akan terjadi pada hari itu. Hari dimana saat ia memutuskan untuk hanya berlibur di Pulau Bali bersama para sahabat dan anak tercintanya. Dan sudah bisa do pastikan bahwa pria yang bersamanya di dalam mimpinya baru saja adalah Rayhan.
Hanna turun dari ranjangnya setelah ia sempat menenggak segelas air putih yabg tersedia di atas nakas.
Ia berjalan menuju kamar mandi dan mencuci wajahnya. Kemudian ia keluar setelah mengelapnya dengan handuk.
Hanna kini berjalan menghampiri sebuah sudut di ruang kamarnya, menatap dan menghampiri sesosok tubuh mungil yang tengah asyiknya bermimpi dalam tidurnya.
Hanna duduk perlahan di atas ranjang kecil Hwan. Ia mengelus wajah putra tercintanya, mencium keningnya lalu membenarkan selimut yang sudah tak menyelimuti tubuh mungil anaknya itu.
"Wajahmu, mirip sekali dengan papa mu, Hwan. Aku sangat merindukannya, " ucap Hanna. Lalu terbaring di samping anaknya, memeluknya dan kembali tertidur bersamanya.
...****...
...Suatu hari di waktu senja, Hanna sedang duduk di sofa sambil meng-Asi-hi bayi Hwan di sebuah ruang keluarga yang jendela sampingnya besar dan mengarah pada halaman luar yang merupakan sebuah taman yang nampak asri dan teduh....
...Berbagai jenis tanaman hias, bunga - bunga serta kolam ikan kecil dengan air mancur turut serta menghiasi taman yang cukup luas itu. Dan, terlihat dari kejauhan, ada sebuah rumah pohon yang cukup tinggi dengan dua jenis tangga sebagai akses untuk naik menuju rumah pohon itu. Tangga kayu dan tali jaring outbond atau cargo net jembatan tangga....
...Sebuah rumah pohon yang berukuran sedang, cukup untuk 4 hingga 5 orang anak bermain di atasnya ataupun tidur dan berkemah di sana....
...Saat sedang melamun, tiba - tiba bayi Hwan menggigit p*t*ng pay*d*ra miliknya....
..." Aww... " Hanna menjerit karena merasa sakit dan terkejut, begitu juga dengan bayinya, wajah Hwan nampak terkejut mendengar jeritan ibunya hingga ia melepaskan mulutnya dari PD ibunya dan menatap ibunya dengan ekspresi sedih dan hendak menangis....
..." Astagfirullah, sayang... maaf, bubu kaget, maaf yaa.. " Hanna berusaha menenangkan bayi Hwan agar tidak menangis gara - gara kelakuannya....
..." Ciluk... baa.... " Hanna menggoda bayi Hwan....
...Dan akhirnya sang bayi tercintanya pun tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang terlihat mungil namun masih tajam. Ke 8 giginya, 4 gigi atas dan 4 gigi bawah akhir - akhir ini lebih sering aktif menggigit PD miliknya, biasanya bayi melakukannya karena dia merasa kesakitan atau gatal saat gigi yang lainnya akan tumbuh kembali....
..." Coba bubu mau lihat mulutnya... apa Hwanku mau tumbuh gigi lagi, coba aaaa.... " ucap Hanna mengajak bayinya berinteraksi....
..." Ayo... lihat, bubu mau lihat lagi coba mana gigi kelincinya yang lucu, aaaa.... " Hanna membuka mulutnya lebar - lebar mencoba memberitahu Hwan agar mau membuka lebar - lebar mulutnya seperti dia....
...Tiba - tiba dari belakang seorang perempuan yang sudah berusia lanjut berjalan terpatah - patah mendekat padanya dengan di bantu oleh tongkat sebagai alat bantuannya ketik berjalan....
..." Kenapa Han ?" tanya ibu itu yang kini sudah duduk di samping Hanna dan Hwan....
..." Ini bu, aku kaget, Hwanku menggigit lagi, sepertinya giginya ada yang mau tumbuh lagi nih " jawab Hanna sambil mengancingkan bajunya....
...Kebiasaan para ibu - ibu kadang setelah menyusui lupa mengancingkan baju mereka, seolah dengan sengaja mengumbar PD mereka yang terlihat lebih indah kala cairan Asi membuatnya semakin mengembang....
..." Cucuku semakin besar semakin pintar ya, mau tambah gigi lagi biar cepat - cepat bisa makan daging steik yaa... aih... lucunya " ucap ibu tersebut yang tertawa melihat bayi Hwan tersenyum dan mencoba menjawab ucapan ibu itu, dengan suara - suara kecilnya yang menggemaskan. Seperti sedang mencoba berkomunikasi bersama wanita lanjut usia di hadapannya kini....
Dia adalah bu Shinta. Ibunya Siwan, ibu mertua Hanna dan neneknya Hwan.
Flashback
Dua hari yang lalu, setelah Siwan menghubunginya lewat vodeo call di pagi hari, Hanna kembali mendapatkan sebuah panggilan telepon dari seseorang.
Dan dia adalah salah seorang pengurus panti yang menemani bu Shinta di rumahnya di lokasi sekitar panti. Hanna di beritahukan bahwa mertuanya sakit dan sempat jatuh di kamar mandi dan sedang di bawa ke rumah sakit terdekat.
Pagi itu juga Hanna langsung bergegas menuju sebuah kota dimana ibu mertuanya berada, bersama bi Asih, bi Lastri, Elas dan Hwan anaknya, di antarkan oleh Bram sang supir pribadinya.
Ternyata bu Shinta mengalami tekanan darah tinggi, namun ia masih bisa pulang ke rumah dan berobat jalan, tidak di rawat di rumah sakit.
Hanna sempat khawatir dan ingin memberitahu suaminya tentang kondisi ibunya, hanya saja bi Shinta melarangnya. Ia tidak ingin mengganggu urusan anaknya yang masih berada di Seoul saat itu.
Hanna menurutinya, namun saat malam harinya tiba, karena merasa tidak enak hati, ia pun akhirnya berterus terang pada Siwan tentang kondisi ibunya saat ini.
Kembali pada kejadian hari ini...
...Saat mereka bertiga sedang bercengkerama, seorang pria datang mendekat dari arah samping mereka dan mengucapkan salam....
..." Assalamualaikum !!"...
..." Waalikum salam !!" jawab Hanna, lalu tersenyum sangat lebar ke arah pria itu....
Pria itu tentu saja pria yang sedang ia nantikan kehadirannya. Pria yang sangat ia cintai dalam hidupnya saat ini. Pria yang menjadi ayah dari anaknya Hwan. Dia adalah Siwan.
Siwan berjalan semakin mendekat padanya dengan senyuman yang begitu merekah. Tersirat di wajahnya rasa bahagia karena kembali bertemu dan berkumpul bersama orang-orang terkasihnya.
"Ibu, bagaimana kondisi ibu saat ini? "
Siwan lebih dahulu menghampiri ibunya dan memeluknya.
"Aku baik-baik saja, jangan cemaskan aku," jawab bu Shinta lalu melepaskan pelukan anaknya.
"Istrimu pasti memberitahumu kan kemajuan kesehatanku dua hari ini, jadi kau tidak usah khawatir," bu shinta melirik ke arah Hanna sesaat sambil tersenyum.
Hanna merasa kikuk, karena ia ketahuan mengingkari janjinya pada ibu mertuanya yamg sudah memintanya untuk merahasiakan tentang kondisi kesehatannya. Namun pada kenyataannya Hanna tidak bisa menahan mulutnya untuk tidak memberitahu suaminya. Daripada nanti suaminya marah padanya saat pulang dan suasana menjadi tidak enak, yang harusnya bercengkerama penuh haru kerinduan menjadi kikuk karena adanya sedikit amarah yang menyelimuti hati suaminya, jadi lebih baik saat itu juga Hanna memberitahu Siwan semua yang terjadi pada ibunya hari itu.
Setelah menyapa ibunya, Siwan lantas beralih memeluk istri dan anaknya.
"Aku merindukan kalian," ucapnya lalu mencium Hwan yang kini sedang merengek ingin di gendong oleh papanya.
Setelah dua pekan lamanya Siwan pergi, akhirnya ia kembali bercengkerama bersama keluarganya.
Selama beberapa hari mereka tinggal di kediaman bu Shinta karena ingin menjaga ibu mereka disana, yang tidak ingin pergi kemana-mana. Bu Shinta tidak mau di ajak pergi dan tinghal di kediaman Siwan. Ia lebih senang tinggal di panti di kelilingi oleh banyaknya orang terutama anak asuhnya yang masih kecil.
Siwan dan Hanna pun mengalah, menuruti kemauan ibu mereka. Padahal bu Shinta sendiri sudah meminta anak dan menantunya untuk tidak khawatir dan segera pulang saja karena bu Shinta tahu Siwan harus kembali di sibukkan oleh pekerjaanya di kota tempat tinggalnya.
Selama di panti, selesai mengurus suami, anak dan ibu mertuanya, dengan bantuan bi Lastri, Hanna selalu membawa Hwan bermain di panti bersama anak-anak asuh yang ada di sana. Ikut membantu mengurus keperluan anak-anak bersama para pengurus panti, ikut mengajar les, ikut mengerjakan membuat kerajinan tangan yang nantinya akan di pasarkan ke toko-toko souvenir di salah satu pusat perbelanjaan para turis asing maupun domestik. Dan juga ikut belajar kesenian khas Bali terutama tari Bali.
Hanna mulai tertarik dengan segala seuatu yang menyangkut karya seni Bali terutama musik dan tariannya. Di panti memang lah ada sebuah sanggar dimana ada seorang pelatih yang bertugas mengajar tari bali pada anak maupun remaja disana. Hanna begitu menikmati kesehariannya di sela waktunya bercengkerama bersama keluarganya. Ia benar-benar merasa harinya kini semakin menyenangkan, apalagi Siwan sangat mendukung apapun keinginannya.
Lalu, Siwan sendiri selama berada di kota tersebut, selesai sarapan dan bermain bersama anaknya, ia menyempatkan diri berkeliling kota bersama asisten barunya, Tio.
Tio bukan orang baru sebetulnya, hanya saja tugasnya kini merangkap menjadi asisten di samping tugas utamanya menjadi bodyguard. Siwan mulai memberinya kembali kepercayaan, karena ia tidak bisa selamanya mengandalkan Aji berada terua di sampingnya. Aji pun kini tengah di sibukkan oleh tugas-tugas yang ia berikan.
...****...
Dua hari kemudian...
"Bu, kami pamit, aku harus kembali karena harus menangani beberapa proyek di kantor, setelah melihat kondisi ibu yang semakin baik, aku merasa tenang sekarang, " ucap Siwan.
"Kalian pulang saja, ibu kan tidak melarang kalian pergi, kalian jangan terlalu mengkhawatirkanku, " jawab bu Shinta.
"Bu, tolong pikirkan kembali tawaran mas Siwan kemarin, aku dengan senang hati mau tinggal dan mengurus ibu juga, jadi tolong pikirkan kembali bu, tinggallah bersama kami, " sela Hanna.
"Iya, baiklah, beri aku waktu untuk menyerahkan kepengurusan panti ini pada orang-orang yang bisa kupercaya, dan lagi, aku memberi kalian waktu untuk menikmati waktu sebagai pasangan pengantin baru," bu Shinta mengedipkan sebelah matanya pada Hanna.
Hanna pun tahu apa maksud dari ucapan ibu mertuanya itu.
Beberapa hari yang lalu mereka sempat mengobrol tentang lokasi mana saja yang ingin masing-masing kunjungi bersama keluarga. Terutama Hanna. Sejatinya ia belum pernah berbulan madu bersama suaminya.
Begitu banyaknya tempat yang ia kunjungi di Pulau Bali saat itu, tidak terselip pikiran sedikitpun untuk berbulan madu keluar negeri, karena pesona keindahan di Pulau Bali sendiri pun sudah mampu menyihir pikirannya untuk menyentuh keindahannya secara langsung lewat panca inderanya.
Hari itu Hanna dan ibu mertuanya berdiskusi tentang tempat-tempat baru yang sering di kunjungi para wisatawan terutama para artis ibu kota. Karena Hanna sering melihat lewat postingan foto dan story instagrem para artis yang sedang berlibur di beberapa kota di Pulau Bali.
Setelah berpamitan pada bu Shinta pagi itu, Siwan dan keluarganya pergi meninggalkan kediaman ibunya yang berada di lokasi panti asuhan yang sudah puluhan tahun menjadi tempat berteduh ibunya itu. Begitu banyaknya kenangan yang terukir disana membuat bu Shinta masih enggan melangkahkan kakinya untuk benar-benar pergi dari ruang lingkup kehidupan di panti. Dan Siwan maupun Hanna bisa memakluminya.
Akhirnya Siwan dan keluarganya kembali menuju tempat tinggalnya di salah satu sudut kota Denpasar. Mereka harus kembali melanjutkan hidup dan tugas mereka sebagi umat manusia yang di berikan tanggung jawab begitu besar dalam kelangsungan hidup beberapa insan. Siwan harus kembali bekerja dan mengambil alih kursi yang selama ini sementara di gantikan oleh Aji.
Sesampainya di kediamannya.
Siwan turun dari mobil sambil menggendong Hwan yang sudah terkulai lemas dalam dekapannya. Sepanjang perjalanan, anaknya Hwan tidak tertidur, ia begitu sibuk bercengkerama bersama Siwan di dalam mobil bersama mainannya, dan saat mereka tiba di lokasi tujuan, barulah Hwan merasa lelah dan tertidur.
Siwan menidurkan Hwan di atas ranjang kecil di dalam kamarnya.
Setelah itu Siwan menghampiri istrinya yang sedang sibuk membersihkan wajah dan bersiap untuk mandi.
"Kau mau mandi?" Siwan memeluk Hanna dari belakang sambil mencium tengkuk lehernya.
Gelenyar aneh kembali di rasa oleh Hanna. Dadanya kembali berdegup dengan kencang karena mendapat kembali sentuhan dari tangan pria yang selalu membuat tubuhnya bereaksi diluar kendali.
Hanna tersenyum lalu menganggukkan kepalanya pelan, sekuat tenaga ia menahan sesuatu dan menutup rapat mulutnya agar tidak mengeluarkan suara yang dapat memancing ***** suaminya.
"Apa kau sudah selesai hari ini? " tanya Siwan kembali sambil tangannya terus menjelajah setiap lekuk tubuh istrinya itu. Menggodanya selagi mereka berdua tanpa ada gangguan.
"Belum, kau masih harus berpuasa," jawab Hanna sambil terkekeh.
Ekspresi Siwan kembali membuat Hanna tertawa lepas. Siwan kembali harus menelan ludahnya. Selama satu minggu mereka kembali bersama, dan bertepatan dengan jadwal istrinya itu kembali di datangi oleh tamu bulanannya. Kasihan.