My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Siapa nona itu...



Pukul 16.00 wita, Hanna masih sibuk dengan pekerjaannya di gudang.


Rama kembali masuk ke dalam gudang dan mengganggu konsentrasi Hanna yang sedang mengecek lembaran list kode barang yang ada di sana.


" Hanna, kenapa belum pulang, sudah jam 4 loh, sudah, besok saja lanjutkan lagi !!" seru Rama.


" Ah... aku tidak sadar pak, aku terlalu fokus pada pekerjaan ku !!" ucap Hanna.


" Sudah sana, tinggal sedikit lagi kan, besok lagi saja ya... !!" seru Rama kembali.


" Baik pak !!" jawab Hanna.


Setelah keluar dari gudang, ia kemudian menuju loker untuk mengabsen jam pulangnya dan mengambil tas dan hp di lokernya.


Saat keluar dari toko, Hanna berjalan hendak menuju halte bus. Namun, dari arah parkiran motor, seseorang berteriak memanggil namanya.


" Hanna... " pria itu melambai kan tangannya.


Hanna menghentikan langkahnya, " bli... " ucap Hanna.


Aji terlihat sedang mengendarai motor matic milik Hanna. Ia menghampiri Hanna.


" Kenapa baru pulang ? aku menunggumu dari jam 3 lho... " ucap Aji.


" Maaf, aku sangat sibuk di gudang, tidak ingat jam pulang !!" ucap Hanna.


" Yasudah, ayo pulang, aku udah bawa motormu ke bengkel tadi, dan... bensinnya sekarang full, tahu tidak... " ucap Aji dengan senyuman penuh arti, mencoba menggoda Hanna.


" Terima kasih banyak ya, bli !!" ucap Hanna dengan datar.


Aji seperti nya paham kalau Hanna sedang kesal saat itu.


" Kenapa lagi dia, atau mungkin dia hanya lelah setelah bekerja lembur ?" ucap Aji, bertanya - tanya di dalam pikirannya.


Aji pun menyerahkan helm pada Hanna, dan Hanna menerima nya, lalu memakainya tanpa banyak pertanyaan. Dan, Hanna pun mulai naik ke boncengan belakang motornya.


Tanpa berlama - lama, Aji pun menyalakan motor matic itu, lalu melaju menuju arah yang telah di tentukan, menuju rumah Hanna.


Sepanjang perjalanan pulang, Hanna hanya diam tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya melamun sambil menikmati semilir angin yang menerbangkan rambut panjangnya yang terurai.


Aji nampak masih begitu bertanya - tanya sendiri, tentang apa yang Hanna rasakan saat ini.


Sesampainya di halaman rumah, Aji pun mulai bertanya pada Hanna.


" Mau langsung masuk garasi ?" tanya Aji.


" Iya, masukkan saja !!" seru Hanna.


Tanpa banyak bertanya lagi, Aji pun mendorong motor Hanna hingga masuk ke dalam garasi kecil yang telah di buka kuncinya oleh Hanna.


Selesai memarkirkan motornya di garasi, Aji pun pamit pulang. Dan Hanna hanya menunduk tanpa berkata sepatah kata pun.


Saat Aji baru selangkah meninggalkan Hanna, ia menghentikan langkahnya dan kemudian berbalik menghampiri Hanna kembali lebih dekat.


" Hanna, ada apa ? kau bahkan melupakan jadwal latihan karate mu !!" ucap Aji dengan raut wajah khawatir.


" Ya ampun... maaf bli, aku lupa, sungguh... " jawab Hanna.


" Kau kenapa ?" tanya Aji.


" Aku, benar - benar lelah, baru masuk kerja sudah banyak tugas di konter, bli... maaf, mungkin beberapa hari ini aku sangat sibuk, jadi aku tidak bisa latihan dulu " ucap Hanna.


" Tidak apa, aku tidak mau kau sakit, jaga dirimu ya, meskipun sedang sibuk, jangan telat makan yaa !!" ucap Aji.


" Baik bli, terima kasih " ucap Hanna, lalu pergi meninggalkan Aji sendirian, masuk ke dalam rumahnya.


Aji masih mematung menatap ke arah pintu rumah Hanna.


" Kau bahkan tidak bertanya tentang kekasihmu, kau kenapa sebenarnya ?" gumam Aji.


Hingga saat hpnya bergetar, Aji pun tersadar dari lamunannya.


Di layar hpnya tertulis nama Siwan mencoba menelponnya.


" Hallo kak... " ucap Aji pada Siwan di sebrang Sana.


" Aku sudah mengantarnya pulang, dia pulang jam 4, dia bilang lembur, sedang banyak pekerjaan" ucap Aji.


" Tidak kak, dia bahkan tidak banyak berbicara mungkin dia sedang lelah " ucap Aji.


Dan, saat bunyi tut... pertanda percakapan di telepon nya di akhiri. Aji pun kembali memasukkan hpnya ke dalam saku celana jeans nya dan pergi meninggalkan rumah Hanna.


Di sisi lain...


Siwan yang berada di depan toilet sebuah restoran nampak sedang menelpon seseorang.


" Hallo, Ji, bagaimana ?" tanya Siwan.


" Apa dia bertanya aku sekarang di mana ?" tanya Siwan kembali.


" Baiklah, terima kasih " ucap Siwan, lalu memutus sambungan teleponnya dan berjalan menghampiri sebuah meja di restoran tersebut.


Siwan duduk di sebuah kursi pada salah satu meja yang ada di restoran tersebut, di hadapan seorang wanita cantik berparas Asia.


Berdialog bahasa Korea..


" Oppa, aku punya sesuatu untukmu " ucap wanita cantik itu, lalu menyerahkan satu paper bag berisi dua kotak, 1 kemeja dan 1 sweater bermotif simple dan elegan.


" Kenapa memberiku ini ?" tanya Siwan.


" Aku hanya ingin memberimu sesuatu, kau sudah baik padaku, ini hanya hadiah kecil !!" ucap wanita itu.


" Seo Jihye, apa kau tidak paham perkataanku, tolong, berhenti berharap padaku, aku tidak bisa memberikan kesempatan padamu !!" ucap Siwan dengan tatapan dingin.


" Oppa, aku tahu, aku hanya berterima kasih karena kau sudah repot - repot mengurus liburanku di sini, ya.. meskipun lewat anak buahmu, tapi aku senang kau perhatian padaku, jadi... terimalah !!" ucap Seo Jihye. Meskipun hatinya merasa terluka kembali, namun ia tetap tersenyum di hadapan Siwan.


Siwan pun dengan terpaksa menerima dan mengambil paper bag yang di berikan oleh Seo Jihye.


" Seseorang membantuku memilihnya, bahkan dia tahu ukuran baju yang sering kau pakai, aku pikir kau pasti akan suka dan itu sangat cocok dengan karaktermu !!" ucap Seo Jihye.


" Se-seorang... " ucap Siwan dengan wajah penasaran, kedua alisnya bertemu dan menatap Seo Jihye yang sedang bercerita tentang Hanna yang dia temui tadi di departemen store.


" Ah... aku bahkan lupa tidak bertanya namanya, tapi dia bilang teman dekat Aji, makanya dia mengenalmu, jadi aku tidak heran, karena dia bilang selalu menolong Aji berbelanja baju untukmu, makanya dia tahu ukuran bajumu, apa dia juga tahu ukuran perdalamanmu... Hihihi... " ucap Seo Jihye tertawa, mulutnya di tutup oleh sebelah tangannya.


Siwan menatap Jihye dengan tajam, ia seperti tidak suka melihat tawa terukir di wajah Jihye saat itu.


" Kau belanja di mana tadi ?" tanya Siwan.


" Kalau tidak salah, di salah satu departemen store dekat sini, yang di sampingnya ada toko buku besar dan... " ucapan Jihye terhenti saar tiba - tiba Siwan berdiri dari kursi nya dan pergi meninggalkan Jihye yang sedang berbicara, ia bahkan meninggalkan hadiah yang di berikan oleh Jihye di atas meja.


" Oppa... kau mau kemana... ?" tanya Jihye menatap punggung Siwan.


Dia pun terburu - buru menyusul Siwan setelah sebelumnya mengambil paper bag hadiah untuk Siwan yang di tinggalkan di atas meja.


Sesampainya di depan mobil, Siwan terlihat sudah akan masuk ke dalam mobilnya, hanya saja Jihye mencegahnya dan menarik lengannya.


" Oppa, kau mau kemana ?" tanya Jihye.


" Pulanglah dengan supirmu, aku ada urusan penting !!" ujar Siwan.


" Baiklah, tapi ini, tolong terima lah... " Jihye masih berjuang agar Siwan mau menerima hadiah darinya. Dia menarik tangan Siwan dan menyerahkan paper bag itu secara langsung pada tangannya.


Siwan nampak terlihat kesal, tapi dia menerima hadiahnya dengan terpaksa, lalu masuk ke dalam mobil, menyimpan paper bag tersebut di kursi sampingnya, menyalakan mobil dan pergi meninggalkan Jihye sendirian di parkiran.


Jihye yang tidak tahu apa - apa merasa keheranan dengan sikap Siwan. Ia lalu menghampiri salah satu mobil yang ada di parkiran sana lalu masuk ke dalamnya.


" Pak, tolong ikuti mobil tuanmu, aku harus menyerahkan sesuatu yang penting padanya... " ucap Jihye dengan bahasa inggris.


" Sekarang... ?" ucap sang supir.


Jihye nampak terbelalak, " iya sekarang... cepat nyalakan mesin mobilnya !!" pinta Jihye.


Lalu, tidak lama kemudian mobil mereka pun melaju meninggalkan restoran.


Mereka nampak kehilangan jejak, bahkan mereka terjebak lampu merah, namun, untungnya dari kejauhan Jihye melihat mobil Siwan berada di deretan paling depan dekat dengan zebra cross.


Jihye menunjuk ke depan, memberitahu pada sang supir bahwa mobil Siwan ada di depan terhalangi beberapa mobil di depan mereka.


Saat lampu hijau menyala, Jihye dan sang supir masih mengikuti mobil Siwan dari kejauhan. Hingga saat mobil Siwan berhenti di sebuah halaman rumah, Jihye melihat Siwan lewat jendela mobil, dia sedang berdiri di depan pintu sambil memencet tombol bel rumah.


Namun, lama kelamaan karena tidak ada yang kunjung membukanya, Siwan terlihat memencet pasword pada gagang pintu lalu masuk ke dalam rumah itu.


" Rumah siapa ini " gumam Jihye dengan bahasa Korea.


" Pak, apa ini juga rumah Siwan ?" tanya Jihye pada sang supir dengan bahasa inggris.


" Tidak tahu nona !!" jawab sang supir secepat kilat.


Perasaan sang supir berkecamuk, kalau sampai Siwan tahu mereka mengikuti nya dari belakang, bisa di pecat dia oleh Siwan. Di sisi lain, dia di tugaskan untuk menemani Jihye pergi kemanapun yang ia mau, tapi di sisi lain, ia merasa bersalah karena menuruti kemauan Jihye membuntuti Siwan hingga ke rumah Hanna berada.


Ya, sang supir sebenarnya tahu, rumah ini di huni oleh siapa, dan apa hubungan nya dengan Siwan, dia sangat tahu bahwa penghuni rumah ini adalah kekasih bosnya, wanita yang di cintai dan selalu di lindungi oleh bosnya saat ini.


" Nona, sebaiknya kita pergi saja, kalau sampai bos tahu, bukan hanya saya yang di marahi, mungkin nona Seo pun akan di benci oleh tuan " ucap sang supir dengan bahasa inggris.


Jihye semakin penasaran, sebetulnya Siwan masuk ke rumah siapa saat ini.


" Oke, kita pulang saja !!" ucap Jihye.


Mobil yang di tumpangi oleh Jihye pun pergi meninggalkan lokasi rumah Hanna.


Sang supir terlihat membuang nafas setelah sebelumnya ia hampir tidak bisa bernafas karena merasa ketakutan. Takut Seo Jihye turun dari mobil dan menyusul Siwan menuju rumah Hanna.


...*****...


Siwan berkali - kali memencet bel rumah Hanna dari luar, namun tidak kunjung di bukakan pintu oleh penghuni rumah. Ia pun memecet beberapa tombol untuk membuka pintu rumah yang menggunakan pasword tersebut.


Pintu pun terbuka, Siwan langsung masuk ke dalam rumah. Ia melihat sekeliling nampak kosong, dan berjalan terus menuju kamar Hanna.


Namun, di kamar pun terlihat kosong. Matanya berkeliling sesaat dari sudut satu ke sudut lainnya, masih mencari keberadaan kekasihnya itu.


Hingga, dari belakang, seseorang memanggilnya dan membuatnya terkejut.


" Ahjussi... "


Siwan langsung berbalik dan menatap sosok yang berdiri di hadapannya kini.


" Chagiya, kau... baru selesai mandi ?" tanya Siwan yang melihat Hanna hanya mengenakan sehelai handuk pendek di atas lutut.


" Iya, kenapa ?" tanya Hanna.


" Ah... tidak, kalau begitu aku akan menunggumu di ruang tv " ucap Siwan.


Hanna masuk ke dalam kamarnya dan terduduk di atas ranjang. Ia menundukkan kepalanya dan menahan wajahnya dengan kedua tangannya.


Perasaannya sedang tidak dalam kondisi yang baik. Ia sampai tidak tahu harus berbuat apa saat berhadapan dengan Siwan setelah ini.


Di sisi lain, ia sangat ingin tahu siapa nona Seo sebenarnya bagi Siwan, tapi, di sisi lain, ia tidak mau terlihat begitu rapuh di hadapan kekasihnya itu. Ia tidak mau memperlihatkan kesedihan dan api cemburu yang sedang menjalar di sekujur tubuhnya.


Beberapa menit kemudian, Hanna yang baru selesai berpakaian dan mengeringkan rambutnya pun terpaksa keluar dari kamar menghampiri Siwan yang sedang menunggu nya di sofa.


Tidak, Hanna tidak langsung menghampiri Siwan di sofa. Ia berbelok ke dapur dan menyiapkan satu teko teh hangat dan menyiapkan dua gelas di atas nampan dan membawanya ke ruang tengah.


Hanna tetap mencoba menebar senyuman manis di wajahnya. Padahal di belakang itu, ia sedang menahan rasa kesal dan amarahnya terhadap Siwan.


Hanna menuangkan teh hangat pada dua gelas yang ia bawa tadi dari dapur, yang satunya ia letakkan di atas meja depan Siwan dan satunya lagi ia pegang di tangannya dan ia teguk perlahan.


Siwan tahu, Hanna sedang berbanding terbalik dengan wajah yang ia perlihatkan di hadapan Siwan saat itu. Ia pun hanya menunggu hingga Hanna mulai membuka suara dan memulai percakapan di antara mereka.


" Ahjussi, minumlah... hangatkan badanmu dulu, sore ini cuaca sangat dingin !!" ucap Hanna.


Siwan pun menurutinya. Ia mulai menyeruput secangkir teh hangat di hadapannya. Ia mencoba menghangatkan diri dari suasana yang dingin dan menusuk di sekitarnya.


Percayalah, wanita lebih terlihat menyeramkan saat ia diam dab menahan amarahnya, di bandingkan dengan wanita yang langsung marah - marah tidak jelas di depan pria dan mengungkap kan kekesalannya sampai meneteskan air mata.


Mungkin poin kedua lebih bisa Siwan terima oleh akalnya, setidaknya ia akan tahu lewat setiap ucapan yang di lontarkan oleh Hanna dan dapat menangkap sinyal dengan cepat masalah apa yang sedang Hanna hadapi.


Namun, Hanna masih begitu hanyut dengan teh nya. Saat cangkirnya mulai kosong, ia kembali mengisi dengan penuh cangkir tersebut dan kembali menyeruput teh hangatnya tanpa kata - kata yang terlontar dari mulutnya.


Siwan hanya menelaah raut wajah kekasihnya dari samping, yang seperti tidak menghiraukan akan keberadaan nya di dekatnya.


Siwan tidak bisa terus menerus membiarkan hal ini terjadi, suasana yang mencekam di antara keduanya, ia tidak tahan lagi ingin mengungkapkan semua di depan kekasihnya, ia tahu betul saat itu pasti Hanna sedang salah paham padanya.


" Chagiya... " ucap Siwan.


Dan, tiba - tiba hp Hanna menyala, lalu Hanna lebih tertarik untuk meraih hpnha di banding menyahut Siwan yang memanggil namanya.


" Ahjussi, sudah masuk waktu sholat maghrib, aku mau sholat dulu !!" ucap Hanna, lalu menaruh hpnya dan berdiri dari kursi, berjalan meninggalkan Siwan menuju kamar mandi.


Selesai sholat, Hanna kemudian kembali ke dapur, bukannya menghampiri Siwan yang masih menunggu nya dengan penuh kesabaran.


Hanna menyiapkan makan malam di dapur, ia larut dalam balutan celemek dan memasak dua menu utama di dapur.


Siwan menghampiri Hanna yang masih sibuk di dapur.


Hanna yang mendengar langkah kaki Siwan pun berkata, " duduklah, sebentar lagi selesai... " ucap Hanna.


Namun, bukannya duduk di kursi meja makan, Siwan malah terus mendekat pada Hanna. Dan, Siwan memeluknya dari belakang.


" Chagiya... katakanlah, tidak usah kau tahan sendiri dalam hatimu, ungkapkanlah perasaanmu padaku, apapun itu !!" ucap Siwan.


Hanna terpaku selama beberapa detik setelah mendengar pernyataan Siwan. Ia pun mematikan kompornya dan melepaskan tangan Siwan yang melingkar erat pada tubuhnya.


Kini Hanna berhadapan dengan Siwan dan menatapnya, lalu bertanya, " Siapa dia ? siapa nona Seo Jihye itu ?" tanya Hanna.


Siwan terdiam beberapa saat. Ia hanya menatap Hanna dengan tatapan kosong di depannya.