My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
HANNA New activity



Keesokan harinya...


" Kak Ren, bangun, aku udah bikinin sarapan " Hanna mengguncang tubuh Reni perlahan.


" Hemh... ok... " Reni bangkit, sambil menguap dia menggeliatkan tubuhnya.


Hanna yang sudah rapih dengan seragam kerja barunya sudah terlihat cantik dan segar, bau sabun dan shampoo miliknya menyeruak hampir ke seluruh ruangan kost yang berukuran kecil itu.


Berbanding terbalik dengan Reni yang masih terlihat kusut dengan rambut acak - acakan dan piyama tidurnya yang sudah beringsut kusut masih menerap di tubuhnya.


" Kak, ih... jorok, cuci muka dulu sana " ucap Hanna yang sudah duduk di kursi depan meja mini bar area dapur.


" Ntar aja sekalian mandi lah, biar gak bolak balik hemat tenaga juga kali " jawab Reni, nyeleneh.


" Kak, aku pergi duluan ya habis sarapan, aku gak mau kesiangan nungguin kamu, hari pertama masuk aku gak boleh telat " ucap Hanna.


" Iya, serah loe deh, emh... dari pengkolan depan naik ojeg aja dulu, biar langsung nyampe depan kantor, liat - liat dulu kondisi lingkungan barunya gimana, setelah itu terserah mau pulang naek bus apa ojeg lagi " ucap Reni yang mulutnya penuh dengan nasi goreng buatan Hanna.


" Oke deh " jawab Hanna.


" Oiya, nanti pulang kerja kita temuin yang punya kostan, kenalan sama lapor dulu sama dia, kemarin aku udah lapor sih, cuma loe mesti kenalan sama dia " ujar Reni.


" Iya iya, aku tahu lah, akal - akalan kak Reni doang itu mah " imbuh Hanna.


" Hehe... ganteng tau, warga lokal yang tampan " sahut Reni.


" Dih, udah lupa sama prinsip mau dapetin bule yaa... " goda Hanna.


" Ah... realistis aja deh sekarang mah, aku gak muluk - muluk lagi, malah jadi jomblowati selama dua tahun gue, gara - gara milih - milih cowo mulu " jawab Reni.


" Good... gitu dong " Hanna mengacungkan jempol tangannya.


" Tapi kalo ada bule yang mau juga, gapapa deh, aku rela, hahaha... " Reni tertawa terbahak - bahak.


" Udah ah... aku pergi duluan ya, bye... " Hanna mengambil tas kerjanya yang sudah berada di meja dekat tv.


" Loe bawa kunci cadangan kan ?" teriak Reni pada Hanna yang sudah di ambang pintu hendak keluar.


" Yoi.... " Hanna memperlihatkan kunci di tangannya.


Setengah jam kemudian, Hanna sudah sampai di kantor pusat departement store yang berlokasi di perbatasan antara kota dan kabupaten. Gedung kantor pusat PT. Pratama Akur Mandiri itu terdiri dari 5 lantai dan dua gudang penyimpanan barang dan satu aula yang cukup besar yang sering di pakai oleh manajemen untuk training karyawan atau mengadakan seminar dan rapat karyawan tiap divisi.


Hanna yang sudah sampai di pintu masuk kantor itu langsung di sambut oleh salah seorang staff yang mengajaknya berkenalan lalu membawanya berkeliling dan memberitahu aturan - aturan yang ada di kantornya agar tidak membuang - buang waktu.


Namanya pak Eka, I Wayan Eka Pradana, namun dia minta di panggil sebagai pak Eka saja, bahkan Hanna sendiri sekarang di panggilnya bu Hanna. Semua karyawan di kantor pusat memang sudah terbiasa dengan panggilan pak dan bu, semua sama untuk semua divisi, kecuali paling untuk para petugas cleaning servis di kantor mereka.


Hanna di tempatkan di lantai 2 sebagai seorang staff Admin HRD.


Pagi Harinya ritual sebelum bekerja di kantor pusat sama saja seperti di tokonya, berdoa bersama sesuai agama dan kepercayaan masing - masing di aula. Setelah itu langsung bubar ke tempat kerja masing - masing.


Tidak ada loker karyawan, karena masing - masing sudah memiliki meja kerja sendiri yang di lengkapi komputer dan perlengkapan lainnya.


Di lantai dua, sebelum memulai pekerjaan, Hanna semua orang yang terdiri dari 3 orang wanita dan 4 orang pria berkumpul memperkenalkan diri pada Hanna yang notabene nya sebagai anggota baru di divisinya. Pak Eka merupakan atasan Hanna di lantai 2 di timnya.


Setelah memperkenalkan diri, Hanna dan rekan lainnya berjabat tangan. Barulah mereka mulai bekerja di kursi masing - masing.


Pak Eka masih berdiri di samping Hanna, memberinya arahan tentang apa saja yang harus di lakukan Hanna di hari pertamanya bekerja.


Setelah Hanna cukup memahaminya, pak Eka pun pergi ke dalam ruangannya.


" Sst.. Han, boleh minta no hp gak ?" tanya seorang karyawan laki - laki bernama Gusti.


" Ish... gak bisa banget ya liat yang bening bawaanya mau embat aja, udah sana kerja " sahut seorang karyawati bernama Susi.


" Udah bu Hanna, fokus kerja aja, pak Gusti gak usah di tanggepin ya, gitu tuh kalo kelamaan jomblo... " ucap bu Susi kembali.


Hanna hanya tersenyum malu mendengar ucapan Susi.


Hahahhaa.... suara tawa dari beberapa orang di lantai 2 membuat suasana tegang menjadi hangat.


" Hehe... mudah - mudahan aku betah kerja disini, mohon kerjasama nya ya... " ucap Hanna.


" Aku siap membantu " sahut Gusti.


Tak lama kemudian, sebuah notifikasi terdengar begitu nyaring di telinga para karyawan. Yang ternyata notifikasi dari grup chat karyawan pada layar komputer mereka masing - masing.


KERJA KERJA... Pak Eka Pradana


" Wuih... di tegor pak Eka nih pagi - pagi " ucap Gusti.


" Lu sih.. " Susi mengerling. Kebetulan meja Susi berdekatan dengan meja Hanna. " Eh... bu Hanna, udah masuk di grup loh, tinggal edit namanya aja, ganti sama nama bu Hanna ya " pinta Susi.


" Baik bu " Hanna pun mulai menyentuh mouse di mejanya dan mengoperasikan komputer di depannya mengedit namanya di grup chat yang berada di sudut layar komputernya.


Jam istirahat tiba...


" Makan di kantin yuk " ajak Gusti.


" Hayuk bu Hanna, bareng aku aja " bu Susi langsung menarik lengan Hanna yang sedang menggenggam dompet dan hpnya.


Hanna merasa tidak enak hati pada Gusti, dia melirik ke arahnya dan tersenyum sesaat lalu memalingkan kembali wajahnya dan mengobrol bersama Susi dan seorang karyawati bernama Amira.


Hanna, Susi dan Amira sudah duduk di meja mereka bersiap menyantap makanan di depan mereka, namun tidak lama kemudian datang Anton dan Gusti yang masih gigih untuk mendapatkan perhatian Hanna.


" Aish... meja masih banyak yang kosong kali ah " ucap Amira.


" Kan biar akrab, kita kan satu tim, iya gak... " ucap Gusti.


" Betul banget " sahut Anton.


Ketiga wanita itu hanya terkekeh melihat Anton si kutu buku yang hobinya membeli dan membaca buku kini mulai pandai menyahut ucapan Gusti. Anton memakai kacamata, karena saking hobinya membaca buku, dia agak menderita kelainan pada matanya.


Beberapa jam berlalu, pukul 15.00 wita, tiba saatnya bagi Hanna dan beberapa karyawan untuk pulang, kecuali pak Eka dan beberapa staff yang berkedudukan lebih tinggi di kantornya. Kadang para petinggi perusahaan pulang jam 18.00 wita bahkan lebih, saking banyaknya tugas mereka.


Hanna berjalan menuju halte bus yang berada beberapa meter di seberang gedung kantornya.


Saat bus tiba, saat naik ke dalamnya, Hanna bertanya pada sang supir bus, apakah busnya lewat atau berhenti di dekat alamat yang Hanna sebutkan. Dan untungnya bus memang berhenti di halte dekat area kostan Hanna yang baru.


Hanna duduk di kursi tengah yang nampak kosong, sendirian.


Dia merasakan lagi bau aroma dalam bus antara oli dan bensin serta pengharum ruangan yang bercampur aduk.


Setibanya di halte dekat kostannya, Hanna turun dan berjalan menuju rumah kostnya yang jalanannya agak menanjak ke atas.


Sesampainya di rumah, Hanna melihat suasana masih sepi di sekitarnya, mungkin penghuni lainnya juga masih belum pulang kerja atau kuliah. Karena Reni memberitahunya bahwa tetangga mereka semua merupakan karyawan dan mahasiswa.


Hanna masuk ke dalam setelah membuka sepatunya, menjinjingnya dan menaruhnya pada rak sepatu di pinggir pintu, di dalam rumah kostnya.


Hanna menuju ke dapur untuk mengambil segelas air putih dan lekas meminumnya.


Tak lama kemudian pintu rumah kostnya terbuka.


" Han, udah pulang ternyata " ucap Reni yang kepalanya menyembul di depan pintu masuk.


" Baru aja kak, belum lama kok " jawab Hanna.


Beberapa jam berlalu, kini Hanna dan Reni sudah berada di sebuah rumah yang tidak jauh dari lokasi rumah kost mereka.


Reni mengajak Hanna menemui pemilik rumah kost mereka untuk memperkenalkan Hanna dan memberinya laporan serta beberapa berkas milik Hanna.


" Om swastyastu... " Reni mengucapkan salam pada pria di hadapannya yang baru saja membuka pintu rumahnya.


Pria itu merapatkan kedua tangannya dan menyimpannya di dada sambil sedikit membungkuk dan menganggukkan kepala. Begitu juga dengan Reni.


Hanna di belakangnya hanya mengikuti gerakan mereka tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


" Waw... bening amat... pantes aja kak Reni antusias banget ngajak aku ke rumah ini " gumam Hanna.


" Ayo, silakan masuk... silakan duduk" ucap pria itu. " Sebentar ya saya ambilkan minum dulu "


" Tidak usah repot - repot bli, kami hanya sebentar kok !" ucap Reni.


" Tidak apa, sebentar ya " pria berwajah bening dan glowing itu masuk ke area rumahnya meninggalkan area ruang tamu dimana Hanna dan Reni berada.


Pria itu kembali dengan membawa satu keranjang air mineral cup dan satu toples camilan.


" Maaf, cuma ada ini, kalau saya tahu akan ada yang berkunjung, saya belanja dulu tadi sebelum pulang ke rumah " ucap pria itu.


" Aish... perhatian banget sih, udah cakep, lembut pula perlakuannya sama cewe, kaya pipi mulusnya, pasti lembut banget tuh " batin Reni sambil menatap wajah pria itu.


Hanna di sampingnya merasa malu sendiri melihat kelakuan Reni yang menatap pria itu dengan tatapan mesra.


" Ah, tidak apa - apa, tidak usah repot - repot bli, ini juga sudah cukup " jawab Hanna.


Dan Hanna pun mulai memperkenalkan dirinya dan mengutarakan maksud dan tujuannya datang ke rumah pria itu.


Pria yang ternyata bernama I Made Giri itu, yang mereka kini panggil bli Giri, merupakan pemilik rumah kost dan seorang seniman tatto dan karya seni lainnya di kawasan xxx di daerah setempat.


Selesai dari rumah pemilik kostnya, Hanna dan Reni pergi mencari makanan untuk makan malam di kedai terdekat sambil jalan - jalan sore itu.


" Han, loe belum ngabarin si Melly sama Teguh, ntar mereka khawatir loh... " ucap Melly.


" Nanti hari kamis mereka libur kan, kita ajak ketemuan aja yuk, tapi kak Reni yang ajakin mereka, penting gitu jadi wajib hadir !" Hanna nampak bersemangat.


" Okay bos, gue chat dulu sekarang ya " Melly pun sibuk mengetik pesan pada benda pipih di tangannya.


Sesampainya di kostan, Hanna dan Reni menonton tv sambil mengobrol sebentar seputar pekerjaan dan teman - teman baru do tempat kerja mereka.


Sebetulnya ada sesuatu yang ingin sekali Reni tanyakan pada Hanna, yaitu masalahnya dengan Siwan, namun Reni terus menahannya, meskipun mulutnya sudah berkali - kali terbuka, namun dia hanya bisa menganga dan lembali mengatup kedua bibirnya tanpa sepengetahuan Hanna.


Reni merasa dia tidak pantas bertanya masalah pribadi Hanna, kecuali kalau Hanna sendiri yang memulai pembicaraannya.


Lagipula, Hanna terlihat baik - baik saja, dia sudah cukup senang melihat temannya hidup baik - baik saja setelah putus cinta dan patah hati.