My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 Siwan with Hwan



Selesai mandi, masih mengenakan piyama dan membalut rambut basahnya dengan handuk, Hanna mengganggu Karina yang masih tertidur pulas.


"Heh, putri tidur, apa kau sedang menanti pangeran kodokmu datang lalu menciummu, hah !!" Hanna menjahili Karina dengan membuka selimut yang sedang ia pakai.


"Ih, dingin, pliss... gue masih pengen tidur !!" Karina menarik kembali selimut di tangan Hanna dan membalutkan kembali ke tubuhnya.


"Pliss Rin, kita kesini niat liburan, bukan pindah tidur," ucap Hanna.


"Suka - suka gue lah, udah ah, sana lu !" Kareina menendang Hanna yang masih duduk di atas ranjangnya.


Hanna hanya tersenyum melihat tingkah pemalas Karina.


"Dasar kaum rebahan, pantes aja masih jomblo, rezeki loe di patok ayam tau, padahal pagi tadi banyak bule yang olahraga di pantai, " mode jahil Hanna kembali tercetak.


"Biarin, di Bali bule berantakan, nanti gue datengin satu - satu, !" sahut Karina.


"Haisshhh... dasar anak satu ini, si lazy girl, " Hanna lantas memakai bajunya dan mengeringkan rambutnya sebentar dengan hairdryer.


"Aku turun ya, kalo kita tinggalin makan, loe jangan protes ! awas ya... " teriak Hanna di ambang pintu.


"Eh... bentar Han, loe, udah ketemu sama papanya Hwan belum ?" tanya Karina.


"Ya, gue tadi ketemu dia di pantai," jawab Hanna, "udah deh Rin, buruan bangun, mandi, kita cari sarapan, " sambung Hanna, lalu pergi meninggalkan Karina di dalam kamar.


"Hah... pantai... " Karina menggaruk kepalanya, seakan ada yang salah dengan jawaban Hanna, tapi dia langsung mengacuhkannya dan kembali merebahkan diri di atas ranjangnya.


Hanna masih mempercayai bahwa maksud Karina papa Hwan adalah Aji, karena ia menganggap ucapan Aji tadi di pantai adalah angin lalu hanya untuk menipunya.


Hanna turun ke bawah.


Rayhan dan Audrey pamit mandi dulu sebentar sebelum mereka mencari sarapan di luar.


Yasmin dan Gani masih menjaga kedua bocah - bocah yang masih asyik dengan mainannya.


"Ayo anak - anak, kita mandi dulu biar wangi... " Hanna menghampiri para kesayangannya, dia bercanda tawa setelah menggoda bayinya dan anak sahabatnya itu.


Seperti biasa, setiap pagi, sudah menjadi hal wajib bagi Hanna mengendus bau anaknya yang masih di tempeli oleh wewengian alamiah sang bayi


"Sini sayang, bubu belum cium kamu pagi ini, peluk bubu sini !" ucap Hanna, dan Hwan pun merangkak menuju ibunya dengan penuh semangat serta senyum manis.


Saat Hanna menciumi Hwan dengan gemasnya, tiba - tiba, raut wajahnya berubah 180 derajat. Dari penuh senyuman, menjadi kaku dan penuh curiga.


Ada sesuatu yang menusuk hidungnya, bau yang berbeda dari bau Hwan seperti biasanya.


Jelas sekali menempel di tubuh anaknya itu.


Seketika, Hanna mendudukkan kembali Hwan di lantai di dekat Jani. Kemudian Hanna mendekat pada Yasmin kemudian Gani, suami Yasmin. Hanna mendekati tubuh mereka dan mengendus bau yang ada pada tubuh maupun baju mereka.


"Lu apaan sih Han... bahaya tau depan istri gue kelakuan lu mesum begini !!" cerocos Gani, merasa kikuk dengan tingkah Hanna di depan istrinya.


"Iya, loe ngapain sih Hanna, lu nyium apaan sih, gue belum mandi emang bau banget yaa ?" Yasmin mencium bau ketiaknya sendiri.


"Sssst... diam, jawab jujur, pliss... tadi, siapa yang datang kesini ? terus peluk Hwan ?" tanya Hanna penuh selidik.


Deg... Yasmin dan Gani menjadi tegang. Karena ia tahu apa maksud dari pertanyaan Hanna.


"Pliss... jawab... apa bener dia kesini tadi ?" tanya Hanna.


"Makud loe siapa sih Hanna ?" Yasmin benar - benar merasa dilema, disisi lain ia tidak pernah mau membohongi sahabatnya, namun, disisi lain, alasan yang di ucapkan oleh Siwan padanya tadi memang ada baiknya.


Kalau Hanna dan Siwan bersatu dalam situasi seperti ini, sama saja membahayakan Hanna dan Hwan.


Yasmin, Gani, dan sahabat Hanna lainnya sufah tahu alasan mengapa Siwan tidak segera datang menemuinya karena Rayhan sudah dengan jelas menceritakannya sebelum kepergian mereka ke Bali, namun, mereka kurang menyetujuinya, mereka malah berkomplot untuk berusaha mempertemukan Siwan dan Hanna karena menganggap alasan Siwan itu sangat merugikan sepihak, yaitu Hanna.


Namun, saat Siwan sendiri yang menjelaskan situasinya pada Yasmin dan Gani tadi, akhornya keduanya bisa memahami apa maksud keegoisan Siwan selama ini.


Kembali pada Hanna...


"Katakan padaku ? apa benar, dia masih hidup ?apa benar, dia datang kemari menemui Hwan ? apa benar, dia adalah ayah kandung Hwan dan kalian sudah tahu semuanya ?" tanya Hanna, terus mencerca kedua sahabatnya.


"Dimana dia sekarang ? kenapa dia tidak mau menemuiku ?" sambung Hanna, semakin kebingungan.


Lalu Hanna bangkit, dan mulai mencari Siwan di setiap sudut villa.


"Haduh... dia udah kaya anjing pelacak aja, penciumannya tajam banget sih !" celetuk Gano pada istrinya dengan lirih.


"Itu namanya insting kali... kau jaga anaka - anak !!" Yasmin pun menyusul Hanna dan mengekori setiap langkahnya.


Hanna mondar mandir di dalam villa, menyingkap seluruh sudut yang memungkinkan menjadi tempat persembunyian Siwan.


"Hanna, pliss... loe jangan kaya gini Han, sabarlah dulu Han, ayo kita bicarakan dulu, " Yasmin menarik lengan Hanna.


"Dimana dia Yas, aku mau lihat dengan mata kepalaku sendiri kalau dia memang masih hidup, lalu, kenapa dia gak mau nemuin gue ? apa dia gak mau tanggung jawab sama gue kalau emang dia ayah Hwan, ayah kandungnya !!" Hanna berkata sambil berlinang air mata.


Yasmin mendekat dan memeluk Hanna, berusaha menenangkan sahabatnya yang di landa kesedihan dan kebimbangan yang tiada hentinya.


"Hanna, dia ada di villa sebrang, temui dia, kejar dia, minta penjelasan langsung sama dia, ayo, ku harap dia masih ada disana !!" Yasmin melepaskan pelukannya dan menatap Hanna dengan lembut.


"Ayo Han, temuin dia !!" ucap Yasmin.


Hanna langsung berlarian menuju pintu depan villa, namun, sebelum ia benar - benar melangkah keluar, ia kembali menoleh pada Yasmin dan Gani, "titip Hwan ya... !!"


"Of course, " Yasmin memberinya isyarat untuk melanjutkan langkahnya.


Hanan berlarian menuju villa seberang, dan sesampainya di depan pintu, ia mengetuk pintunya dengan tidak sabaran.


Dan, ketika pintu terbuka...


Lagi - lagi Aji yang berada di hadapannya.


"Dimana dia ?" tanya Hanna, lalu menerobos masuk ke dalam.


"Hanna, dia tidak ada disini," jawab Aji yang mengikuti Hanna dari belakang.


"Bohong, kau pasti bohong lagi kan !!" Hanna menoleh sesaat pada Aji kemudian melanjutkan pencariannya hingga ke lantai atas, membuka setiap kamar yang ada disana.


"Hanna, dia sudah pergi, dia sudah pergi beberapa menit yang lalu !!" ucap Aji.


"Kemana ?" Hanna kembali menoleh pada Aji.


"Aki tidak tahu, dia pergi dengan mobilnya sendirian tanpa memberitahuku," jawab Aji.


Amarah tercetak dengan jelas di raut wajah Hanna saat itu.


"Kenapa dia tidak mau menemuiku ? kenapa dia menghindariku ? kenapa ?" Hanna kembali emosi dan meninju dada Aji.


Aji hanya diam dan mematung di hadapannya.


"Kenapa kau tidak menjelaskannya padaku ? kenapa kau tidak memberitahuku kalau dia masih hidup ? kenapa kau tidak memberitahu kebenarannya dari dulu kalau dia ayah kandung Hwan, kenapa ?" Hanna kembali memukuli dada Aji dengan brutal. Aji terlihat menahan sekuat tenaga pukulan Hanna yang bertubi - tubi, namun ia tetap membiarkan Hanna berlaku seperti itu padanya karena rasa bersalahnya.


Setelah Hanna merasa lelah, dia pun ambruk ke lantai di depan Aji sambil menangis sejadinya.


Sungguh, hati pria mana yang tahan melihat kesedihan yang bercampur rasa kecewa seperti yang Hanna alami saat ini.


Aji pun langsung mendekap Hanna dalam pelukannya.


"Maafkan aku Hanna, aku selalu berusaha untuk mempertemukan kalian, tapi...." belum juga Aji melanjutkan perkataannya, seketika dia nampak panik.


Hanna pingsan.


Aji langsung mengangkat tubuh Hanna dan membaringkannya di atas ranjang karena kebetulan saat itu mereka berada di dalam kamar, kamar yang semalam Siwan tempati.


"Hallo, Hanna, dia disini, dia pingsan, bawakan minyak angin atau apa saja !" ucap Aji lalu menutup sambungan teleponnya.


Beberapa menit kemudian...


Aji mencoba membangunkan Hanna dengan mengoleskan minyak angin di beberapa titik wajahnya.


Saat Hanna membuka mata...


"Hanna, sadarlah... !" ucap Aji.


Hanna mencoba untuk bangkit, di bantu oleh Aji. Kemudian seseorang menyodorkan segelas air minum untuk Hanna. Setelah minum, barulah Hanna kembali bersuara.


"A Rey, kalian,..." Hanna melihat di sekelilingnya saat itu tidak hanya ada Aji, namun Rayhan, Audrey dan Karina pun ada disana.


"Hanna, loe belum makan, makanya loe pingsan, makan dulu yuk, kita udah siapin buat loe di villa," ucap Audrey.


"Hwan, apa dia rewel ?" tanya Hanna.


"Engga kok, dia barusan tidur lagi, habis di kasih susu sama si Gani trus di timang bentar langsung tidur," jawab Audrey.


Hanna pun menyingkap selimutnya dan berusaha untuk memakai sandalnya.


"Pelan - pelan Han, " Rayhan membantu Hanna untuk berdiri.


Karina pun memapah Hanna berjalan, takutnya Hanna masih pusing dan lemas.


Kini, Hanna dan sahabatnya serta Aji sudah berada di villa yang Hanna dkk sewa saat itu.


Hanna di paksa untuk makan oleh Yasmin dan Audrey, namun dia hanya menatap Hwan yang sedang tidur pulas di dalam kamar. Sedangkan yang lainnya sedang berkumpul di bawah, di ruangan tengah.


Rayhan, Aji, Karina dan Gani berdiskusi untuk melakukan langkah selanjutnya.


Nampaknya misi mereka sudah gagal sebelum waktunya.


Akhirnya, Yasmin berhasil membujuk Hanna untuk makan. Audrey pun membawakan makanan ke kamar Hanna karena ia fodak mau keluar dari kamarnya.


Selesai makan, Aji mencoba membujuknya agar mau bertemu dengannya dan berbicara berdua.


Aji masuk ke dalam kamar setelah Hanna membuka pintu kamarnya.


Saat itu, bayi Hwan nampaknya sudah bangun, ia sedang bermain di ataa ranjang di temani hanya oleh Hanna.


Aji pun masuk menyapa Hwan. Reaksi Hwan awalnya hanya datar, karena mungkin ia merasa asinv dengan wajah Aji. Namun, lama kelamaan, akhirnya Hwan mau di gendong oleh Aji.


Hanna hanya memperhatikan interaksi keduanya tanpa bersuara sedikitpun.


Kini, Hanna dan Aji sudah berada di taman belakang villa itu. Mereka menitipkan Hwan pada yang lainnya karena mereka berdua harus berbicara serius saat itu.


"Hanna, dia hanya takut kau dan Hwan celaka, semua demi kebaikan kalian, padahal faktanya dia begitu merindukanmu, juga Hwan, dia sangat bahagia mendengar bahwa akhirnya dia memiliki anak terlebih lagi anak itu darimu, dia sangat tidak bisa menahan rasa bahagianya, sebetulnya, kak Wan baru tahu kalau dia memiliki anak darimu semenjak dia selesai perawatan di Singapura," ucap Aji, kemudian Aji menceritakan awal mula bagaimana ia bisa tahu bahwa Siwan masih hidup, dan bagaimana dia menemukan Siwan dalam kondisi yang mengenaskan.


"Maka dari itu, sebelum dia berhasil menemukan musuhnya itu, siapa orang yang benar - benar berada di balik insiden ini, dia belum merasa tenang, dia takut melibatkan orang - orang yang dia sayangi terutama kau dan Hwan, " ucap Aji.


"Tapi, apa dia tidak bisa mengabariku lewat telepon atau video call, di zaman yang secanggih ini, apa kau pun tidak bisa melakukannya sejak beberapa bulan yang lalu ?" tanya Hanna dengan nada emosi.


"Maaf, karena aku lebih memahami apa maksud dari perintah kak Wan, dan maaf, aku tidak lebih memahami isi hatimu !!" ucap Ajo.


"Ck... kesetiaanmu padanya lebih mengalahkan hati nuranimu, " ucap Hanna, sinis.


"Hanna, bekerja sama lah denganku, percayalah padaku, bahkan akupun ingin kalian secepatnya bersama dan berbahagia, tapi tidak di bayangi oleh hal - hal buruk yang akan menimpa kalian di kemudian hari, kau pasti sudah tahu kalau Siwan orang yang di kelilingi oleh musuh dala. selimut, kau pun tahu itu, makanya sejak dia mengenalmu, dia selalu mengawasi dan menjagamu dari jauh maupun dekat tanpa ataupun sepengetahuanmu, karena dia tidak ingin kau celaka !!" ucap Aji.


"Jadi, meskipun begitu, dia tidak berniat menemuiku sama sekali ? lucu ya... aku seperti wanita yang di buang olehnya."


Nampaknya Hanna masih belum bisa menangkap apa maksud dari penjelasan Aji yang panjang lebar itu.


"Oke, baiklah, kalau begitu, lebih baik dia tidak usah bertemu denganku ataupun anaknya, demi keselamatan kita, begitukan maksudnya, kalau begitu aku tidak akan berharap lagi, dan aku tidak akan menunggunya, katakan padanya, tidak usah dan jangan pernah menemui ku dan Hwan selamanya," Hanna bangkit dari kursinya lalu pergi meninggalkan Aji sendirian di taman siang itu.


Aji menepuk keningnya...


"Aduh... makin rumit, tugasku semakin berat, huh... !!"


Hanna pun masuk ke dalam villa.


Sesaat, ia mendengar percakapan antara para sahabatnya di dalam saat mereka berkumpul.


"Gimana nih, hari terakhir katanya mau belanja kita, mana emak udah minta di beliin oleh - oleh, " ucap Audrey.


"Yaelah... klo gitu kalian berdua aja yang pergi (Audrey dan Karina), gue di rumah aja nemenin Hanna sama anak - anak, " sahut Yasmin.


"Tapi gue takut kesasar, gue gak hafal daerah sini, ntar belanjaan gue takut sengaja di mahalin sama penjual sini, tadinya kan kalo sama si Hanna gue gak khawatir, dia udah kenal Bali soalnya, " sela Karina.


Hanna pun masuk dan menyela percakapan mereka.


"Oke, kita belanja sore ini, kita jalan - jalan sampe puas !!" ucap Hanna.


"Eh... Han, serius loe, engga deh, kita cuma bercanda aja kok, hehe... iya kan Rey ?" Karina memberi isyarat pada Audrey agar sependapat dengannya.


"Iya Han, enggak kok, kita males kemana - mana lagian, cape gue !!" ucap Audrey.


"Yaudah, kalo gitu, gue sama Hwan aja yang pergi belanja, kalian diem aja di villa ampe bertelur !!" Hanna pun membawa Hwan ke kamarnya berniat mengganti baju Hwan untuk bersiap jalan - jalan.


Saat Hanna sudah di tangga para sahabatnya saling bertanya - tanya.


"Dia kenapa sih ?" tanya Audrey.


"Gak tau gue gak ngerti, tadi bukannya dia lagi bersedih ya," jawab Karina.


Aji yang sejak tadi berdiri di ambang pintu pun menyela.


"Dia marah, karena dia sudah tahu semuanya, dia marah karena kak Wan tidak mau menemuinya !" ucap Aji.


"Lalu, selanjutnya, kita harus gimana ini ?" tanya Yasmin.


"Yaa... kalian temani dia jalan - jalan saja, dia kalau sedang marah suka kalap menguras isi dompetnya !!" tegas Aji.


Audrey langsung melompat dari kursinya, "asyikk... Hanna, gur ikut, gue temenin loe ngabisin duit... " teriaknya.


"Gue juga Hanna, tungguuuu.... " Karina menyusul Audrey ke atas ke kamar mereka.


Rayhan dan Aji hanya tersenyum, sedangkan Yasmin dan Gani tepuk jidat melihat kelakuan sahabat mereka yang tidak bisa mengacuhkan bau - bau uang dan shopping.


"Rey, kalian pergi saja bersenang - senang, aku dan tim tetap akan mengawasi kalian dari dekat, kau tenang saja !!" ucap Aji.


"Besok, kami pulang jam 11, ku harap, masih ada waktu agar Siwan mau berubah pikiran," ucap Rayhan.


"Ku harap juga begitu," jawab Aji.


...****...


Masih belum waktunya...


Maafkan othor... jangan timpuk othor...


Kalian harus sabar, seperti othor yang sangat sabar dan tabah mengikuti kemauan otak dan jari - jari yang tak seirama, othor juga maunya mereka cepet - cepet ketemu, tapi apalah daya, faktanya tidak semudah itu ferguso...


Bye... see u next chapter


Love u all