
Tiga puluh menit sebelum Hanna pergi untuk memberi sureprise pada Siwan.
Aji yang baru selesai berlatih thai boxing di salah satu ruangan yang ada di gedung fitnes and health center, meraih hpnya yang tiada henti berdering sejak satu menit yang lalu.
Di layar hpnya tertulis nama Bramantyo, mencoba menelponnya sedari tadi.
" Hallo Bram, ada apa ?" tanya Aji berbicara dengan nafas masih terengah - engah karena kelelahan setelah bertarung bersama rekannya di ring tinju. Keringat masih bercucuran di pelipis dan sekujur tubuhnya.
" Apa ? apa kau yakin ?" tanya Aji pada Bram di sebrang sana.
" Jam berapa dia sampai ?" tanya Aji.
" Apa, pergi lagi ? lalu, tidak ada yang mengikuti nya pergi ?" tanya Aji.
" Bodoh, kenapa harus selalu menunggu perintah dariku !!" pekik Aji terdengar emosi dan terlihat kesal.
Ia langsung mematikan hpnya, lalu bergegas ke ruangan ganti. Dan, ia masuk ke dalam kamar mandi, mengguyur badannya yang penuh keringat di bawah shower air, mengoleskan shampoo dan sabun lalu membasuhnya secara terburu - buru.
" Sial, dia membohongiku !!" ucap Aji, meninju tembok di hadapannya.
Selesai mandi dan memakai baju, Aji berjalan terburu - buru menuju parkiran motornya sambil mencoba menelpon seseorang lagi di hpnya.
" Hallo, Bram, seseorang diam di pos, lihat pergerakan nya lewat cctv, kalau dia sudah pulang beritahu aku secepatnya, lalu Tio, suruh dia bersiap pergi, aku akan kirim alamatnya lewat pesan " ucap Aji.
Langkahnya terhenti saat dia sudah berada di samping motor sports nya. Ia memakai helm dan mulai menaiki motornya. Menyalakan mesin dan menaik turunkan handle gasnya, lalu melaju perlahan meninggalkan area parkir gedung tersebut.
Dengan pikiran yang menerka - nerka, sepanjang perjalanan Aji mengerutkan alisnya, pikirannya penuh dengan segala kemungkinan yang ada.
" Apa dia menyusul kak Wan ke cafe ? Bagaimana kalau dia melihatnya dengan wanita itu !! semoga saja mereka sudah pergi dari sana " ucap Aji penuh harap.
Sesampainya di halaman cafe, Tio sudah berada di samping mobilnya, karena jarak dari pos jaga Tio menuju cafe lebih dekat di banding jarak dari fitness center menuju cafe.
" Ji, tidak ada, aku sudah bertanya pada karyawan di dalam, mereka sudah pergi 10 menit yang lalu " ucap Tio.
Aji yang tidak turun dari motornya mulai berpikir keras, di dalam helmnya, matanya menyipit dan kepalanya mencoba berputar ke kiri dan kanan.
" Tio, kau temui manager cafe, katakan saja aku yang menyuruhmu, kau lihat cctv 10 menit yang lalu, apa Hanna juga datang kemari, langsung laporkan padaku !!" perintah Aji.
" Oke " jawab Tio, lalu masuk ke dalam cafe.
Sedangkan Aji, dia langsung menyalakan motornya lalu pergi menuju suatu tempat yang sepertinya kali ini ia tahu harus pergi kemana.
...****...
" Hanna... "
Di ambang pintu dari luar, saat Hanna hendak masuk ke dalam rumah dengan langkahnya yang gontai, tiba - tiba dari belakang seseorang memanggil namanya.
Ia pun menoleh ke belakang dengan slow motion seperti adegan di drama yang sering ia tonton.
" Bli... " ucap Hanna.
" Ya ampun, kok dia tahu aku udah pulang, apa dia juga tahu aku tadi ngikutin ahjussi dari kejauhan seperti habis memata - matai seorang kekasih yang sedang berselingkuh "
Aji turun dari motornya dan membuka helm full face nya. Ia menghampiri Hanna sambil masih menenteng helm di tangannya.
" Kau darimana ?" tanya Aji.
" Aku, emh.. ' Hanna mencoba mencari alasan yang tepat supaya Aji tidak terus bertanya padanya ' aku barusan cari makan, aku lapar, di rumah tidak ada makanan " jawab Hanna, meyakinkan Aji supaya percaya pada kebohongan nya.
" Kapan kau sampai di sini, kenapa tidak menghubungi ku, aku bisa menjemput mu !!" ucap Aji.
" Aku tidak mau merepotkan mu, aku tahu kau pasti sedang sibuk " jawab Hanna lalu mencoba tersenyum senatural mungkin.
" Kau bohong padaku, tadi di telepon kau bilang masih di Bandung " ucap Aji.
" Ah... ya... anu, emh... itu, sebetulnya aku mau memberi kejutan, tapi, aku sudah lebih dulu ketahuan olehmu rupanya " ucap Hanna masih dengan senyuman yang merekah di kedua ujung bibirnya sehingga menunjukkan lesung pipit di pipinya.
" Tetap tersenyum Hanna, kau harus menelan kejadian hari ini sendirian saja, jangan perlihatkan kesedihanmu pada yang lain, meskipun kau ingin kejelasan soal apa yang tadi kau lihat di villa "
" Kak Wan, apa kau sudah menemuinya ?" tanya Aji.
" Belum, aku belum sempat, nanti saja sepertinya, setelah makan aku jadi merasa sangat mengantuk ' hooaammh... " Hanna pura - pura menguap di depan Aji.
" Baiklah, aku tidak akan memberitahu kak Wan, kalau begitu kau istirahat saja dulu, masuklah !!" seru Aji.
" Oke, bli... bye.. " ucap Hanna, lalu masuk ke dalam rumahnya.
Setelah masuk ke dalam rumah, Hanna masih berdiri dan bersandar pada pintu. Lalu, ia merasa kakinya gemetar dan lemas, ia pun merosot dan ambruk di lantai.
" Aku tidak boleh berburuk sangka, mungkin dia memang rekan bisnisnya, atau mungkin juga kerabatnya, ah... sudahlah "
Dengan sekuat tenaga Hanna merangkak hingga ke depan pintu kamarnya, ia menerobos masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Di luar...
Setelah Hanna masuk ke dalam rumah, Aji masih berdiri menatap pintu rumah Hanna selama beberapa detik.
Lalu ia kembali menghampiri motor dan duduk di atasnya. Saat ia hendak memakai helm, tiba - tiba hpnya kembali berdering.
" Hallo, bagaimana ?" tanya Aji pada seseorang di sebrang sana.
Selama beberapa menit Aji terpaku mendengar penjelasan seseorang lewat teleponnya.
" Oke, thanks ya bro, kau pulang saja " ucap Aji, lalu mengakiri percakapan lewat telepon dan menyimpan kembali hpnya ke dalam saku jaket denim nya.
" Kau berbohong lagi ternyata " ucap Aji dengan tatapan menusuk menatap ke arah pintu rumah Hanna. Setelah itu, ia pun pergi dan melajukan motornya dengan kencang menyusuri jalanan yang nampak lenggang di siang hari.
Di dalam kamar, Hanna berbaring di atas ranjangnya kembali setelah mengganti bajunya dan membersikan wajahnya dari sebum yang menempel di permukaan kulitnya.
" Bagaimana ini, aku tidak tahan lagi, aku ingin menemuinya dan bertanya padanya tentang wanita itu, siapa dia, wanita sexy itu memeluk kak Wan secara tiba - tiba, apa mereka memang sering bertemu dan terbiasa melakukannya, apa mereka menjalin hubungan tanpa sepengetahuan ku "
Badan Hanna menyamping dan mengkerut di atas ranjang hingga ia hampir mencium kedua lututnya yang sudah ia peluk erat oleh kedua lengannya.
Tiba - tiba, terdengar bunyi bel dari pengeras suara. Hanna malas turun dari ranjangnya, namun, ketika bel kembali berbunyi untuk yang kedua dan ketiga kalinya, ia pun mulai menurunkan kakinya ke lantai dan berjalan terburu - buru menuju pintu rumah.
Saat ia melihat lewat lubang kaca pembesar, seseorang yang tidak asing baginya berdiri di depan pintu.
Hanna pun membuka pintunya dan, belum sempat ia berucap, pria itu sudah memberondongnya dengan kata - kata.
" Jangan berbohong lagi, kau belum makan siang kan ?" ucap Aji.
Ya, pria yang kini berdiri di hadapan Hanna adalah Aji. Dia kembali sambil membawa satu kantong berisi kotak makanan di tangannya.
" Masuklah !!" seru Hanna menundukkan kepalanya dan berjalan dengan lesu menuju sofa ruang tv.
Aji meletakkan kantong berisi makanan itu di depan Hanna, di meja.
" Makanlah dulu, kau harus punya tenaga untuk bercerita padaku !!" tukas Aji.
Namun Hanna tidak bergeming, ia hanya menatap kantong makanan itu tanpa menyentuhnya. Ia merasa tidak bertenaga.
Aji yang sepertinya memahaminya langsung berinisiatif mengeluarkan makanan dari kantong kresek nya, membuka kotak makanannya, menyiapkan sendok dan garpu di atasnya.
" Ayo makanlah, jangan sampai mag mu kambuh !!" ujar Aji.
Hanna pun dengan terpaksa menyendok sesuap demi sesuap nasi ke mulutnya. Tanpa terasa, kotak makanan berisi satu paket nasi dan lauk pauk nya kini sudah bersih tak bersisa.
" Masih ingat urusan perutmu sepertinya, baguslah, berarti tidak terlalu parah " ucap Aji di dalam hati.
Setelah minum dan bersendawa, Hanna mulai mengeluarkan kata - kata dari mulutnya.
" Bli, apa benar dia rekan bisnisnya ?" tanya Hanna.
" Dia mulai penasaran "
" Apa, dari Seoul, lalu apa di sini mereka juga sedang melakukan pertemuan bisnis ?" tanya Hanna.
" Tidak, dia sedang berlibur !!" jawab Aji.
" Apa hubungan mereka sangat dekat, selain rekan bisnis ?" tanya Hanna kembali.
" Sebenarnya ada apa ini, apa yang terjadi selanjutnya setelah mereka pergi dari cafe ? apa mungkin dia melihat kak Wan berbuat sesuatu dengan nona Seo !!"
" Bli, kenapa tidak menjawab ?" Hanna menjentikkan jarinya di depan muka Aji.
" Ah maaf, kalau itu, aku juga belum tahu karena kak Wan belum pernah menceritakan soal nona Seo padaku sebelumnya " jawab Aji.
" Nona Seo ?" tanya Hanna.
" Namanya Seo Jihye " jawab Aji.
Hanna mencoba berpikir kembali, selama beberapa detik dan ia merapatkan bibirnya.
" Hanna, sebaiknya kau segera temui kak Wan, kalau kau penasaran, sebaiknya tanyakan secara langsung padanya, jangan hanya menerka - nerka dengan pikiran mu yang belum tentu itu benar " pinta Aji.
" Baiklah, aku akan menelponnya " ucap Hanna.
" Kalau begitu, aku pergi dulu !!" Aji berdiri dari duduknya.
Spontan Hanna pun ikut berdiri dari duduknya.
" Oh ya, masalah di cafe, aku sudah tahu, tapi selebihnya aku tidak tahu hal apa yang membuatmu berwajah masam sedari tadi, aku tidak ingin ikut campur lebih dalam lagi, hanya saja, saranku, sebaiknya kau minta penjelasan secara langsung padanya, kau sudah dewasa, jangan bersikap seperti gadis remaja yang bisanya hanya menerka - nerka dan mengambil kesimpulan sendiri tanpa ingin tahu fakta yang sebenarnya " ucap Aji panjang lebar.
" Iya, baiklah, terima kasih sudah memberiku saran, terima kasih juga untuk makanan dan perhatianmu !!" jawab Hanna.
" Oke, aku pergi sekarang " ucap Aji, lalu melangkah menuju pintu dan keluar dari rumah Hanna.
Setelah Aji keluar dari rumahnya, Hanna membereskan sisa makanannya di meja dan membawanya ke dapur.
Seharusnya, saat pulang ke rumah, ia membersihkan rumahnya dan merapihkan barang dari kopernya, hanya saja, ia sedang dalam kondisi tidak bersemangat. Setelah dari dapur, ia ke kamar mandi sebentar untuk menggosok giginya dan kembali ke kamar dan mencoba untuk tidur.
Sebelum tidur, ia meraih hpnya yang berada di atas nakas, lalu mencoba mengetik pesan di pada Siwan.
Namun ia kembali menghapus nya dan mencoba berpikir.
Tetapi tidak lama kemudian, ia mengetik ulang di layar hpnya dan mengirimkannya pada Siwan. Setelah itu ia menyimpan kembali hpnya di nakas dan menutup matanya.
Pukul 17.00 wita, Hanna terbangun dari tidurnya. Ia merasa aneh, karena kini tubuhnya sudah di tutupi oleh selimut, seingatnya tadi saat dia berbaring di ranjangnya, bahkan ia belum mengeluarkan selimut dari dalam lemarinya.
Lalu, dia pun mendengar langkah kaki seseorang mendekat ke kamarnya. Tiba - tiba, pintu kamar terbuka dengan perlahan.
Hanna merasa ketakutan, tubuhnya mengkerut dan terbenam ke bawah selimut, hanya kepala dan matanya sedikit terlihat, matanya mengintip sedikit dari bawah untuk melihat siapa orang yang berada di dalam rumahnya kini.
Dan, Hanna pun merasa lega, saat ia melihat sesosok lelaki berparas tampan namun terlihat garang tanpa senyuman yang tersungging di bibirnya, berjalan mendekat padanya.
" Ahjussi... " ucap Hanna, menyingkap selimut dari tubuhnya dan terduduk di ranjang nya.
" Sudah bangun ternyata !!" ucap Siwan, kini memasang tampang penuh senyuman di wajahnya.
" Baru bangun, apa ahjussi sudah lama di sini ?" tanya Hanna.
" Saat kau mengirim pesan, aku langsung kemari, aku memencet bel tapi kau tidak kunjung keluar, makanya aku masuk saja, mungkin kau sedang tertidur, dan tebakanku ternyata memang benar, kau sangat nyenyak sekali, apa kau lelah ?" tanya Siwan.
" Iya, sedikit, makanya aku ketiduran saat menunggu mu " jawab Hanna.
" Aku sudah membersihkan rumahmu, aku juga membeli beberapa bahan, kulkasmu sudah penuh kembali, ayo kita makan, aku juga sudah masak tadi " ajak Siwan, menarik lengan kekasihnya.
Sepertinya Hanna lupa tentang rasa kesalnya tadi, ia berjalan sambil berpelukan bersama Siwan menuju meja makan.
Saat sedang makan, Siwan bertanya pada Hanna.
" Kau bilang mau pulang kamis pagi, kenapa berubah ? apa kau sangat merindukan ku ?" tanya Siwan.
" Kau terlalu percaya diri !!" jawab Hanna acuh.
" Oh... begitu rupanya, jadi bukan aku alasannya !!" sahut Siwan merasa kecewa.
Hanna tersenyum licik pada kekasihnya itu. Ia berhasil membuat Siwan kesal kali ini.
Selesai makan, Hanna mencuci piring dan Siwan menunggu di sofa sambil menonton tv.
Cukup lama, Siwan terduduk di sofa menunggu Hanna yang membereskan dapurnya, lalu mengecek stok makanan, beribadah sholat maghrib dan membereskan isi koper ke dalam lemarinya.
Siwan menghampiri Hanna di kamarnya yang terlihat masih sibuk menyusun baju di lemarinya.
Pintu kamar tidak tertutup, Siwan berdiri di ambang pintu dan mengetuk pintunya sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar.
" Kau sangat sibuk nampaknya " ucap Siwan lalu duduk di atas sofa yang ada di sudut kamar dekat jendela.
" Maafkan aku ahjussi, aku lupa kau sedang menunggu ku, Hihi... " ucap Hanna dengan entengnya.
Siwan merasa heran.
" Apa dia sedang banyak pikiran, kenapa dia jadi pelupa "
Lalu, saat sedang bergumam, Siwan merasa terkejut dengan suara hentakan lemari yang di dorong terlalu keras.
" Hehe... terkejut ya, maaf, tidak sengaja !!" ucap Hanna tanpa dosa.
Hanna pun berjalan menuju sofa dan duduk di samping Siwan.
" Besok, aku mau berkunjung ke suatu tempat, boleh yaa !!" ucap Siwan.
" Kemana ? dengan siapa ?" tanya Siwan.
" Ke pantai xxx, sendiri saja, aku naik motor matic ku, sudah lama tidak di pakai " jawab Hanna.
" Terlalu jauh, nanti kau lelah, Aji saja yang mengantarmu ya, besok aku ada meeting dengan klien " ucap Siwan.
" Tidak usah, kalau begitu aku naik mobil online saja ya, aku takut bli juga sedang sibuk, kau selalu memberinya banyak tugas, kalau dia kelelahan bagaimana ?" Hanna mencoba bernegosiasi dengan Siwan.
" Tidak, aku masih ada asisten di kantorku, pekerjaan Aji bisa di handle oleh orang kantor " jawab Siwan.
" Kantor, maksudnya, apa kau membangun sebuah perusahaan di sini ?" tanya Hanna merasa terkejut.
" Apa aku atau Aji tidak pernah memberitahu mu selama ini ?" tanya Siwan.
" Lihat, bahkan aku baru tahu dia punya perusahaan di sini, kemana saja aku selama ini, dia masih nampak misterius bagiku, atau aku yang tidak begitu peduli dan perhatian padanya " ucap Hanna di dalam hati.
Hanna hanya diam tanpa kata sambil memandang wajah kekasihnya, ia menunggu Siwan kembali bercerita tentang sedikit kehidupan nya yang selama ini ia sembunyikan darinya.
" Hanya perusahaan kecil, aku membuka studio arsitek design beberapa tahun belakangan ini bersama rekan ku, juga kantor untuk mengurus bisnis - bisnis kecilku di sini " jawab Siwan.
" Rekan, yang mana lagi, apa rekannya juga wanita cantik dan sexy seperti yang aku temui tadi " Gumam Hanna.
" Chagiya, hei... kau melamun ? " tanya Siwan sambil menjentikkan jarinya di depan wajah Hanna.
" Ah tidak, jadi, aku pergi sendiri saja ya besok ?" tanya Hanna.
" Tidak bisa, Aji yang akan mengantarmu, memangnya kau mau menemui siapa ?" tanya Siwan.
" Rayhan " jawab Hanna secepat kilat.
Siwan mematung di kursinya. Ia menatap wajah Hanna dengan mengangkat sebelah alisnya lalu mengernyitkan matanya.
" Rayhan " ucap Siwan.