My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Game



" Ahjussi... " Teriak Hanna, lalu berlari menghampiri Siwan yang mematung di ambang pintu sebuah ruangan yang berada di lantai 1 rumah tuan Lee.


Hanna memeluk Siwan sangat erat, begitu pula dengan Siwan. Dada Siwan yang berdebar beberapa menit lalu kini berubah menjadi sebuah kelegaan. Ia merasa lega masih bisa melihat kekasihnya hidup dan bernafas.


Namun, ada yang aneh dengan wajahnya yang tak mau menempel di dada Siwan.


Hanna bahkan berjinjit agar tingginya sejajar denga Siwan sehingga wajahnya tidak terbenam di dada Siwan.


Hanna seolah menggantungkan dagunya di pundak Siwan.


" Kau... ' Siwan mendorong tubuh Hanna ' kenapa wajahmu ?" tanya Siwan terheran - heran.


" Ah, ini... ' Hanna menyentuh wajahnya dan memperlihatkan jari nya yang kini penuh warna merah juga ' ini lipstik, hehe... " Hanna tersenyum cerah tanpa dosa.


Dia tidak tahu betapa khawatir nya Siwan, Aji maupun anak buah Siwan lainnya dari kemarin malam hingga beberapa detik yang baru saja lewat. Dia tidak tahu betapa Siwan sangat gugup sesaat sebelum melangkahkan kakinya menuju ruangan tersebut. Bahkan Siwan sudah berpikir yang tidak - tidak saat melihat wajah Hanna yang hampir penuh oleh warna merah.


" Lipstik... ?" kening Siwan berkerut.


" Heemh... " Hanna menganggukkan kepalanya.


" Hallo, apakabar rekan bisnisku ! oopss... maaf, mantan rekan bisnisku " ucap Lee dari kejauhan.


Lee menggosok wajahnya dengan tissue basah yang ada di atas meja. Dia menghapus coretan di wajahnya yang sepertinya berasal dari lipstik juga.


" Silahkan duduk dulu lah, aku merasa tidak enak kalau kalian hanya berdiri saja " Lee mempersilahkan Siwan dan anak buahnya duduk di sofa yang panjang melingkar.


Siwan, Hanna dan Aji duduk di sofa, namun tidak dengan anak buah Siwan lainnya. Mereka tetap berdiri dan berjaga - jaga di belakang Siwan.


" Tolong siapkan minuman untuk tamu kita !!" pekik Lee pada salah satu anak buah Lee.


Aji berjalan mendekat pada Lee, lalu menaruh tas yang ia bawa di meja, di depan muka Lee sendiri.


" Terima kasih banyak, kalian mengantarkannya dengan selamat !!" ucap Lee.


" Kalau begitu, urusan kita sudah selesai, kita harus segera pergi " ucap Siwan bangkit dari kursinya sambil menggenggam tangan Hanna.


" Ck.. ck.. ck.., apa kau tidak rindu padaku, mari kita mengobrol dulu lah sebentar, sambil sedikit bernostalgia " ucap Lee, tersenyum jahat.


Siwan terlihat seperti sedang menahan amarahnya. Dia menggenggam tanga Hanna semakin erat.


" Oh, iya, masalah Reno, aku tidak akan ikut campur, aku tidak mendukungnya berbuat keji seperti itu terhadap istrinya, kau tahu kan, aku paling benci melihat wanita terluka !! Dan lagi, barangku sudah kembali, jadi aku meskipun sebagai saudaranya, tidak akan mengurus masalahnya di penjara, biarkan dia menerima hukumannya sendiri !!" ucap Lee.


" Lalu, apa ada lagi yang ingin kau bicarakan ?" tanya Siwan, ketus.


" Tidak, hanya saja aku merasa tersanjung bisa berkenalan dengan kekasihmu, kau jangan salah sangka, aku bahkan tidak menyentuhnya seujung kuku pun, kami hanya bermain kartu karena bosan menunggumu " Lee seperti sengaja memancing Siwan.


" Kartu ?" Siwan merasa belum paham.


" Iya, seperti kita dulu, kekasihmu ini juga lumayan pintar bermain kartu, apa kau yang mengajarinya ?" tanya Lee.


" Ish... bukan, bapakku yang mengajari ku !!" sahut Hanna.


Mata Siwan membelalak ke arah Hanna.


" Kenapa ?" tanya Hanna tanpa suara sedikitpun, menatap Siwan yang masih melotot padanya.


" Wah, apa kau belum memberitahu kekasihmu tentang permainan kartumu, kalau begitu maaf, aku sedikit membocorkan rahasimu padanya !!" ucap Lee.


Saat sang pelayan membawa masuk beberapa botol minuman dan gelas, Siwan kembali berdiri dan menarik Hanna agar berdiri juga.


" Kami harus segera pergi, terima kasih sudah menjaganya !!" ucap Siwan, lalu berjalan keluar dari ruangan tersebut di ikuti oleh Hanna, Aji dan anak buahnya yang lain.


Lee yang masih duduk di kursinya tersenyum sinis menatap punggung orang - orang yang menjauh dari hadapannya.


" Bos, apa kita akan membiarkannya seperti ini ?" tanya salah seorang anak buah Lee.


" Biarkan saja, dia tidak membawa polisi pun sudah untung, lagipula aku masih berhutang nyawa padanya !!" ucap Lee lalu meneguk minuman yang sudah di isi oleh anak buahnya.


Siwan terus berjalan lurus sambil menggenggam tangan Hanna dengan erat. Berbeda dengan anak buahnya yang matanya terus berkeliling dengan mode awas.


" Kak, apa mungkin dia melepaskan kita semudah ini ?" tanya Aji.


" Kalau dia macam - macam, dari atas akan ada pasukan yang menyerang tempat ini dalam hitungan detik, kau tenang saja, dia tidak pernah gegabah semenjak hari itu !!" jawab Siwan.


" Hari itu... ?" gumam Hanna.


Akhirnya mereka pun berhasil masuk kembali ke dalam mobil dan pergi dengan tenang dari villa yang berada di tengah hutan itu.


Di dalam mobil, Siwan dan Hanna duduk di belakang. Sedangkan Aji duduk di depan, di samping sang pengemudi.


Hanna terlihat sedang mencari sesuatu di dalam tasnya, berkali - kali ia acak isi tasnya, tapi tetap tidak menemukannya.


" Yah... tidak ada !!" Hanna terlihat kecewa.


" Kau sedang mencari apa ?" tanya Siwan.


" Lipstikku, dan tissue basahku, lihat, wajahku masih belum ku bersihkan, pasti tertinggal di rumah mister Lee " ucap Hanna.


" Kau memangnya sedang apa tadi ?" tanya Aji penasaran.


" Tadi, aku hanya bermain kartu remi " jawab Hanna.


" Memangnya kau bisa ?" tanya Aji kembali.


" Tentu saja, blackjak, cangkulan, ayahku dulu sering bermain bersama tetangganya di pos ronda maupun di rumahku, yang kalah akan di hukum, macam - macam hukumannya, seperti telinga di jepit oleh jepitan rambut, di olesi tepung basah yang di campur gincu warna warmi, kaki di pukul sandal jepit, emh... apalagi ya, lupa.. " ucap Hanna tanpa merasa bersalah sedikit pun pada Siwan yang begitu mengkhawatirkan nya.


" Hahaha... " Aji tertawa.


Sang supir dan Siwan hanya terlihat menahan tawanya.


" Dulu pas aku berusia 7 tahun, aku begitu penasaran dengan permainan kartu karena melihat jenis hukuman yang bervariatif di ciptakan oleh bapakku dan bapak - bapak rumpi lainnya, makanya aku minta di ajarkan pada bapak supaya bisa mengajarkan teman - temanku dan seru - seruan bersama mereka" ujar Hanna.


" Kau ini, pacarmu kelabakan setengah mati, kau malah asyik bermain kartu dengan musuhnya, kau pasti tidak tahu kan kalau nyawamu sedang terancam saat berada di rumah itu !!" Aji menengok ke belakang.


Niatnya menatap wajah Hanna, eh malah duluan bertemu dengan mata Siwan yang terlihat melotot padanya.


Aji yakin, di dalam hati Siwan saat ini dia pasti sedang mengutuk dirinya. Aji pun langsung membuang muka dan fokus pada jalanan di depan.


Hanna melirik pada kekasihnya, namun Siwan menghindarinya.


" Kau masih marah padaku ?" tanya Hanna.


" Hemh... " jawab Siwan singkat.


" Kau tidak senang bertemu lagi denganku ?" tanya Hanna.


Siwan tidak menjawabnya, dia hanya kembali melotot pada Hanna.


" Hati - hati, bola matamu nanti lepas, kau terus melotot padaku dari tadi !!" raut wajah Hanna terlihat kesal.


Beberapa jam yang lalu...


Saat Hanna terbangun dari tidurnya, kini ia sudah berada di atas ranjang yang ada di kamar itu.


Hanna membuka selimut dan turun dari ranjang lalu berjalan menuju kamar mandi.


Saat keluar dari kamar mandi, dia merasa kaget karena di depan pintu berdiri seorang pria berseragam koki dan seorang wanita terlihat seperti seorang maid.


" Nona, silahkan sarapan, semua sudah tersedia di meja " tunjuk seorang maid pada meja di dekat pintu kamar mandi.


" Owh... begitu, tapi maaf, apa aku boleh bertanya sesuatu ?" tanya Hanna.


" Apa ada yang anda butuhkan atau inginkan nona, biar kami yang menyiapkan !!" ucap maid tersebut.


" Anu, emh... a-aku, begini, aku harus memastikan dulu sesuatu yang masuk ke perutku apakah itu halal atau tidak, begitu !!" ucap Hanna.


" Maaf, apa anda seorang muslim ?" tanya sang maid.


Hanna menganggukkan kepalanya.


Dan, koki itu berjalan menghampiri meja dan mengambil kembali makanan di atasnya.


" Kami akan mengganti semuanya, kami pastikan akan menyediakan makanan halal untuk anda nona !!" ucap sang maid sebelum keluar dari ruangan tersebut.


" Tunggu, aku sudah sangat lapar, bisakah kau buatkan saja aku mie rebus, ind*mie rebus saja " pinta Hanna.


" Apa anda yakin hanya akan makan mie rebus ? " tanya sang maid.


" Jangan lupa tambahkan telur dan potongan cabe rawit, satu saja yang ukuran sedang, lalu bawakan aku nasi juga, ya... halal kan !!" ucap Hanna penuh senyum manis pada sang maid.


" Baiklah, mohon di tunggu !" ucap maid itu lalu keluar dan menutup kembali pintunya.


Saat pintu kembali tertutup, Hanna menghampiri meja dan minum air mineral yang masih ada di botol yang utuh berukuran besar. Ia menuangkannya pada gelas. Lalu memetik beberapa anggur yang tersedia di meja, dan memakan satu buah pisang sebagai ganjal perut sebelum mie rebus datang.


" Hahahaha... benarkah ?" Richard Lee tertawa terbahak - bahak.


" Iya tuan !!" jawab sang maid.


" Kalau begitu lakukanlah seperti yang ia minta, ingat, harus halal... " ujar Lee.


Sang maid pergi menuju dapur.


" Sungguh, tidak ku sangka, kekasih Siwan seorang wanita muslim !!" Lee merasa tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


Beberapa menit kemudian, pesanan Hanna sudah siap, tapi Lee menyuruh anak buahnya untuk mengantarkan Hanna ke meja makan.


Hanna pun di kawal oleh dua orang anak buahnya Lee menuju ruang makan.


" Silahkan, duduklah, nikmati sarapanmu !!" ucap Lee.


" Te-terima kasih !!" Hanna pun duduk di kursinya dan mulai menyantap mie instan yang telah di buatkan sang koki, pas seperti pesanannya.


Lee yang melihatnya hanya menelan ludah, sepertinya mie rebus yang Hanna santap di depannya menggugah selera makannya. Bau khas dari minyak yang ada di dalam mie tersebut tercium kemana - mana.


" Kau kenapa mister, kau mau ?" Hanna yang menyadari tingkah aneh Lee mulai berkomentar.


" Ah.. tidak, silahkan lanjutkan, nikmati saja !!" sahut Lee. Padahal dalam hati kecilnya ia sangat mencicipinya. Mie instan di mangkuk orang lain memang selalu terlihat menggiurkan.


Saat Hanna menyeruput kuah terakhirnya, Lee hanya dapat mengusap tengkuk lehernya sambil berkali - kali menelan ludah.


" Euurgh.... ' Hanna bersendawa ' alhamdulillah " ucap Hanna, lalu mengelap mulutnya dengan tissue. Saat hendak minum, ia melihat air di gelasnya hanya air putih.


" Mister, apa di sini ada air teh hangat ?" tanya Hanna.


" Kau mau teh hangat ?" Lee balik bertanya.


" Kalau ada, tapi kalau tidak ada tidak apa, aku minum air putih saja !!" ucap Hanna lalu meminum air di gelasnya sedikit.


" Bibi, buatkan teh hangat untuk nona ini !!" seru Lee pada maidnya.


Tanpa menunggu lama, maid itu memanaskan air lalu menyeduh serbuk teh pada tea pot dan menuangkannya di gelas. Ia menyerahkannya pada Hanna.


" Terima kasih banyak, bibi !!" ucap Hanna.


Sang maid hanya tersenyum dan mengangguk padanya.


" Ssrrppttt.... ah.. hangatnya... jasmine tea ter the best !!" ucap Hanna setelah menyeruput air tehnya.


" Kau sangat suka minum teh ?" tanya Lee.


" Yap... hampir setiap pagi, setelah sarapan aku minum air teh hangat !!" jawab Hanna.


" Bukannya air mineral lebih bagus untuk kesehatan ?" tanya Lee.


" Bukannya minum teh lebih bagus daripada minum kopi ?" Hanna balik bertanya.


" Hahaha.... kau sangat pintar berkelit rupanya !!" Lee tertawa.


" Lagi pula setiap bangun tidur aku selalu minum air putih dulu, mister, yang sering kau minum pasti kopi kan, bau kopi menempel di bajumu, aku bisa menciumnya saat kau mendekat padaku pagi tadi " ucap Hanna.


" Setiap orang kan berbeda, kekasihmu juga pecinta kopi sama denganku !!" ucap Lee.


" Masa sih... saat denganku, dia tidak pernah terlihat minum kopi, dia selalu menghabiskan teh yang ku buat " sanggah Hanna.


" Benarkah ?" Lee mulai mencurigai sesuatu.


" Pasti Siwan banyak merahasiakan kehidupannya di depan wanita ini " gumam Lee sambil menatap Hanna yang masih menikmati teh di gelasnya.


Beberapa jam berlalu, Siwan belum juga datang menjemput, Hanna mulai merasa bosan, dia memang tidak di kurung lagi di kamarnya, dia bebas berkeliaran di rumah dengan syarat tidak boleh mencoba untuk kabur karena Lee tidak akan segan membidiknya dengan senjata yang Lee perlihatkan pada Hanna. Lee bahkan menyerahkan tas miliknya kembali ke tangan tuannya, hanya saja hp Hanna lowbat, ia tidak di beri pinjaman charger oleh Lee.


Di belakang Hanna selalu ada dua orang bodyguard yang berjaga dan mengikuti kemanapun ia pergi.


Hanna cukup kooperatif, lebih teptnya dia masih sayang nyawanya, dia berharap Siwan cepat - cepat datang menjemputnya dan membawanya pergi dari kandang serigala ini.


Saat sedang menonton tv, datanglah seorang maid menghampiri nya.


" Nona, silahkan di nikmati, ini tuan kami sengaja memesan untuk anda, halal... !!" ucap maid tersebut.


" Waw... terima kasih yaa !!" Hanna mulai membuka kotak bigbox yang berisi pizza berukuran extra large dan teman - temannya, bahkan ada dua jenis 5 minuman di sampingnya dengan berbagai rasa.


" Minumannya banyak sekali !!" ucap Hanna.


" Itu untuk anda semua nona, atau mau aku buatkan teh hangat lagi ?" tanya sang maid.


" Tidak, tidak usah, ini sudah cukup !!" ucap Hanna. " Dia pikir aku ini sapi gelonggongan apa " gumam Hanna sambil tetap tersenyum ke arah sang maid dan menikmati potongan pizza di depannya.


Hanna merasa tidak mampu menikmati semuanya sendirian, setelah sang maid pamit, dia menawari dua orang bodyguard nya yang hanya berdiri di belakangnya dengan tegak seperti seorang tentara yang sedang upacara baris - berbaris.


" Kalian mau ? aku tidak mungkin menghabiskan semua sendirian !!" ucap Hanna.


" Tidak, silahkan nona nikmati saja dengan tenang !!" ucap seorang bodyguard.


" Sayang sekali, kalau aku buang kan mubazir " ucap Hanna cemberu.


Kedua bodyguard nya hanya bisa menelan ludah, mereka sebenarnya sangat tergiur dengan kepulan asap daripizza hangat di depan mereka. Apalagi Hanna dengan sengaja memprovokasi mereka agar air liur mereka menetes membanjiri seisi ruangan.


" Yakin... tidak mau ?" tanya Hanna.


" Ti-tidak, emh... kalau kau memaksa, satu potong saja !!" ucap seorang bodyguard, temannya menyiku lengannya mengingatkan agar dia tidak tergoda oleh Hanna.


" Ini, ambil lah, kau mau yang mana, terserah kalian, aku sudah mulai kenyang " Hanna menyuruh bodyguard tadi maju ke depan meja untuk mengambil apa yang ia inginkan. Sebut saja dia Beni.


Beni maju mengambil sepotong pizza, lalu ia kembali ke posisinya setelah mengucapkan terima kasih.


" Eh... mau kemana ?" tanya Hanna.


Beni yang mulutnya hendak menggigit pizza mengurungkannya, ia menarik lidahnyadan mengatupkan mulutnya kembali.


" Duduk, kau tidak boleh makan sambil berdiri, tidak baik itu... cepat, duduk di sana !!" pinta Hanna menunjuk sofa di sebrangnya.


Beni menurutinya. Sedangkan temannya, sebut saja Benu, ia masih bersikap arogan dengan tetap berdiri di samping Hanna.


" Kau juga, cepat, sebelum temanmu menghabiskan semuanya sendirian !!" ucap Hanna.


Benu pun goyah, pertahanannya jebol. Ia terburu - buru duduk dan mengambil potongan pizza di meja lalu melahapnya dengan takus.


Hanna hanya tersenyum melihat kelakuan Beni dan Benu.


" Kalian pasti jarang makan pizza, ish... kasihan, bos kalian sangat pelit ya... !!" Hanna mencibir tuan Lee.


Dari atas, Lee yang melihat kelakuan Hanna pada anak buahnya, dari tadi hanya menahan tawa sambil tetap memperhatikan ketiganya yang kini sedang berbincang dengan santai.


Hanna bahkan menyerahkan dua botol minuman yang belum ia minum untuk mereka.


Selesai makan pizza, karena mendengar suara langkah sepatu bosnya, Beni dan Benu kembali berdiri ke posisi semula. Mereka memaksakan berdiri dengan tegak, padahal mereka masih ingin bersantai karena perut mereka terasa penuh. Hanna menyuruh mereka berdua menghabiskannya supaya tidak mubazir.


" Wah... kau sangat menikmatinya, baguslah, kalau kau merasa senang tinggal di sini, aku dengan senang hati menerima mu !!" ucap Lee.


" Cih... dasar tua - tua keladi, aku yakin wanitanya pasti banyak, dimana dia menyembunyikan nya ya... " gumam Hanna.


" Hehe... terima kasih, tapi aku masih setia pada ahjussi ku !!" ucap Hanna.


" Ah... aku mengantuk, tapi aku tidak boleh tidur, aku tidak boleh lengaj sedikitpun saat berada di kandang serigala ini, cih... serigala berbulu domba !!" gumam Hanna kembali.


" Apa kau sedang mengantuk ?" tanya Lee yang sempat melihat Hanna berkali - kali menguap.


" Tidak, aku hanya merasa bosan " ucap Hanna.


" Kau mau bermain sesuatu denganku ?" tanya Lee.


" Bermain, apa, permainan apa ? jangan macam - macam denganku ' Hanna menyilangkan kedua lengannya menutupi dada ' ahjussi saja tidak pernah berbuat macam - macam padaku, awas ya jangan berani menyentuhku " ucapan Hanna penuh penekanan. " Bohong deh, ahjussi paling hobi menyentuhku saat kami berdua, hanya saja kami belum melakukan hal itu. Hihi " gumam Hanna terkekeh di dalam hatinya.


" Hahahaha.... kau, sangat lucu, pasti pikiranmu kemana - mana !! tidak, aku kapok merebut wanita milik Siwan, bisa - bisa salah satu anak perusahannku gulung tikar di buatnya " jawab Lee.


Hanna tercengang mendengar perkataan Lee. Hanya dia pura - pura tidak mengerti. Dia tidak ingin mengorek kehidupan Siwan dari musuhnya.


" Kau mau bermain kartu ? aku dan Siwan dulu sering bermain kartu bersama " ucap Lee.


" Wah, benarkah, ayo, aku bisa.. tapi yang kalah harus di hukum yaa !!" ucap Hanna.


" Baiklah, kau yang menentukan hukumannya, supaya lebih adil !!" ucap Lee.


Dan, ide jahil mulai terlintas di pikirannya. Awalnya Lee enggan melakukan nya saat ia kalah, namun Hanna terus meledeknya bahwa Lee tidak sportif.


Akhirnya Lee mengalah, ia merelakan wajahnya di lukis oleh lipstik yang Hanna keluarkan dari tasnya. Begitu pula dengan Hanna, saat ia kalah, Lee tanpa segan mencoret wajahnya sambil terkekeh - kekeh.