
Hanna sedang menatap setiap inchi dari lukisan dirinya yang di lukis oleh mantan pacarnya itu. Merasa sangat takjub dan setengah tidak percaya, hasilnya tampak persis seperti dirinya.
" Kau melukis ini, kapan?" tanya Hanna melirik Sammy yang berdiri di sampingnya.
" Itu... aku melukismu saat acara perpisahan di sekolah." ucap Sammy.
Flashback
Saat acara perpisahan SMA, sekolah mengadakan sebuah acara pelepasan, satu minggu setelah acara piknik ke pantai Pangandaran. Saat itu, tak nampak batang hidung Sammy dimana pun, Hanna sempat mencari dan bertanya pada sahabat - sahabatnya bahkan teman sekelas maupun teman satu club Sammy, tapi, tidak ada seorang pun yang melihatnya.
Ternyata, Sammy sedang duduk di belakang panggung, dia bersembunyi di antara tiang ring basket dan beberapa staff di belakang panggung. Dengan memakai headphone, sehingga hanya suara musik dari mp4 portable nya saja yang terdengar.
Sammy menatap Hanna dari kejauhan yang sedang duduk di antara kursi - kursi para siswa yang sedang mendengarkan pidato dari bapak Kepala Sekolah saat itu.
Sammy terus menatap secara detail dari ujung rambut Hanna hingga ke leher, dia lalu mencurahkannya di atas sketchbook. Ya, dia sedang mencoba menggambar Hanna. Tanpa Hanna ketahui bahwa sepasang mata Sammy terus mengikuti setiap gerakan wajahnya saat itu.
Sesampainya di rumah, lalu Sammy mencoba memindahkan hasil karyanya itu ke dalam sebuah lukisan kanvas. Dia terlihat sangat fokus dan melukisnya secara detail, seperti sangat sudah khatam akan setiap lekuk dari objek lukisnya itu.
Kembali ke Sammy dan Hanna,
" Owh.. pantas saja, waktu itu aku mencari mu kemana - mana tidak ada. " Ucap Hanna.
" Untuk apa mencariku saat itu ?" Sammy berharap Hanna memberi jawaban yang bisa membuatnya senang kali ini.
" Ya, hanya sekedar untuk berfoto bersama, kita, juga teman yang lainnya. Itu saja... "
" Itu saja... " nada bicara Sammy terlihat sedikit kecewa.
" Iya.. itu saja. " Lalu Hanna menghindari tatapan Sammy dan fokus melihat lukisan wajahnya kembali.
" Terus, ini, di pajang disini, apa mau kamu jual ? " tanya Hanna.
" Tidak, aku tidak akan menjualnya. Aku hanya ingin memamerkan hasil karyaku saja. Khusus untuk yang satu itu, aku tidak akan menjualnya." Sammy meyakinkan Hanna.
Sammy benar - benar mencurahkan semua isi hati nya, rasa cintanya, rasa rindunya, kasih sayangnya, dan rasa benci nya pada Hanna, lewat lukisan ini.
Sempat terlihat beberapa kali Sammy berhenti dan pergi, membanting kuas dan tatakan cat airnya itu lalu menangis, dia melalui proses yang panjang saat ingin menyelesaikan lukisan orang yang sangat ia kagumi itu.
Kembali kepada Sammy dan Hanna lagi,
" Owh.. begitu ya.. " ucap Hanna.
" Kau masih mau melihat - lihat karya yang lainnya ?" tanya Sammy.
Hanna hanya menganggukan kepalanya dan mengikuti Sammy dari belakang, telinganya mendengarkan apa yang Sammy ucapkan saat itu, tapi matanya terus - terusan melirik ke arah lukisan dirinya itu. Sangat terlihat dari raut wajah dan tatapannya bahwa Hanna sangat menginginkan lukisan itu, tapi dia tidak berani berkata apapun pada Sammy.
Di galeri, Sammy sempat membawa Hanna ke ruang tembikar, dia mengajak Hanna untuk membuat sebuah karya dari tangannya. Dan Hanna menyetujui nya, dia memutuskan ingin membuat sebuah mangkuk dari tangannya sendiri.
Hanna terlihat duduk di salah satu kursi yang sudah berhadapan dengan meja pemutar. Dan Sammy terlihat sibuk mempersiapkan bahannya, dia mengambil satu gundukan tanah liat yang sudah siap untuk di bentuk, dia menaruhnya di atas meja pemutar.
" Tunggu sebentar, kau melupakan sesuatu. " Ucap Sammy lalu beranjak dari posisi duduknya.
Ternyata Sammy mengambil apron untuk Hanna, agar tidak terjadi cipratan pada dress cantiknya. Lalu Sammy membantu memakaikannya, membantu mengikatkan apronnya ke belakang. Yang sempat membuat keduanya terlihat canggung dan suasana menjadi awkward.
Saat memulai proses nya, Sammy menuntun setiap gerakan pada Hanna. Penjelasan Sammy terlihat sangat lugas tapi cepat di pahami. Untungnya dulu memang sempat ada pelajaran seperti ini di sekolah, jadi Hanna memang sudah agak memahaminya juga sebetulnya.
Setelah terlihat menyelesaikan nya, Sammy membawanya ke ruang penjemuran. Dan Hanna terlihat sedang membersihakan tangannya di wastafel.
" Han, sudah masuk jam makan siang, bagaimana kalau kita makan dulu yuk. Nanti, biar aku saja yang menyelesaikan proses finishing mangkuk mu. Kau mau di cat warna apa dan di beri gambar apa ?" tanya Sammy.
" Emh... bagaimana kalau cat putih dan gambar ayam jago saja.. "
Seketika Sammy mengangkat alisnya sebelah dan, mereka berdua tertawa bersamaan.
" Terserah kau saja, aku tidak terlalu pandai menggambar hasilnya pasti tidak bagus, jadi, kau saja ya, buatkan yang paling bagus untukku !!"
" Siyapp... sebentar ya, aku bereskan dulu ini. " Ucap Sammy lalu merapihkan dan membersihkan kembali alat - alat yang sudah Hanna pakai tadi.
Beberapa menit berlalu, Sammy dan Hanna sudah berada di sebuah kedai bakso tidak jauh dari lokasi galeri.
" Wah.. ini enak, jadi kangen Bandung, rasanya sama seperti Bakso mas Doyok di Bandung. " Ucap Hanna.
" Iya, aku juga baru kali ini makan bakso lagi, padahal lokasinya tidak jauh dari galeri. " Ucap Sammy.
Mereka berdua terlihat sangat menikmati semangkuk bakso dengan kuah pedas dan satu gelas es jeruk masing - masing. Sesekali mereka bercanda tawa sambil menahan rasa pedas di mulut mereka.
Satu jam kemudian, mereka sudah berada di sebuah pasar tradisional terdekat, hanya sekedar untuk berjalan - jalan menyusuri beberapa toko aksesories, pakaian dan kuliner di sana.
Sesekali mereka berfoto bersama di antara kerumunan para wisatawan yang sudah terlihat memenuhi area pasar tradisional.
Sammy terlihat bahagia bisa kembali jalan berdua bersama orang yang di cintai nya.
Saat mereka merasa lelah, mereka membeli beberapa camilan kecil dan minuman segar, duduk di antara bangku - bangku yang ada di pinggir jalan sepanjang taman.
" Sam, kamu sepertinya sekarang jarang olahraga ?" tanya Hanna.
" Aku terlalu sibuk melukis dan membuat karya seni lainnya. Sepertinya aku memang menemukan passion dan hobiku sekaligus".
" Tapi kau juga harus tetap memperhatikan kondisi kesehatanmu, Sam, kau terlihat sangat kurus sekarang. "
" Aku memang sering menunda laparku, aku malas kalau harus melanjutkan kembali karyaku setelahnya, kadang inspirasiku sudah menghilang entah kemana." Sammy tersenyum dan menatap Hanna.
" Kau sendiri, apa kau sering olahraga ? bagaimana dengan kehidupanmu disini ? apa menyenangkan ?" tanya Sammy.
" Aku, ya, seperti inilah... hidupku biasa saja, tapi aku merasa nyaman. Aku paling hanya lari pagi di sekitar jalan belakang gedung kost saat sedang shift siang.
Di sini, teman - temanku, mereka juga sangat pengertian dan perhatian. Sejauh ini, aku tidak merasa kesulitan, hanya saja, aku selalu berusaha menjaga kondisi kesehatanku karena aku jauh dari orangtua, tidak ada yang akan mengurus ku di kostan kalau aku sakit. "
" Bagaimana dengan Rayhan ? Apa kau sering bertemu dengannya ?" tanya Sammy, terlihat sangat serius.
" Tidak juga, kau tahu, padahal kostan kami bersebrangan, karena jadwal kerja kami yang berbeda, aku jadi jarang bertemu dengannya. "
" Owh.. seperti itu. " Sammy menatap jauh ke depan seperti sedang berfikir.
Sammy memang mengetahui alasan Hanna pergi mencari kerja di Bali. Tidak lain untuk lebih dekat dengan Rayhan.
" Sam, Sammy, hello.. ( Hanna melambaikan tangannya di depan wajah Sammy yang sedang melamun. "
" Eh.. iya, ada apa?" tanya Sammy.
" Kau kenapa, melamun yaa.. ?"
" Ah.. tidak.. aku hanya sedang menatap sesuatu di sana. " Menunjuk ke depan.
" Aku seperti menemukan inspirasi baru untuk karya ku."
" Aku sempat terkejut loh, aku dulu hanya mengenalmu sebagai Sammy yang jago bermain basket, aku tidak pernah tahu bahwa kau sangat pandai melukis dan berkarya seni lainnya." Ucap Hanna.
" Sebetulnya dulu, hobiku menggambar komik, bahkan, saat sedang suntuk di kelas, kau tahu, pak Basuki guru Sosiologi, kau paham kan bagaimana kalau beliau sedang mengajar dan menerangkan pelajaran di kelas, aku hanya sibuk menggambar untuk menghilangkan rasa kantukku."
" Hahahaha... ia emang bener banget tuh, aku juga begitu, bahkan temen - temen juga ada yang sampai ketiduran di kelas. "
Mereka berdua tertawa bersama. Dan Sammy menceritakan beberapa kejadian lucu lainnya lagi saat masa SMA mereka dulu, hingga sore hari, mereka berdua terus bercerita, tertawa, dan terlihat sangat bahagia.