
Aku yang sedang merebus mie, merasa gugup karena aku tahu, paman terus memperhatikan ku dari belakang. Aku merasa malu dengan kejadian tadi, aku tiada hentinya mengutuk diriku di dalam hati. Bisa - bisanya aku terjatuh ke dalam pelukannya. Membuatku menjadi merasa canggung saat menatap wajahnya.
Setelah selesai merebus dua mangkuk mie, dengan topping masing - masing satu butir poached egg dan di taburi bawang goreng di atasnya, aku membawanya ke area paman berada.
Sebelumnya aku sempat menata meja lipat tempat makan ku selama ini.
Saat aku menghampiri nya, dia sedang sibuk mengetik hp nya. Dan saat kulihat hp nya, waw, aku terkejut, hp nya keluaran terbaru, merek buah tergigit. Aku ingat, kak Siska sempat berkata padaku bahwa, sepertinya paman orang kaya, mobilnya pun termasuk mobil mewah saat itu.
Aku yang polos, hanya menganggap mobilnya itu hanya mobil sedan biasa, merasa nyaliku sempat menciut saat dia menjemputku sepulang kerja beberapa saat lalu.
Bukannya merasa senang seperti wanita pada umumnya, aku sejujurnya tidak terlalu suka dengan kemewahan. Mungkin karena aku tidak terbiasa dengan semua itu. Aku hanya seorang gadis biasa yang lahir dari keluarga sederhana yang mencoba untuk hidup apa adanya yang penting aku bahagia, itu saja.
Aku baru mulai memahami barang - barang mewah, fashion mewah, tas mewah, mobil mewah, itu semua, karena kak Siska yang memberitahuku. Dia sering mendapat barang mewah dan branded dari pacarnya, atau sekedar hadiah dari beberapa pria hidung belang yang sedang mengantri, menunggunya menjadi wanita single alias jomblo.
Kak Siska memang memiliki paras yang cantik, tubuhnya yang langsing dan sexy, membuat nya sangat di inginkan para pria yang dekat dengannya. Dia juga sangat ramah dan berwawasan luas dan elegan. Dimataku, dia terlihat sangat rendah hati, dia sangat baik dan dermawan, kadang, dia selalu memberiku beberapa koleksi baju, sepatu dan tas mahalnya saat dia merasa tidak menginginkan lagi itu semua. Aku merasa senang menerimanya, semua barang yang jarang bahkan kadang sama sekali belum ia pakai, kak Siska selalu menawarkannya padaku.
Tentu saja tidak semuanya aku terima, aku hanya menerima beberapa sesuai seleraku saja. Dan aku, selalu menukarnya dengan hasil masakanku, walaupun dia tidak memintanya, tapi aku merasa malu, aku hanya bisa memberinya hasil karya seni di dapurku saja. Katanya masakanku sangat enak, dia mana pernah masak saking sibuknya bekerja, pergi kencan dan rutin melakukan spa dan treatmen wajah.
Selang beberapa menit, kami berdua sudah melahap habis semangkuk mie dan satu piring nasi. Sungguh, seperti orang Indonesia pada umumnya, selalu makan mie di sertai nasi dan telur. Double karbo, supaya perut lebih kenyang. Dan sepertinya paman sudah terbawa adat dan kebiasaan masyarakat Indonesia. Tapi, hal ini tidak berlaku bagi yang sedang diet.
Setelah selesai makan, dan membereskan semuanya, hujan pun reda. Paman bertanya padaku,
" Bagaimana, apa kau siap memulai lagi pelajaran bahasa Korea mu ?"
" Aduh, ahjussi, aku merasa mengantuk. "
" Kau mau tidur ? "
" Tidak.. bukan begitu maksudku, lebih baik kali ini kita libur dulu saja ya, lain kali saja.. "
" Kau mau jalan keluar denganku ?"
" Oke, lebih baik kita pergi saja, daripada disini, setiap kenyang aku selalu ingin tidur. "
" Tapi, sepertinya aku harus pulang dulu berganti pakaian, aku tidak mungkin memakai lagi kemeja yang masih basah tadi. "
" Baiklah, ayo, aku temani daripada ahjussi harus bolak balik menjemputku. "
" Benarkah, kau mau berkunjung ke rumahku ?"
" Tentu saja, ahjussi sering mengantarku kesini, walaupun baru kali ini masuk ke dalam kamar kostku. Aku tidak masalah kalau hanya mampir sebentar ke rumahmu. " Jawabku.
" Baiklah, kalau begitu ayo kita pergi. "
" Tunggu sebentar ya, aku ganti baju dulu. Di luar pasti sangat dingin. "
Aku pun masuk ke dalam kamar tidurku untuk mengganti baju, merias kembali wajahku sedikit, dan menyiapkan tas dan barang bawaanku. Tidak lupa menyemprotkan parfum dan mengoleskan oil parfum di beberapa bagian tubuhku. Seperti seorang wanita yang bersiap - siap pergi kencan dengan pacarnya. Ingin terlihat sempurna dan mempesona. Sudah gila aku. Aku menepuk jidatku, mencoba menyadarkan ku dari khayalan semu. Ini semua gara - gara kak Siska memberiku tips yang aneh.
Saat keluar dari kamar setelah berganti baju, paman langsung berdiri dari posisi duduknya. Dia menatapku tajam dari ujung kepala sampai ke ujung kaki.
" Kenapa, apa aku terlihat aneh ?"
Saat itu aku mengganti pakaian menjadi sweater ribbed turtleneck dan celana jeans biru 3/4. Tidak ada yang aneh, lalu aku mengikat rambutku dengan gaya ponytail acak dan poni depan yang sedikit acak juga. Bagiku tidak ada yang aneh, apa mungkin riasan wajahku terlalu mencolok.
" Ahjussi, apa riasanku terlalu mencolok ?" aku bertanya sambil memegang kedua pipiku.
" Maaf, aku tidak bermak-sud.. " dia tidak melanjutkan perkataannya.
" Maksudku, kau terlihat cantik, sangat natural dan, kau sangat wangi. "
" Oh.. begitu ya. Benarkah aku tidak terlihat aneh kan ? " memastikan kembali.
Dia menatapku dengan tatapan seperti terpesona pada sesuatu yang indah. Dan itu membuatku tersipu MALU.
" Ayo, kita pergi sekarang. " Sahut paman.
Setelah mengunci pintunya, kami berdua turun ke bawah. Saat sampai pada anak tangga terakhir, aku seperti akan terpleset, paman selalu dengan sigap menggapaiku, tangan kirinya menahan punggungku dengan kuat dari belakang, dan satu lagi, tangan kanannya merangkul pinggangku dari depan dengan erat. Dan tatapan mata kami bertemu kembali selama beberapa detik.
" Terima kasih, ahjussi. " Ucapku sambil masih menatap matanya.
Dia lalu membenarkan posisi berdiriku, mengarahkan langkahku mengindari air yang menggenang di atas anak tangga terakhir.
" Mungkin tadi ada penghuni kost yang pulang dalam keadaan basah kuyup." Tukasku.
" Berhati - hatilah, mungkin masih ada lagi genangan air di lantai di depan sana. " Sahut paman.
Setelah masuk ke dalam mobil, aku menikmati suasana sejuk setelah hujan turun di sekitar jalan raya lewat jendela mobil yang terbuka. Sebetulnya, aku sedang menghindari kontak mata dengan paman karena merasa canggung dengan kejadian - kejadian tadi di kostan.
" Hati - hati, nanti kau masuk angin. " Ucap paman.
Akupun menutup jendela mobilnya.
" Dan, kau membuat seluruh ruangan di mobilku wangi dengan parfummu. Aku tidak ingin wanginya cepat hilang, gara - gara pintu jendela mobilnya terbuka."
" Wah, kau sangat jujur ya ahjussi.." sahutku, sambil tersipu malu.
Dia hanya tersenyum dan fokus menyetir.
Sesampainya di rumah paman. Aku merasa sangat takjub, rumah dengan desain yang simple tapi elegan, terlihat kecil dari depan tapi luas di dalam. Halamannya luas, juga dengan garasi mobilnya. Disana sudah ada beberapa mobil yang terparkir, entah itu miliknya juga atau milik keluarganya.
Setelah paman mengajakku berkeliling sebentar, aku meminta untuk menunggu saja di sebuah gazebo di belakang rumah dekat kolam renang.
" Suasana rumahnya sangat sepi, apa dia tinggal sendirian disini. Ucapku di dalam hati. "
Saat sedang menunggu nya berganti pakaian, tiba - tiba dari kejauhan aku melihat sesuatu yang menakutkan bagiku.
Seekor anjing siberian husky berwarna hitam putih menatapku tajam. Perlahan dia mendekatiku, aku sangat gugup saat itu, aku langsung berdiri dari tempat dudukku dan menghindari tatapannya, aku mundur secara perlahan mengitari kolam renang, sambil mencoba menenangkan diri dan juga anjing tersebut.
" Anjing baik hati, tolong, aku bukan orang jahat, aku hanya tamu tuanmu, jadi... viss.. damai okeh !!"
Tapi, anjing tersebut malah mengonggong padaku, aku yang saat itu sangat terkejut dan ketakutan tidak memperhatikan langkahku di belakang, ternyata, aku cuma beberapa sentimeter di pinggir kolam. Karena anjing itu terus menggonggong aku pun panik dan terpleset ke dalam kolam.
" Aaaaaaaaaa...... " teriakku sebelum tercebur ke dalam air dan... byuurrrr.... akupun tercebur kedalamnya.
Selama beberapa detik aku berada di dalam air, lalu, dari dalam air kulihat seseorang mendekat, dan masuk kedalam air mencoba mengangkatku yang belum sempat berenang untuk keluar dari kolam.
Ternyata dia paman. Dia mengangkatku dan membantuku keluar dari kolam.
Aku terduduk dan terbatuk - batuk di pinggir kolam. Paman pun buru - buru keluar dari kolam dan membantu menepuk pundakku.
" Kamu tidak apa - apa ?" dengan wajah khawatir.
Lalu, aku malah menangis sangat kencang. Paman memelukku dan mengelus rambutku. Dia mencoba menenangkan ku tanpa banyak bertanya lagi.
Dia lalu memapahku untuk pindah duduk di bangku pinggir kolam dan mengambil handuk yang berada di lemari kecil di atas gazebo. Dan dia menutupi tubuhku dengan handuk.
" Sebaiknya, kita masuk dan berganti pakaian, di luar cuaca sangat dingin apalagi kau dalam keadaan basah kuyup. "
Aku hanya menganggukan kepalaku sambil menggigil gemetar. Untung saja, tadi tas yang ku bawa, ku simpan di atas gazebo jadi tidak ikut tercebur bersamaku.
Paman memapahku masuk ke dalam rumahnya. Kulihat dengan sudut mata ku, anjing itu sedang terdiam di salah satu sudut kolam sambil melihat kami masuk ke dalam rumah.