My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Ternyata...



Di perjalanan menuju bandara, Hanna dan Siwan terus berpegangan tangan, mereka ingin sekali berpelukan, namun mereka malu karena ada pak Adi disana. Walaupun sebetulnya pak Adi pun mengerti dan memaklumi nya, namun mereka menghargai nya karena pak Adi orang yang lebih tua di antara mereka.


" Ahjussi, kau tahu, sepertinya adikku sudah mulai mencurigai hubungan kita." Ucap Hanna.


" Mengapa bisa begitu ?" tanya Siwan.


" Dia terus bertanya tentangmu kemarin, untungnya aku tidak terpancing olehnya."


" Apa kau takut, keluargamu tahu kalau kita memiliki hubungan yang spesial ?" tanya Siwan.


" Aku, sejujurnya bukan tidak mau mengakuimu di depan keluargaku, namun, aku takut, mereka akan terus mendorongku untuk segera berpisah denganmu." Jawab Hanna terdengar sedih.


" Aku, bisa saja menculikmu dan membawamu kabur ke luar negeri, kalau kau mau." Ucap Siwan.


Mendengar perkataan kekasihnya seperti itu, Hanna jadi merasa ngeri sendiri mendengarnya.


Hanna melepaskan genggaman tangan Siwan dan memukul dada kekasihnya.


" Ish... ahjussi, apa kau sedang bercanda ? tidak bisa begitu, tidak akan bahagia hidup kita kalau seperti itu caranya." Jawab Hanna.


Siwan tersenyum, lalu mengusap kepala kekasihnya itu, " aku bercanda, jangan marah ya !! lagipula, itu bukan tindakan seorang pria jantan, aku akan datang pada keluargamu dan memintamu secara baik - baik." Jawab Siwan.


" Meminta, memangnya aku makanan, tidak semudah itu ahjussi, kau tahu kan apa alasannya." Ucap Hanna.


" Iya, aku tahu." Siwan lalu menatap jauh kedepan, menghindari tatapan kekasihnya, dia tidak bisa mengeluarkan kata - kata lagi di saat pikirannya sedang kacau memikirkan ucapan kekasihnya itu. Karena memang pada kenyataannya, dia pun tidak bisa merubah keyakinannya begitu saja.


Hanna menatap ke luar melewati jendela, sebetulnya dia sedang menahan air matanya agar tidak menetes keluar.


Pak Adi hanya melirik mereka melalui kaca spion. Siwan terlihat seperti sedang banyak pikiran, dia bersandar pada kursi mobil dan menutup matanya. Sedangkan Hanna, dia sedang terlihat melamun menatap ke arah luar melalui jendela mobil.


Sesampainya di bandara, sebelum Siwan dan Hanna turun dari mobil, pak Adi turun terlebih dahulu lalu menurunkan tas milik Siwan di bagasi. Lalu pak Adi berkata akan menunggu mereka di dekat gate pemberangkatan menuju Bali.


Siwan dan Hanna mengobrol di dalam mobil, masih ada waktu sekitar satu jam lagi sebelum pemberangkatan.


" Chagiya, aku akan selalu menjaga hatiku hanya untukmu, aku akan menunggumu. Percayalah, dan tetaplah di sisi ku, setidaknya untuk saat ini dan beberapa waktu ke depan, tetaplah bersamaku." Ucap Siwan sambil menggenggam tangan Hanna.


" Baiklah, ahjussi, aku percaya padamu, kau pun harus percaya padaku." Ucap Hanna.


Dan, sebelum turun dari mobil, mereka sempat berpelukan lalu berciuman untuk beberapa saat.


" Berjanjilah, saat kau pulang nanti, tidak akan ada yang berubah, hatimu, tetaplah milikku, apapun yang terjadi, mari kita tetap bersama, sampai takdir yang memisahkan kita nanti." Ucap Siwan lalu kembali memeluk kekasihnya itu.


Beberapa menit kemudian, Siwan sudah berada di dalam pesawat menuju Bali. Dan kini Hanna sedang dalam perjalanan pulang ke rumahnya di antarkan oleh pak Adi. Hanna duduk di samping pak Adi, di kursi depan.


" Neng, bukannya duduk di belakang saja supaya nyaman bisa sambil istirahat." Ucap pak Adi.


" Tidak apa pak, santai saja. Emh... pak Adi rumahnya dimana ? sudah berkeluarga ?" tanya Hanna.


" Saya tinggal di jalan xxx neng. Alhamdulillah saya sudah punya anak dua, yang sulung masih sekolah sma kelas 3, kalau yang bungsu masih sd kelas 6." Jawab pak Adi.


" Emh.... pak Adi kenal ahjussi dari kapan ?" tanya Hanna.


" Saya kenal mister Im sekitar awal tahun 2010, waktu itu masih ikut koh Erik tinggal di Bali. Jadi ceritanya koh Erik dulu sempat pisah ranjang sama istrinya, lalu kabur ke Bali. Saya di suruh ikut beliau, ya karena saya butuh uang buat biaya sekolah, saya juga terpaksa jauh dari keluarga." Jawab pak Adi.


" Terus.. ?" tanya Hanna masih penasaran.


" Nah, terus pas di Bali udah sekitar lima bulan, baru koh Erik kenal sama pak Siwan, mereka jadi rekan bisnis disana membuka sebuah resort di daerah xxx di Bali. Awalnya mereka kenal karena mereka memiliki hobi yang sama." Ucap pak Adi.


" Hobi, apa itu ?" tanya Hanna.


" Emh... itu, anu, saya gak bisa cerita lagi takut salah." Ucap pak Adi.


" Apa sih, ih.. pak Adi mah gitu, udah terlanjur cerita loh, bikin penasaran aja." Ucap Hanna sambil pura - pura marah.


" Saya gak mau gosipin orang, tapi kalau janji gak akan bilang - bilang, saya mau cerita karena neng pacarnya mister Im. " Ucap Pak Adi.


" Emh... oke, janji deh, tutup mulut nih !!" Ucap Hanna lalu merapatkan mulutnya.


" Hobinya, dulu, mereka, sama - sama hobi main poker." Ucap pak Adi.


" What, maksudnya, judi ?" tanya Hanna.


" Hehe... tidak, hanya hobi." Ucap pak Adi gelagapan.


Hanna bisa menangkap gestur pak Adi yang mulai merasa cemas takut terus menerus di interogasi oleh Hanna.


" Oke, cukup pak, saya gak akan bertanya hal yang lebih dalam lagi. Tenanglah, saya sudah janji bakal tutup mulut, oke !!" Ucap Hanna membuat pak Adi merasa sedikit lega.


" Syukurlah, neng, setiap manusia pasti ada sisi baik maupun sisi gelap di masa lalu. Tapi, kalau neng bisa menerimanya, tidak apa - apa, lagi pula, setahu saya mister Im sekarang bisnisnya sudah bukan bisnis seperti itu lagi. Perjudian semacam itu, buktinya sekarang mister Im lebih fokus mengurus resort dan bisnis kulinernya seperti koh Erik." Ucap pak Adi.


" Sebetulnya, saya belum terlalu tahu seperti apa ahjussi di belakang saya, sedikit demi sedikit, saya mulai tahu bagaimana masa lalunya, tapi anehnya, saya tidak pernah merasa protes, yang saya takutkan hanya perpisahan, lambat laun kami harus berpisah karena perbedaan keyakinan. Tapi, setidaknya untuk saat ini, saya maupun ahjussi, belum bisa, dan belum rela untuk berpisah. Padahal sebetulnya, semakin lama bersama, semakin sulit saya melepaskan genggaman tangannya." Ucap Hanna sambil melamun menatap jalanan yang nampak macet di depan.


" Neng harus percaya, kalau jodoh, tidak akan lari kemana, Alloh pasti akan kasih jalan, walaupun panjang dan berliku, kalau takdir kalian hidup bersama, Alloh pasti akan mempermudah. Percayalah, dan tetaplah berdoa dan berserah diri pada - Nya." Ucap pak Adi.


Setelah mendengar ucapan pak Adi, Hanna hanya tersenyum tanpa mengeluarkan satu patah kata lagi dari mulutnya. Dia hanya berkata " aamiin" di dalam hatinya. Hingga tanpa terasa kini Hanna sudah berada di depan gerbang rumahnya.


Hanna lalu membuka seatbelt nya.


" Pak Adi, mampir dulu ke rumah saya yuk, minum kopi dan makan siang dulu di rumah. " Ajak Hanna.


" Tidak neng, terima kasih banyak, saya langsung pulang saja ya, tidak usah repot - repot. " Ucap pak Adi.


" Beneran neng, lain kali saja ya, saya harus ke rumah koh Erik dulu soalnya." Jawab pak Adi.


" Baiklah, kalau begitu, terima kasih banyak ya pak, hati - hati di jalan ya. " Ucap Hanna lalu turun dari mobilnya.


Saat masuk ke dalam rumah, terlihat adiknya dan ibunya sedang duduk di ruang tengah seperti sengaja menunggu Hanna pulang.


Setelah mengucapkan salam, Hanna langsung di suruh duduk di samping ibunya di sofa ruang tengah.


" Ada apa mah ?" tanya Hanna.


" Teh, mamah cuma mau tanya, tolong jawab jujur ya, mamah gak akan marah, cuma mau tahu aja, Abdul juga udah janji gak bakal bilang sama bapak, jadi tolong jawab jujur ya.. " Ucap ibunya pada Hanna.


" Iya, oke, ada apa sih ?" tanya Hanna.


" Emh... itu, tadi yang namanya Siwan, pacar teteh kan ?" tanya ibunya.


Seketika, mulut Hanna langsung membeku, bibirnya terasa berat walau hanya sekedar untuk terangkat ke atas. Hanna terdiam sesaat, lalu memberanikan diri menjawabnya.


Hanna menghela nafas dan menghembuskannya perlahan dengan lembut, " Iya bu, maafin Hanna. " Ucap Hanna, lalu tanpa terasa air mata mengalir di pipinya. Hanna langsung memeluk ibunya dan menangis dengan keras.


" Maaf bu, Hanna suka sama ahjussi, Hanna tau ini salah, tapi Hanna cinta sama ahjussi, Hanna belum siap pisah dan putus hubungan sama dia. " Hanna lalu melanjutkan tangisannya semakin kencang.


Ibunya berusaha menenangkan Hanna, beliau menepuk pundak anak gadisnya perlahan, dan mengelus rambutnya serta mencoba menenangkan dengan kata - kata. Sedangkan adiknya hanya terdiam menahan rasa sedihnya melihat sang kakak menangis tersedu - sedu di hadapannya.


Setelah suasana hati Hanna agak tenang, ibu mencoba berbicara baik - baik terhadap Hanna.


" Teh, mamah tahu, perasaan suka dan cinta teteh sama orang lain pasti tulus, apalagi dia pasti cowo pertama yang bikin teteh lupa sama Rayhan kan ?" tanya ibu pada Hanna.


Lalu Hanna hanya menganggukan kepalanya sambil masih sedikit terisak - isak menahan tangisnya.


" Tapi teh, kalau memang teteh tahu dari awal hubungan teteh sama dia itu salah, mending sabaiknya di akhiri saja teh, daripada nanti teteh sendiri yang malu, apalagi nanti kalau sampai orang lain tahu, keluarga juga bakal malu dan sedih, siapa yang bakal rela dan tahan melihat anak gadisnya di labrak orang dan di tuduh jadi pelakor rumah tangga orang lain." Ucap ibunya.


" Hah.. ?" seketika Hanna merasa tercengang saat mendengar kata pelakor dari mulut ibunya. Dia pikir pasti ada kesalahan pahaman di antara percakapan ini.


" Udah lah teh, kalaupun mau balik lagi ke Rayhan, ibu mah gak apa - apa, meskipun gak setuju karena latar belakang keluarganya yang nyebelin kaya gitu, tapi ibu lihat Rey anak baik, dan terlebih lagi dia masih single, masih lajang, bukan suami orang lain teh. Jangan ya, plis mamah mohon, jangan rusak rumah tangga orang lain. " Pinta ibunya.


" Mah, tunggu dulu, kok mamah bisa mikir gitu, pelakor apa sih maksudnya, mamah kayanya salah paham deh." Ucap Hanna.


" Jadi gini teh, ngeliat postur dan perawakan om Siwan, sepertinya umurnya lebih tua kan ? seumuran sama bibi dan mamang kan?" tanya adiknya.


" Iya, emang bener, sekitar 40 apa 41 ya, lupa lagi." Jawab Hanna.


" Pasti udah nikah kan ?" tanya Abdul lagi.


" Iya, emang udah nikah, tapi dia seorang duda. " Jawab Hanna.


" Apa, jadi bukan suami orang ?" tanya ibunya merasa terkejut.


" Bukan lah, mana mau aku juga jadi pelakor, plis lah mah, jangan terbawa arus gosip masa kini atulah... " Ucap Hanna.


" Haduh... syukur deh kalau begitu. " Ibu Hanna kini bisa bernafas dengan lega.


" Terus, kenapa gak di bawa kesini terus di kenalin sama kita, malah ngaku jomblo terus tiap di tanya sama bapak ?" tanya adiknya.


" Itu, soalnya, ada alasan lain. Maaf ya mah, Hanna sendiri yang tidak siap memperkenalkan ahjussi, soalnya Hanna takut kalian pasti marah dan secepatnya nyuruh Hanna pisah sama ahjussi." Ucap Hanna.


" Oke, oke, sekarang, coba jelasin dulu sama mamah, apa alasannya ? mamah bakal denger baik - baik, ibunya menatap Hanna ' terus kamu Dul, diem ya, gak usah banyak komen dulu sama kakakmu ini. " Ucap ibunya mengancam adik Hanna.


" Oke silahkan, anggap saja aku hanya lalat di antara kalian. " Ucap Abdul.


" Jadi mah, ahjussi warga Korea yang sering tinggal di Bali, soalnya bla bla bla bla..... " Hanna mulai menceritakan sebanyak yang ia tahu tentang Siwan, mulai dari asal usulnya, pekerjaannya, status dudanya, alasan dia sering tinggal di bali, dan kepribadian Siwan yang selalu menjaga melindungi dan tetap menghargai Hanna walaupun dia seorang wanita muslim.


" Tunggu dulu, wanita muslim, ah.... mamah paham sekarang, dia non muslim kan ?" tanya ibunya menatap wajah Hanna.


Hanna tidak berani menatap balik wajah ibunya, dia hanya menunduk sambil menganggukkan kepalanya, lalu tanpa terasa air mata kembali menetes membasahi bantal yang saat itu sedang di pangku oleh Hanna.


" Ya Alloh teh... " Ucap adiknya merasa frustasi mendengar kenyataan yang sesungguhnya.


" Mah, kenapa, harus dia orangnya, Hanna belum siap berpisah, padahal dari awal Hanna tahu, kalau pada akhirnya kita gak akan bisa bersama karena perbedaan keyakinan. " Ucap Hanna sambil kembali terisak - isak menangis di hadapan ibu dan adiknya.


" Mau sampai kapan ?" tanya ibunya.


" Entah lah mah, Hanna gak tahu. " Jawab Hanna.


" Sebaiknya kamu segera pulang saja ke Bandung, tidak apa kan kalau secepatnya resaign dari tempat kerja di Bali ?" tanya ibunya membuat Hanna menangis semakin kencang lagi.


Hanna tahu, pasti akan seperti ini jadinya, apalagi kalau sampai ayahnya tahu, tanpa ampun pasti Hanna tidak akan bisa kembali ke Bali lagi.


" Mah, kumohon, beri kami waktu, setidaknya sampai habis kontrak awal tahun 2017 nanti, Hanna janji pasti pulang ke Bandung dan putus hubungan sama ahjussi. Please... !!" Hanna memohon pada ibunya.


Selama beberapa menit ibunya terdiam dan berpikir. Lalu, setelah Hanna kembali tenang, kini ibunya pun mulai berbicara dari hati ke hati.


" Teh, mamah cuma takut karena rasa cinta kamu sama dia, terus kamu khilaf dan berbuat dosa, apalagi sampai kamu menggadaikan kesucian sebagai perempuan dan keyakinan kamu berubah seiring rasa cinta yang terus tumbuh besar sampai kamu makan istilah cinta itu buta, mamah gak mau seperti itu. Mamah takut bapak kamu nanti tahu terus jadi hilang akal. Pasti bapak bakal langsung nikahin kamu sama cowo pilihannya. Mamah gak mau kamu menjalani rumah tangga hanya karena paksaan orang tua." Ucap ibunya.


" Terus, Hanna sekarang mesti gimana mah ? sejauh ini Hanna masih bisa melindungi diri, ahjussi selalu menghargai Hanna sebagai perempuan, dia belum pernah menyentuh kesucian Hanna, dia selalu mensupport Hanna melakukan ibadah dan kewajiban Hanna. Kami belum mau berpisah, kami hanya sedang menunggu takdir sendiri yang akan memisahkan, itu saja." Ucap Hanna.


Lalu, tiba - tiba terdengar suara mobil dari halaman rumah Hanna. Dan kini ibu serta adiknya menyuruh Hanna masuk ke dalam kamar sebelum ayahnya masuk ke dalam rumah dan melihat kondisi Hanna yang sembab karena air mata. Mereka mengakhiri percakapan sampai disini. Mereka mencoba menutupi semuanya dari ayah Hanna.


Dan kini di dalam kamar, Hanna menyetel. radio lalu kembali menangis di atas kasurnya. Dia meratapi kesedihannya saat itu. Semuanya benar seperti dugaannya. Apalagi kalau sampai ayahnya tahu fakta tentang kehidupannya di Bali, tentang Siwan dan hubungannya. Ayahnya pasti akan terus membuntuti Hanna kemanapun dia pergi supaya tidak bisa kembali berhubungan bersama Siwan.