
WARNING mengandung adegan 18+
Selama 30 menit, Hanna dan Siwan menunggu para therapis mempersiapkan semua keperluan untuk memulai proses sauna dan spa di area kamar mandi dan ruang sekitar kamar tidur.
Dan, setelah selesai melakukan tugasnya, para therapis mempersilahkan Hanna dan Siwan segera masuk ke dalam kamar mandi untuk melakukan sauna terlebih dahulu demi membersihkan diri dan membuka pori - pori tubuh agar proses spa dan lulur nanti hasilnya optimal.
Di dalam kamar mandi, Hanna hanya melihat sebuah whirlpool berukuran sedang berbentuk lingkaran. Dan ada shower pancuran air dengan konsep atap terbuka, menyatu dengan alam, karena di sekitar temboknya terdapat beberapa pohon palm dan pohon hias lainnya menjulang tinggi menambah suasana sejuk dan segar di dalam area kamar mandi.
Lalu, tidak jauh, ada sebuah ruang tertutup dinding kaca muat untuk dua orang tidak terlalu kecil atau pun besar, sepertinya itu merupakan ruang sauna.
" Ahjussi, apa kita berdua harus bersama - sama melakukannya di sana ?" tunjuk Hanna ke sebuah ruang sauna dan whirlpool berbentuk lingkaran yang cukup besar itu.
" Kau tidak mau ? karena di villa ini hanya ada satu kamar mandi dengan ruang sauna dan whirlpool nya.
" Emh.. apa kau bisa berjanji satu hal padaku ?" tanya Hanna terlihat ragu.
" Apa ? " Siwan menatapnya sambil mendekatinya. Hanna terlihat mundur secara perlahan saat Siwan terus mendekatinya hingga ia bersandar pada sebuah tembok, Siwan baru menghentikan langkahnya.
" Jangan sentuh aku. Maksudku, jangan melewati batasku. " Hanna menyilangkan kedua tangannya menutupi dada dan setengah tubuh nya.
" Baiklah, jadi, tidak boleh peluk dan cium juga ? wah syarat yang sangat sulit. " Siwan menggaruk pelipisnya.
" Oke, itu pengecualian, hug and kiss, aku masih bisa mentolerir, tapi untuk selebihnya aku tidak bisa. " Hanna menatap Siwan yang terlihat sedikit kecewa.
" Oke, aku akan berusaha tidak melewati batas seperti yang kau inginkan. Walaupun itu sangat sulit, tapi aku akan menghargai keputusan mu. "
Siwan lalu mencium pipi Hanna, lalu,
" Ayo sebaiknya kita segera melakukannya, mereka menunggu kita terlalu lama.
Siwan berbalik dari hadapan Hanna, membuka kaos yang ia pakai dan celananya. Dia Hanya memakai boxer saja. Lalu masuk ke dalam ruang sauna dan duduk di sebuah kursi kayu panjang.
Hanna yang masih terpana melihat penampilan Siwan dari belakang, hanya melongo, saat ia melihat sebuah tatto kepala harimau di punggung Siwan. Dan, tatto naga di area pundak sebelah kirinya memanjang hingga ke bagian otot lengannya.
" Kenapa kau masih di situ, ayo cepat kemari, bukalah baju mu. Tenang saja, aku tidak akan melihat mu. " Siwan memejamkan matanya dan menutup kembali pintu kaca box sauna itu.
Setelah memastikan bahwa Siwan benar - benar menutup matanya, Hanna baru membuka baju dan celananya. Dia menggantung baju dekat dengan baju Siwan yang sudah tergantung beberapa meter dari area whirlpool. Lalu dia mengikat rambutnya yang terurai dan menggulungnya ke atas.
Siwan sempat mengintip sedikit saat Hanna sedang menggulung rambut panjangnya. Dia merasa sangat terpana untuk sesaat melihat Hanna dari ujung rambut hingga ujung kaki, walaupun hanya tampak dari samping, terlihat sangat menggoda, lalu menutup kembali matanya sebelum Hanna memergoki kelakuannya.
Seketika fantasi liar Siwan menari - nari di dalam otaknya. Leher Hanna yang terlihat panjang dan sexy karena rambutnya di gulung ke atas, tubuh mungil, paha dan betis ramping nya, bokongnya terlihat berisi, dan, dua gunung kembarnya menyumbul dari dalam bra nya, terlihat sangat menantang.
Tentu saja, membuat Siwan dari pertama melihatnya tidak bisa menahan adiknya yang bangun dan sudah menonjol. Tapi, dia hanya bisa mengatur nafasnya dan segera menepis pikiran - pikiran kotornya itu. Agar adiknya tetap tertidur dan tidak membuat kekasihnya itu jadi cemas.
Setelah menggulung rambutnya ke atas, Hanna lalu menghampiri Siwan ke dalam box sauna. Tidak lama, hanya lima menit Siwan lalu beranjak dan berendam terlebih dahulu ke dalam air hangat di sebuah whirlpool.
Dan Hanna menyusulnya, keluar dari box sauna dengan penuh keringat dan memasuki whirlpool yang sudah Siwan tempati sejak beberapa menit yang lalu. Hanna hanya mengenakan bra dan celana dalamnya saja. Dia lalu merendam badannya ke dalam dan terlihat bersandar jauh di sebrang Siwan.
" Ah.. hangat... " Hanna menghela nafas.
" Ahjussi, apa kau tertidur ? tanya Hanna karena melihat kekasihnya itu terus memejamkan mata.
" Aku tidak mau fantasi liarku menari - nari di dalam otakku, karena melihatmu telanjang seperti itu. " Siwan berkata sambil masih memejamkan matanya.
" Maka dari itu, aku tidak mau membuka mataku, aku ini pria normal, penuh nafsu saat kekasihku ada di sampingku dan bertelanjang seperti itu. " Siwan tetap tidak mau membuka matanya.
" Aku tidak telanjang, aku memakai bra dan celana dalam terlihat seperti bikini. "
" Iya, tetap saja, bagiku, kau sedang telanjang, fantasi liarku berkata seperti itu. Jadi, kau bersantai saja untuk beberapa menit disini. Setelah itu kita selesaikan ritual spa kita. "
" Baiklah, terserah kau saja, ahjussi."
Tiba - tiba, tanpa sengaja kaki Hanna menyentuh paha Siwan.
" Apa kau sedang menggoda ku ?" Siwan membuka matanya karena merasa sedang di permainkan.
" Tidak, aku tidak sengaja. " Lalu Hanna menggeser sedikit posisi tubuhnya menjauh dari Siwan.
" Sepertinya sudah cukup kita berendam, aku akan keluar duluan, jangan lupa pakai kimono handukmu. " Tukas Siwan dan beranjak dari whirlpool.
Setelah Siwan keluar dari kamar mandi, lalu di susul oleh Hanna di belakang nya.
Setelah membuka bra dan celana dalamnya yang basah, Hanna menggantinya dengan bra dan celana dalam yang baru, yang masih kering. Saat berpergian atau bekerja, dia memang selalu membawa stok barang tersebut sebagai ganti di dalam tasnya, karena dia tidak tahan dengan rasa gatal karena keringat di sekitar area intimnya itu.
Lalu, setelah menggunakan kimono handuk Hanna keluar dari kamar mandi, menuju sebuah ruangan. Di sana sudah ada Siwan dan dua orang therapis, pria dan wanita.
Siwan terlihat sedang duduk menunggu Hanna di atas sebuah ranjang khusus memijat. Di sampingnya, ada sebuah sekat pemisah dan terdapat sebuah ranjang lagi untuk Hanna.
Hanna menghampiri nya, dan menjelaskan pada therapis wanita di sana, bagian mana saja yang tidak ingin di sentuh oleh sang therapis. Lalu Hanna menaiki ranjang tersebut dan menengkurapkan tubuhnya di atas ranjang dan sang therapis mulai membuka kimono handuknya, membalurkan beberapa tetes minyak aroma therapy di atas punggung Hanna.
Begitu juga dengan Siwan. Sekat pembatas itu terdapat beberapa celah hingga bisa saling mengintip satu sama lainnya, karena terbuat dari sebuah ukiran kayu.
Keduanya terlihat sangat menikmati pijatan demi pijatan sang therapis. Mereka terlihat begitu relax, saat otot - otot tegang mereka di sentuh dan di pijat oleh sang therapis.
Saking begitu menikmatinya, setelah mendapatkan lulur di badannya, Hanna tertidur lelap di atas ranjang pemijatan.
Siwan yang menggeser sekat pemisah nya ke belakang, melihat Hanna tertidur sangat lelap. Karena terlihat lulurnya sudah mulai kering, Siwan meminta pada therapis wanita untuk membersihkan kembali lulur di badan Hanna, lalu menutupinya dengan sehelai kain batik penutup badan hingga ke punggungnya.
Siwan pun mempersilahkan para therapis untuk pulang karena sudah menyelesaikan semua tahapan spa dan sauna, bahkan hingga totok wajah. Tidak lupa dia memberi tips tambahan berupa uang tunai kepada masing - masing therapis.
Setelah memastikan para therapis sudah pulang, dia kembali ke ruang spa tadi dan masih melihat Hanna tertidur lelap. Siwan lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badannya terlebih dahulu di bawah kucuran shower air hangat.
Setelah selesai mandi, memakai baju dan mengeringkan rambutnya dengan handuk, Siwan kembali ke ruang spa tadi, dan mendapati Hanna sudah terbangun dan duduk, sedang menggeliatkan tubuh dan tangannya dengan cara yang sangat menggoda bagi Siwan.
" Sudah bangun ?" Siwan tersenyum sambil berjalan mendekat pada Hanna.
Hanna yang merasa kaget langsung menutupi kembali tubuhnya itu dengan sehelai kain batik yang ada.
" Apa aku tertidur sangat lama ? tanya Hanna.
" Tentu saja, putri tidur. Ini sudah lewat jam makan siang. " Ucap Siwan.
" Kalau begitu aku mandi dulu ya. " Hanna lalu bergegas menuju kamar mandi.
Saat sedang menunggu Hanna meyelesaikan mandinya, Siwan terlihat sedang menata sajian masakan di atas meja makan.