My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Missing you...



Keesokan harinya, pagi hari Hanna sibuk bersiap - siap untuk pergi bekerja. Dia bangun agak kesiangan karena semalam pulang dari karaoke sangat larut, setelah itu dia juga sempat mengobrol dengan Rayhan.


Untung saja, dia tidak terlambat datang ke tempat kerja karena hari minggu pagi jalanan tidak terlalu macet seperti hari - hari lainnya.


Beberapa jam berlalu, sekitar 10 menit sebelum waktu istirahat tiba, saat Hanna sedang bekerja melayani pelanggan di konternya, dari kejauhan dia melihat seseorang yang sangat ia kenal. Seorang pria memakai kacamata hitam berjalan mendekat padanya, saat dia sudah berada di dekatnya, barulah pria itu membuka kacamatanya, dan tidak lama pelanggan yang sedang ia layani pun pergi setelah mengucapkan terima kasih padanya. Lalu Hanna mendekati pria berkacamata tadi.


" Selamat siang, pak, ada yang bisa saya bantu ?" tanya Hanna.


Pria itu tersenyum penuh bahagia, dia adalah Siwan.


" Emh.. aku ingin seseorang menemaniku makan siang hari ini." Ucap Siwan.


" Baiklah pak, mohon di tunggu sekitar lima menit lagi, setelah tiba waktu istirahat, saya akan menemani bapak makan siang. " Jawab Hanna.


Lalu Siwan tertawa dan pergi meninggalkan Hanna.


Tidak lama kemudian, kini Siwan dan Hanna sudah berada di rumah makan terdekat dari tempat Hanna bekerja. Rupanya mereka sudah membuat janji untuk makan siang bersama sebelum Siwan pergi ke Seoul.


" Kau sering makan disini ?" tanya Siwan.


" Tidak terlalu, soalnya aku kadang membawa bekal dari rumah. Lebih hemat." Ucap Hanna.


" Chagiya, selama aku pergi, kalau kau butuh sesuatu atau butuh bantuan, katakan saja pada Aji, aku sudah berbicara dengannya tentang hal ini." Ucap Siwan.


" Iya, baiklah, aku tidak akan sungkan pada bli Aji. " Jawab Hanna, kali ini dia tidak mau berdebat. Supaya Siwan tidak khawatir padanya dia langsung menyetujuinya. Padahal sebelumnya, setiap kali Siwan akan pergi jauh, dia selalu berkata hal yang sama seperti tadi, tapi Hanna selalu menjawabnya " tidak usah repot - repot, aku bisa mengurus diriku sendiri selama ini. Jadi, tidak usah khawatir, pergilah dengan tenang. "


Tapi pada akhirnya, Siwan tetap tidak bisa pergi dengan tenang, dia selalu meminta Aji untuk mengawasinya dari kejauhan. Dan selalu menanyakan bagaimana keseharian Hanna saat dia sedang pergi jauh.


Selesai makan, mereka mengobrol, bercanda tawa, memanfaatkan waktu yang tersisa hanya tinggal beberapa menit lagi.


" Chagiya, tunggulah aku, aku akan kembali, tetaplah disisiku." Siwan memegang kedua tangan kekasihnya itu, menatapnya penuh kehangatan.


" Tentu saja, aku akan menunggumu disini. Ahjussi, kabari aku ya kalau sudah sampai. Aku akan selalu mendoakan keselamatanmu. " Jawab Hanna.


" Terima kasih. Aku akan sangat merindukanmu. " Siwan mencium kedua tangan Hanna dan menjadi akhir pertemuan mereka hari ini.


Hanna kembali bekerja hingga pukul 15.00 nanti, dan Siwan, dia langsung berangkat menuju bandara di antar oleh Aji.


Beberapa minggu berlalu, Hanna merasa sangat merindukan kekasihnya. Padahal tak jarang dia pergi sekedar berkumpul atau jalan - jalan, nonton film dan karaokean bersama Aji, Austin dan Siska.


Dia benar - benar merindukan kehadiran Siwan di sampingnya.


Lalu, pada suatu hari, saat dia sedang libur dan memutuskan untuk pergi berbelanja ke pasar tradisional sendiri, tiba - tiba disana dia bertemu dengan Andre.


" Eits... ku kira siapa, ternyata kamu nona manis. " Ucap Andre yang tidak sengaja tersenggol oleh Hanna.


" Hanna bang !!" Ucap Hanna tegas.


" Hehe.. habis belanja nih, sini aku bantu bawain, kayanya berat tuh." Ucap Andre lalu mengambil beberapa kantong keresek di tangan Hanna.


" Makasih ya, mau bantuin. " Ucap Hanna.


" Sendirian aja nih, mana pacarnya ?"


" Ahjussi lagi di Seoul, ada pekerjaan disana. " Jawab Hanna tanpa basa - basi.


" Wah, beneran kerja ? atu jangan - jangan.... " Andre tidak melanjutkan ucapannya.


" Ish.. jangan ngomporin deh bang, awas loh kalau ngomong yang jelek - jelek soal pacarku nanti aku timpuk lagi pake keresek belanjaan ini.. " Ucap Hanna sambil mengacungkan kantong keresek yang ada di tangannya.


" Engga ih, siapa yang mau ngomong jelek, aku cuma mau bilang, jangan - jangan, dia lagi liburan disana, soalnya pacarnya cerewet dan galak gini.." Ucap Andre menggoda Hanna.


" Tuh kan, malah ngeledek... udah ah siniin itu belanjaan aku." Hanna merasa kesal.


" Nah kan, malah ngambek, maaf lah, aku bercanda.. " Ucap Andre.


Lalu mereka meneruskan perjalanan sampai tempat parkir.


" Makasih ya, udah bantuin bawain belanjaannya. " Ucap Hanna pada Andre.


" Sama - sama, hati - hati di jalan ya." Ucap Andre, dan menunggu Hanna sampai pergi meninggalkan area pasar.


" Bang, sebetulnya, disini lagi apa sih ? kerja ? dagang? atau apa?"


" Aku, ya kerja lah... " Jawab Andre.


" Ya kerja apa, kan pekerjaan banyak jenisnya, emh... " sejenak Hanna berpikir lalu menatap Andre penuh waspada. " Jangan - jangan, kerjaanmu kaya dulu ya, yang waktu pertama kali kita ketemu. " Ucap Hanna.


" Ish... enggak lah, kerjaanku halal tau. Aku kan udah minta maaf, masih aja di inget - inget, waktu itu aku bener - bener lagi khilaf, sumpah !!" Ucap Andre mengacungkan dua jari kanannya.


" Hihi... tuh kan, sendirinya juga gak mau kan di tuduh macem - macem. " Hanna tersenyum melihat wajah Andre.


" Udah sana cepet pulang, panas nih udah siang." Ucap Andre.


" Oke, bye... " Hanna pun menyalakan motornya dan pergi meninggalkan Andre sendirian.


Sesampainya di rumah, Hanna langsung mengurus semua sayur, buah, daging dan ikan hasil belanjaannya tadi pagi. Saking sibuknya, dia tidak mendengar ada panggilan telepon masuk ke nomornya, karena hpnya masih berada di dalam tas kecilnya.


Setelah selesai mengurus semuanya di dapur, barulah dia beristirahat dan mengecek hp yang berada di tas nya sambil bersandar pada bean bag chair di ruang tv.


Dia melihat ada beberapa panggilan masuk dan pesan ke nomornya. Saat dia melihatnya ternyata itu dari Siwan dan ibunya di Bandung.


Terlebih dahulu, dia membalas pesan dari ibunya lalu terakhir baru membalas pesan Siwan. Namun, tidak lama kemudian, Siwan melakukan panggilan melalui video calling.


" Hai.. darimana?" tanya Siwan.


" Tadi dari pasar, sekarang baru selesai mengurus belanjaan di dapur. "


" Sendirian ?" tanya Siwan.


" Iya, sendiri. "


" Kenapa tidak minta Aji ikut bersamamu ? aku kan sudah bilang, kalau butuh bantuan panggil saja Aji. "


" Ahjussi, aku masih bisa pergi sendiri, kasihan bli Aji, masih pagi udah aku repotin, lagipula kan sekarang naik motor, jadi tidak terlalu ribet. " Hanna mencoba merengek pada Aji.


" Aku hanya takut kau kerepotan membawa belanjaan yang banyak. "


" Tidak kok, aku sudah terbiasa, jangan khawatir."


" Iya, kau memang wanita yang mandiri. "


" Hehe... ahjussi, kau bilang tidak akan lama, tapi ini sudah hampir mau satu bulan. "


" Iya, maafkab aku ya, sebentar lagi, aku akan meyelesaikannya dengan cepat dan segera pulang ke Bali menemui mu. "


" Aku, kesepian. " Hanna memasang wajah sedihnya.


" Bukannya Aji dan Austin sering mengajakmu pergi jalan, juga bukannya Siska dan Rayhan pun selalu menemanimu di kostan. "


" Ih.. tentu saja beda. Sudahlah, kau tidak akan mengerti !!" Hanna terlihat cemberut.


" Hihi.. jangan marah, nanti ku bawakan oleh - oleh skincare produk Lan**ge terbaru dari sini. Kau mau ?" Ucap Siwan mencoba membujuk Hanna agar tidak cemberut lagi.


" Serius, waw.. mau dong, sekalian cushionnya boleh ? punyaku sudah mau habis. " Hanna tiba - tiba berubah menjadi lebih ceria.


" Apa saja yang kau mau, aku akan membelikanmu semuanya." Ucap Siwan.


" Asyik... janji ya,,lebih baik aku di beri hadiah satu set skincare daripada tas dan sepatu mahal." Ucap Hanna kegirangan.


Siwan merasa senang melihat kekasihnya bisa tertawa lagi. Dia pun ikut tertawa saat Hanna berhasil melucu di depannya lewat layar hp. Dan saking lamanya mereka bervideo call, tanpa terasa baterai hp Hanna sudah merah.


" Ahjussi, baterai hpku sudah low, nanti di lanjut lagi ya. "


" Oke. Chagiya, i miss you. " Ucap Siwan membuat Hanna tersenyum lebar.


" I miss you too, so much.. Muach.. bye.. "


Percakapan mereka berakhir, Hanna merasa senang sekaligus lelah. Selesai bervideo call bersama kekasihnya, dia lalu tertidur lelap di dalam kamarnya.