
Beberapa minggu berlalu, aku belum pernah bertemu lagi dengan paman. Kami hanya saling memberi kabar lewat chat whatsupp saja. Dia bilang, dia sedang berada di NTT mengunjungi rekannya, dan mengurus bisnisnya di sana.
Aku, melewati hari liburku hanya dengan menonton drama Korea di kostan. Sesekali, aku pergi makan di luar bersama kak Siska atau Rayhan. Ya, aku memang masih berteman baik dengan Rayhan.
Suatu hari,
" Rayhan.. Rayhan... "
Aku terbangun dari tidurku. Aku seperti bermimpi buruk. Apa sebelum tidur aku lupa membaca doa, ucapku di dalam hati. Keringat membasahi tubuhku. Entah karena udara di sekitar sangat panas, karena setiap kali akan turun hujan, udara menjadi sangat panas.
Kulihat, waktu menunjukkan pukul 04.00, masih ada satu jam lagi untukku memulai aktifitas sebelum pergi bekerja.
Kunyalakan hpku yang kumatikan setiap kali sedang tidur.
Kulihat, ada dua buah pesan masuk melalui aplikasi whatsupp ku. Tahun 2014 sebagian orang masih memakai hp blackburry, sebagian temanku masih senang menggunakan aplikasi bbm saat itu. Jadi, orang yang selalu mengirimku chat lewat whatsupp hanya beberapa orang saja. Hanya sahabatku di Bandung, paman dan kak Siska yang sering menggunakan aplikasi tersebut.
Saat kulihat, ternyata itu pesan dari Rayhan. Dia ternyata mengunduh aplikasinya sekarang. Saat kubaca isi pesannya, aku langsung panik.
A Rey...
Hanna, bisa minta tolong? 22.01 Wita
Hanna, aku sakit. 23.05 Wita
Aku langsung panik membaca chat dari Rey. Aku langsung menelponnya, tapi tidak di angkat. Aku pun bangun dari tempat tidur, memakai jaket hoodie, membawa hp dan dompet berniat menyusul Rey ke gedung kostan nya. Aku sempat pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka lalu pergi setelah mengunci pintu.
Sesampainya di depan kamar Rey, aku mengetuk pintunya beberapa kali, dan tiba - tiba seseorang membuka pintunya.
Seorang wanita, cantik. Tinggi badannya sekitar 165 cm, karena tidak berbeda jauh dariku yang hanya 160 cm. Dia memakai kemeja, terlihat seperti seragam kerja.
" Hai, kau Hanna ? Ayo, masuklah. " Ajak wanita itu.
Aku tidak menghiraukan nya meskipun aku penasaran siapa dia. Aku langsung mencari Rayhan, kulihat pintu kamarnya terbuka, aku langsung berjalan menuju kamarnya.
Di dalam kamar, kulihat Rayhan sedang terduduk dan bersandar pada dinding kamarnya. Dia sepertinya tertidur.
" Penyakit Asthma nya kambuh. " Ucap wanita di belakangku setengah berbisik.
Aku langsung keluar dari kamar di susul oleh wanita itu.
" Sejak kapan ?" tanyaku padanya.
" Semalam, setelah selesai rapat. Kemarin, aku dan tim bekerja lembur karena ada sebuah proyek besar yang akan di kerjakan. Rayhan memang terlihat kurang sehat, tapi dia memaksakan dirinya tetap mengikuti rapat. " Jawab wanita itu.
" Apa kau teman kantornya ?" tanyaku kembali.
" Eh iya, aku lupa, namaku Mila. " Mengulurkan tangannya padaku.
" Aku Hanna, temannya, satu kampung juga. " Ucapku.
" Aku sempat membawanya ke klinik sebelum pulang, tapi dia tidak mau di rawat. Sesudah agak membaik aku mengantarnya pulang kemari. Tapi, aku belum bisa meninggalkannya sendiri. Aku takut dia memerlukan bantuan lainnya. "
Dia menjelaskan secara sopan. Sangat terlihat bahwa dia sepertinya wanita berkelas, dari pakaiannya, tatanan rambutnya, dan tutur bicaranya yang lembut dan sopan, membuatku berfikir apa mungkin dia atasannya Rey di kantor.
" Syukurlah.. alhamdulillah ya Alloh. Maaf aku sangat panik. Aku khawatir terjadi apa - apa. " Ucapku.
Dari dalam kamar, terdengar suara Rayhan memanggilku.
" Hanna... Hanna.. " dia memanggilku dengan pelan dan sangat lemah.
Aku langsung menghampiri nya ke dalam kamar.
" A Rey, gimana sekarang? Masih sesak ?" tanyaku sambil memperbaiki posisi duduknya.
Dia hanya menganggukan kepalanya.
" Gapapa, aku ud-ah aga-k ba-ik-an. " Suara Rey terbata - bata.
" A Rey haus, mau minum ?" tanyaku.
Dia menganggukkan lagi kepalanya. Aku langsung membawakan air hangat dari dispenser yang ada di luar kamar Rayhan.
Kulihat, Mila berada di dekat pintu kamar memperhatikan kami berdua. Dan, tidak lama dia menghampiri kami.
" Rey, karena sekarang sudah ada temanmu, tidak apa - apa kan kalau aku pulang ?" tanya Mila.
" Iya bu Mila, terima ka-sih ba-nyak at-as bantu-annya. Maaf merepot-kan bu Mila. " Jawab Rayhan dengan suara pelan dan masih terbata - bata.
" Tidak apa - apa pak Rayhan, saya senang bisa membantu. Kalau begitu saya permisi dulu ya pak. " Mila berpamitan juga padaku.
" Mari, saya antar ke depan." Ucapku.
" Tidak, tidak usah, tidak apa - apa. Kamu temani saja Rayhan, ya. " Lalu, Mila pergi setelah mengambil tas nya yang berada di luar kamar.
Aku yang saat itu ingin sekali bertanya, tentang siapa Mila pada Rayhan hanya bisa menahan diri.
Bagi orang yang memiliki riwayat penyakit asthma, saat mereka kambuh, nafas mereka akan terasa sesak, ketika berada di rumah, kita hanya bisa membantunya untuk tetap tenang, bantu mereka bermeditasi mengatur jalan nafas keluar dan masuk dengan posisi harus duduk tegak. Saat mereka sedang sesak, sangat sulit untuk mereka tidur dengan posisi secara terlentang maupun miring di ranjang. Mereka hanya dapat duduk atau sedikit bersandar pada tumpukan bantal untuk melegakan pernafasan mereka. Hal ini hanya berlaku bagi orang yang penyakit asthma nya belum terlalu parah.
Beri mereka minuman hangat bahkan cenderung sedikit menuju panas, biarkan mereka minum secara perlahan. Beri mereka kehangatan terutama di area dada dan leher dengan mengoleskan balsam hangat atau minyak angin. Lalu, pakaikan mereka syal agak longgar, yang penting area dada jangan sampai terkena angin. Dan jangan buat mereka banyak berbicara. Biarkan mereka tenang, berikan mereka waktu untuk tetap mengatur nafas mereka. Bagi mereka, untuk berjalan hanya sekedar ke kamar mandi saja sudah terasa sangat jauh dan berat. Mereka akan berjalan sambil mengatur nafas mereka agar tetap stabil.
Aku sudah beberapa kali menemani Rey dalam kondisi seperti ini, jadi aku sedikit tahu cara menangani pasien dengan riwayat penyakit asthma ini. Rey selalu menyimpan stok obat dari dokter, tapi apabila dia merasa perlu penanganan dokter, dia selalu memintaku untuk mengantarnya pergi memeriksakan diri ke dokter.
Intinya, kita sebagai orang yang ada di dekat mereka jangan panik, jangan membuat pasien menambah pikirannya dan menjadi stres. Mereka harus tetap tenang. Buat mereka hanya fokus mengatur jalan nafas, berilah dukungan dan semangat berupa kata - kata walau hanya sedikit yang terucap.
Saat kulihat jam di dinding kamar Rey, tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 06.05 wita, aku baru ingat hari ini aku shift pagi. Aku pamit pada Rey sebentar untuk keluar. Dan, saat di luar tempat kost, aku langsung menelpon pak Rama, supervisorku di tempat kerja. Aku meminta izin padanya untuk masuk shift siang saja, karena aku tidak mungkin menukar hari liburku secara mendadak. Setelah menjelaskan duduk permasalahan nya akhirnya pak Rama memberikanku izin.
Sebagai seorang anak rantau seperti kami, saling menolong itu sangat di perlukan, kita jauh dari keluarga, apabila kita memiliki seorang teman baik di samping kita, maka kita pula harus memperlakukan mereka dengan baik. Saat Rey atau kak Siska sakit atau membutuhkan bantuan, sebisa mungkin aku selalu membantu mereka semampu ku. Begitu juga sebaliknya dengan mereka padaku.
Selesai menelpon, aku kembali masuk ke dalam, ke kamar Rey berada.
" Hanna... kam-u gak ker-ja ?" suara rey terdengar masih terbata - bata.
" Hanna udah nelpon pak Rama barusan, dan izin masuk siang saja. " Jawabku.
" Maaf ya, mer-re-pot-kan. "Ucap Rayhan.
" Ssttt.... udah gak usah banyak ngomong, Hanna gapapa kok. Udah di kasih izin sama pak Rama, jadi tenang aja okay !!".
" Ma-ka-sih ya.. ".
" Iya masama. Mau sarapan ? Hanna belikan saja bubur di belakang gedung teratai sana ya, biar cepat, kalau bikin harus nunggu lama. " Ucapku pada Rayhan.
Dia hanya menganggukan kepalanya.
" Oke, tunggu sebentar ya, nanti Hanna kembali. "
Aku langsung pergi menuju belakang gedung kostku, untuk membeli bubur ayam, pagi itu.
Bila di pikirkan, aku sudah seperti seorang istri saja, aku bahkan menyuapi nya makan bubur dan minum. Merapihkan seluruh ruangan di tempat kost nya, mencuci baju kotornya dan memasak untuknya.
Aku bahkan merasa senang mengerjakan semuanya sampai selesai. Andai saja, Rayhan mau membuka hatinya untukku. Aku berucap di dalam hati, sedikit mengharapkan sesuatu yang selama ini ku inginkan. Kupikir aku sudah melupakan perasaan ku padanya setelah aku dekat dengan paman, tapi nyatanya, aku belum bisa sepenuhnya melupakan Rayhan dari hati kecil ku.
Aku juga merindukan paman, sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Setelah kejadian hari itu, dia sering menelponku. Dia seperti tahu keseharianku, dia selalu menelponku di waktu saat aku sedang santai atau setelah pulang kerja. Dia menelponku dari jauh karena sedang sibuk mengurus bisnis barunya. Tapi, aku ingin bertemu dengannya, aku ingin menceritakan keluh kesahku padanya.
" Ahjussi , kamu dimana ????????"