My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Karate



Beberapa waktu berlalu, Hanna menjalani aktifitas nya sehari - hari seperti biasanya. Tanpa Siwan di dekatnya, dia sudah merasa terbiasa kini. Mereka masih selalu berkomunikasi secara intens walau hanya lewat pesan teks, telepon ataupun video call.


Namun, kali ini ada yang berbeda bagi Hanna, akhir - akhir ini, seperti ada yang mencoba mengusik kehidupan bahagianya menjadi sedikit menyebalkan bagi Hanna.


Dia adalah Satria, atasannya di tempat kerja. Entah secara sengaja atau hanya kebetulan saja, selama di tempat kerja dia selalu mencari celah untuk membuat Hanna lebih dekat dengannya. Satria selalu menyuruh Hanna membantunya melakukan pekerjaan tambahan ataupun hanya sekedar mengecek berkas laporan yang tidak penting menurut Hanna. Dia tidak bisa menolaknya karena merasa tidak enak hati dengan posisinya saat itu yang hanya sebagai karyawan biasa di sana.


Dan, ketika istirahat makan siang pun dia selalu menghampiri meja Hanna di area istirahat ataupun warung makan. Makanya, akhir - akhir ini Hanna lebih senang masuk shift siang karena tidak ada Satria yang selalu merecokinya saat sedang istirahat. Karena biasanya staff personalia seringnya masuk shift pagi. Meskipun kadang Satria pun masuk siang, namun masih terbilang jarang, masih dalam hitungan jari.


Pernah suatu saat, dimana Hanna dan rekan kerja lainnya sedang mengadakan tour wisata karyawan yang terbagi dalam tiga gelombang, Hanna dan Satria dapat giliran gelombang pertama. Satria selalu mengikuti kemanapun Hanna pergi, padahal Hanna sedang asyik bersama teman - teman yang lainnya.


Dan, di saat itu pula Satria melakukan sesuatu yang membuat Hanna jadi semakin kesal padanya.


Tepatnya sekitar dua minggu yang lalu.


Flashback....


Perusahaan tempatnya bekerja selalu mengadakan wisata bersama para staff dan karyawan/ti setiap tahunnya.


Dan, tahun ini, mereka berwisata ke Lombok. Sedangkan tahun kemarin ke pulau Nusa Penida.


Sesampainya di lokasi penginapan, para staff dan karyawan/ti berkumpul bersama di taman di sekitar penginapan yang cukup luas, setelah menyimpan barang ke dalam kamar masing - masing.


Awalnya ketua panitia mengumpulkan seluruh karyawan untuk melakukan doa bersama karena sudah datang dengan selamat di tempat tujuan dan berdoa kembali agar acara yang berlangsung lancar, aman, dan selamat di manapun mereka berada. Dan tentunya semoga dengan berkumpul nya mereka kali ini, semakin menambah keakraban antara sesama karyawan/ti maupun staff yang berada di bawah naungan perusahan yang sama yang sedang mereka kembangkan bersama.


Setelah acara doa, seluruh karyawan/ti termasuk seluruh staff yang ada harus berpartisipasi mengikuti serangkaian acara yang telah di susun rapih oleh paniti acara.


Acara berlangsung sangat meriah dan penuh ke akraban sesama staff dan karyawan/ti. Di mulai dari bermain game bersama yang telah di bagi beberapa kelompok campuran setiap divisi mulai dari lantai satu sampai lantai tiga.


Setelah acara game selesai, di lanjutkan oleh acara pembagian hadiah yang sangat di nantikan oleh para pemenang acara games. Selesai bermain game, mereka beristirahat sejenak lalu makan siang bersama dan selebihnya merupakan acara bebas bagi setiap karyawan/ti dan staff.


Saat sedang beristirahat sejenak setelah selesai makan siang, Hanna yang saat itu sedang mengobrol dengan Siwan lewat video call, tiba - tiba di kejutkan oleh Satria yang datang dari arah belakang hingga Siwan dapat melihatnya dengan jelas.


Tidak lama kemudian Satria meminta maaf dan pergi, dia pikir tadi Hanna sedang akan melakukan foto selfi di hpnya.


Sejak kejadian itu, Siwan terus bertanya tentang Satria, kenapa dia ada di sana, dan kenapa dia berani mendekati Hanna saat itu.


Hanna sudah menjelaskan semuanya bahwa Satria sekarang menjadi atasannya di tempat kerjanya dan tadi murni dia pikir Hanna sedang berfoto selfie. Hanna merasa gelisah dan tidak enak hati, dia takut Siwan tidak mempercayai nya dan berpikir macam - macam.


Setelah kejadian itu, Satria terus mencoba mendekati Hanna dengan berbagai macam cara. Baik di tempat kerja maupun di luar saat tanpa sengaja bertemu di jalan atau saat Hanna sedang pergi ke pasar saat sedang berbelanja di hari liburnya.


" Han, lagi belanja ? kebetulan sekali ya ketemu di sini !!" Ucap Satria.


" Iya pak, lagi beli stok isi kulkas." Jawab Hanna.


" Kok pak sih, ini kan bukan di tempat kerja kita." Sahut Satria.


Hanna tersenyum, lalu " Mas Satria sendiri lagi belanja juga ?" tanya Hanna penasaran.


" Ah, ini, tadi habis ketemuan sama temen di dekat sini. Aku sekarang mau ke coffe shop, mau temenin gak ? kita ngopi dulu di sana..." Satria menunjuk sebuah kedai kopi yang tidak jauh di depannya.


" Aduh, maaf mas, aku harus segera pulang, soalnya ini, aku beli ikan sama daging harus segera di proses takut bau kelamaan di luar." Jawab Hanna.


" Yah, sayang banget, padahal ada sesuatu yang mau aku bicarakan sama kamu." Satria terdengar sedih mendengar jawaban Hanna.


" Lagi pula aku kurang suka minum kopi, maaf ya mas." Hanna terlihat sangat menyesal.


" Lain kali mau ya, kalau aku ajak jalan atau makan !!" Seru Satria.


" Emh... aku gak janji ya mas, mungkin mas tau sendiri kan alasannya apa, aku udah gak bisa jalan sama laki - laki lain lagi mas. Maaf yaa !!" Ucap Hanna.


Setelah mendengar jawaban Hanna yang kembali menolaknya, Satria benar - benar merasa kesal di dalam hatinya, tapi dia tetap menyembunyikan nya dengan raut wajah tetap penuh senyuman. Dia masih bisa bersabar akan penolakan Hanna terhadapnya saat itu. Satria terlihat menarik nafas dalam - dalam dan menghembuskan nya perlahan.


" Baiklah, aku mengerti. Maaf kalau aku yang terus mengganggu mu. Kalau begitu, aku pergi dulu ya Han. Bye... " Ucap Satria sambil tersenyum lalu berbalik membelakangi Hanna dan berjalan menuju coffe shop yang berada di depannya.


Saat Satria memutar langkahnya, terlihat raut wajahnya berubah drastis menjadi penuh amarah. Kedua tangannya mengepal lalu dadanya naik turun menahan amarah.


Saat Hanna sudah berada di parkiran motor dan hendak menyalakan mesinnya, tiba - tiba hp di dalam saku celananya bergetar, dia langsung merogohnya untuk melihat siapa yang menelponnya saat itu.


Hanna melihat di layar hpnya nama Aji.


" Hallo bli, ada apa ?" tanya Hanna pada Aji di sebrang sana.


" Emh... aku baru mau pulang, masih di pasar. " Jawab Hanna.


" Baiklah, tunggu saja aku di rumah ya."


Setelah ucapan terakhir nya itu, Hanna menutup teleponnya dan menghidupkan mesin motor matic nya. la lalu menancap gas melajukan motornya, pulang menuju rumahnya.


Sesampainya di rumah, Hanna melihat Aji sudah berada di halaman depan rumahnya.


" Bli, sudah lama ?" tanya Hanna.


" Baru sampai kok, sini aku bantu !!" ucap Aji, dan mengambil sebagian tas belanjaan yang Hanna bawa.


Beberapa menit kemudian, kini Hanna dan Aji sedang berada di dapur. Hanna masih sibuk membereskan dan membersihkan belanjaannya terutama ikan dan daging supaya tidak bau.


Aji duduk di meja makan sambil mengajak ngobrol Hanna yang terlihat sedang sibuk. Dan, saat Aji mengucapkan sesuatu, tiba - tiba Hanna merasa terkejut dan menghentikan aktifitas nya di dapur seketika.


" Apa ? bela diri ?" Pekik Hanna yang terkejut saat Aji mengatakannya.


Lebih tepatnya, Aji menyuruhnya.


" Setidaknya, kau harus bisa melindungi dirimu sendiri, kau kan tinggal sendirian, jauh dari orang tua, pacarmu juga kadang pergi keluar seperti saat ini. Dia terus merasa cemas padamu." Ucap Aji menjelaskan duduk permasalahan nya pada Hanna.


" Apa ahjussi yang menyuruh mu ?" tanya Hanna.


" Tidak, aku menyarankan hal ini padanya, dia bilang aku harus bertanya langsung padamu." Jawab Aji.


" Lalu, siapa yang akan mengajariku ?" tanya Hanna.


" Tergantung, kau mau bela diri jenis apa ? di club banyak petarung hebat kenalanku, aku akan memilihkan nya untuk mu." Jawab Aji.


" Kau ini, apa kau sedang menyindir ku ? kalau aku hampir semua teknik bisa, tapi aku lebih memperdalam krav maga, thai boxing, kick boxing." Jawab Aji.


" Bagaimana itu caranya ? cape tidak ? sakit tidak ? apa nanti tubuhku akan di banting - banting saat latihan ? Nanti badanku sakit semua dong, gimana ?" tanya Hanna merasa cemas.


Aji menepuk jidatnya mendengar pertanyaan Hanna yang konyol. Belum apa - apa sudah menciut.


" Sudahlah, kau latihan karate saja, nanti aku akan mempersiapkan semuanya di club. Kau tinggal datang saja, nanti temanku yang akan mengajarimu. " Sahut Aji.


" Mulai sekarang saja, aku gak ada kegiatan lagi kok habis ini. " Ucap Hanna.


" Beneran nih, kalau serius aku akan menelpon temanku sekarang." Sahut Aji.


" Iya, serius lah, aku bersyukur kau mau mempersiapkannya untukku, kau perhatian sekali sampai mengkhawatirkan ku seperti ini bli. " Ucap Hanna menatap Aji yang sedang memijit hpnya mencoba menelpon seseorang.


Deg.. dada Aji berdebar.


Aji menatapnya penuh arti, antara tersentuh, merasa bangga atau kesal pujiannya sempat menyentuh hatinya. Namun, dia menatap Hanna dengan tatapan datarnya seperti yang biasa ia lakukan.


Membuat Hanna kesal sendiri melihatnya karena merasa di acuhkan.


Aji, selain jarang berbicara, dia juga jarang tersenyum di hadapan Hanna. Dia memang sedikit menjaga jarak darinya.


" Entahlah, pada wanita lain pun seperti itu mungkin...." pikir Hanna di dalam hatinya, " pantesan masih jomblo, hihi... " ucap Hanna dengan suara pelan tanpa bisa terdengar oleh Aji yang sedang menelpon saat itu.


Selesai menelpon, Aji pamit pergi karena merasa tidak enak berduaan dengan Hanna dalam satu rumah. Biar bagaimanapun, dia seorang pria normal, dia ingin menjaga batasan antara dirinya dan Hanna yang notabene kekasih orang yang sudah ia anggap sebagai kakak.


Padahal saat itu, Hanna berniat mengajaknya makan siang bersama. Namun, ia harus merelakan Aji yang menolak ajakannya karena Aji memberi alasan yang kuat, bahwa ia harus pergi ke suatu tempat untuk urusan pekerjaan.


" Nanti jam dua siang, aku jemput, dan kau harus sudah siap, oke... !!" seru Aji.


" Siap bos !!" jawab Hanna.


Aji menyalakan mesin motor sports nya, dan pergi menjauh dari lokasi rumah Hanna saat itu.


Hanna masih melanjutkan kegiatannya di dapur, sambil menyiapkan makan siangnya saat itu.


Selesai makan siang, ia berkomunikasi bersama Siwan lewat video call. Ia menceritakan perihal ajakan Aji padanya. Siwan sangat mendukungnya kalau memang Hanna bersedia. Ia percaya, Aji akan mengajari nya dengan benar.


Beberapa jam kemudian....


Suara klakson mobil terdengar sebanyak tiga kali di telinga Hanna.


Dia yang sedang terduduk santai di sofa langsung terperanjat dan buru - buru keluar dari rumahnya.


Setelah memastikan pintu terkunci rapat, Hanna langsung menghampiri mobil yang sedang terparkir di halaman rumahnya.


Seseorang membuka kaca jendela mobilnya saat itu. Dia adalah Aji. Dia menjemput Hanna menggunakan mobil Siwan.


" Sudah siap ?" tanya Aji mendongkak sedikit ke luar jendela.


" Oke, let's go... !!" ucap Hanna lalu masuk ke dalam mobilnya.


Perjalanan di tempuh dengan jarak sekitar sembilan kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih lima belas menit karena jalanan tidak padat saat itu.


Selama di perjalanan, mereka hanya diam tanpa saling mengeluarkan kata. Aji fokus pada setir nya, sedangkan Hanna fokus pada hp nya. Sesekali Aji meliriknya, terlihat oleh sudut matanya kalau Hanna sedang membuka aplikasi media sosial nya.


Hanya saja, sebelum melajukan mobilnya tadi, Aji sempat berkata bahwa mereka akan pergi ke sebuah fitness centre milik Siwan, di sana terdapat area gym dan kamar - kamar latihan seperti untuk latihan karate, boxing, dan senam aerobic. Di sana juga ada ruang khusus pilates dan yoga.


Sesampainya di lokasi tujuan, mereka langsung menuju ke lantai dua, pada salah satu ruangan yang ada di sana.


Dan, ternyata sudah ada tiga orang yang menyambut mereka di dalam.


Masing - masing saling memperkenalkan diri pada Hanna. Mereka adalah teman Aji, satu orang wanita bernama Mina yang akan melatih Hanna karate, dan dua orang laki - laki teman Aji yang baru selesai latihan karate.


Kini, tinggalah Hanna, Aji, dan Mina yang berada di dalam ruangan tersebut.


Pertama - tama, Mina menyuruh Hanna memakai seragam yang sudah ia siapkan di sana. Lalu ia mengajarkan Hanna bagaimana cara memakai sabuk sebagai seorang karateka.


Lanjut dengan pemanasan dan peregangan.


Hanna terlihat sedikit kewalahan, nafasnya terlihat tidak teratur dan ngos - ngosan, terlihat keringat sudah mengucur di pelipisnya. Dia termasuk tipe orang yang jarang berolahraga.


" Sudah ku bilang kau jangan kebanyakan makan, ajak pacarmu juga berolahraga bersama !!" Seru Aji meledek Hanna yang sedang terduduk di lantai dengan menjulurkan kakinya.


" Ssttt.... diamlah, kau sedang apa sih, sebaiknya kau pergi saja sana. " Sahut Hanna merasa kesal.


Mina yang memperhatikan mereka berdua terlihat seperti sedang menahan tawa. Lalu, Mina mengajarkan Hanna melatih nafasnya dengan cara bermeditasi.


Sekitar setengah jam lamanya mereka melakukan meditasi, kini Mina melanjutkan latihannya dengan tahap awal yaitu mengajarkan cara berdiri yang baik dan benar.


Lalu lanjut ke tahap keseimbangan diri dan sedikit teknik dasar.


Setelah merasa cukup lelah, Hanna meminta menghentikan latihannya pada Mina. Kini mereka berdua sedang beristirahat dan Hanna merebahkan dirinya di matras.


Mina memberi beberapa tips pada Hanna agar cepat memahami latihan karate nya. Ia memberi beberapa link sebagai acuan untuk Hanna belajar di rumah. Mereka pun bertukar nomor hp. Mina akan sangat terbuka apabila Hanna mau bertukar pikiran dengannya seputar ilmu karate.


Selesai membersihkan diri, saat sedang membereskan bajunya di ruang ganti, terlihat Aji masuk ke dalam dan mengajak Hanna pulang.


Lalu Hanna pun pamitan pada Mina dan berjalan mengikuti Aji dari belakang.


Kini, Aji dan Hanna sudah berada di perjalanan pulang menuju ke rumah Hanna.


Hanna terlihat sangat mengantuk, dan juga mungkin karena lelah, ia pun tertidur sepanjang perjalanan pulang. Aji yang melihatnya tertidur sempat menghentikan mobilnya dan memarkirkannya di pinggir jalan sebentar untuk membetulkan posisi jok kursi Hanna supaya terlihat nyaman saat tertidur dan mengambil selimut yang berada di kursi belakang lalu menyelimuti Hanna.


Aji sempat menatap wajah Hanna yang tertidur lelap dan mengarah padanya.


Namun secepat kilat ia langsung tersadar dan kembali membetulkan posisi duduknya lalu melajukan kembali mobilnya melanjutkan perjalanan.