My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Adik kecil..



" Hanna, bisakah kita seperti dulu lagi ?" ucap seorang pria yang tengah duduk di hadapannya kini.


Drrrrrttt.... drrrtttt....


Getaran sebuah hp di atas nakas membuat Hanna harus terbangun dari mimpinya. Ia bahkan sulit untuk mencoba mengingat siapa pria yang ada di hadapannya tadi sewaktu bertanya di dalam mimpi.


Ia mencoba merogoh hpnya tersebut tanpa membuka mata sama sekali.


Saat ia berhasil mendapatkan hp di tangannya, ia mulai membuka matanya perlahan.


Di layar hp, ia melihat sebuah nama tertera di atasnya, yang mencoba untuk meneleponnya sepagi ini.


Pukul 05.30 wita, karena dia sedang haid, dia selalu bangun siang dan tidak lupa mematikan jam bekernya. Terlebih lagi, hari itu, dia masuk kerja shift siang.


" Hallo, assalamualaikum, this is Hanna speaking !!" ucap Hanna pada seseorang yang ada di sebrang sana.


" Hah... apa ? di bandara ? kapan ?" owh... oke oke, aku kesana sekarang !!" jawab Hanna.


Hanna melompat turun dari ranjangnya. Ia terburu - buru menuju kamar mandi. Beberapa menit kemudian, dia masuk kembali ke dalam kamar mengganti pakaiannya secara terburu - buru.


Piyama tidurnya kini telah berganti dengan celana denim dan kaos putih polos, serta di lapisi oleh sweater tebal salur.


Setelah itu, Hanna menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya dari ujung kepala sambil berputar - putar dan mengibaskan butiran uap parfum nya ke badannya.


Tidak lupa memakai masker penutup wajah karena dia tidak memakai riasan sama sekali. Dia mengambil tas kecilnya, memasukkan dompet dan hpnya ke dalam, lalu berlari keluar dari kamar.


Hanna lalu mengeluarkan motornya dari dalam garasi, memakai helm dan menyalakan mesin motor tersebut, lalu, ia pergi melaju menuju suatu tempat dengan mengendarai motornya tersebut.


Sekitar 30 menit kemudian, kini Hanna sudah sampai di sebuah lokasi parkiran yang megah.


Ternyata dia sedang berada di bandara. Dia datang ke bandara untuk menjemput adiknya yang sedang dalam perjalanan menuju Bali dari Bandung. Ibunya yang tadi menelponnya pagi sekali, memberitahunya bahwa adiknya sudah dalam perjalanan sekitar 30 menit yang lalu.


Beberapa menit kemudian, kini Hanna sedang menunggu adiknya di pintu keluar, karena merasa lapar, dia pun mencari sarapan di salah satu resto yang ada di sekitar bandara. Karena dia tahu, mungkin adiknya akan sampai dalam waktu yang masih lumayan lama, makanya ia bersantai saja sambil menikmati sarapan paginya sambil bertelepon ria bersama ibunya.


" Maaf ya teh, mamah sama bapa gak ikut, lain kali, kalau ada waktu pasti ikut kesana, mamah juga pengen liburan ke Bali. Hihihi.. " ucap ibu Hanna di sebrang sana.


" Iya mah, kalau mau liburan kesini, bilang aja, nanti teteh yang bayarin ongkos mamah sama bapak !!" ucap Hanna pada ibunya, sambil masih asyik melahap makanan di depan matanya.


" Gak usah, uang teteh mah tabungin aja, atau pake belanja aja, jangan terlalu hemat atuh teh, mamah tau, kamu pasti jarang beli baju, kalau kurang biaya hidup di sana, ngomong aja, nanti mamah transfer uangnya !!" ucap ibu Hanna.


" Engga mah, alhamdulillah masih cukup kok !!" jawab Hanna.


" Ya udah kalau gitu, mamah mau masak dulu, nanti kalau si Abdul udah nyampe, kabarin mamah ya !!" ucap ibu Hanna.


" Oke, nanti di telepon lagi. Assalamualaikum !!" ucap Hanna, lalu menutup teleponnya setelah mendengar salam jawaban dari ibunya.


Selesai sarapan, Hanna kembali menuju pintu keluar dan memutuskan menunggu adiknya di sana.


15 menit kemudian, dari kejauhan, Hanna sudah bisa mengenali sosok adiknya yang kini sedang berjalan santai menuju ke arahnya sambil menyeret mini kopernya.


" Hello, excuse me miss, are you Hanna Anjani ?" tanya Abdul lalu membuka kacamata hitamnya dan menaruhnya di atas kepala.


" Cih... gak usah so keren deh lo !!" Jawab Hanna.


Abdul hanya tersenyum lalu memeluk kakaknya dengan erat.


Mereka berdua kini sedang berjalan menuju parkiran, lalu di sela - sela perjalanan mereka, Hanna menelepon ibunya di Bandung, memberitahu bahwa anak bungsunya sudah sampai dengan selamat.


Beberapa menit kemudian, kini Hanna dan Abdul sudah sampai di depan rumah yang Hanna tempati saat ini.


Abdul begitu heran, karena dia masih mengingat obrolannya bersama kakaknya dulu bahwa dia tinggal di sebuah gedung kostan dengan 3 lantai.


" Teh, kau pindah kostan ?" tanya Abdul.


" Iya, hayu masuk dulu lah, nanti aku ceritain di dalam rumah !!" jawab Hanna sambil memencet tombol pasword rumahnya.


" Wih, kunci pintunya aja udah beda, pasti dalemnya juga wah banget !! ini rumah biasa apa apartemen ?" tanya Abdul.


" Gak usah nyindir, cepet bawa koper lu masuk !!" timpal Hanna, lalu masuk ke dalam rumahnya.


Hanna menyiapkan teh hangat di dapur, sedangkan adiknya berkeliling melihat seisi rumah, hampir setiap sudut ia telaah dengan mata besarnya.


Hanna hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan adiknya yang terlihat seperti sedang melakukan room tours di rumahnya. Ia duduk manis di ruang tengah, di atas sofa, sambil menikmati teh hangatnya.


Beberapa menit kemudian, Abdul duduk di sofa sebrang kakaknya dengan gaya so elegan nya.


" So.... ?" ucap Abdul sambil mengangkat halisnya sebelah.


" Apa sih ?" tanya Hanna terlihat kesal melihat wajah adiknya yang so serius.


" Ya... silahkan, apa yang mau anda jelaskan, saya akan mendengarkannya !!" jawab Abdul lalu menyandarkan punggungnya ke belakang.


Hanna kesal melihat adiknya lalu melemparinya dengan bantal - bantal kotak yang ada di atas sofa.


Adiknya tertawa terbahak - bahak sambil menahan serangan dari kakaknya. Ia berhasil membuat kakanya nampak naik darah di hadapannya. Ia sebetulnya sangat merindukan kakaknya, ia rindu suasana kebersamaan dengannya, walau seringnya mereka selalu berdebat dan bertengkar, namun mereka tetap saling menyayangi.


Lalu Hanna mulai menceritakan tentang kepindahannya dari kostan sebelumnya pada Abdul. Walaupun selalu di selingi oleh pertanyaan konyol dari adiknya, ia tetap mencoba bersabar menghadapinya.


Hingga muncul pertanyaan yang membuat Hanna kembali naik darah, ia lalu menghampiri adiknya lalu meninju badannya berkali - kali, hingga adiknya meminta ampun pun tidak di indahkan olehnya.


Lalu, terdengar bunyi bel, membuat Hanna menghentikan aksinya, dan berlalu menuju pintu, lalumembukanya.


Saat ia membuka pintu, barulah senyuman kembali tersungging di bibirnya.


" Ahjussi, masuklah !!" ucap Hanna.


Ternyata yang datang adalah Siwan.


Pagi tadi, saat Hanna sedang di bandara menunggu adiknya, Siwan menelponnya hendak mengajaknya pergi jogging bersama, namun Hanna menolaknya, lalu menceritakan bahwa ia sedang menjemput adiknya di bandara.


Kini Hanna dan Siwan sedang berdiri di hadapan Abdul yang sudah berdiri semenjak Siwan masuk ke dalam rumah.


" Annyeong haseo, je ireum eun Abdul imnida !!" ucap Abdul lalu membungkukkan dirinya di hadapan Siwan.


Hanna terkejut melihat kelakuan adiknya yang sangat sopan menyapa Siwan.


Sedangkan Siwan hanya tersenyum, lalu membalas nya dengan menepuk pundak Abdul.


" Apa kabar Abdul ?" tanya Siwan sambil tersenyum.


" Baik kak, alhamdulillah !!" ucap Abdul. Lalu mereka berjabat tangan.


Siwan dan Abdul duduk di sofa, sedangkan Hanna pergi ke dapur menyiapkan minuman untuk Siwan, dan menata makanan yang di bawa oleh Siwan sejak tadi masuk ke rumahnya.


Terdengar oleh Hanna, Siwan dan Abdul sedang mengobrol santai. Mereka saling melempar pertanyaan dengan sangat sopan, namun tidak ada kecanggungan sama sekali.


Hanna datang menghampiri mereka, sambil membawa nampan berisi segelas minuman dan cake dari toko kue milik Siwan.


" Chagiya, saat kau bekerja nanti, aku akan menemani adikmu, mungkin kami akan jalan - jalan mengunjungi beberapa lokasi, kau tenang saja yaa... !!" ucap Siwan.


" Hanya mengajak nya jalan - jalan, tidak akan jauh !!" jawab Siwan.


" Iya kak, sudah lah, kau bekerja saja, tidak usah mengkhawatirkan adikmu ini !!" timpal Abdul dengan wajah penuh senyuman.


Hanna menatap wajah Abdul penuh curiga, " secepat itukah dia akrab dengan orang yang baru di kenalnya, hah... ada yang gak beres sepertinya !!" ucap Hanna di dalam hatinya.


" Oke, baiklah, terserah kalian !!" jawab Hanna.


" Kalian mau makan siang apa ? apa kau memasak hari ini, chagiya ?" tanya Siwan menatap Hanna.


Hanna baru ingat, dia belum sama sekali menyentuh dapur hari ini. Dia belum menanak nasi sama sekali malah.


" Aku mana sempat memasak, subuh hari aku sudah di telepon ibu untuk menjemput nya !!" ucap Hanna menoleh pada adiknya.


" Kau pasti alasan, bilang saja kau ini malas memasak, setiap hari kerjaanmu pasti makan di luar, jauh dari ibu pasti kau merana tidak bisa makan sehat dan enak !!" sahut Abdul.


Sontak Hanna kembali kesal mendengar ucapan adiknya yang mengkritik nya di depan kekasihnya. Ia lalu melemparkan bantal ke wajah adiknya itu.


" Bisa diam tidak ?" ucap Hanna dengan mata melotot.


Abdul terlihat menahan tawa. Lalu ia kembali bersikap so cool di depan Siwan.


" Kalau begitu, bagaimana kalau kita makan di luar saja, sekalian mengantarkanmu pergi bekerja, bagaimana ?" tanya Siwan.


" Baiklah, kalau begitu, aku harus siap - siap dari sekarang !!" ucap Hanna lalu pergi meninggalkan Siwan dan Abdul berdua di ruang tengah.


Beberapa menit kemudian, mereka bertiga kini sedang dalam perjalanan menuju sebuah rumah makan tidak jauh dari lokasi tempat Hanna bekerja.


" Besok kau libur kan ? bagaimana kalau kita ajak adikmu berlibur ke pantai !! kita ajak Aji dan Austin, Patricia juga masih ada di Bali !!" ajak Siwan pada Hanna.


" Ide bagus, kalau begitu aku mau mengabari Mina dulu, aku cancel lagi jadwal latihanku besok !!" jawab Hanna lalu mengambil hpnya di dalam tasnya dan sibuk mengetik pesan untuk Mina.


Abdul yang duduk di belakang merasa penasaran, dia lalu bertanya pada Hanna.


" Memangnya mau latihan apa ?" tanya Abdul pada Hanna.


" Latihan karate dong !!" jawab Hanna tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.


" Wah, sejak kapan ? ada angin apa ? berolahraga saja kau sangat malas !!" sahut Abdul.


" Bisa gak sih, gak usah bongkar aib terus dari tadi !!" timpal Hanna menoleh sebentar pada adiknya sambil melotot.


Siwan tertawa melihat kelakuan Hanna yang terus di buat kesal oleh adiknya sedari tadi.


" Kak Wan, tolong, pikirkan kembali, kakakku ini, tidak seperti yang kau bayangkan. Lihat saja, dia aslinya memang selalu menyeramkan seperti itu !!" ucap Abdul sambil bergidik ketakutan.


Siwan kembali tertawa mendengar nya.


" Benarkah ?" tanya Siwan menatap Abdul lewat kaca spion.


" Percayalah padaku !!" jawab Abdul.


Hanna kali ini mengalah, dia tidak menyahut sama sekali. Hanya menarik nafas dalam - dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia mencoba bersabar dan menebar senyuman di wajahnya.


" Alhamdulillah sudah sampai " ucap Hanna merasa senang, ia lalu membuka sabuk pengaman dan turun dari mobil.


Beberapa menit kemudian, kini mereka bertiga sudah berada di dalam restoran sedang menunggu pesanan makanan tiba.


" Ahjussi, bagaimana keadaan mu sekarang ? apa tubuhmu sudah benar - benar merasa fit ?" tanya Hanna.


" Aku sudah sehat, jangan khawatir !!" ucap Siwan sambil mengelus rambut Hanna.


" Tolong jangan makan sembarangan dulu, tenggorokan mu masih belum stabil, kak Os bilang seperti itu padaku kemarin !!" sahut Hanna.


" Iya, aku masih minum obatnya, tidak usah khawatir yaa !!" jawab Siwan kembali sambil menggenggam tangan Hanna.


" Ekhem... " Abdul merasa panas melihat kemesraan dua insan yang sedang di mabuk asmara di depannya.


Hanna dan Siwan tersenyum menatap Abdul di sebrang mereka yang salah tingkah sendirian.


" Kenapa kau ?" tanya Hanna.


" Ti-daaakk... silahkan lanjutkan saja, anggap saja aku ini hanya patung seperti yang ada di ujung sana, aku hanya hiasan latar belakang saja !!" jawab Abdul.


" Owh ya, pantas saja, jomblo, serem sih kaya patung itu !!" ucap Hanna lalu tertawa.


" Ish... " jawab Abdul, wajahnya terlihat kesal.


Tidak lama kemudian, pesanan makanan mereka datang. Lalu, dengan tentram mereka melahap semua makanan masuk ke dalam perut masing - masing tanpa ada percakapan sama sekali.


Selesai makan, selama beberapa menit, mereka masih berada di kursi masing - masing, mereka berbincang santai sambil menunggu jam masuk kerja Hanna tiba.


" Kak Wan, terima kasih banyak sudah mengajakku pergi makan, maaf kalau aku merepotkan !!" ucap Abdul.


" Tidak apa, aku senang bisa berjumpa denganmu disini. Kenapa mendadak sekali datang nya, kalau memberi kabar dulu kan aku bisa menjemput mu di bandara tadi !!" jawab Siwan.


" Justru itu, aku tidak mau merepotkan, sekali lagi terima kasih !!" jawab Abdul.


Di sela percakapan mereka berdua, Hanna pun ikut menyela, dia bertanya pada adiknya, dan pertanyaan nya membuat adiknya diam seribu bahasa.


" Dul, ngomong - ngomong, aku baru inget, kamu kesini ada apa ? mau liburan apa sengaja menjengukku sih ? bukannya udah mulai masuk kuliah ? terus kuliah kamu gimana ?" tanya Hanna.


Adiknya merasa sulit walau hanya untuk sekedar membuka mulutnya, apalagi mengeluarkan kata - kata menjawab pertanyaan dari kakaknya.


Dia terlihat kebingungan untuk menjawabnya di hadapan Siwan.


Dan, dari lirikan matanya, sepertinya Siwan memahami sikap adik Hanna yang tidak langsung menjawab pertanyaan dari kakaknya.


" Chagiya, sudah siang, nanti kau terlambat masuk kerja, nanti saja ya di bicarakan kembali di rumah !!" sahut Siwan.


" Ah, iya, jam berapa ini ? aku lupa !!" Hanna menarik lengan Siwan dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kekasihnya itu.


Dan kini, Hanna sudah berada di sekitar area parkir tempat nya bekerja. Mereka bertiga turun dari mobil, lalu berpisah di satu titik dekat pintu masuk karyawan.


" Aku kerja dulu ya, Dul, awas jangan bikin kak Wan kerepotan !!" ucap Hanna.


" Gak akan kak, mana berani aku !!" jawab Abdul.


" Tidak apa chagiya, kau tenang saja, ya.. !!" sahut Siwan.


" Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu ya, titip adikku, kalau nakal, pukul saja. Hihihi... bye. Assalamualaikum !!" ucap Hanna.


" Waalaikum salam !!" jawab Abdul.


Hanna masuk ke area toko lewat pintu masuk karyawan, sedangkan Siwan dan Abdul pergi masuk melalui pintu utama.


Siwan hendak mengantarkan Abdul untuk melaksanakan ibadah sholat dzuhur di area mushola yang ada di departemen store tempat Hanna bekerja.