My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Plot Twist



Beberapa minggu berlalu, Hanna masih tetap semangat menjalani ibadah puasanya. Dan, satu minggu sebelum menyambut hari lebaran tiba, Hanna, Siwan, Aji, Austin dan Siska melakukan makan bersama saat waktu berbuka puasa tiba di restoran Jepang milik Siwan yang dekat dengan tempat kost Hanna dan Siska.


Mereka terlihat berbincang, bercanda tawa, sambil menikmati makan malam mereka. Dan, tiba pada suatu momen, ketika Siska mengumumkan sesuatu yang sangat penting di hadapan yang lainnya.


Siska menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, dan dia berkata " Han, setelah lebaran nanti, aku bakal married." Ucap Siska.


Hal itu sontak membuat Hanna dan Siwan terkejut.


" Waw.. really ? are you serious ?" tanya Hanna masih merasa tidak percaya.


" Yap, cuti lebaran ini aku akan pulang dan mempersiapkan semuanya, acara pemberkatannya akan di laksanakan setelah lebaran di Jakarta." Jawab Siska.


Austin dan Aji nampak begitu tegang, lalu Siwan ?


Tentu saja, wajahnya terlihat sedikit kecewa karena kini ia akan benar - benar kehilangan Aji sebagai orang yang sangat di percaya olehnya.


" Siapa calonnya ?" tanya Hanna menatap dalam - dalam Siska yang terlihat gugup.


Namun, sebelum Siska menjawabnya, Aji terlihat tersenyum di antara semuanya. Otomatis membuat Siwan mengira bahwa Aji begitu senang saat Siska mengumumkan rencana pernikahan mereka berdua.


" Baiklah, bagus kan, tidak usah berlama - lama pacaran, kalian sudah dewasa, dan sama - sama seiman, apalagi masalahnya. Tidak usah khawatirkan aku, aku akan sangat memahami kalau nantinya kau akan lebih mengutamakan keluargamu di bandingkan aku. " Siwan menepuk pundak Aji.


" Aku ?" Ucap Aji menunjuk wajahnya sendiri.


" Iya, sudahlah, aku memang sangat sedih, tapi, kau sudah cukup umur untuk berkeluarga, aku akan secepatnya mencari penggantimu di sisiku. " Ucap Siwan menatap Aji.


" Apa ? kau, se-perti-nya..." Aji terbata - bata dan belum juga meneruskan perkataannya, Hanna langsung menyela obrolan mereka berdua.


" Ahjussi, kau belum boleh berkomentar, kak Siska belum menyelesaikan ucapannya." Ucap Hanna terlihat kesal mengangkat alisnya sebelah.


Siska terlihat menggaruk kepalanya, dia memasang raut wajah kebingungan sendiri. Sedangkan Austin, kini raut wajahnya berubah seperti sedang menahan tawa. Dan Aji, dia masih mencerna perkataan Siwan padanya beberapa detik yang lalu.


" Kak Wan, calon suamiku bukan Aji." Ucap Siska.


" Apa... lalu siapa ? ku pikir itu Aji. " tanya Siwan.


" Dia... " Siska menatap wajah Austin.


" Aku, dia akan menikah denganku. Tolong beri kami restumu. " Ucap Austin.


Siwan nampak tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Kenapa jadi Austin, padahal beberapa waktu belakangan dia pernah melihat Aji dan Siska berduaan di restoran.


Hanna yang sepertinya sudah mengetahuinya hanya terdiam lalu tersenyum seperti terpaksa.


Flashback...


Sekitar satu minggu yang lalu, Hanna pernah pergi keluar untuk membeli mie goreng pak kumis di malam hari untuk persiapan sahurnya subuh nanti.


Saat dia kembali, saat menaiki tangga, dia mendengar ada seseorang yang mengobrol di atas, saat itu posisi Hanna masih di tangga menuju lantai dua.


Saat dia melihatnya perlahan, ternyata orang yang mengobrol itu adalah Siska dengan seorang pria. Namun, di lihat dari belakang, postur tubuhnya seperti orang yang ia kenal, namun bukan Aji. Perlahan dia mengintip dan menguping pembicaraan mereka. Namun, saat pria itu berpamitan pada Siska, Hanna terburu - buru kembali menuruni anak tangga dan bersembunyi di antara motor - motor yang terparkir di dalam gedung lantai satu.


Dia mengendap - endap untuk mencari tahu siapa sosok pria itu.


Dan, saat pria itu melewatinya, Hanna terlihat masih belum dengan jelas melihat wajahnya, namun, selang beberapa detik setelah pria itu keluar dari gedung, pria itu berbalik dan menatap ke atas, ke arah lantai dua. Hanna bisa dengan jelas menatap wajah pria tersebut lewat pintu masuk yang terbuat dari kaca.


" Kak Os... " Ucap Hanna seakan tidak percaya bahwa dia tengah memergoki Siska dan Austin yang tengah berduaan membicarakan tentang kehamilan.


Kembali pada suasana tegang di meja.


" Sejak kapan ?" tanya Siwan pada Austin.


" Beberapa bulan yang lalu, aku dan dia menjadi lebih dekat. " Jawab Austin.


" Itu karena, dia... ( Austin mengelus perut Siska ), dia sedang mengandung anakku.. " Jawab Austin.


" Apa ? anak ? kau menghamili nya ?" tanya Siwan kembali.


" Ahjussi...." Hanna mengerutkan kedua alisnya menatap Siwan.


" Baiklah, cepatlah kau bertanggung jawab padanya, kalau butuh sesuatu katakan saja padaku. " Siwan memegang pelipisnya seperti orang yang sedang merasa pusing.


Terlihat senyum manis tersungging di wajah Austin dan Siska.


" Terima kasih banyak, kak !!" Ucap Austin.


Saat sedang berpangku tangan di atas meja dan memijat kepalanya seperti orang pusing, Aji menggoda Siwan.


" Mengapa kau mengira aku yang jadi calon suaminya dia.. ?" tanya Aji.


" Lalu tadi kenapa kau tersenyum kegirangan ?" Siwan balik bertanya.


" Oh... yang tadi itu, aku tersenyum pada temanku yang lewat di depanku tadi." Jawab Aji.


Austin, Siska dan Hanna tertawa melihat perdebatan antara Siwan dan Aji.


" Eh... tapi memang benar ya, kau akan sedih kalau aku yang menikah ?" tanya Aji.


" Kenapa harus sedih, itu kan urusan pribadi mu, kenapa aku harus ikut campur.. " Jawab Siwan.


" Hah.. akui saja, kau takut aku pergi dari sisi mu kan ?" tanya Aji memojokkan Siwan.


" Terserah kau saja.. " Ucap Siwan terus berusaha menutupi apa yang sedang dia rasakan saat itu.


" Sudah ah, kalian ini, kenapa jadi ribut begini sih, mari kita berbahagia untuk kak Siska dan kak Os, mari kita doakan semoga acaranya nanti lancar dan penuh kebahagiaan." Ucap Hanna.


" Aamiin. Makasih ya Han. Maaf aku belum sempat bercerita. " Ucap Siska pada Hanna dan merekapun berpelukan.


Setelah acara makan bersama yang cukup mendebarkan, kini mereka pun sudah kembali ke rumah masing - masing.


Saat Hanna dan Siska sudah berada di lantai dua gedung kostnya, sebelum masuk ke dalam kamar masing - masing, mereka mengobrol berdua di sofa yang ada di luar kamar.


" Kak, sudah berapa bulan usianya ?" tanya Hanna.


" Menuju 6 minggu, kau tahu, aku sungguh tidak menyangka akan seperti ini. " Ucap Siska.


" Kak, ku mohon, jangan sampai ada kata penyesalan yang keluar dari bibirmu. " Ucap Hanna seakan menangkap sesuatu yang tersirat di wajah Siska.


" Tidak, bukan seperti itu, hanya saja, apa aku bisa melewatinya, sejujurnya aku belum tahu bagaimana cara mengurus orang lain, apalagi nanti akan ada seorang bayi, aku gugup dari sekarang." Ucap Siska.


" Kak, pliss, jangan begitu, kau harus tetap bersemangat, nanti kan ada kak Os yang akan menemani kakak, mengurus calon bayi kalian bersama, berkomitmen lah dari sekarang dengannya, kalian harus saling mendukung dan memahami satu sama lain. "


" Aku takut Austin merasa aku menjebaknya dan dia terpaksa bertanggung jawab padaku. "


" Ish... jangan berkata seperti itu, tetaplah berpikir baik, jaga kesehatanmu, jagalah yang ada di dalam perutmu ini, jangan terlalu pusing memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi, hatimu tidak akan menjadi tenang nantinya. Aku akan selalu mendoakanmu kak. "


" Thanks ya Han, sejujurnya aku malu, aku tidak bisa menjaga diriku."


" Sssstt.. sudahlah, semua sudah terjadi, mari perbaiki saja dengan perubahan diri kita menuju lebih baik lagi, tolong jangan stress, kau harus tetap relax, anggap saja ini semua awal perubahan kehidupan menuju kebahagiaan yang sesungguhnya."


" Makasih banyak Han, i love you !!" Siska memeluk Hanna sangat erat.


Sejujurnya, di dalam hati kecil Hanna pun masih ada sedikit rasa kekhawatiran akan hubungan Siska dan Austin. " Apa kah Austin serius padanya ? apa dia serius akan bertanggung jawab atas perbuatannya ? lalu apakah mereka benar - benar saling menyukai dan saling menginginkan satu sama lainnya ? " Ucap Hanna di dalam hati saat masih memeluk Siska.


Semoga saja, apa yang menjadi keraguan Hanna belum tentu benar adanya.