
Keesokan harinya...
Hanna kembali beraktivitas seperti sedia kala.
Hari itu dia kembali bekerja dan masuk shift pagi.
Sebelum doa pagi dia menghadap menemui Rama selaku supervisornya dan juga Satria selaku kepala Personalia di tokonya bekerja.
" Maaf saya terlalu lama tidak masuk bekerja !!" ucap Hanna. Merasa tidak enak karena sebetulnya surat dokter hanya berlaku selam 3 hari, tapi dia tidak bekerja selama 5 hari. Meskipun sudah mengirim surat izin dokter yang ke dua kalinya, Hanna sebagai karyawati teladan merasa tidak enak hati.
" Kau ini, tidak usah seperti itu, kau kan memang benar sakit, bukan sakit yang di buat - buat, jadi tidak apa, kau fokus saja kembali bekerja seperti biasanya " sahut Satria.
" Terima kasih banyak Pak, atas pengertiannya !!" ucap Hanna. Lalu pamit karena sudah tidak ada hal yang ingin di sampaikan lagi.
Di ambang pintu, Satria kembali memanggil Hanna.
" Hanna, tunggu sebentar !"
Hanna menoleh dan kembali menghampiri Satria.
" Ada apa Pak ?" tanya Hanna.
" Apa kau masih mau menerima tawaranku ? tawaran itu masih berlaku untukmu, aku akan terus menunggu jawabanmu !!" ucap Satria.
Hanna hanya menganggukan kepalanya dan pergi dari ruangan Satria secepatnya.
Kira - kira apa maksud dari perkataan Satria ???
Selama jam kerja berlangsung, Hanna terlihat sangat fokus pada pekerjaannya, hingga Melly yang melihatnya merasa khawatir.
Melly meminta izin temannya untuk menemui Hanna sebentar, diam - diam Melly melipir lewat rak - rak pajangan, mengendap - endap menghampiri Hanna. Konter Hanna dan Melly memang dekat, hanya saja mereka berbeda divisi, Hanna memegang konter pakaian pria, sedangkan Melly memegang konter pakaian wanita.
" Sssttt... Han... " Mata Melly menelusuri sekitar, terlihat awas karena takut ketahuan supervisornya mengajak Hanna mengobrol saat jam kerja.
Hanna hanya meliriknya sesaat lalu kembali fokus menata pajangan di rak kemeja pria.
" Han, jangan terlalu fokus kerja, inget lu baru sembuh tsayy... " ucap Melly.
" Makasih banyak kakakku atas perhatiannya, tapi ini kan tugasku, gak enak udah beberapa hari gak masuk kerja, kasihan anak magang kecapean gak ada yang bantuin " jawab Hanna.
" Engga, bohong, gak gitu biasanya, ada apa ? kamu lagi banyak pikirankan ? ada masalah apa ?" tanya Melly terlihat khawatir. Namun matanya nyalang ketika melihat Sofie sang supervisor divisi ladieswear berjalan menuju konternya.
" Eh... eh... ada bu Sofie ' bisik Melly ' nanti istirahat cerita ya, awas kalo gak cerita " Melly pun mengendap - endap kembali menuju konternya sebelum supervisornya tiba lebih dulu di konter ladieswear itu.
Melly sebetulnya orang yang sangat peka, terhadap orang yang dia anggap sudah sangat dekat seperti Hanna, Teguh dan Reni, dia sellau tau apabila salah satu dari temannya itu sedang galau di landa masalah ataupun sedang banyak pikiran seperti Hanna saat ini.
Hanna merupakan tipe orang yang kalau sedang marah atau banyak pikiran, dia selalu diam seribu bahasa dan mencoba menyibukkan dirinya dengan segala kegiatan di sekitarnya, baik di tempatnya bekerja ataupun di rumah.
Berkali - kali dia melakukan hal seperti itu di hadapan Siwan sehingga Siwan pun sudah tahu betul kebiasaan kekasihnya itu.
Saat istirahat tiba, awalnya Melly dan Teguh membicarakan perihal acara cuti bersama mereka.
" Gimana nih, udah siap belum minggu depan ? " tanya Melly.
" Gua udah siap dong, tapi ini si Hanna gimana, gua gak yakin bakal di izinin pacarnya, apalagi dia baru sembuh gini !" ucap Teguh.
" Yah... gimana dong Han, padahal baru kali ini kita bisa liburan bareng " Melly tertunduk lesu.
" Tenang aja, jadi kok, kata siapa gak dapet izin " sahut Hanna.
" Beneran di izinin lu ?" tanya Teguh penasaran.
" Belum tahu juga sih, tapi gua bakal ngamuk kalo dia gak kasih izin " ujar Hanna.
" Wah... aseekkk mantap girls " Teguh mengacungkan jempolnya.
" Eh tapi lu udah beneran sembuh kan ?" tanya Melly.
" Alhamdulillah kak, cuma aku belum boleh makan yang aneh - aneh, hemh... rujak cuka sama nanas yang kita beli barengan waktu itu juga aku belum nyicipin, aku ikhlasin di makan bi Lastri... hiks... " Hanna terlihat sedih.
" Ntar gua beliin buat lu 2 bungkus oke... " ucap Melly.
" Beneran kak... ciyus.. mi apa ?" mata Hanna berbinar - binar.
" Iya dong... sejak kapan gua suka boong sama kamyu... " sahut Melly.
" Yess... jauh banget soalnya belinya, kapan nih... aku udah ileran gini nih kayaknya itu enak banget " ucap Hanna.
" Ntar, nunggu sebulan lagi ya... " jawab Melly.
Seketika Hanna langsung cemberut memajukan bibirnya.
" Hahahah... ' Teguh tertawa ' kasian deh... satu bulan lagi... hahaha... keburu yang jualannya pindah lapak " ucap Teguh.
" Ish... sebel deh... " Hanna mendengus kesal.
" Lagian, ntar kalo lu sakit trus di rawat lagi gara - gara tu rujak, trus pacar lu tau itu rujak gue yang kasih, beuh.... terancam sudah kenyamanan hidup gue nantinya, jadi... sabar dulu yaa cintaku... " Melly menepuk punggung Hanna seraya memberinya kekuatan.
Dan, seketika momen curhat yang di tunggu Melly pun jadi terlupakan. Hanna seolah dengan sengaja mencari bahan obrolan lainnya setelah membahas acara liburan dan seputar rujak cuka.
Beberapa jam kemudian, tiba waktunya Hanna dan karyawan/ti lainnya yang masuk shift pagi untuk pulang.
Di titik penjemputan sudah terlihat dari kejauhan oleh Hanna bahwa kali ini Tio yang menjemputnya, setelah tadi pagi Bram yang mengantarnya.
" Bang Tio, aku mau ke supermarket xxx aku mau beli sesuatu, langsung kesana aja ya " pinta Hanna.
" Siap... " jawab Tio.
Beberapa menit kemudian, kini Hanna dan Tio sudah sampai di parkiran supermarket.
" Mau ikut, atau mau nunggu di luar ?" tanya Hanna.
" Aku nungguin mbaknya aja di depan sana ya, mau sambil ngerokok dulu " jawab Tio.
" Ish... gak bagus buat kesehatan tahu " ucap Hanna, lalu turun dari mobil.
Selama satu jam Hanna berkeliling di dalam supermarket, selain membeli beberapa kebutuhannya, sebetulnya ada sebuah barang yang dia cari. Dan, saat sudah menemukannya, dia pun langsung bertransaksi di kasir.
Kini, Hanna sudah berada di depan mobil kembali, Tio yang melihat Hanna membawa satu trolli belanjaan langsung menyambutnya dan memasukkannya ke dalam bagasi.
" Maaf ya, lama " ucap Hanna.
" Gapapa mbak, santai aja " ucap Hanna.
Dan, mobil yang di kendarai Tio pun melaju berhimpitan dengan mobil lainnya yang berada di jalan raya. Sore hari seperti biasanya jalanan selalu terlihat macet.
Karena merasa lapar, Hanna memutuskan untuk memakan roti yang dia beli di supermarket tadi.
" Bang, ini aku beli buat abang juga, sambil makan dong, nanti kalo kena mag aku yang di salahin " ucap Hanna menyodorkan satu kresek kecil berisi roti dan minuman dingin. Hanna menyimpannya di atas dashboard mobil.
" Wah, makasih banyak mbak " jawab Tio.
Saat itu mereka berdua pun mencicipi roti dan minuman milik masing - masing. Di tengah kemacetan yang melanda, hari semakin gelap, lembayung nampak jelas di atas cakrawala.
" Maaf ya aku gak bisa ajak makan di luar, sebenernya aku juga udah lapar, tapi ahjussi pasti marah kalo aku gak makan di rumah " ucap Hanna.
" Iya saya ngerti mbak, kalopun makan di luar juga nanti saya juga kena marah " jawab Tio.
Sesampainya di halaman rumah...
Tio mengeluarkan belanjaan Hanna di bagasi.
" Makasih banyak ya bang Tio, eh mau makan disini ? udah lapar juga kan ? bi Lastri pasti udah masak jam segini " Hanna selalu ramah pada orang di dekatnya, Bram pun berkali - kali ia ajak makan bersama di luar saat dia menjemput Hanna.
" Alhamdulillah, terima kasih banyak mbak, saya mau pulang aja, udah maghrib, saya harus bersih - bersih dan sholat " jawab Tio.
" Oh... iya udah kalo gitu, hati - hati ya bang !!" ucap Hanna, lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya setelah mengucapkan salam.
" Baru tahu aku bang Tio seagama denganku, baru kali ini aku tahu ada karyawan ahjussi seorang muslim " gumam Hanna.
Beberapa jam yang lalu, sebetulnya, setelah Hanna pergi masuk ke dalam supermarket, Tio tidak merokok di parkiran mobil, ternyata dia pergi mencari mushola untuk melakukan sholat ashar.
...**%%**...
Setelah selesai mandi, karena Hanna belum selesai dengan jadwal pmsnya, dia pun menunggu bi Lastri di ruang tengah karena ingin makan malam bersama dengannya.
Dan, saat bi Lastri datang ke ruang tengah seperti biasa selalu mengenakan mukenanya, bi Lastri menyapa Hanna dan meminta izin padanya untuk menonton tv.
" Bi, udah makan malam belum ?" tanya Hanna.
" Belum neng, nanti aja, neng aja duluan, bibi mau nonton sinetron favorit bibi, heheh... " bi Lastri nyengir.
" Emh... kalo gitu ini buat bibi " Hanna menyerahkan satu paper bag di atas meja di hadapan bi Lastri.
" Apa ini neng... ?" bi Lastri penasaran.
" Buat bibi, malam ini malam terakhir kan bi Lastri nemenin saya, makasih banyak ya bi udah bantuin saya udah nemenin saya nanti sering - sering main kesini ya bi... " ucap Hanna.
" Ya ampun neng, bibi jadi terharu, gak usah repot - repot segala neng, udah pekerjaan bibi kaya gini " ucap bi Lastri sambil membuka dan melihat isi paper bagnya.
Ternyata isinya seperangkat alat sholat, mukena dan sajadah, dan juga ada sebuah amplop coklat di dalamnya.
Hanna memberinya mukena dan sajadah baru karena melihat mukena yang di pakai oleh bi Lastri sudah lusuh. Terlihat dari perubahan warnanya dari putih bersih menjadi broken white.
Dan setelah Hanna bertanya tentang asal usul bi Lastri pada Bram pagi tadi Hanna jadi mendapatkan sebuah ide.
Bram mengenal bi Lastri karena bi Lastri adalah seorang office girl di tempat gym and health center milik Siwan yang sudah bertahun - tahun bekerja di sana. Bahkan bi Lastri tinggal di mess yang ada di belakang gedung tersebut.
Bram menceritakan tentang kehidupan bi Lastri yang di tinggal suaminya karena kecelakaan saat sedang bekerja di proyek di daerah Nusa Tenggara Timur. Suaminya meninggal karena terbawa arus sungai yang cukup deras saat terjadi hujan dan banjir.
Siwan yang kebetulan sedang berada di NTT dan mengetahui kejadiannya merasa prihatin dan menawarkan pekerjaan yang layak untuk bi Asih karena harus menghidupi kedua anaknya.
Saat itu Siwan berada di NTT karena sedang melakukan pekerjaannya sebagai seorang arsitek. Dia di mintai oleh temannya untuk merancang dan mendesain sebuah hotel di sana.
Bram tahu ceritanya karena bi Lastri pernah curhat padanya saat dia sedang beristirahat dan bersantai di pos satpam bersama beberapa temannya. Kebetulan Bram ada di situ dan menguping.
" Ya ampun neng, beneran buat bibi ?" tanya bi Lastri.
" Iya bi, maaf ya aku cuma bisa ngasih ini, mudah - mudahan bermanfaat " ucap Hanna.
" Terima kasih banyak neng, tapi maaf, ini isinya apa kalau boleh bibi tahu !" bi Lastri menyimpan amplop coklat di atas meja.
" Itu buat bi Lastri, ambil aja bi " ucap Hanna.
Bi Lastri mengambil amplop coklat itu dan melihat isinya. Dan, bi Lastri terheran - heran melihat berlembar - lembar uang berwarna merah di dalamnya yang entah berapa.
" Neng, upah bibi kan nanti di bayar den Siwan, tiap tanggal 20 nanti den Wan transfer ke rekening bibi, maaf bibi gak bisa terima yang ini, nanti den Wan marah sama bibi " ucap bi Lastri.
" Ish... gak baik nolak rezeki, itu bonus buat bibi dari aku, ambil aja, ahjussi gak akan marah, itu hak aku " ucap Hanna.
" Tapi neng bibi gak bisa..... " bi Lastri kembali mencoba menolaknya.
" Bi, gini aja, ini rezeki buat kedua anak bibi di kampung, anggap aja aku bersedekah terhadap anak yatim, aku tahu bibi kerja banting tulang merantau jauh - jauh buat biaya sekolah kedua anak bibi di kampung kan ?" tanya Hanna.
Bi Lastri menitikkan air matanya, merasa haru bahagia karena Hanna begitu baik padanya.
" Bibi cuma gak enak, baru kerja sebentar disini tapi neng udah baik banget sama bibi " ucap bi Lastri.
" Tidak apa bi, ini rezeki anak - anak bibi, mohon di terima ya, alhamdulillah bulan kemarin aku dapet bonus tahunan dari perusahaan, udah gitu gaji aku naik tiap tahun dan aku belum bayar sodaqoh bulan kemarin sama bulan ini, dan aku mau ngasih nya sama kedua anak bibi " ucap Hanna.
" Kalau begitu bibi terima ya, atas nama anak - anak, bibi ucapkan terima kasih banyak, jazakillah khairan katsiran ya neng, semoga rezeki neng selalu lancar dan berkah, sehat dan selamat dimanapun neng berada, semoga neng bahagia dan semoga neng berjodoh sama den Siwan dan hidup berbahagia bersama " ucap bi Lastri membuka kedua tangannya dan menengadahkan kepalanya ke atas saat mendoakan Hanna.
" Aamiin ya Alloh ya robbal alamin " ucap Hanna lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
Dan, pada akhirnya bi Lastri tidak jadi menonton sinetron favoritnya, tukang beras naik haji yang kala itu sedang booming sejagad Indonesia raya.
Hanna dan bi Lastri pun makan malam bersama. Mereka berbincang dan saling bertanya tentang keluarga masing - masing di kampung mereka.
Selesai makan malam, Hanna pun bergegas menggosok giginya karena tidak berniat makan apa - apa lagi. Dia juga membersihkan wajahnya karena takut keburu mengantuk dan ketiduran nantinya.
Setelah semua aktivitas nya selesai, akhirnya dia bisa bersantai dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Dia pun merogoh hpnya yang masih berada di dalam tasnya.
Saat menyalakan hpnya, Siwan sudah memberondong nya dengan chat dan telepon sejak beberapa menit terakhir.
Tanpa menunggu lama, Hanna pun menelepon nya supaya Siwan tidak marah dan kesal padanya.
Tuut... tuut...
Klik... tanpa menunggu lama akhirnya Siwan mengangkat telepon dari Hanna.
" Hallo, ahjussi... "
" Chagiya, kenapa baru mengabariku, apa kau sudah tidur ?"
" Ah... tidak, aku tadi ngobrol dan makan malam sama bi Lastri, maaf ya aku gak bawa hp, ini juga baterainya sedikit lagi, lupa belum di charger "
" Oh... aku pikir kau sudah tidur, besok aku yang mengantarmu pergi kerja ya, Bram besok jemput bi Lastri, dia yang akan mengantarnya ke mess "
" Oke... emh... ahjussi... " Hanna terdengar ragu untuk mengungkapkan perkataannya.
" Ya... kenapa ?" tanya Siwan di seberang sana.
Hanna mulai mengambil nafas perlahan.
" Emh... minggu depan aku cuti kerja, terus aku mau liburan sama temen kerjaku, boleh kan aku pergi..." Hanna meringis, dia memperkirakan apa jawaban Siwan di kepalanya.
" Kemana ? siapa saja mereka ?" tanya Siwan.
" Kita rencananya mau ke Nusa Penida atau ke Lombok, aku, kak Reni, kak Melly dan kak Teguh " jawab Hanna.
" Aku ikut... " ucap Siwan.
" Ahjussi... bukannya aku tidak mau kau ikut, tapi, teman - temanku, mereka pasti tidak enak hati, mereka pasti merasa tidak bebas kalau kau ikut, ayolah... hanya 3 hari, percayalah padaku dan teman - temanku, mereka pasti akan menjagaku dengan baik " Hanna merengek.
" Kenapa tidak bebas ? memangnya kalian mau melakukan apa ? anggap saja aku tidak ada !"
" Bukan begitu, ini kan acaraku dan teman - temanku, lagipula.... "
Tiba - tiba hp Hanna mati karena lowbatt, Hanna mendengus kesal, setelah mencharge hpnya, Hanna membanting tubuhnya di atas kasur dan menggerutu.
" Tuh kan, pasti dia mau ikut, kalo engga dia pasti ngelarangku, dia pikir aku ini siapa, aku bukan istrinya, selalu berbuat seenaknya aja, iiiikkhhh.... sebel.... "
Hanna terlihat seperti orang kesurupan menendang - nendang bantal dan gulingnya hingga berceceran di lantai.
Dan, lama kelamaan dia pun tertidur karena merasa kelelahan.