My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Menyambung ikatan



" Aku merindukanmu, chagiya... " Siwan merapatkan tubuhnya, memeluk Hanna dari belakang saat ia hendak mengambil satu tumpukan baju milik Siwan.


Dengan perasaan terkejut dan hati yang berdebar Hanna hanya menatapnya lewat cermin lemari di depannya.


" Ahjussi, aku ganti baju dulu ya " ucap Hanna.


Siwan melepaskan lengannya dari tubuh Hanna.


" Maaf, aku selalu begini saat bersamamu " Siwan mundur perlahan.


Hanna yang sudah berhasil meraih sepasang piyama milik Siwan langsung membawanya ke dalam kamar mandi.


Di balik pintu kamar mandi


" Kenapa aku jadi begini, rasanya seperti pertama kali aku dekat dengannya, dadaku selalu berdegup lebih kencang " bisik Hanna.


Selesai mengganti bajunya, Hanna keluar dan mndapati Siwan sedang bertelanjang dada, rupanya dia pun sedang mengganti bajunya.


Hanna berjalan mengendap - endap sambil menunduk. Tidak ingin melihat tubuh Siwan yang terlihat selalu menggoda seperti biasanya.


Siwan menyadari kehadiran Hanna, dia berbalik menghadap ke arahnya.


" Sudah selesai, mau tidur di kamar tadi ?" tanya Siwan.


" Disini saja !" jawab Hanna secepat kilat.


" Aish... tuh, kan, aku jadi tidak fokus gara - gara melihat perutnya yang sixpack seperti roti sobek, dasar bego, ini mata, otak sama mulut gue bener - bener gak bisa di ajak kerja sama banget " gumam Hanna yang masih menutup mulutnya dengan tangannya.


Siwan yang sedang mengancingkan piyama yang menempel di tubuhnya benar - benar ingin tertawa melihat tingkah lucu kekasihnya.


" Baiklah, ayo tidur, aku akan tidur di sofa kau di ranjang saja " ucap Siwan yang kini sedang berjalan menuju sofa.


Dan... Hanna terlihat kecewa melihat punggung Siwan yang bergerak menjauh darinya.


Siwan sudah mulai merebahkan tubuhnya di sofa, dan Hanna pun sekarang sudah berada di atas ranjang sedang menyelimuti tubuhnya.


Selama 10 menit, Hanna mencoba menutup matanya, namun ia selalu gelisah, ia tidak bisa masuk ke alam mimpi.


" Ahjussi... kau sudah tidur ?" tanya Hanna.


" Hemh... " Siwan masih menyahutnya.


" Ahjussi, aku tidak bisa tidur !" ucap Hanna.


" Hemh... " Siwan hanya kembali menyahutnya seperti itu.


Padahal saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 01.45 wita, Hanna masih belum bisa berpindah ke alam mimpi. Sedangkan Siwan, sudah pasti dia mengantuk karena merasa lelah.


Hanna pun bangkit, lalu turun dari ranjangnya menghampiri Siwan yang sepertinya sudah mulai berpindah ke dimensi lain.


Dan, tanpa di sangka - sangka, Hanna pun berbaring di samping Siwan sambil memeluknya, berhimpitan di atas sofa di bawah selimut yang sama.


Siwan kembali terjaga, matanya kembali terbuka karena merasa terkejut oleh kehadiran Hanna yang tiba - tiba menempel padanya, dan tanpa menyia - nyiakan kesempatan, lengannya melingkar di tubuh Hanna secepat kilat.


" Tidurlah, kau harus istirahat " ucap Siwan, mengecup pangkal kepala Hanna dan kembali menutup matanya.


Hanna tersenyum merasa senang, dia pun mencoba menutup matanya dan, tidak menunggu waktu yang lama, sepertinya ia pun sudah mulai bisa bermimpi indah di pelukan Siwan sambil tersenyum.


Sungguh sia - sia usahanya menjauhkan diri dari Siwan selama ini. Air mata yang tumpah selama beberapa bulan ke belakang seakan terbuang percuma.


Dia tetap merasa terikat dengannya, tubuh dan hatinya begitu merindukan Siwan. Meskipun otak dan pikirannya kadang selalu ingin menyangkal dan terus berlari ingin menolak, tapi apalah daya, di saat cinta selalu berhasil menguasai hatinya, logikanya selalu terkalahkan oleh hasrat dan nafsu semata.


Keesokan harinya....


Pukul 06.30 wita...


Austin yang baru pulang dari rumah sakit melihat ada sepasang sepatu wanita di rak sepatu di samping pintu masuk.


Austin langsung memasang mode curiga meskipun mulutnya tersenyum. Matanya yang tadi terlihat lelah dan berat, secepat kilat berubah membulat dan membesar.


" Bi, bi... bi.... " Austin berjalan menuju dapur menghampiri bi Asih yang sedang sibuk menyiapkan sarapan.


" Ada apa nak Oz, baru pulang udah cariin bibi, mau apa ? mau minta makan ? belum siap !" tegas bi Asih.


" Ish... bukan begitu, bi... ada siapa di atas ?" tanya Oz.


" Ke... po.... mau tau aja urusan orang !" jawab bi Asih.


" Aha.... aku tahu, pasti si tukang kabur kan, dia semalam tidur disini kan ?" tanya Oz masih terlihat penasaran.


" Kalau tahu, ngapain tanya lagi, udah sana cepet ganti bajunya, bau keringat !" ucap bi Asih sambil memencet hidungnya.


"Hahaha... sudag kuduga, secepat itu dia jatuh kepelukannya lagi, ck... dasar, wanita penuh drama" Austin berlalu meninggalkan bi Asih, menuju kamarnya di lantai 2.


Sebelum pergi ke kamarnya, Austin dengan mode kepo nya merapatkan telinga pada pintu kamar tamu.


Dan, betapa terkejutnya dia saat di telinganya terdengar suara isak tangis seorang perempuan. Austin mengira Hanna sedang menangis.


" Apa mereka bertengkar lagi semalam... " pikir Austin begitu. Ia ingin mengetuk pintunya namun ia urungkan.


" Ah.. nanti aku di bilang ikut campur, biarkan saja lah... urusan mereka " ucap Austin, dan pergi menuju kamarnya.


Saat Austin sampai di depan pintu kamarnya, terdengar suara cekikikan seorang wanita tertawa. Austin terkejut, terlebih lagi saat melihat Aji tiba - tiba keluar dari kamarnya dan berlari menuju kamar tamu.


Dan juga bi Asih yang tergesa - gesa naik ke lantai 2. Austin pun menghampiri Aji yang masih ragu untuk membuka pintu kamar tamu itu.


" Biar bibi saja " pinta bi Asih.


Aji pun mundur. Bi Asih maju dan membuka pintu kamarnya perlahan.


" Kenapa dia, apa dia stress ?" tanya Oz.


" Sssttt... " Aji menyuruh Oz diam dengan mengacungkan telunjuknya pada bibirnya.


Aji dan Austin mengikuti bi Asih masuk ke dalam kamar tamu itu. Dan begitu terkejutnya Austin, matanya dengan nyalang melihat ke sekitar ruangan kamar bahwa tidak ada siapapun di dalamnya. Dia hanya melihat bi Asih duduk di tepi ranjang dan menatap kosong ke depannya.


Aji membungkam mulut Oz yang terlihat ingin mengeluarkan kata - kata. Aji menatap Oz dengan tajam sambil menggelengkan kepalanya.


Dari kejauhan mereka melihat bi Asih seolah sedang berinteraksi bersama seorang mahluk di depannya. Mahluk tak kasat mata.


Dan, tak lama kemudian bi Asih bangkit dan berbalik, mengisyaratkan pada Aji dan Austin untuk membuka pintu lebar - lebar dan memberinya jalan untuk keluar.


Aji dan Austin merapatkan tubuh pada dinding di samping pintu kamar dan mengikuti bi Asih hingga ke luar rumah mereka dan berhenti di depan sebuah pohon besar yang ada di sudut pagar rumah, di depan.


Selama beberapa menit bi Asih mematung, lalu membalikan tubuhnya dan masuk kembali ke dalam rumah di ikuti oleh Aji dan Austin di belakang.


Di dalam rumah...


" Kayaknya semalam dia tidur di kamar kak Wan " sahut Aji.


" Lalu, siapa tadi, jelas banget gue dengar suara tangisan di dalam kamar itu, apa jangan - jangan, astaga... " pekik Austin, tercengang saat baru menyadari fakta yang ada di depan matanya.


" Ish... sudah, tidak usah di ributkan lagi, dia sudah mau pergi kok, jangan kalian buat dia datang kemari lagi, cepat bubar, berhenti bergosipnya " pinta bi Asih yang sudah berada di ambang pintu ruang makan.


Aji dan Austin secara bersamaan bergidik ngeri. Mereka berlarian menuju kamar masing - masing.


Bi Asih yang melihat kelakuan mereka hanya geleng - geleng kepala.


Pukul 07.30 wita


Kepala Hanna mulai bergerak dan dia mulai membuka matanya perlahan, mengerjap berkali - kali dan...


" Good morning, chagiya !!" ucap Siwan yang masih berbaring di posisinya karena tidak mau mengganggu Hanna yang masih terlelap di pelukannya.


Padahal dia sudah bangun sejak tadi pagi dia mendengar keributan yang di buat oleh si mahluk astral. Namun karena melihat Hanna masih terlelap dia pun hanya terdiam sambil mengelus - elus rambut dan lengan kekasihnya dan mencium puncak kepalanya berkali - kali.


" Untung saja semalam mereka tidur di kamarnya " batin Siwan yang saat itu masih memasang telinganya lebar - lebar menebak - nebak keributan yang sedang terjadi di luar kamarnya.


Hanna bangkit dari posisinya dan menggeliatkan tubuhnya sambil terduduk di atas sofa.


Siwan ikut terbangun dan duduk di belakang Hanna sambil melingkarkan lengannya di tubuh mungil Hanna, kepalanya bersandar di pundak Hanna.


" Ahjussi, geli... " ucap Hanna, karena Siwan terus mengendus leher Hanna dan menggesekkan kumis serta janggut tipisnya hingga ke ceruk lehernya.


" Chagiya, jangan buru - buru pulang, aku masih ingin bersamamu " bisik Siwan.


" Hihihi... iya, aku sudah tidak bisa kabur lagi darimu, aku tidak akan kemana - mana lagi, setidaknya untuk 4 bulan lagi, selama aku masih di Bali " ucap Hanna lirih.


" Baiklah, aku sendiri yang akan mengantarkanmu pergi nanti, jangan ada kata perpisahan lagi sebelum hari itu tiba, setidaknya aku sendiri yang akan melepas kepergianmu, hari itu " Siwan mulai bersedih kembali mengingat tentang perpisahan mereka. Begitu pula dengan Hanna.


Hanna menatap wajah Siwan dari dekat, saaangat dekat, dan, dia mulai mengecup bibir Siwan.


Siwan membalas kecupan Hanna dengan lembut, dan lama kelamaan kecupan itu berubah menjadi ciuman penuh nafsu, yang sudah lama tak tersalurkan.


Di atas sofa pagi itu, Siwan dan Hanna kembali saling menyalurkan hasrat terpendam mereka selama ini, sebagai permulaan terbentuknya ikatan mereka kembali.


Siwan harus berterima kasih pada si mahluk astral yang sudah membuat paginya kali ini kembali menjadi indah. Hahaha...


Selama hampir 5 menit bibir Hanna dan Siwan beradu dan saling menyesap. Kehangatan mulai menjalar di sekujur tubuh masing - masing.


Dengan posisi kini Hanna sudah berada di hadapan Siwan, duduk di atas pangkuannya, Hanna bahkan merasakan sesuatu dari bawah sudah mulai mengeras dan menyundul area intimnya membuat hasratnya semakin menggebu, terlebih lagi saat kedua tangan Siwan sudah mulai meraba seluruh lekuk tubuh Hanna dari balik piyama tidurnya, menjamah semua bagian tubuh Hanna yang tak memakai perlindungan sama sekali. Karena Hanna sudah terbiasa tidur tanpa memakai bra, memudahkan Siwan menggapai area sensitif miliknya dari dalam.


Kedua lengan Hanna pun melingkar di leher Siwan, menyentuh rahang tegas Siwan, menyuruk area kepala dari balik rambutnya dengan lembut, dan turun ke area leher Siwan lalu turun ke bawah, dengan lembut jari - jari lentik Hanna menyentuh dada bidang Siwan, meskipun terhalangi oleh piyama namun cukup terasa menyengat bagi Siwan.


Namun, saat Hanna sudah mulai akan membuka kancing piyama yang menempel di tubuh Siwan, dengan Sigap Siwan langsung menahan tangan Hanna itu dan menyudahi pergumulan bibirnya.


" Chagiya, hentikan, aku tidak mau melakukan kesalahan lagi " ucap Siwan.


Sesaat Hanna menatap wajah Siwan, dan diapun memeluk Siwan dengan sangat erat. Selama beberapa detik mereka berpelukan dan terdiam menikmati kehangatan dekapan masing - masing sambil mengatur nafas.


" Ahjussi... aku lapar !" ucap Hanna di iringi dengan suara dari dalam perutnya.


" Baiklah, ayo kita turun, sarapan pasti sudaj bi Asih siapkan.


Namun Hanna tak juga beranjak dari pangkuan Siwan.


" Kau bilang lapar, kenapa ? kau masih mau meneruskannya pagi ini ?" tanya Siwan.


" Ish... aku sedang merasakan bau tubuh yang bercampur dengan parfummu, aku sudah lama tidak menciumnya, rasanya begitu tenang, kau selalu tahu cara agar aku tidak lepas dari dekapanmu " jawab Hanna.


" Sudah ku bilang kau pakai saja parfum punyaku, supaya kau bisa terus merasa kalau aku ada bersamamu sepanjang waktu " sahut Siwan.


" Tidak ahjussi, rasanya pasti berbeda, aku lebih suka bau parfumnya menempel di tubuhmu " jawab Hanna yang masih menelusuk di dalam dekapan Siwan.


Siwan hanya tersenyum gemas melihat tingkah laku kekasihnya yang terus menggerakkan kepalanya di dada Siwan.


" Sudah, ayo cepat kita sarapan dulu, nanti kita lanjutkan lagi setelah sarapan " ucap Siwan menarik wajah Hanna dengan lembut dan mengecup bibirnya sekali lagi.


Beberapa menit kemudian, setelah selesai mandi, Hanna dan Siwan turun ke bawah untuk sarapan yang sudah bukan waktunya lagi di sebut sarapan.


Bi Asih yang melihat keduanya turun langsung bergegas ke dapur untuk menyiapkan beberapa menu makanan di meja makan.


" Bi, mereka pergi ?" tanya Siwan.


" Enggak den, nak Oz tidur lagi setelah sarapan, katanya dia lelah, nak Aji sedang membersihkan motornya di belakang " jawab bi Asih.


Siwan dan Hanna kini duduk di meja makan untuk makan pagi menuju siang.


Bi Asih hanya tersenyum menatapa Hanna yang sudah terlihat segar pagi ini.


Selesai makan pagi, Hanna membantu bi Asih membereskan piring kotor di dapur, meskipun bi Asih sudah melarangnya namun Hanna tetap keukeuh ingin membantu.


" Biarkan saja bi, tidak apa - apa " ucap Siwan yang kini menuju area belakang rumah lewat pintu yang ada di dapur.


Setelah Siwan keluar, Hanna dan bi Asih mulai mengobrol dengan serius.


" Bi, apa bibi sudah menyuruhnya pergi ?" tanya Hanna.


" Sudah, tapi tadi dia sempat mampir di pohon depan, tapi pas bibi cek lagi sepertinya sudah tidak ada, bibi juga berkeliling rumah sudah tidak merasakan lagi auranya ada di sekitar sini " jawab bi Asih.


" Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu, maaf ya lagi - lagi aku merepotkan bibi, aku tidak tahu lagi harus meminta bantuan siapa " Hanna terlihat sedih, tangannya sedang sibuk mencuci piring, dan mulutnya tidak berhenti berbicara.


" Jujur, aku lupa, semalam aku tidak permisi dulu saat duduk di taman itu, sepertinya dia marah padaku " ucap Hanna.


" Engga kok non, dia justru ingin minta bantuan sama non, sepertinya dia tertarik dengan aura non Hanna, sedikit lagi saja, kalau non bisa mengamalkan ilmu yang pernah di beri mbah buyutnya, non pasti gak akan berhenti di datangi mereka buat minta tolong sama non, bibi tahu, non itu sebenarnya gak polos, cuma non kurang mengolah ilmunya saja " ucap bi Asih sambil tersenyum.


" Iya sih bi, jujur aku masih sering melakukan dosa, aku bertaubat, tapi melakukannya lagi dan lagi, aku jadi merasa tidak pantas menerima anugerah yang melekat ini, aku malah ingin membuangnya bi " ucap Hanna.


" Jangan, sayang non, bertahan saja, suatu hari nanti mungkin berguna, untuk melindungi orang - orang yang non Hanna sayangi misalnya, percaya atau tidak, mereka memang hidup di sekitar kita, bertahan saja, selama mereka tidak mengganggu seperti kemarin, bibi yakin non pasti kuat, tingkatkan saja amalannya, tidak apa beriringan saja, supaya seimbang " ucap bi Asih dengan serius.


Dan, ketika mereka mengobrol begitu seriusnya, mereka tidak menyadari kehadiran seseorang di belakang mereka yang berjalan mengendap - endap dan menguping pembicaraan. Siapakah dia ??


Masih edisi horor ini tuh ya, harusnya update tadi malam tapi gara - gara sinyal jelek parah wifi tetangga pun sama jadinya update semalam di cancel dan othor sibuk rutinan malam jumat semalam.


Hahaha... tawasulan maksudnya, jangan mikir aneh - aneh sama othor.


Di tunggu next story nya ya, jangan minta Hanna Siwan buru - buru menikah nanti ceritanya jadi tamat, othor masih seneng bikin readers gregetan. Hahaha... maafkan yaa !!


Jangan lupa like, vote dan komen biar tambah semangat menghayalanya.


Terima kasih.