My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Sakit



" Han, aku sangat terkejut melihat Aji seperti orang yang kehilangan akal pada malam itu. " Ucap Pat.


" Bagaimana maksudnya ?" tanya Hanna merasa bingung.


Lalu Pat menceritakan moment dimana pada malam hari saat Aji menemukan Hanna di kamar hotel hendak di nodai oleh Satria, dia seperti orang kerasukan, meninju dan menyerang Satria di segala arah. Hingga membuat pria itu terkapar bahkan terluka.


" Bukannya dia memang selalu seperti itu, hobinya kan membuat orang sampai masuk ugd !!" jawab Hanna.


" Tapi jujur, selama aku mengenalnya, kali ini sangat berbeda, aku jadi berpikir, apa mungkin, dia punya perasaan yang spesial sama kamu !!" ucap Pat membuat Hanna terhenyak.


" Ya... mungkin, karena kita kenal dekat dan mungkin karena dia merasa bersalah, selama ini kan ahjussi menitipkanku padanya selama ia di Seoul. Mungkin seperti itu Pat !!" ucap Hanna tetap meyakinkan bahwa penilaian Pat pasti salah.


Saat itu, saat Pat dan Austin berkunjung ke rumah Hanna, lalu Pat langsung di bawa masuk ke kamar oleh Hanna.


Tadinya, niatnya, Hanna ingin curhat tentang masalahnya dan Siwan. Tapi, dia jadi lupa gara - gara mendengar pernyataan Pat tentang Aji, saat itu.


...*********...


Semenjak pulang latihan karate hari minggu kemarin, Hanna kembali memikirkan apa yang sempat ia dengar saat Aji dan Mina bercakap - cakap di ruang latihan tinju.


Dan, ia pun kini teringat pada omongan Patricia saat mengobrol beberapa waktu lalu di rumahnya.


Namun, ia terus selalu menepis pikiran nya. Sejujurnya, ia pun sempat berpikir bahwa Aji memang memiliki perasaan khusus padanya. Selama dua bulan terakhir, mereka memang manjadi lebih dekat.


Mereka jadi lebih mengenal karakter dan kebiasaan masing - masing. Mereka nampak merasa nyaman satu sama lain saat sedang bersama - sama.


Hari ini, hari senin, Hanna masuk kerja shift siang. Seperti biasa, Siwan selalu menjemput nya dan mengantarkannya pergi bekerja.


Walaupun sebetulnya hari itu dia sedang ada pertemuan penting dengan klien bisnisnya, tapi ia menyempatkan diri untuk pergi mengantarkan kekasihnya itu di sela - sela jam makan siang.


Kini, Siwan dan Hanna sedang berada di perjalanan menuju tempat Hanna bekerja.


" Chagiya, kalau dia sudah mulai masuk bekerja, tolong, jangan hiraukan dia, lebih baik hindari saja !!" ucap Siwan.


" Dia, siapa ???" tanya Hanna.


" Dia, pria psikopat itu !!" jawab Siwan.


" Oohh... dia, ia tenang saja, aku akan usahakan tidak berhadapan dengannya, jangan cemas ya !!" ucap Hanna.


Siwan merasa curiga, sepertinya Hanna sedang sibuk dengan pikirannya sendiri saat itu. Tapi, entah apa yang sedang ia pikirkan saat itu, Siwan tidak mengetahuinya, terlihat dari ekspresi dan kerutan di wajahnya.


Sesampainya di tempat kerja, Hanna turun dari mobil setelah berpamitan pada Siwan. Ia langsung menuju pintu masuk karyawan.


Saat menuju loker, ia sempat melihat Satria dari kejauhan. Terlihat masih terdapat beberapa luka di wajahnya yang di tutupi oleh plester.


Namun Satria seperti menghindari Hanna, ia lalu masuk menuju ruang personalia dan menutup pintunya.


" Baguslah, gak rugi juga, malah bersyukur aku !!" ucap Hanna menggerutu sambil merapihkan rambutnya di depan loker.


Tiba - tiba, ada seseorang yang mengejutkannya.


" Han... kenapa kamu ?" tanya seorang pria menyapanya dari belakang.


Ternyata pria itu adalah Teguh, temannya di konter sepatu di lantai 3.


" Ih... kamu, ngagetin aja !!" jawab Hanna.


" Kamu, tau gak, itu pak Satria, pas orang - orang nanya soal lukanya, dia malah jawab apa coba.... ?" tanya Teguh.


" Jawab apa dia ?" tanya Hanna.


Lalu Teguh mendekatkan wajahnya pada telinga Hanna dan berbisik.


" Jatuh dari motor " bisik Teguh lalu tertawa.


" Idih... ngapain kamu ketawa ?" tanya Hanna keheranan.


" Sowry sowry... habisnya aku malah ngerasa lucu aja denger dia bohong kaya gitu, seandainya mereka tahu kejadian sebetulnya... " ucap Teguh.


" Ssssttt... udah lah, gak usah di bahas lagi, aku juga masih kesel sebenarnya, tapi udahlah, mau gimana lagi coba. " Jawab Hanna.


Saat Hanna dan Teguh sedang asyik bergosip, datanglah pak Rama melewati mereka dari samping sambil berdehem, memberi tanda bahwa mereka harus menyudahi acara gosipnya.


Sepanjang hari, saat Hanna sedang bekerja, Satria sesekali memang terlihat berada di sekitar nya, namun dia tidak berani menghampiri Hanna.


" Syukurlah... aku merasa lega !!" ucap Hanna di dalam hati.


Namun, beberapa jam kemudian, saat dia masuk jam istirahat pukul 15.00 wita, saat dia menuju sebuah warung makan tempatnya biasa menghabiskan bekal makan dari rumahnya saat bekerja, tiba - tiba Satria menghadangngnya di tengah jalan. Jauh dari area tempat kerjanya, sehingga dia merasa tidak nyaman, takutnya Satria akan melakukan pelecehan lagi terhadapnya.


" Han, bisa bicara sebentar ?" tanya Satria penuh harap.


" Maaf, aku harus segera makan, takut mag ku kambuh !!" jawab Hanna lalu melanjutkan perjalanan nya.


Saat itu, Hanna pergi istirahat dengan rekan kerja lainnya yang tidak tahu kejadian yang di alaminya di malam pesta ulang tahun bu Merry beberapa waktu lalu.


Baru saja Hanna duduk di bangkunya, Satria datang langsung menarik lengannya.


" Apa sih, lepasin gak... " ucap Hanna.


Satria tidak memperdulikan ucapan Hanna, ia terus menarik lengan Hanna dan menyeretnya ke sebuah tempat yang cukup sepi, tidak terlalu banyak orang berlalu lalang namun tidak jauh juga dari kerumunan orang yang sedang makan di waktu istirahat sore itu.


" Aw... mas, sakit... " ucap Hanna.


Setelah mendengar ucapan Hanna yang nampak kesakitan, Satria pun melepaskan tangannya dari pergelangan lengan Hanna.


Dan, Hanna pun tanpa menunggu lama kemudian ia mencoba berlari menjauh dari Satria, namun, ia gagal, Satria masih bisa menghadangnya dengan tubuhnya dan kedua tangannya yang di rentangkan.


" Please, sebentar saja, aku gak akan lama !!" ucap Satria menatap wajah Hanna.


Dan Hanna pun menatap wajah Satria dengan tatapan tajam dan benci, ia kali ini tidak beranjak dari posisinya saat itu.


Dan, Satria mulai mengeluarkan kata - kata. Dia dengan setulus hati meminta maaf atas perbuatannya saat itu. Dia benar - benar khilaf dan di bawah pengaruh alkohol makanya berani berbuat nekad seperti itu.


Lalu, apa Hanna percaya dengan semua ucapannya ?


Tentu saja tidak, namun, supaya Satria melepaskannya untuk pergi, secepatnya Hanna menjawab, " oke, sudah selesai ?" ucapnya terdengar sinis.


Satria berterima kasih dan mempersilahkan Hanna untuk pergi menuju tempat duduknya kembali.


Dengan langkah terburu - buru Hanna menjauh dari Satria dengan wajah kesal.


" Bisa - bisanya dia masih menebar senyuman di hadapanku !!" Hanna menggerutu di dalam hatinya.


Beberapa jam kemudian, kini tiba waktunya bagi Hanna dan temannya untuk pulang dari tempat kerjanya.


Hanna berjalan menuju titik penjemputan seperti biasanya. Dari kejauhan, dia sudah melihat mobil Siwan terparkir di sana.


Namun, betapa terkejutnya Hanna saat mendekat, terlihat dari luar, lewat kaca depan mobilnya, bahwa orang yang menunggu nya kali ini bukan Siwan.


Orang itu keluar dari mobilnya lalu menyapa Hanna yang berdiri terpaku sambil menjinjing tas nya.


" Hai, ayo masuk !!" ucap Aji.


Ya, kali ini yang menjemput nya adalah Aji. Orang yang ingin ia hindari sejak hari kemarin.


" Kemana ahjussi ?" tanya Hanna.


" Dia tidak mengabarimu ? Dia sakit, dia demam !!" ucap Aji.


Hanna terlihat terkejut lalu buru - buru mencari sesuatu di dalam tasnya. Ia mengeluarkan hpnya, lalu, ia melihat ada beberapa pesan masuk, salah satunya dari Siwan yang mengabarkan bahwa dia sakit dan tidak bisa menjemput nya kali ini.


" Ah iya, dia mengirim pesan padaku !!" ucap Hanna perlahan sambil masih menatap layar hp nya.


" Yasudah, ayo, masuklah, kita pulang sekarang !!" ucap Aji.


8 menit kemudian, kini mereka sudah sampai di halaman rumah Hanna malam itu, karena jaraknya tidak terlalu jauh. Dan, sebelum turun, Hanna bertanya kembali tentang kondisi Siwan saat ini, dan siapa yang merawatnya.


" Dia sedang di jaga oleh Austin dan bi Asih saat ini. Emh... demamnya lumayan tinggi, sepertinya dia terkena radang, Austin bilang seperti itu. " Jawab Aji.


" Owh... begitu ya !!" Hanna terlihat sedih mendengarnya, dia menundukkan kepalanya dan terlihat melamun.


Lalu, Aji yang seperti menyadari apa yang sedang di rasakan oleh Hanna pun mulai angkat bicara kembali.


" Kau mau melihatnya ?" tanya Aji.


" Sekarang ? Bolehkah ?" tanya Hanna penuh harap.


Aji tersenyum lebar melihat wajah Hanna terlihat sangat cantik saat tersenyum seperti itu. Membuat jantungnya tidak karuan dan hatinya kembali goyah saat berhadapan dengan wanita yang ada di hadapannya.


" Tentu saja, dia pasti akan cepat sembuh kalau kau yang merawatnya !!" Jawab Aji.


" Emh... baiklah, tapi, tunggu sebentar ya, aku ganti baju dulu !!" ucap Hanna lalu turun dari mobilnya dan berlarian masuk ke dalam rumahnya.


Aji tertawa kecil melihat kelakuan Hanna lewat kaca mobilnya.


Beberapa menit berlalu, kini, Hanna sedang dalam perjalanan menuju rumah Siwan bersama Aji. Meskipun ia merasa sedikit lelah setelah bekerja, tapi, rasa khawatir nya begitu besar, dia ingin melihat sendiri kondisi Siwan saat ini.


Di dalam perjalanan, Hanna dan Aji nampak sibuk dengan pikirannya masing - masing. Tidak ada percakapan sama sekali di antara mereka saat itu. Hingga, selang beberapa detik setelah mobil berhenti di lampu merah, Aji mulai mengeluarkan suaranya kembali.


" Han, boleh aku bertanya ?" ucap Aji.


" Apa bli ? boleh lah, bertanya itu gratis... " jawab Hanna.


" Itu, si brengs*k itu, apa dia masih bekerja di sana ?" tanya Aji.


" Owh, Satria ? iya, masih, bahkan tadi dia sudah mulai masuk bekerja meskipun masih terlihat belum pulih luka di wajahnya. " Jawab Hanna.


" Lalu, kau, bagaimana ? maksudku, apa dia masih mengganggu mu ?" tanya Aji.


Hanna berpikir beberapa detik, lalu mulai menjawabnya.


" Tidak, tadi dia hanya menemuiku untuk minta maaf, tapi aku biarkan saja tanpa menghiraukan nya. " Jawab Hanna.


Tidak ada lagi pertanyaan dari mulut Aji. Namun, terlihat dari kerutan di wajahnya, ia seperti masih belum puas dengan jawaban dari Hanna. Dan nampaknya Hanna memahami ekspresi wajahnya saat itu.


" Tapi bli, bu Merry, managerku tahu kejadian malam itu dari pak Rama, dan dia berjanji akan melindungi ku selama di tempat kerja, karena dia tidak bisa mengeluarkan keponakannya itu hanya karena masalah pribadi. " Jawab Hanna.


" Keponakan ?" tanya Aji terlihat heran.


" Iya, aku juga baru tahu, ternyata dia keponakan bu Merry. " Ucap Hanna.


" Oke, syukurlah kalau memang keamananmu selama di sana terjamin !!" ucap Aji.


Kini, mereka sudah sampai di depan gerbang rumah Siwan. Aji turun sebentar untuk membuka pintu pagar dan kembali masuk melajukan mobilnya ke dalam.


Sebelum turun, Hanna mengucapkan sesuatu kembali pada Aji.


" Bli, terima kasih banyak ya, kalau saat itu kau tidak datang, aku mungkin akan merasa sulut untuk masih bisa tersenyum seperti ini !!" ucap Hanna.


" Maafkan aku, karrna datang terlambat !!" jawab Aji.


" Tidak bli, aku sangat beruntung kau datang sebelum dia melakukan sesuatu padaku, jangan merasa bersalah seperti itu, aku sendiri yang patut di salahkan karena sangat ceroboh saat itu. Terima kasih banyak ya !!" ucap Hanna sambil menyentuh tangan Aji sebentar, lalu turun dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk.


Aji merasa terkejut saat Hanna menyentuh tangannya dengan lembut. Ia terlihat tersenyum di belakang Hanna lalu turun dari mobilnya dan menghampiri pintu gerbang.


Hanna menunggu Aji yang sedang menutup pintu gerbang tersebut.


Setelah Aji menutup gerbangnya, ia mengajak Hanna masuk ke dalam rumah.


Suasana di dalam rumah nampak sepi, karena sudah malam, saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul 22.47 wita.


Hanna berjalan perlahan seperti mengendap - endap di belakang Aji menuju ke lantai 2.


Kini, Aji dan Hanna sudah berada di ambang pintu di luar kamar Siwan.


Aji mulai membuka pintunya perlahan, dan masuk ke dalam, di susul oleh Hanna.


Saat melihat kekasihnya berbaring tak berdaya di atas ranjang, Hanna merasa sangat sedih. Ia menghampiri ranjang Siwan dengan perlahan. Di sampingnya terdapat tiang infusan.


Aji berbisik pada Hanna, " kau mau bermalam disini ?" aku akan menyiapkan makanan untukmu di dapur, kau lapar ?" tanya Aji.


" Bli, tidak usah, aku tidak mau makan. Aku hanya mau disini menjaganya !!" ucap Hanna.


" Oke, kalau begitu, aku keluar dulu, kalau kau butuh sesuatu bangunkan saja aku atau Austin." Ucap Aji.


Hanna hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum. Aji pun keluar dari kamar Siwan.


Di depan pintu kamar Siwan, di luar, Aji nampak masih berdiri di sana untuk beberapa detik, ia menatap pintu kamar lalu ia menghembuskan nafas kasar dan pergi melangkah menuju kamarnya.


Keesokan harinya, sekitar pukul 05.30 wita, Siwan membuka matanya perlahan. Dan, betapa senangnya dia saat melihat wajah seseorang yang ia kasihinya berada di sampingnya saat itu.


Ya, dia Hanna, sedang tertidur di sampingnya dengan posisi menyamping menghadapnya sambil menggenggam tanganny, hanya di pisahkan oleh sebuah guling yang berada di tengah mereka.


Perlahan Siwan menyentuh wajahnya, dan sepertinya Hanna merasakan sentuhannya. Hanna pun membuka matanya dan terbangun dari tidurnya.


" Ahjussi, bagaimana keadaanmu sekarang ? kau mau minum ?" tanya Hanna terlihat sibuk sendiri mengecek suhu badan Siwan dan terburu - buru turun dari ranjang untuk mengambil air minum di atas nakas untuk Siwan.


Siwan dengan keadaan lemas hanya bisa tersenyum dan menerima perlakuan Hanna yang sudah seperti seorang perawat, dengan pasrah.


Setelah Siwan minum air putih lewat sedotan, ia memberi isyarat pada Hanna, ia menujuk pada tiang infusan yang menggantung yang kini tinggal sedikit lagi.


" Owh... oke, tunggu sebentar ya !!" ucap Hanna, lalu pergi keluar menuju kamar Austin.


Hanna menggedor kamar Austin berkali - kali, baru lah Austin membukanya.


" Heh, kau rupanya, ada apa ?" tanya Austin.


" Itu, infusan nya sedikit lagi mau habis !!" ucap Hanna.


" Hoaammmh... ' Austin menguap ' oke aku kesana ". Jawab Austin lalu mengikuti Hanna dari belakang menuju kamar Siwan.


Sesampainya di dalam kamar, Austin mengecek kondisi Siwan terlebih dahulu, lalu mengganti labu infusan nya.


Dan, Austin berpesan pada Hanna untuk memastikan Siwan mau makan dan tidak boleh sembarangan makan selain yang di siapkan oleh bi Asih. Dan, setelah makan dia harus memastikan pula Siwan meminum obatnya. Karena Austin harus pergi ke rumah sakit sebentar lagi, ada jadwal operasi yang tidak bisa ia tunda.


" Kalau dia tidak menurut, jangan beri ia ciuman, oke !!" ucap Austin sambil tersenyum.


" Ish... " mata Hanna mendelik pada Austin.


Setelah Austin selesai berpidato, Siwan memberi sebuah isyarat pada Austin. Ternyata, Siwan ingin pergi ke toilet, dia tidak mau Hanna yang mengantarnya karena merasa malu.


Hanna hanya menunggu di kamar Siwan saat dia masuk ke dalam kamar mandi bersama Austin, sambil membereskan kasur dan selimutnya.


Lalu datanglah bi Asih, membawa satu nampan makanan untuk Siwan.


" Loh, cah ayu, kapan datangnya ?" tanya bi Asih.


" Kemarin malam bi, pulang kerja aku langsung kemari." Jawab Hanna.


" Begitu toh, pasti dari semalam belum makan ya, kalau gitu sarapan dulu yuk, bibi siapkan, biar bibi yang ngurus den Siwan saja !!" Seru bi Asih.


" Gak apa - apa bi, nanti saja setelah menyuapi ahjussi aku turun ke bawah ya !!" jawab Hanna.


" Yasudah, nanti tolong gantikan baju den Siwan juga ya, bajunya harus sering di ganti apalagi kalau basah karena keringat. Ambilkan saja piyama di dalam lemari dan perlengkapan nya. " Ucap bi Asih.


" Oke, siyap bi !!" jawab Hanna.


Saat Hanna sedang mengambil baju dari dalam lemari, Siwan keluar dari kamar mandi di bantu oleh Austin.


Setelah Siwan terduduk di ranjangnya, Austin pun keluar karena harus siap - siap pergi bekerja.


" Ahjussi, kau mau ganti baju dulu, atau makan dulu ?" tanya Hanna.


" Emh... ganti dulu saja ya. " Jawab Siwan dengan nada rendah karena sangat lemas.


Hanna pun membantunya menggantikan baju tanpa rasa canggung, apalagi saat ia menggantikan celana yang di pakai oleh Siwan, malah Siwan sendiri yang merasakan kecanggungan itu.


Setelah selesai mengganti baju, Hanna pun mulai menyuapi Siwan dengan penuh kesabaran.


Tanpa ada percakapan apapun di antara mereka, namun, suasana romantis tercipta hanya lewat tatapan dan sentuhan lembut yang di lakukan oleh Hanna sesekali. Ia bahkan sempat memijat - mijat badan dan kaki Siwan saat itu.


Lalu, saat Hanna hendak menyuapi Siwan dengan satu sendok bubur terakhirnya, tiba - tiba, ada seseorang yang masuk ke dalam kamar Siwan.


Seorang wanita paruh baya, memakai sebuah pants denim dengan atasan sebuah tunik menenteng sebuah tas berwarna merah maroon berukuran kecil, berjalan mendekat pada Siwan dan Hanna.


" Ibu !!" ucap Siwan menatap wanita itu.


" Ibu !!" ucap Hanna sambil menatap Siwan yang masih terpaku menatap wanita itu. Lalu Hanna berbalik menatap wanita itu kembali yang kini sudah berada di sampingnya yang sedang duduk di kursi.