
Setelah mendengar pertanyaan dari Hanna, selama beberapa detik Siwan terdiam menatapnya. Lalu, dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
Lalu, Siwan mulai menceritakan tentang masa kelamnya dulu, semua terjadi saat dia masih menginjak bangku sekolah, tepatnya awal kelas satu sma, karena dia merasa cemburu dan kurang perhatian dari keluarganya terutama ayahnya yang saat itu sudah memiliki keluarga baru dan lebih fokus pada mereka, Siwan pun terjebak pergaulan yang salah, dia salah memilih lingkungan pertemanan kala itu.
Selain mabuk dan merokok, dia mencoba - coba sesuatu yang di tawarkan oleh temannya saat itu, awalnya mereka bilang itu hanya sebagai obat antidepresan, namun semuanya tidak sesuai dosis dan resep dokter, lalu karena Siwan merasa menyukai efek dari obat tersebut, dia mulai ketergantungan, beberapa dari temannya pun sama.
Setelah itu, dia pun mulai mencoba - coba lagi dengan jenis lainnya, seperti sab* - sab* dan ganj*. Itu pun awalnya karena temannya yang menawarinya, dia penasaran dan ingin mencoba seperti apa efeknya. Dan akhirnya ia ketagihan.
Pernah suatu hari saat kelas dua sma, mereka yang sedang berkumpul dan berpesta di sebuah gedung kosong yang merupakan markas baru mereka, Siwan dan teman - temannya terjaring razia polisi saat itu. Saat itu salah satu temannya sudah menjadi incaran polisi karena bertindak sebagai seorang pengedar selain pemakai barang haram tersebut.
Ayahnya yang akhirnya tahu karena di panggil oleh polisi saat itu merasa marah sekaligus sedih, dia merasa tidak becus mendidik dan menjaga anaknya.
Dengan cepat tanggap, ayahnya bekerja sama dengan ibunya yang sengaja terbang dari Bali menuju Singapura untuk menyembuhkan Siwan. Dia terpaksa harus berhenti sekolah karena ayahnya ingin agar Siwan sembuh total dari ketergantungan obat - obat terlarang.
Ibu dengan setia mendampingi Siwan bolak - balik ke rumah sakit dan panti rehabilitasi saat itu. Sedangkan ayahnya yang harus tetap mengurus pekerjaan dan keluarga lainnya di Seoul hanya bisa menjenguknya satu bulan sekali ataupun saat sedang tidak ada pekerjaan penting yang harus ia tangani.
Selama satu tahun, akhirnya dokter yang menanganinya memperbolehkan Siwan kembali beraktifitas normal kembali, hanya saja dokter menyarankan agar Siwan selalu dalam pengawasan orang tuanya.
Saat itu Siwan melanjutkan sekolahnya yang sempat terhenti di Amerika, di temani oleh beberapa saudaranya disana, kebetulan ada paman dan bibinya yang tinggal di sana. Dan, ibunya Siwan pun kembali ke Bali saat itu.
Siwan melanjutkan pendidikannya hingga menuntaskan kuliahnya di Amerika. Hanya saja sempat ada jeda cuti kuliah saat dia harus menjalankan wajib militernya di Korea.
Siwan merasa beruntung, tidak seperti temannya yang lain, ada yang harus keluar masuk penjara karena masih bergelut menjadi seorang pengedar, ada yang masih ketergantungan hingga putus sekolah dan menyengsarakan orangtua mereka, ada yang menjadi seorang kriminal, bahkan ada yang sampai meninggal karena over dosis.
Siwan tidak ingin mengulangi masa kelamnya itu, makanya ia memutuskan untuk tidak merasa tertarik lagi pada hal semacam itu. Karena saat itu dia pun sudah mulai menemukan hobi barunya.
Begitulah Siwan menceritakan masa kelam hidupnya yang bertarung dengan obat - obatan terlarang itu pada Hanna.
" Begitulah, masa laluku, pasti membuatmu terkejut ?" tanya Siwan mengakhiri cerita masa lalunya.
" Jujur, aku tidak menyangka, tapi, kalau itu hanya sekadar masa lalu mu, tidak merubah apapun, bagiku, masa lalu hanyalah cerita, yang paling penting adalah masa kini yang sedang kita jalani saat ini. Bersumpahlah padaku, kau tidak bohong kan ? maksudku, saat ini kau benar - benar tidak menggunakan apalagi mengedarkan barang tersebut kan ?" tanya Hanna ingin lebih meyakinkan dirinya bahwa Siwan berkata jujur dan apa adanya.
" Aku berani bersumpah, aku tidak pernah dan tidak mau menyentuh barang tersebut lagi, aku merasa sangat di rugikan olehnya, waktu ku terbuang sia - sia, kau pikir menjalani hidup di bawah tekanan dan pengawasan dokter serta rasa sakit yang di timbulkan karena efek berhenti dari obat itu hanya biasa saja ? tidak, aku berani bersumpah aku tidak ingin kembali menjalaninya lagi." Ucap Siwan meyakinkan kekasihnya itu.
" Oke, aku percaya, dan akan selalu percaya untuk hal ini padamu." Jawab Hanna sambil memeluk Siwan.
" Jadi, bagaimana ? apa kau mau pindah sekarang ? aku tidak tenang meninggalkan mu terus tinggal disini, setidaknya sampai aku memastikan bahwa disini benar - benar aman kembali. " Ucap Siwan.
Dan, akhirnya Hanna menyetujui permintaan Siwan untuk pindah dari gedung kostan tersebut. Siwan langsung menelpon Aji dan memintanya bersiap - siap untuk melakukan pindahan ke tempat baru Hanna selanjutnya.
Karena saat itu waktu sudah mulai sore hari, Hanna memutuskan untuk sekadar membawa baju - baju dan barang penting miliknya saja. Selebihnya, Siwan mempercayakan semua tugas pengangkutan barang pada Aji dan beberapa pegawainya.
Untuk sementara, Siwan mengajak Hanna untuk tinggal di rumahnya saja, karena dia tahu Hanna pasti lelah setelah melakukan perjalanan dari Bandung ke Bali, lalu saat tiba di kostan langsung mengepak baju dan barang lainnya. Dan Hanna pun yang tadinya enggan, kini nampak menyetujui saran Siwan untuk ikut bersamanya ke rumah Siwan. Karena di rumahnya ada bi Asih, Hanna jadi tidak terlalu cemas. Dia percaya bi Asih tidak akan mungkin membiarkan Siwan berbuat hal yang macam - macam pada Hanna. Bi Asih sudah seperti ibu angkat bagi Siwan, bahkan bagi Aji maupun Austin.
Lalu, saat Hanna dan Siwan berada di parkiran mobil sedang mengepak beberapa tas berisi baju dan barang lainnya di bagasi, terdengar suara klakson dan sebuah mesin motor matic berhenti tepat di samping mobil Siwan.
Hanna saat itu meminta izin pada Siwan untuk menemui dan berbicara pada Rayhan sebentar sebelum dia berangkat menuju rumah Siwan.
" A Rey, gimana kabarnya sehat ?" sapa Hanna sambil memeluk Rayhan tanpa rasa canggung sama sekali padahal Siwan ada di belakangnya sedang menatap ke arah mereka, dengan tatapan tajam.
" Alhamdulillah sehat, gimana kabar keluargamu di Bandung ?" tanya Rayhan.
" Alhamdulillah sehat semua A." Ucap Hanna lalu melepaskan pelukannya.
" Ini, kunci motornya, aku balikin ya." Ucap Rayhan menyerahkan kunci motor milik Hanna yang selama dia pergi ke Bandung, motornya ia titipkan pada Rayhan supaya merasa lebih tenang, dan dia pikir lebih membantu Rayhan untuk mempersingkat waktu saat dia pulang dan pergi bekerja.
" Emh.. a Rey, boleh titip dulu lagi gak ? jadi gini..... " Hanna mulai menceritakan soal niatnya untuk pindah kostan karena ada satu hal yang belum bisa ia ceritakan. Dan dia berjanji setelah selesai pindahan dia akan mengambil motornya lalu menceritakan semuanya pada Rayhan.
Awalnya Rayhan nampak sedikit heran dan bertanya - tanya, raut mukanya mengisyaratkan bahwa dia nampak kurang setuju Hanna harus pindah dan menjauh darinya, namun karena Hanna bilang ada hal yang mendesak, Rayhan mencoba untuk tetap tenang dan akan sabar menunggu penjelasan lebih rinci dari Hanna nanti.
" Oke, kalau sudah selesai, kabari ya nanti aku aja yang kesana sambil nganterin motornya." Ucap Rayhan.
" Beneran a Rey, maaf ya, aku ngerepotin kamu terus." Ucap Hanna.
" Gak apa - apa Han, cuma inget ya, anggap saja aku sebagai saudara kamu, jadi kalau ada apa - apa, langsung ngomong sama aku ya, aku cuma khawatir soalnya nanti kamu jadi jauh sama aku. " Ucap Rayhan.
" Oke siap !! makasih ya a Rey, aku pasti bakal cerita semuanya nanti." Jawab Hanna.
Setelah sedikit mendengar penjelasan Hanna, Rayhan pun pergi menuju gedung kostnya dengan membawa motor Hanna kembali. Lalu Siwan dan Hanna melanjutkan perjalanan menuju rumah Siwan.
Sesampainya di pintu gerbang, sudah ada yang menyambut mereka di depan disana.
" Wah, Luca selalu menyambut mu pulang sepertinya." Ucap Hanna melihat Luca yang menanti Siwan keluar dari mobilnya.
" Dia selalu merindukan ku setiap saat. " Jawab Siwan sambil tersenyum.
Saat keluar dari mobil, Luca langsung beraksi meminta Siwan memeluknya. Dan mereka pun langsung bercengkerama. Hanna hanya bisa berdiri di sampingnya melihat kemesraan mereka sambil tersenyum.
" Kau mau menyentuhnya ? dia tidak akan menggigitmu !!" seru Siwan.
" Emh... apa dia sedang dalam keadaan kering ? Aku tidak bisa menyentuh seekor anjing dalam keadaan tanganku basah ataupun tubuhnya basah." Ucap Hanna, karena bagi seorang muslim tidak di perbolehkan menyentuh anjing dalam keadaan basah, baik anjingnya ataupun tangan orang itu. Kalau sedang dalam keadaan kering, maka di perbolehkan, hanya saja tidak boleh menyentuh bagian mulutnya, air liurnya merupakan sebuah najis bagi umat muslim.
" Kalau begitu, sebaiknya tidak usah, aku takut Luca akan menjilati tanganmu." Ucap Siwan.
" Maafkan aku ya, Luca boy !!" Hanna hanya bisa saling bertatapan bersama Luca, dia lalu mengedipkan sebelah matanya pada Luca, dan terdengar suara Luca menggonggong pada Hanna membuat Hanna terkejut dan langsung bersembunyi di balik badan Siwan. Siwan hanya menertawakan kelakuan kekasihnya itu. Karena memang sebetulnya Hanna takut terhadap hewan yang satu ini.
Setelah menyapa Luca, Hanna mengeluarkan beberapa potong baju dan perlengkapan make up dan skincarenya dari dalam bagasi. Karena dia hanya akan bermalam satu malam saja di rumah Siwan. Esoknya dia akan pulang menuju tempat kostnya yang baru, jadi tidak semua barang di bagasi ia keluarkan.