
Sesampainya di villa, mereka bertiga pergi ke kamar masing - masing untuk mandi membersihkan diri. Dan selesai mandi, mereka berkumpul di ruang tengah sambil menunggu pesanan makan malam mereka tiba.
Aji tengah menonton tv, sedangkan Siwan dan Hanna duduk berdampingan. Hanna bersandar pada bahu Siwan.
" Ahjussi... " Hanna mulai mengeluarkan suaranya.
" Hemh.. kau kenapa ?" tanya Siwan seakan bisa menangkap kebimbangan yang terjadi pada kekasihnya itu.
" Aku masih tidak menyangka Pat akan berbuat seperti tadi." Ucap Hanna.
" Sudahlah, mungkin, ada alasannya sampai dia berbuat nekad seperti itu." Jawab Siwan.
" Apa sebelumya dia pernah melakukan hal gila seperti tadi saat putus dengan Austin ?" tanya Hanna.
" Setahuku, tidak pernah, dia seorang yang periang, ramah dan lembut, bahkan saat dia putus dengan Austin pun dia paling hanya menyendiri dan mabuk - mabukan di kamarnya. " Jawab Siwan.
" Kau tahu darimana ?" tanya Hanna.
" Tentu saja dari Os, dia selalu cerita padaku tentang hubungannya bersama Pat saat dia mabuk." Ucap Siwan.
" Ah... apa jangan - jangan tadi Pat sedang dalam keadaan mabuk ?" tanya Hanna.
" Tidak, dia sedang tidak mabuk, Aji sudah memastikannya bersama polisi tadi di kantor. " Ucap Siwan.
Saat pesanan makanan mereka tiba, lalu mereka melanjutkan berbincang - bincang sambil makan.
" Ahjussi, bagaimana dengan Pat, apa dia akan lama mendekam di penjara ?" tanya Hanna.
" Tidak, kau tidak usah khawatir, Aji sudah mengurus semuanya, setidaknya untuk saat ini, kita biarkan dia menyesali perbuatannya tadi siang. Dan lagi, untuk mencegah sesuatu yang tidak di inginkan kembali di acara pernikahan besok, kita biarkan dia menginap dahulu untuk beberapa malam. " Ucap Siwan.
" Aku benar - benar dilema, mereka berdua temanku. " Ucap Hanna.
" Sudahlah, kau makan saja, jangan sampai kau nanti tidur dengan perut kosong. " Ucap Siwan.
Setelah selesai makan Hanna bergegas menggosok giginya dan membersihkan wajahnya, setelah itu seperti biasa memakai skincare rutin sebelum tidur. Dan, dia naik ke atas ranjang bermaksud untuk tidur lebih awal. Namun, setelah beberapa menit berlalu, dia masih nampak belum bisa memasuki alam mimpinya. Dia berguling - guling di atas kasur dengan mata terpejam. Namun, akhirnya dia menyerah. Dia membuka matanya dan terduduk di atas kasurnya. Setelah itu ia keluar dari kamarnya.
Saat membuka pintu, dia mendengar suara tv masih menyala, dia pikir mungkin Aji masih menonton tv. Tapi, nyatanya, tv lah yang menonton Aji tertidur pulas di atas sofa. Hanna berniat mematikan tv nya, namun tiba - tiba, dari belakang Siwan berhasil mengejutkannya. Dia menahan tangan Hanna yang sudah memakai remote supaya tidak jadi mematikan tvnya.
Setelah itu, Siwan mengajak Hanna ke sebuah ruangan di belakang villa, dekat dengan kolam renang, hanya di batasi oleh dinding kaca. Mereka duduk berdua di sofa sambil memandangi gelapnya malam lewat dinding kaca tersebut yang tirainya kini telah terbuka.
" Saat Aji sedang banyak pikiran di kepalanya, dia akan tidur di depan tv, dia memanipulasi otaknya supaya yang terngiang - ngiang di telinganya hanyalah suara berisik dari tv. " Ucap Siwan.
" Separah itu kah dia ?" tanya Hanna.
" Dia bahkan pernah di ajak berkonsultasi dengan psikiater di bawa oleh Austin, namun, dia menemukan solusinya sendiri. Sebelumnya, dia seseorang dengan gejala insomnia yang parah."
" Apa dia sama sepertiku, yang tidak bisa tidur karena memikirkan kejadian siang tadi ?"
" Kau tidak bisa tidur ?" tanya Siwan mengelus pipi kekasihnya.
Hanna menganggukkan kepalanya. " Aku sudah mencobanya, tapi aku tidak bisa." Jawab Hanna, lalu bersandar di bahu Siwan.
" Tidurlah di pangkuanku, kemarilah, aku akan mensugesti mu." Ucap Siwan.
" Memangnya kau bisa ? kau seorang master sugesti ? Hihihi.. " Hanna sedikit tertawa meledek kekasihnya, namun, lalu ia berbaring di atas sofa dan menaruh kepalanya di pangkuan Siwan sebagai bantalan kepalanya.
Setelah itu, Siwan mengelus - elus kepala dan rambutnya dengan jari jemarinya. Dan terlihat Hanna begitu nyaman dengan setiap sentuhan yang Siwan berikan. Dia menatap wajah Siwan yang terlihat lebih manis dari bawah.
" Ahjussi, bagaimana bisa, di umurmu saat ini, kau bisa terlihat masih muda, apa kau sering melakukan treatmen wajah tanpa sepengetahuanku ?" tanya Hanna mengusap wajah Siwan.
" Apa kau menggoda ku ? atau meledekku ?" tanya Siwan.
Siwan tertawa gemas melihat kekasihnya cemberut. " Aku, punya rahasianya.. " Ucap Siwan membuat Hanna penasaran.
" Apa itu ?" tanya Hanna.
" Rahasianya adalah... Siwan membuat love line dengan jarinya ala orang Korea. ' Cinta, karena cinta membuat seseorang terlihat bahagia dan awet muda. " Ucap Siwan menggombal.
" Hahaha... aku terpukau dengan jawabanmu."
Siwan mencium kedua tangan kekasihnya. " Terima kasih, kau datang di kehidupanku, memberiku kebahagiaan. " Ucap Siwan.
Hanna yang nampak malu - malu lalu mengubah posisi tidurnya menjadi menyamping dan memeluk Siwan seakan menyembunyikan wajahnya di dalam perut Siwan.
" Kau bilang bisa membuatku tertidur, tapi kau malah membuatku semakin sulit menutup mata. " Ucap Hanna.
" Hihi.. baiklah, aku tidak akan banyak bicara lagi. Kau tutup matamu." Ucap Siwan lalu kembali mengusap - usap kepala Hanna.
Kali ini usahanya berhasil, akhirnya tidak lama kemudian kekasihnya itu sudah tertidur pulas. Untuk beberapa menit dia bertahan, dia terus menatap wajah imut kekasihnya itu saat tertidur, dia nampak tersenyum, namun tidak lama kemudian ekspresi wajahnya berubah seperti menahan kesedihan.
Tidak lama kemudian dia menggendong kekasihnya itu, membawa Hanna ke dalam kamarnya. Dia menidurkannya di atas ranjang lalu menyelimuti nya. Sebelum pergi ke luar, dia sempat mencium keningnya dan mengelus pipinya. Setelah itu, Siwan masuk ke dalam kamarnya untuk melihat Aji di ruang tv. Dia menyelimuti nya dan menurunkan sedikit volume tvnya.
Dia terlihat seperti sedang berpikir, lalu pergi ke dalam kamarnya meninggalkan Aji. Siwan mencoba untuk tertidur, namun, dia kembali memeriksa hp nya, dia terlihat seperti mendengarkan sebuah rekaman di galeri hpnya. Setelah itu, dia baru tertidur pulas di atas ranjangnya.
Keesokan harinya, sekitar pukul 06.30 wib, Hanna dan Siwan terbangun dari tidurnya dan hampir bersamaan membuka pintu kamarnya karena mendengar suara ketukan di pintu kamarnya.
Ternyata, dari luar, Aji mengetuk pintu kamar keduanya secara bergantian. Dia terlihat sangat panik.
Saat Hanna dan Siwan membuka pintu, Aji berkata " Austin, dia menghilang. " Aji terlihat panik.
" Apa ?" Ucap Hanna dan Siwan bersamaan.
" Dari semalam, keluarganya berpikir dia tidur disini lagi." Ucap Aji.
" Kau sudah mencarinya dimana saja ? mungkin dia mabuk dan terkapar dimana saja." Ucap Siwan.
" Di seluruh villa ini, aku tidak menemukan nya, di sebelah pun tidak ada." Ucap Aji.
" Baiklah, sebentar, aku ke kamar mandi dulu, kau sudah menghubungi pak Roy ?" tanya Siwan.
" Dia sedang di perjalanan kemari." Jawab Aji.
Siwan langsung masuk ke kamar mandi untuk mencuci mukanya lalu mengganti bajunya. Hanna yang sudah menunggu di dalam kamarnya terlihat diam saja karena tidak tahu harus berkata apa.
" Chagiya, sebaiknya kau menungguku di villa sebelah bersama keluarga Austin, aku khawatir meninggalkan mu sendirian disini." Ucap Siwan pada Hanna.
" Baiklah, aku ganti baju dulu sebentar." Ucap Hanna.
Hanna pun langsung masuk ke dalam kamarnya, mencuci muka dan mengganti bajunya secepat kilat. Tidak lupa dia mengambil dompet dan hpnya, lalu keluar dari kamarnya. Siwan sudah menunggunya di ruang tengah bersama Aji.
" Ayo, kuantarkan dulu kau ke sebelah." Ucap Siwan.
Hanna menganggukkan kepalanya dan mengikuti Siwan berjalan keluar menuju villa sebelah.
Setelah mengantarkan Hanna, Siwan pergi kembali menghampiri Aji dan, mereka pergi dengan menaiki mobil yang sudah datang menjemput mereka.
Hanna masuk ke dalam villa, dia melihat seluruh keluarga terlihat cemas, mereka sedang menanti kedatangan Austin. Hanna menghampiri ibunya Austin, dan terduduk di sampingnya, merangkulnya dan mencoba menenangkannya.
Bagaimana mereka tidak panik, saat anak dan saudara mereka akan menikah, tiba - tiba calon pengantin nya menghilang tanpa kabar. Apa yang harus mereka perbuat kalau sampai Austin melarikan diri, atau terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.