My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
S2 Kiss From A Rose



Minggu pagi di kota lainnya...


Selesai sholat subuh, Hanna baru teringat bahwa semalam ia tidak mengisi energi hp kentangnya. Hp yang adiknya selalu bilang jadul karena sudah lemot, kapasitas ram dan memorynya sudah penuh.


Meskipun Hanna sudah mampu membeli hp keluaran terbaru, namun ia tidak melakukannya. Hp kentangnya itu merupakan kenangannya bersama orang terkasih. Ia masih menyimpan foto - foto bersama mereka di dalamnya. Meskipun ia selalu mengcopy dan memindahkannya ke dalam hardisk miliknya, namun ia tidak pernah menghapus sama sekali foto serta video yang ada di dalam hpnya itu.


Selama hpnya masih bisa berfungsi dengan baik, ia sudah berjanji tidak akan menggantinya, ia hanya sudah mengganti baterainya dengan yang baru dan menambah kapasitas memorynya.


Hanna yang masih menggunakan mukena sedang duduk di atas kasur yang tanpa menggunakan ranjang atau risbang, karena takut Hwan yang sudah mulai aktif itu terjatuh ke bawah tanpa sepengetahuannya, maka ia memutuskan untuk tidak menggunakannya.


"Nomor siapa ini ? kok aneh, apa mungkin nomor dari luar negeri ?"


Hanna melihat di layar hpnya tertera log panggilan masuk dari nomor aneh, tadi malam.


Lalu, iseng - iseng ia mencoba menelpon balik nomor tersebut.


Tapi sayangnya, nomor tersebut tidak ada dalam jangkauan.


"Ah, ngapain sih, paling juga nomor orang iseng, yang mau tipu - tipu sama hipnotis lewat telepon, bahaya ini, hih... " Hanna bergidik ngeri.


Setelah membuka mukenanya, ia kembali berbaring di atas kasurnya dan memeluk serta mencium Hwan. Bau tubuh sang anak menjadi obat penenang baginya. Sebau apapun tubuh anaknya, Hanna selalu menghirup serta menyesapnya sangat dalam berulang kali.


"Your smells like a drug, darling, iam addicted ! hihihi " Ia sangat senang mengganggu bayinya yang masih tertidur di pagi hari.


Kadang, ia selalu pergi bekerja di saat anaknya masih tertidur pulas, makanya ia selalu melakukan aktifitas atau ritual wajib setiap harinya sebelum pergi bekerja, yaitu mengendus dan menciumi Hwan yang sangat wangi melebihi parfum - parfum terbaik di dunia, tidak ada yang bisa menukarnya dengan berbagai jenis wewangian apapun. Kebahagiaan seorang ibu tidaklah mahal, dengan hanya melakukan hal semacam itu pada bayinya, sudah menjadi kesenangan tersendiri yang tidak mampu di ungkapkan oleh kata - kata.


Setelah asik mengganggu Hwan yang nampaknya tidak terusik sama sekali, Hanna menjadi bete, karena anaknya itu tidak menghiraukannya.


"Ya ampun, kebluk amat sih Hwan, susah banget tiap di bangunin kalo udah nempel di bantal ! Hadeuh... macem siapa ni anak kelakuannya."


Hanna pun mulai merogoh kembali hpnya dan memasangkan headset ke telinganya.


Ia mencari salah satu saluran gelombang pada radio di aplikasi hpnya.


Dan, seketika ia menjadi mematung, ketika mendengar sebuah lagu yang menghiasi indera pendengarannya, moment dan kenangan yang hampir terlupakan itu, kembali terngiang - ngiang di dalam ingatannya.


Sebuah lagu berjudul Kiss From A Rose by SEAL, menjadi back song untuknya saat mengingat kembali sosok yang sangat ia rindukan.


FLASHBACK ON


Beberapa tahun yang lalu, di rumah kenangannya di Bali, Siwan dan Hanna sedang duduk berdua di sofa pada malam hari. Saat itu, di luar hujan mengguyur kawasan Bali dan sekitarnya. Saat itu, pertengahan bulan desember, musim penghujan, dan mungkin kalau di luar negeri merupakan musim salju.


"Ahjussi, kau belum mengantuk ?"


Hanna yang sedang duduk berdampingan dengan Siwan di sofa, saling merangkul dan memeluk tubuh masing - masing, di balut oleh sebuah selimut di tubuh mereka, karena udara cukup dingin saat itu.


"Belum, kenapa, kau mengantuk ?" tanya Siwan.


"Heemh... ! " Hanna menganggukkan kepalanya.


"Yasudah, kau tidur saja, nanti aku pindahkan kau ke kamar, setelah itu baru aku pulang " ucap Siwan, lalu mengecup kening kekasihnya itu.


"Aku ingin mendengar suara emasmu, nyanyikan lagu untuk meninabobokan ku, ya !" sahut Hanna, mendongak ke atas untuk melihat wajah kekasihnya itu.


"Aku tidak bisa bernyanyi !" Siwan menautkan kedua alisnya.


"Bohong !"


Siwan tertawa melihat wajah kekasihnya yang menjadi cemberut dan menatapnya tajam.


"Kau mau lagu apa ?" tanya Siwan.


"Apa saja, terserah kau, ahjussi !"


"Baiklah, kemarilah... !" Siwan menarik kembali tubuh Hanna, dan mulai bernyanyi.


"Nina... bobo... ooh nina bobo..."


"Iih... masa lagu nina bobo sih, aku kan bukan bayi !" Hanna malah terlihat kesal.


"Hahahaha, kau kan ingin kunyanyikan lagu nina bobo !"


"Ish... !" Hanna meninju dada Siwan sambil cemberut.


"Iya, oke, baiklah, sini, kemarilah, tidur di pangkuanku, aku akan mulai meninabobokan dirimu !"


Hanna pun kembali bergeser dan mendekat pada Siwan, ia mengatur posisi senyaman mungkin, sambil memeluk tubuh kekar pria di sampingnya, ia mulai memejamkan matanya.


There used to be a graying tower alone on the sea


You became the light on the dark side of me


Love remained a drug that's the high and not the pill


But did you know that when it snows


My eyes become large and the light that you shine can be seen?


Baby, I compare you to a kiss from a rose on the gray


Uuh, the more I get of you, the stranger it feels, yeah


And now that your rose is in bloom


A light hits the gloom on the gray


There is so much a man can tell you, so much he can say


You remain my power, my pleasure, my pain, baby


To me you're like a growing addiction that I can't deny


Won't you tell me, is that healthy, baby


But did you know that when it snows


My eyes become large and the light that you shine can be seen


SEAL - KISS FROM A ROSE


Suara bariton Siwan terdengar sangat cocok meski menyanyikan lagu romantis seperti itu.


Entah sejak kapan Hanna pun terlelap di pelukannya.


Siwan mengecup kening kekasihnya itu, lalu membawanya ke dalam kamar, membaringkannya di atas kasur, menyelimutinya kemudian ia kembali mencium kekasihnya itu, mulai dari kening, kedua matanya, hidungnya, kedua pipinya, lalu bibirnya. Setelah itu, ia beranjak dari ranjang, kemudian pergi, meninggalkan Hanna yang sudah memasuki alam mimpinya.


Siwan melangkah keluar dari pintu rumah kenangan itu. Ia berdiri sesaat di depan pintu menikmati suasana dan dinginnya malam di bawah guyuran air hujan. Ia mengeluarkan kunci mobilnya, menekan tombol pengamannya, lalu berjalan masuk ke dalam mobil dengan terburu - buru.


Dan dalam hitungan menit, mobilnya sudah menjauh dari halaman rumah kenangan itu, memecah jalanan di malam hari yang gelap dan berisik oleh air hujan yang turun.


FLASHBACK OFF


Tanpa terasa, air mata menetes keluar.


Sebuah lagu yang di putar di salah satu stasiun radio Bandung itu telah usai, namun, Hanna masih belum juga menyudahi lamunannya.


"Ahjussi...!" Hanna mulai menyentuh dadanya, merasakan sakit yang dulu pernah ia rasa kini kembali menerpanya.


Ia menangis, meskipun tanpa suara, namun raut wajahnya terlihat begitu sendu dan pilu.


Ia mencabut kabel headset yang menempel di telinganya, mematikan hpnya, kemudian menangis di bawah tumpukan bantal dan selimut di tubuhnya. Entah berapa lama, sampai akhirnya ia tertidur kembali karena merasa kelelahan.


Tok... tok... tok...


"Teh, bangun.... "


Terdengar suara ketukan di luar pintu kamarnya.


Hanna pun terperanjat dan membuka matanya.


Bantal yang menumpuk di kepalanya kini sudah berserakan di lantai.


Dan, pemandangan indah yang ia lihat untuk pertama kalinya saat ia membuka mata adalah senyum manis dari buah hatinya, Hwan.


"Teh, udah siang kali, si Hwan udah bangun belum ?"


Teriak bu Hani dari luar.


"Iya bu, iya ini udah bangun... !" teriak Hanna pula.


Lalu ia pun mencium anaknya dan mengajaknya berkomunikasi seperti biasanya.


"Pasti udah bangun dari tadi ya, kenapa gak bangunin bubu, hihi... anak sholeh, pinter, sini yuk mimi dulu... !"


Hanna menggendong Hwan, lalu membawanya keluar dari kamar. Ia duduk di kursi ruang tamu setelah sebelumnya membawa segelas teh manis hangat dari ruang makan.


Dan Hanna pun mulai mengASIhi Hwan.


"Ibu udah bikin mpasi buat makan Hwan tuh, tumben kamar di kunci, jadi ibu gak bisa bawa Hwan keluar, padahal tadi ibu dengar dia udah bangun lagi berisik ngajak ngobrol kamu kayaknya !"


"Iya bu, tadi lupa, abis wudhu aku gak nyadar ngunci lagi pintu !" jawab Hanna.


"Udah siang, si Hwan biasanya udah mandi, udah berjemur, terus udah kenyang makan pagi, ada emaknya di rumah malah ikut males - malesan di kamar sama emaknya," omel bu Hani kembali.


"Iya bu, aku rada gk enak badan, jadi tadi abis sholat tdur lagi "


Tiba - tiba, dari luar terdengar suara ketukan di pintu depan.


"Assalamualaikum... !"


Suara milik seseorang yang mereka sangat kenali menggema di balik pintu rumah.


"Waalaikum salam... !" Bu Hani beranjak untuj membuka pintu rumahnya.


Dan, ternyata memang benar, dia adalah...


"Eh... nak Reza, masuk yuk !" ajak Bu Hani.


Rayhan pun masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi di samping Hanna.


"Hai, ponakan om, udah mandi belum ?" tanya Rayhan, menggoda Hwan.


Hwan yang sedang menyusu pada put*ng ibunya pun mendadak sumringah melihat wajah Rayhan yang menyapanya.


"Baru pada bangun mereka, boro - boro mandi, makan juga belum !" ucap bu Hani.


Hanna hanya memgerlingkan kedua bola matanya.


"Hihi... " Rayhan tertawa sesaat.


"Oh iya bu, ini ada oleh - oleh sedikit dari Yogya, semalam aku baru nyampe rumah jam 10, dan ini buat ponakan om yang ganteng, 'Rayhan mengeluarkan sebuah baju setelan berukuran kecil bergambar Candi Borobudur, 'nih, di ake ya nanti kalo udah di cuci, muat kok kayaknya, "


"Loh, kapan perginya Rey ?" tanya Hanna.


"Jumat siang, selepas sholat jumat aku pergi bareng temen masa kuliah dulu, niatnya mau takziah ke rumah salah satu temen kuliah, dia meninggal hari jum'at paginya," jawab Rayhan.


"Innalillahi wa innailaihi rojiun " sahut Hanna dan bu Hani.


"Pantesan nak Rey kemarin gak kesini, kirain ibu lagi sakit atau ada apa gitu... "


"Ck... " Hanna menatap ibunya seakan ingin mengomentari perkataannya barusan.


"Iya bu, mendadak banget perginya," Rayhan tersenyum menatap bu Hani, lalu beralih menayap Hanna.


Ketika Hwan sudah mulai melepaskan mulutnya dari put*ng ibunya, Hwan pun di gendong oleh Rayhan.


"Titip dulu ya bentar, aku mau siapin air buat mandiin Hwan," Hanna pun beranjak pergi ke belakang, begitu pula dengan ibunya.


Di dapur, bu Hani yang sedang mengeluarkan berbagai macam oleh - oleh yang di bawa oleh Rayhan pun berbisik pada Hanna.


"Kalian marahan ya, bener ya, ampe gak tau dia pergi ke Yogya, berarti kalian gak kontekan, kan ?"


"Ih, ibu, kepo banget sih bu, udah kaya netizen akun gosip, hahaha... " goda Hanna.


"Hih... dasar... !"


Beberapa menit kemudian, setelah selesai memandikan Hwan, giliran Hanna yang membersihkan tubuhnya.


Hwan masih bermain bersama Rayhan dan Abdul, adik Hanna yang baru pulang dari olahraga pagi bersama pacarnya.


Selesai mandi, Hanna langsung bertugas menyuapi Hwan makan siang.


Di ruang tengah, sambil menyuapi Hwan, Hanna mengobrol bersama Rayhan.


"A Rey, masih marah sama Hanna ?" tanya Hanna, saking merasa penasarannya karena sudah dua hari tidak pernah di kabari oleh Rayhan.


"Marah ? siapa yang marah ?"


"Ya A Rey, ke Hanna !"


"Gara - gara apa aku marah sama kamu ?" Rayhan malah balik bertanya.


"Itu, karena, emh... yasudahlah, lupain aja !" Hanna malah salah tingkah sendirian.


Rayhan tersenyum, sebetulnya ia paham apa yang di maksud dengan ucapan Hanna, namun ia ingin sekali menjahilinya dna melihat Hanna jadi salah tingkah.


"Aku gak marah, buat apa aku marah ! aku gak akan maksa kamu Han, aku paham harus berbuat seperti apa setelah berkali - kali mendapat penolakan dari kamu, meskipun hatiku sakit, tapi aku gak bisa pergi dari kehidupan kamu secara mendadak seperti itu !"


"Aku bener - bener minta maaf a Rey... !"


"Sudahlah, meskipun kita gak bisa bersama, tapi ayo... kita besarkan Hwan bersama - sama, aku udah terlanjur sangat menyayanginya, aku gak mau kehilangan waktu berharga yang terjadi di setiap perkembangan kehidupannya,"


Seketika Hanna merasa teharu mendengar ucapan Rayhan saat itu. Matanya mulai berkaca - kaca, lalu refleks, ia menyimpan mangkuk yang berisi mpasi Hwan di meja, lalu memeluk Rayhan seeratnya.


"Makasih banyak a Rey, aku juga mau kamu bahagia, aku bakal selalu mendukungmu, dengan siapapun itu, aku bakal terus menyemangatimu selalu !"


"Kau tahu, aku bahkan tidak tahu lagi harus mencari kebahagian seperti apa, karena kebahagianku saat ini, hanyalah saat berada di dekatmu dan Hwan !" gumam Rayhan, sambil mengelus punggung Hanna.


Dari balik lemari yang menjadi penghalang antara dapur dan ruang tv, seseorang menguping pembicaraan mereka berdua.


"Lagi pula, memangnya aku ini abg, yang setelaj di tolak cintanya lalu dari teman dekat berubah menjadi musuh, enggak lah... aku ini sudah dewasa tahu... !" ucap Rayhan.


"Hihi... iya - iya, aku percaya, a Rey udah dewasa, "


Antara Hanna dan Rayhan kini sudah tidak ada lagi kejanggalan di hati masing - masing. Mereka kembali berbincang dan bersenda gurau seperti sedia kala.


Dulu, bahkan Hanna tidak pernah marah sekalipun ia menolak pernyataan perasaan terhadapnya saat mereka masih remaja, lalu, sekarang, kenapa dia harus marah saat Hanna menolak perasaannya kali ini.


Mungkin takdir ini ingin memperlihatkan betapa sakit hatinya Hanna dulu saat ia menolak perasaannya.


Sungguh, nasib seseorang tidak ada yang pernah tahu akan seperti apa jadinya.