
Pukul 13.30 wita....
Bu Shinta tiba di kediaman Siwan di antarkan oleh supirnya.
Hanna yang tertidur di sofa ruang tengah pun terbangun ketika mendengar suara mobil sampai di halaman rumah.
Namun, ia harus menelan rasa kecewa lantaran hanya bu Shinta yang pulang ke rumah, sedangkan Aji....
" Kau tidur di sofa lagi ?" tanya bu Shinta menyapa Hanna yang baru terduduk rapih di sofa.
" Hehe... iya, aku ketiduran bu, bagaimana hari ini bu, lancar ?" tanya Hanna.
Bu Shinta duduk di samping Hanna.
" Yah... begitulah, melelahkan sejujurnya, tapi, ini semua kulakukan demi menyelamatkan hak anakku, aku harus memperjuangkannya untuk calon cucuku nanti, Hanna, sebaiknya kau segera belajar mengurus bisnis milik Siwan, aku sudah tua, sudah seharusnya aku pensiun, kau harus meneruskan semuanya, sebelum anakmu besar nanti, kau yang harus menggantikan posisiku mengurus bisnis Siwan !" ucap bu Shinta.
Blaaaarrrrrrr.... bagaikan di sambar petir di siang bolong, hal yang paling tidak ingin Hanna lakukan, kini datang menjadi sebuah beban yang harus di pikulnya.
" Ba-baiklah bu, a-aku akan mempelajarinya kalau memang ibu mau begitu !" ucap Hanna, terbata - bata.
" Tapi, perlahan saja, yaa, aku tidak mau kesehatanmu terganggu gara - gara hal ini, tenang saja, aku masih bisa mengandalkan Aji kali ini, kau belajarlah darinya, dia pasti akan mengajarkanmu dengan baik !" ucap bu Shinta.
" Emh... bu, ngomong - ngomong, bli Aji kemana ?" tanya Hanna.
" Dia tidak pulang bersamaku, katanya dia mau ke Woods studio, setelah itu ia harus mencari pesananmu, katanya begitu, mungkin dia akan pulang agak sore " jawab bu Shinta.
" Owh... baiklah, aku akan menunggu !" ucap Hanna.
" Kau pesan apa memangnya ?" tanya bu Shinta.
" Aku ingin makan jagung rebus bu, aku ingin dia yang membelikannya... hehe... " jawab Hanna.
" Dasar, kau ini... yasudah, ibu istirahat dulu yaa !" bu Shinta pun beranjak, dan naik ke atas, ke lantai 2 menuju kamarnya.
Hanna kembali teringat ucapan bu Shinta beberapa menit yang lalu...
" OMG, aku harus bagaimana, sungguh, aku tidak berminat menggeluti dunia bisnis, aku harus bagaimana ini " gumam Hanna, merasa cemas memikirkan nasibnya di kemudian hari.
Dia hanyalah seorang wanita yang tidak berambisi menjadi seorang pebisnis ataupun menjadi wanita yang sukses dalam bidang apapun, Hanna hanyalah seorang wanita yang bercita - cita ingin menjadi seorang penyanyi, itu saja.
Namun, seiring dengan berjalannya waktu, kini dia ingin lebih memprioritaskan hidupnya untuk kepentingan anaknya nanti. Dia sudah memikirkan langkah apa yang akan ia ambil di kemudian hari setelah anaknya lahir nanti.
Ya, dia memang harus bekerja untuk menafkahi anaknya nanti, dia sudah mempunyai rencana tersendiri bersama keluarganya di Bandung, dan kini, semua itu mungkin harus urung apabila bu Shinta menyerahkan semua waridan Siwan pada anaknya nanti, dan Hanna yang harus mengelolanya sebelum anaknya dewasa nanti.
Dia malah merasa tidak senang, sebentar lagi akan bergelimang harta, bisnis Siwan yang sudah maju, kini akan segera di genggam olehnya, tapi Hanna tidak seperti itu, justru dia kini sedang bingung karena akan di beri beban yang baru di pundaknya.
Pukul 17.00 wita, Hanna yang sedang membaca buku di gazebo di kejutkan oleh kedatangan Aji yang datang dengan membawa beberapa jagung rebus yang masih panas berasap.
" Nih... pesananmu !" Aji menyimpan sebuah kantong kresek berwarna putih berisikan jagung rebus.
" Wah... terima kasih banyak bli, kau sengaja menunggu penjualnya menjajakan jagungnya yaa, kupikir kau akan mencari rumah penjualnya dan memborong semua dagangannya hari ini sebelum dia menjualnya sore ini !" sahut Hanna.
" Aku bukan kak Wan, aku tidak akan seperti itu !" jawab Aji.
" Hih... " Hanna mengernyitkan wajahnya.
Dalam waktu beberapa detik, Hanna sudah berhasil menguliti sebuah jagung lalu melahapnya dengan semangat.
" Aku masuk dulu ya, aku mandi dulu !" ucap Aji, lalu beranjak dari posisi duduknya dengan lemas.
Sepertinya Aji nampak kelelahan hari ini, dia bahkan tidak bersemangat saat kedua kaki jenjangnya melangkah menjauh menuju ke dalam rumah.
Malam harinya, ketika makan malam tengah berlangsung.
" Ji, aku sudah putuskan, Hanna akan mulai belajar semua bisnis yang di kelola Siwan, dia harus bisa mengurusnya, sebelum semuanya ku wariskan ke tangan anak mereka kelak, tolong kau ajari dan bimbing dia !" ucap bu Shinta.
Aji nampak terkejut, sepersekian detik kedua rentina matanya melirik pada Hanna yang duduk di sebrangnya, kemudian beralih pada bu Shinta yang duduk di sampingnya.
" Baik bu !" jawab Aji.
" Bu, bli Aji pasti banyak pekerjaan dan urusan, tidak usah memaksanya bu, aku jadi tidak enak " sahut Hanna.
" Dia sudah punya asisten yang bisa ku percaya juga, jadi... tidak masalah kan, Ji ?" bu Shinta menekan perkataan terakhirnya.
" Tentu saja bu, aku bisa melakukannya !" jawab Aji.
" Baiklah... mungkin sebaiknya Hanna tinggal disini saja, supaya kau lebih mudah mengajarinya !" ucap bi Shinta.
" Apa ?" ucap Hanna dan Aji, bersamaan.
" Kenapa ? kupikir kalian tidak akan keberatan, kan ?" bu Shinta seolah terdengar seperti sedang mengorek sesuatu di antara keduanya.
" Bu, nanti ibu bagaimana di panti, kalau aku tidak tinggal dengan ibu, siapa yang akan menemani ibu disana ?" tanya Hanna.
" Sebelum kau tinggal denganku, aku sudah terbiasa tinggal sendirian, jangan khawatirkan aku, kadang pengurus panti bergantian menemaniku disana " jawab bu Shinta.
" Ini demi kebaikanmu Han, kau bukannya merasa bosan dan minta pekerjaan padaku kan, dan ini saatnya, kau mulai belajar bisnis dari Aji, dia pasti sudah tahu seluk beluk sumber penghasilan Siwan selama ini dengan baik, aku percaya padanya, kau pun harus bisa mempelajari semua ilmunya dari Aji, belajarlah perlahan, aku tidak menuntutmu terburu - buru kok, lagipula, Aji tetap akan mendampingimu, begitukan, Ji... ?" bu Shinta menatap Aji.
" Tentu bu, aku akan melaksanakan semua tugas ini dengan baik !" jawab Aji.
" Kau dengar kan ? jadi, apalagi yang kau khawatirkan ?" tanya bu Shinta.
Hanna mencoba mencerna dan berpikir sesaat...
" Baiklah bu, terima kasih kalau memang ibu mau mencoba mempercayaiku mengemban tugas ini !" ucap Hanna, dengan terpaksa.
" Baiklah, nanti, ku suruh Lastri pindah kemari, menemani Asih mengurus semua keperluanmu dan rumah ini, besok semua barangmu akan aku kirimkan kesini, kau tunggu saja disini, aku takut kau lelah... " ucap bu Shinta.
" Iya bu... " ucap Hanna.
Antara senang dan tidak, bahagia dan juga tidak, Hanna menjadi semakin dekat dengan Aji, tapi bukan ini yang dia inginkan.
" Ah... sudahlah... !" batin Hanna.
Keesokan harinya, selesai sarapan, Hanna mengantarkan bu Shinta hingga ke halaman sebelum akhirnya melihatnya pergi untuk segera kembali ke panti dan mengurus semua barang Hanna yang akan di bawa ke kediaman Siwan dengan bi Lastri.
" Mau di mulai hari ini ?" tanya Aji.
" Huh... entahlah... " jawab Hanna, lalu kembali masuk ke dalam rumah meninggalkan Aji yang masih berdiri posisinya.
Saat Aji menyusulnya masuk ke dalam, Hanna sudah duduk di sofa, memeluk bantal kotak, menatap lurua ke depan sambil cemberut, sendirian.
" Kau kenapa ?" tanya Aji, yang kemudian duduk di sofa lainnya di samping sofa yang di duduki Hanna.
" Aku bingung bli, aku seolah mendapat sebuah beban baru di pundakku, kenapa ibu begitu mempercayaiku untuk mengambil alih semuanya nanti, padahal, aku kan... " ucapan Hanna terhenti kala ia mendapat sebuah anggilan telepon di hpnya.
Dan ternyata, itu merupakan telepon dari ibunya.
Selesai berbincang dengan ibunya di telepon, Hanna kembali mengerutkan kedua alisnya, menatap Aji yang masih setia menunggunya bercerita kembali tentang keluh kesahnya.
" Bli... apa kau percaya padaku ? apa aku mampu ? kau tahu kan, aku hanya seorang wanita yang tidak pernah berambisi dalam hal apapun, aku bahkan tidak mengerti bagaimana mengelola sebuah bisnis resort, villa, aku hanya bisa menikmati kenyamanannya saja, kuliner, yang kutahu cuma menikmati makanannya saja, bisnis tentang studio desaign ataupun cara membaca ihsg, dan bisnis ahjussi yang lainnya, aku tidak tahu bli, aku harus bagaimana ?" Hanna terlihat frustrasi.
" Aku akan mendampingimu, kau tenanglah dulu, jangan stress, aku tidak mau kesehatanmu dan bayimu terganggu gara - gara hal ini, kita bisa memulainya secara perlahan, tidak perlu terburu - buru " ucap Aji.
Selama beberapa saat, Hanna tidak mengeluarkan kembali suaranya, ia hanya terdiam dan menatap ke bawah.
Dan, beberapa menit kemudian, Hanna terkejut karena jabang bayi di perutnya menendang sangat keras, membuatnya tercengang, membuka mulutnya kemudian meringis.
" Kenapa ?" tanya Aji.
" Dia, menendangku sangat keras !" jawab Hanna.
Aji pun mengelus perut Hanna, tersenyum lalu menunduk dan berkata...
" Maaf yaa, kau marah yaa gara - gara ibumu sedang banyak pikiran, maafkan ibumu yaa... " ucap Aji, berbisik di perut Hanna.
Saat Aji selesai berbicara, bayinya seolah bereaksi kembali, bergerak dan kembali memperlihatkan eksistensinya di dalam perut ibunya.
" Bli, sepertinya dia sudah lapar lagi, aku harus segera memberinya makan !" ucap Hanna.
" Kau mau makan apa ? akan ku ambilkan di dapur !" tanya Aji.
Beberapa menit kemudian, Hanna kini sudah melahap beberapa potong buah pir dan melon, lalu melahap kue basah yang di belikan bi Asih pagi tadi.
" Bli, hari ini kau tidak ada pekerjaan ?" tanya Hanna, menatap Aji yang sibuk berselancar di hpnya.
" Aku akan ke Woods studio dan gym center nanti sore, setelah itu aku pulang untuk mengecek laporan keuangan di rumah saja, kau mau ku belikan sesuatu lagi ?" tanya Aji.
" Emh... aku, sebetulnya ingin makan kue di toko mbak Ayu, tapi nanti saja, kau pasti pulang malam, setelah itu kau masih harus bekerja mengecek laporan kan... " sahut Hanna.
" Emh... bagaimana kalau besok kita ke tokonya saja, sekalian aku harus ke resto Jepang yang ada di dekatnya, kau ikut saja, sekalian ku kenalkan pada karyawan disana " ucap Aji.
" Mulai besok ?" tanya Hanna.
" Yap... bibi sudah menyerahkan semuanya padaku, jadi tugasku harus secepatnya di laksanakan " jawab Aji.
" Baiklah, aku setuju !" sahut Hanna.
Keesokan harinya...
Selesai sarapan, Hanna langsung pergi ke kamar untuk mandi dan bersiap pergi bersama Aji ke daerah xxx dekat kostannya dulu di Denpasar, dia akan mengunjungi salah satu usaha restoran milik Siwan juga coffe shop yang ada di sampingnya.
Sesampainya di restoran Jepang tersebut, Hanna dan Aji langsung di sambut oleh beberapa karyawan dan staff di sana.
Mereka semua sengaja menyambut Hanna setelah Aji memberitahu seorang staff disana tentang kedatangannya hari ini untuk memperkenalkan Hanna.
Lalu, Hanna, di perkenalkan sebagai apa dan siapa ??
" Perkenalkan, dia adalah Hanna, istri dari mendiang kak Wan, sebelum dia dan anaknya kelak akan menjadi pewaris usaha kak Wan kedepannya, tolong hormati dia seperti kak Wan, bu Shinta sudah mempercayakan segalanya pada kak Hanna sekarang " ucap Aji.
" Tentu saja, kami akan menghormatinya dan menghargainya " ucap salah seorang staff disana.
" Mohon bantuannya !" ucap Hanna.
Lalu, masing - masing dari mereka memperkenalkan nama dan tugas masing - masing.
Selesai dengan resto Jepang, kini Hanna dan Aji beralih pada coffe shop yang ada di pinggir lokasi resto tersebut.
Masih dengan cara yang sama seperti tadi, kali ini Hanna berkenalan dengan para karyawan dan staff coffe shop yang jumlahnya lebih sedikit, hanya 5 orang saja.
Setelah urusan mereka selesai, kini Hanna dan Aji pun langsung meluncur ke toko kue milik Ayu, saudara sepupu Siwan.
Namun, kali ini nampaknya menjadi kejutan tersendiri bagi Ayu, karena Aji tidak memberitahu kedatangan mereka sebelumnya padanya.
" Hanna.... ya ampun... ini benaran kamu kan ?" Ayu tekejut, tercengang melihat kedatangan Hanna yang kini tengah berbadan dua.
" Iya mbak, ini aku, Hanna !" jawab Hanna.
" Ya ampun... sudah lama sekali, dan, ya ampun... aku masih gak percaya, kau sekarang sedang, ha-mil... ini aseli kan ? bukan prank ?" Ayu meraba - raba perut Hanna dengan lembut.
Hanna hanya tersenyum melihat tingkah Ayu yang masih tidak percaya dengan kondisi kehamilannya.
" Ish... kau pikir ini bantal !" tukas Aji.
" Mbak, kau sedang sibuk tidak ? aku ingin mengobrol denganmu !" ucap Hanna.
" Aku akan meluangkan waktu untukmu, tenang saja, kau mau kue apa, cepat pilih dulu, bebas sesukamu, kita harus banyak berbicara, kau tidak boleh kelaparan !" tegas Ayu.
" Han, aku tinggal dulu ya, nanti ku jemput lagi kemari, aku masih ada urusan !" ucap Aji.
" Oke, hati - hati ya bli... !" jawab Hanna.
" Sudah, kau pergi saja sana, aku akan menemaninya disini, huss... huss... pergi... " Ayu mengusir Aji.
" Awas ya... jangan sampai kau membuat dia stress... !" tegas Aji.
" Iya... iya... aku paham, cepat sana pergi !"
Aji pun pergi dengan tenang meninggalkan Hanna bersama Ayu.
" Hei... kalian, lanjutkan pekerjaanku, aku akan mengobrol dengan Hanna di atas, tolong bawakan ini dan minuman untuk Hanna... !" Ayu berbicara pada salah seorang karyawatinya di toko.
" Terima kasih ya !" ucap Hanna, pada karyawati tersebut.
Kini, Hanna dan Ayu pun sudah berada di lantai 3, di ruang pribadi sekaligus rumah Ayu berada.
Awalnya mereka berbicara hal - hal ringan, tentang kabar masing - masing dan pada akhirnya, hal yang di nantikan oleh Ayu adalah...
" Hanna, bagaimana ini, tapi aku penasaran !" ucap Ayu, terlihat bimbang, antara meneruskan pertanyaan atau tidak.
" Kau pasti ingin bertanya kan, soal kehamilanku ini, siapa ayahnya dan aku menikah dengan siapa ?" tanya Hanna.
" Iya... seperti itu lah kiranya, tapi maafkan aku sebelumnya, kalau aku terlihat sangat kepo dengan kehidupan pribadimu !" ucap Ayu.
Hanna pun mulai menceritakan tentang semua kejadian yang menimpanya setelah kepergian Siwan.
Ayu mendengarkan dengan seksama dan merasa sangat prihatin dengan apa yang menimpa Hanna saat itu.
Sungguh, rasanya pasti sangat dilema, antara haru, bahagia, atau sedih, semua pasti bercampur aduk di dalam hati kecil Hanna.
Ketika mengetahui tentang kehamilannya, ia bahkan bingung harus bereaksi seperti apa.
Dia merasa senang, di tengah kesedihannya di tinggal pergi oleh Siwan, ternyata Alloh, Tuhannya mengirimkan sosok pengganti untuk mengisi kekosongan harinya, lewat rahimnya, Alloh menumbuhkan benih Siwan di dalamnya.
Namun, di sisi lain, Hanna merasa sedih dan takut, karena dia telah mengecewakan kepercayaan keluarganya, kedua orangtuanya, dia harus pulang membawa aib bagi mereka, karena hamil di luar ikatan pernikahan.
Merasa berdosa, sudah pasti, tentu saja ia sangat menyesal karena melanggar hukum agama yang ia yakini. Selain bertaubat dan memohon ampun, tapi ia harus tetap kuat dan bangkit menghadapi semua akibat dari perbuatannya.
Sungguh, kita tidak bisa merasakan seperti apa kegelisahan dan kebimbangan yang saat itu sedang Hanna alami.