
Tidak lama kemudian, waktu makan siang telah tiba. Seorang perawat mengantarkan makan siang untuk Hanna.
" Ahjussi, a Rey, kalian juga harus makan, jangan sampai telat makan. " Ucap Hanna.
" Aku, nanti saja. " Jawab Siwan.
" Kalau begitu, Han, aku pamit sekarang saja ya, masih ada penerbangan sore nanti, aku jadi pulang ke Bandung. " Ucap Rayhan.
" Oh.. jadi pergi ya, jangan lupa makan dulu, jangan sampai mag mu kambuh. " Ucap Hanna.
" Iya, nanti aku mampir dulu ke tempat makan di luar. " Jawab Rayhan.
" Salam buat keluargamu disana ya, titip salam juga buat keluargaku kalau sempat bertemu. "
" Tentu saja." Lalu Rayhan bersalaman dengan Hanna.
" Kak, aku titip temanku ya, aku percaya kau pasti akan menjaganya dengan baik. " Rayhan mengulurkan tangannya pada Siwan.
" Tentu saja, tidak usah khawatir. Semoga perjalanannya lancar dan selamat sampai tujuan. " Siwan menyambut uluran tangan dari Rayhan.
" Assalamualaikum " ucap Rayhan.
" Waalaikum salam. Dadah, hati - hati ya.. " jawab Hanna.
Setelah Rayhan keluar dari kamar inap, Siwan menatap Hanna penuh curiga.
" Apa kau menelponnya setelah kejadian tabrakan itu terjadi ?" tanya Siwan mengangkat sebelah alisnya.
" Tidak, bukan begitu ceritanya.. " Lalu Hanna menjelaskan kejadian mengapa Rayhan tiba ke rumah sakit ini lebih dulu di bandingkan kekasihnya.
" Oh.. seperti itu. "
" Ahjussi, kenapa? kau marah ya karena aku tidak segera menelponmu. " tanya Hanna.
" Aku akan lebih marah kalau kau sengaja tidak memberitahuku setelah kau sudah keluar dari rumah sakit ini. " Siwan berkata dengan tatapan kecewa.
" Maafkan aku ya, sungguh, aku mau memberitahu mu, tapi tadi aku tidak kuat menahan kantuk. "
" Yasudah, kau habiskan makannya dulu, sini, aku saja yang menyuapi. "
Siwan pun menyuapi Hanna.
Setelah selesai menyuapi kekasihnya itu, Siwan merasa Hanna terganggu dengan rambut terurainya, karena dia sedikit kepanasan setelah menghabiskan makan siangnya. Lalu Siwan membantu Hanna mengikat rambutnya, karena tangan Hanna sebelah pun terasa sakit karena ada memar. Mungkin saat tadi tertabrak dan jatuh tangannya membentur aspal dengan keras.
Saat sedang mengikat rambut kekasihnya, tiba - tiba datanglah Aji dan bi Asih masuk ke dalam. Bi Asih langsung menghampiri Hanna, lalu Aji menghampiri Siwan, sebelumnya dia meletakkan jinjingan makanan yang di bawanya di atas meja.
" Ya, ampun, cah ayu, gimana keadaannya, bagian mana yang sakitnya ? " Bi Asih menghampiri Hanna sambil mencari luka yang di alaminya.
" Aku baik - baik saja bi, hanya kaki ku saja yang lecet dan bengkak. " Jawab Hanna.
" Loh, gak bisa di bilang baik - baik saja toh cah ayu, mana orang yang nabraknya, tak pites - pites nanti, bawa motor kok gak hati - hati. " Bi Asih terlihat kesal.
" Gapapa bi, aku juga mungkin yang kurang hati - hati. " Hanna tersenyum.
" Iya bi, yang penting sudah di tangani dokter, pasti cepat sembuh." Ucap Siwan.
" Kalian juga, awas loh kalau bawa kendaraan tuh jangan kebut - kebutan di jalan, bahaya tau. " Bi Asih menatap Aji dan Siwan.
Aji dan Siwan pun hanya bisa tersenyum mendengar omelan bi Asih.
" Terus, sekarang, mana kunci rumah mu, katanya bibi di suruh ambilkan baju salin buatmu toh, cah ayu. "
" Ah, maaf merepotkan ya bi Asih. " Hanna merogoh kunci dari dalam tasnya. Dan menjelaskan barang apa saja yang harus di bawa oleh bi Asih dan dimana letaknya.
" Sekali lagi, aku minta maaf ya bi harus merepotkan bi Asih. " Ucap Hanna.
" Tidak apa - apa, bibi siap membantu kapanpun. Anggap saja bibi keluargamu, kau pasti kesulitan kan jauh dari orang tuamu. "
Seketika perkataan bi Asih membuat Hanna menjadi berkaca - kaca.
" Jangan nangis toh cah ayu, ada kami disini akan menjaga dan merawatmu. Kau tenang saja ya. " Bi Asih lalu memeluk Hanna dan menenangkannya dengan mengusap - usap punggungnya.
Siwan yang sedang duduk di belakang Hanna ikut menenangkan kekasihnya itu dengan mengusap kepalanya dengan lembut.
Aji yang berdiri di samping ranjang bukannya ikut merasa sedih tapi malah mengacungkan kedua jempol tangannya pada Siwan. Mata Siwan menatap mata Aji seakan memberi isyarat untuk segera membawa bi Asih pergi dari ruangan itu. Dan Aji pun dapat menangkap apa arti isyaratnya itu.
" Sudah bi, Ayo kita pergi sekarang, supaya Hanna bisa segera mengganti pakaiannya. " Ucap Aji.
" Baiklah, kalau begitu bibi pergi dulu ya, nanti akan kembali lagi. " Ucap bi Asih sambil menyeka air mata di pipi Hanna.
" Terimakasih ya bi. " ucap Hanna.
" Iya, nanti kalau ada yang mau di bawa lagi hubungi Aji saja ya. " Ucap bi Asih.
" Iya bi, nanti aku yang akan menelponnya. " Jawab Siwan.
Setelah bi Asih dan Aji pergi, Siwan berpindah tempat dari belakang Hanna menjadi duduk di hadapan Hanna.
" Ih... kenapa harus pake acara tanya segala. " Jawab Hanna.
" Kau pasti kangen keluargamu ya ?" Siwan menyodorkan sekotak tissue pada Hanna.
" Menangis lah sepuasmu, tidak usah menahannya. " Ucap Siwan.
" Tidak mau, aku tidak mau hidungku juga ikut terus berair selain mataku. " Lalu Hanna menyeka air matanya dan hidungnya yang nampak berair.
Siwan pun memeluknya kembali, dan mengelus - elus kepalanya dari belakang.
" Sebentar lagi, kau juga akan pulang kan ? bersabarlah, ya... " Siwan berusaha menenangkan hati Hanna.
" Ahjussi, itu apa disana, tadi yang di bawa Aji kemari ? " tanya Hanna.
" Oh.. itu, tadi aku menyuruhnya membeli makanan sebelum kemari." Jawab Siwan lalu beranjak membawa nya dan membukanya di dekat Hanna.
" Wah... sepertinya terlihat enak.." Hanna terlihat menginginkannya.
" Kau mau makan lagi ? Aku sengaja membeli dua porsi, tadinya ini untuk temanmu. Tapi karena dia sudah pulang, kau makan saja. " Siwan menyodorkan satu kotak bento untuk Hanna. Secepat kilat Hanna membukanya lalu melahapnya.
" Wah... lebih enak di bandingkan makanan dari rumah sakit ya. " Hanna berkata dengan mulut penuh makanan.
" Karena makanan disini tidak mungkin di buat penuh dengan lemak dan micin. Mereka memakai aturan standar gizi pada setiap masakannya. Walau pun terlihat mewah, tapi rasanya, ya seperti itu lah.. " Ucap Siwan.
Hanna pun tertawa mendengar ucapan Siwan.
" Emh... ahjussi, aku takut kalau harus menginap di rumah sakit sendirian. Jadi... " Hanna merasa ragu untuk melanjutkan perkataannya.
" Jadi, kau mau aku temani ?" Siwan menggoda Hanna.
" Tidak usah, aku mau minta bi Asih saja yang menemani. " Hanna cemberut.
" Hihi.. chagiya, aku akan menemanimu disini, tidak usah kau minta pun aku pasti akan lebih dulu menawarkan diri. Jadi, tidak usah cemberut seperti itu, kau jadi tambah menggemaskan. " Siwan mencubit pipi Hanna.
" Tapi, apa kau sedang tidak ada pekerjaan? kalau memang sedang sibuk, aku bisa mengerti. "
" Tidak ada, tenang saja, aku seorang pengangguran. " Siwan tersenyum dengan mulut penuh makanan.
Setelah selesai makan, Siwan bertanya tentang siapa orang yang menabrak kekasihnya itu. Lalu Hanna menjelaskannya secara rinci.
" Boleh ku lihat ktpnya ?" Pinta Siwan.
" Ini, padahal aku sudah mencoba mengembalikannya dan mempercayai nya, tapi dia tetap memberikannya sebagai jaminan. Dia bilang besok akan datang lagi kemari. "
Siwan menatap ktpnya sebentar lalu mengembalikannya pada Hanna.
" Bukannya disini ada baju khusus pasien, kenapa kau tidak mau pakai itu saja ?"
" Aku tidak mau, entahlah, aku tidak suka, bahkan aku sebenarnya tidak mau menginap di rumah sakit, apalagi sebagai pasien. Aku ingin cepat pulang. "
" Melihat kondisimu, sepertinya besok juga sudah bisa pulang. Nanti aku akan menyuruh Austin datang kemari untuk berbicara dengan temannya disini. "
" Oh... teman oppa Austin bekerja di rumah sakit ini ?"
" Ish... Tentu saja, banyak dokter dan perawat disini yang mengenalnya, dia dulu sempat bertugas disini. Dan tolong, jangan panggil dia oppa, aku tidak suka mendengar nya. " Siwan berkata dengan raut muka serius.
Tapi Hanna malah terus - terusan menggodanya, hingga membuat Siwan merasa kesal, lalu menghampiri Hanna dan mencium bibirnya agar berhenti menggodanya.
Saat mereka sedang berciuman, tiba - tiba seseorang masuk ke dalam ruangan.
" Oh.. waw.. aku.. salah kamar sepertinya. "
Hanna langsung mendorong tubuh Siwan dan berkata,
" Kak Austin, hei... apa kabar.. " Hanna tersenyum kikuk.
" Aku, sedang merasa terkejut, bola mataku sepertinya mau melompat keluar. " Austin menggoda Hanna.
" Hentikan, tidak usah menggoda terus, wajahnya sudah sangat merah. " Siwan menatap Hanna yang sedang menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
" Hahaha... tidak usah malu - malu, aku sudah biasa melihatnya. " Ucap Austin.
" Apa ? kau sudah sering melihat ahjussi berciuman dengan wanita lain ?" tanya Hanna.
Sontak pertanyaan Hanna membuat Siwan terkejut dan melotot,
" Tidak, bukan, kata siapa... " Lalu menatap Austin dengan tatapan garang.
" Ahaha.. bukan itu maksudku, aku sering melihat orang lain berciuman, jadi sudah biasa. Kau tidak usah malu padaku. Kau kan sudah dewasa. Haha.. " Austin merasa terancam oleh tatapan Siwan.
" Ah.. sudahlah, ini tidak usah di bahas lagi. " Austin menyodorkan buket bunga yang di pegangnya sedari tadi.
" Wah, ini untukku ? terimakasih kak Austin." Hanna lalu mengendus bau wangi dari bunganya, tanpa menghiraukan Siwan dan Austin yang sedang mengobrol serius berdua. Dia terus menatap buket bunga nya, dan berkali - kali mencium wangi nya.