
Malam itu, setelah mengisi acara siaran di salah satu radio di kotanya, Siwan membawanya pergi ke sebuah lokasi villa yang jaraknya tidak jauh dari lokasi penyiaran.
" Cantik... " ucap Siwan yang masih fokus dengan setirnya.
" Hah... apa ?" Hanna tidak mengerti ucapan Siwan dan melirik ke arahnya sebentar.
" Kau memotong rambutmu, sangat cantik " Siwan memuji Hanna.
" Ah... ini... " Hanna mengusap kepalanya sendiri sambil tersenyum simpul.
Sesampainya di halaman sebuah villa, Siwan turun lebih dahulu dan membukakan pintu untuk Hanna, bahkan dia membukakan seatbeltnya.
" Turunlah, ayo kita bicarakan lagi semuanya dari awal " Siwan meraih tangan Hanna.
Hanna terlihat enggan, dia mencoba menarik tangannya dari genggaman Siwan, namun Siwan tidak melepasnya begitu saja, malah semakin memperkuat lagi cengkramannya.
" Jangan pergi lagi dariku, ayo kita bicarakan dulu, aku janji, tidak akan menyentuhmu lagi " ucap Siwan.
Akhirnya Hanna pun mau turun dan masuk ke dalam bersama Siwan.
Malam itu, sekitar pukul 21.20 wita, Hanna dan Siwan duduk di sofa sebuah ruang tengah di dalam villa. Mereka duduk berdampingan namun agak menjaga jarak.
" Apa sekarang pekerjaanmu sebagai seorang penyiar radio ? atu penyanyi cafe ?" tanya Siwan.
Hanna menggelengkan kepalanya.
" Menyanyi hanya hobiku, maksudku pekerjaan sampingan !!" Hanna menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Siwan. Dia takut, namun bukan rasa takut karena ngeri sendiri Siwan akan memarahinya atau bahkan berbuat kasar, namun dia takut kembali terbawa arus kerinduan yang sedang melanda hatinya selama ini.
" Jadi benar, kemarin kau menyanyi di cafe Eriko ? sejak kapan ?" tanya Siwan kembali.
" Iya, sejak dua bulan yang lalu, setiap hari sabtu aku menyanyi di cafenya " jawab Hanna.
" Ck... si kriting berbohong padaku !!" Siwan tertawa sinis.
" Jangan salahkan koh Erik, aku yang memintanya, ini salahku !!" Hanna semakin tidak berani menatap Siwan. Dia hanya tertunduk sambil memainkan jari - jari tangannya.
" Kenapa ?" tanya Siwan.
" Ahjussi... aku harus pulang, besok pagi aku harus bekerja, pliss... " Hanna mulai menatap wajah Siwan.
" Kau harus berjanji tidak akan lari lagi dariku, aku akan mengatarmu setelahnya " jawab Siwan.
Namun, Hanna hanya terdiam dan membuang kembali tatapannya ke sembarang arah.
" Kenapa ? kau sangat ingin pergi dari sisiku ? semarah itukah dirimu padaku ?" Siwan mulai tersulut api kembali.
" Aku tidak marah padamu, aku hanya takut !" ucap Hanna.
" Takut kenapa ? apa aku selalu menyiksamu ? apa karena aku selalu mengekangmu dulu, atau karena aku sudah.... " ucapan Siwan terhenti.
" Maaf, aku benar - benar mengecewakanmu, harusnya pagi itu aku menahannya lagi, aku gagal menepati janjiku " sambung Siwan.
" Ahjussi, lupakanlah, hiduplah tanpa diriku seperti sebelumnya, lupakan saja aku !" ucap Hanna.
" Cukup... k-kau... segampang itukah kau mengucapkan kata - kata itu ? apa disini hanya aku yang merasa berdosa sedangkan kau tidak, kau pergi dan melupakan semuanya, begitukah caramu menyelesaikan masalah ?" Siwan mulai menggebu - gebu.
Hanna mulai menitikkan air mata.
" Aku takut, saat bersamamu aku selalu khilaf dan terus melakukan dosa, makanya aku pergi dan, kupikir ini cara yang paling benar, kau dan aku akan lebih mudah untuk saling melupakan, kita tidak bisa bersama lagi, semua harus kita akhiri secepatnya !" Hanna mulai dengan lantang mengeluarkan pendapatnya meskipun air mata terus mengalir seakan tidak bisa di ajak berkompromi.
" Aku tidak mau, aku tidak bisa, melepasmu begitu saja, aku tidak berniat seperti itu " Siwan tiba - tiba meraih tangan Hanna dan menariknya kedalam pelukannya.
Awalnya Hanna meronta - ronta, mencoba mendorong tubuh Siwan dan memukul dada Siwan berkali - kali, namun pada akhirnya seiring dengan melemahnya usahanya untuk lepas dari kungkungan Siwan, dia mulai luluh, Hanna pun memeluk Siwan sangat erat sambil menangis sejadinya.
Malam itu, akhirnya Hanna tertidur di pelukan Siwan di atas sofa dengan posisi masih saling berpelukan.
Pagi harinya...
Pukul 05.00 wita, seperti biasa Hanna selalu terbangun karena alarm di hpnya berbunyi. Semenjak tinggal bersama Reni, Hanna tidak pernah memasang alarm di jam bekernya karena untuk menghormati Reni. Dia pun hanya memasang alarm di hpnya dengan suara seminim mungkin yang penting mode getarnya aktif.
Pagi itu Hanna terbangun karena merasakan getaran hpnya yang berada di dalam tasnya tak berhenti, getaran hpnya itu beradu bersama beberapa uang coin yang berada di dalam tasnya sehingga menghasilkan bunyi lainnya yang cukup membuat telinga Hanna tersigap mendengarnya.
Perlahan Hanna melepaskan lengan Siwan yang melingkar di tubuhnya, lalu dia duduk di pinggiran sofa.
Hanna pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya sebentar. Lalu kembali duduk di samping Siwan yang masih tertidur begitu lelapnya.
Hanya sesaat, Hanna menatap wajahnya sudah membuatnya merasa bahagia bisa bertemu kembali dengan pria yang selalu mengisi hatinya selama ini.
Hanna kembali pulang ke kostan untuk mengganti bajunya dan pergi bekerja.
Pukul 06.15 wita...
Siwan terbangun dari tidurnya, matanya mengerjap berkali - kali, dia masih berpikir bahwa semalam mungkin dia sedang bermimpi.
Siwan terduduk di sofa dan mulai kembali tersadar bahwa semalam dia sedang tidak bermimpi.
Siwan bangkit dan mencari Hanna ke seluruh sudut ruangan villa, namun ia tak menemukannya sama sekali.
" Sial... dia pergi lagi... " Siwan berdecak kesal.
Dia menuju sofa untuk membawa mantelnya dan keluar menuju mobilnya lalu pergi dari villa itu.
Namun, baru beberapa meter keluar dari villa, Siwan mendapatkan sebuah pesan masuk di hpnya. Dia memarkirkan mobilnya sebentar di pinggir jalan untuk membaca pesan yang masuk.
Sebuah nomor baru yang tidak ada di kontak hpnya mengirimnya pesan.
081236xxxxx
Jangan mencariku, ayo kita bertemu lagi hari sabtu di Soul Cafe, aku tidak akan lari lagi.
Siwan tersenyum setelah membaca pesannya, kemudian ia kembali melajukan mobilnya, memecah jalanan di pagi hari yang masih nampak sejuk dan tidak terlalu padat merayap.
Di kediaman Siwan.
Di meja makan, Aji tengah sibuk menyantap menu sarapannya yang telah bi Asih siapkan.
Dan tidak lama kemudian Austin datang menghampirinya dengan masih memakai piyama tidurnya.
" Kak Wan belum pulang ?" tanya Oz.
" Belum, biarkan saja, mungkin sekarang mereka masih tidur bersama, bahkan mungkin sedang merajut kasih di pagi hari, hahaha... " Aji tertawa aneh, padahal tidam ada hal lucu di antara obrolan mereka.
" Lu kenapa ? apa itu ekspresi cemburu ?" tanya Oz, lalu menyendok nasi goreng ke piringnya.
" Gue jadi bisa fokus kerja, gue juga udah lama gak latihan, otot gue bisa lembek lama - lama " sahut Aji.
Saat mereka sedang bercakap - cakap, Siwan yang baru sampai di kediamannya tak mereka ketahui kehadirannya sama sekali, saking fokusnya mereka bergosip di pagi hari, dasar cowo rumpi.
" Eh kak, kau sudah pulang ternyata, kupikir pulang nanti siang, atau bahkan seharian gak bakal pulang " Oz tersenyum jahil menggoda Siwan.
Siwan yang sudah duduk di kursi depan meja makan hanya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
" Dia sudah pergi, saat aku bangun dia sudah pergi " Siwan berkata dengan lirih.
" Jadi dia kabur lagi ?" tanya Oz.
Aji menepuk jidatnya.
" Tidak, dia mengirim pesan padaku, mengajakku bertemu hari sabtu nanti di cafe Eriko " Siwan mulai menuang air putih pada gelas lalu meminumnya.
" Oh... jadi dia mengajakmu mengulang dari awal, semacam kencan di malam minggu, begitu ?" mulut Oz tidak pernah berhenti bertanya tanpa melihat situasi dan kondisi orang yang menjadi narasumbernya.
Siwan hanya mengangkat pundaknya sebelah.
" Baguslah, setidaknya dia masih memberimu kesempatan, mulai sekarang kau harus jadi pacar yang baik !" ucap Oz dengan begitu entengnya.
Siwan menatapnya dengan tajam, " jadi, apa selama ini aku bukan orang yang baik... ?"
" Ahha.. bukan begitu, maksudku begini, mungkin dia ingin gaya berpacaran ala anak muda, anak sekolah, begitu mungkin, biasanya kan mereka hanya kencan seminggu sekali, haha... begitu maksudku " kali ini Austin yang tertawa aneh.
" Ji, hubungi Eriko, jangan lepaskan dia, beraninya dia membohongiku... " ucap Siwan.
" Baik kak, nanti siang aku datangi sekalian dia ke tempatnya " jawab Aji.
" Iya, betul, dasar si kriting, berani - beraninya dia membohongi kak Wan, usut dia sampai tuntas !" Austin mengompori kedua pria di dekatnya.
Setelah selesai sarapan, Siwan masuk ke dalam kamarnya dan membuka pakaiannya. Lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan bertelanjang dada.
Siwan kembali mengingat kejadian semalam, saat ia melihat Hanna bernyanyi, suara merdunya bahkan terngiang - ngiang di telinganya.
Bayangan dirinya saat berpelukan bersama Hanna, terasa begitu hangat dan nyata. Akhirnya dia bisa melepas rasa rindunya yang selama 6 bulan ini tertahankan.