My First Kiss, Not My First Love

My First Kiss, Not My First Love
Rumah Kenangan part 1



Masih di hari sabtu di minggu kedua bulan november...


Sore hari, pukul 17.30 wita, Hanna terbangun dari tidurnya karena mendengar suara telepon berdering di meja kerja Siwan.


Perlahan Hanna membuka matanya, berkali - kali mengerjap dan menguap, menggeliatkan tubuhnya yang kini sudah terduduk di atas sofa.


Hanna tidak berani mengangkat telepon di ruang kerja Siwan, dia pun hanya melewatinya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya, sekalian mencuci mulutnya dengan mouthwash milik Siwan yang ada di kamar mandi ruang kerjanya.


Setelah itu, Hanna keluar dari ruang kerja Siwan, di lihatnya kini lantai 3 yang terlihat seperti warnet itu sudah kosong dan rapih.


" Ah... mungkin sudah pulang " ucap Hanna dengan suara pelan.


Saat turun ke lantai 2, Hanna melihat Siwan masih bergelut dengan sketsanya di meja gambar tekniknya.


Ada dua orang lainnya yang tengah sibuk dengan laptop dan berkas - berkas lainnya di sudut ruangan di sebuah meja yang cukup besar tempat Hanna mengobrol bersama Yoka tadi siang.


Siwan yang sangat serius sepertinya tidak menyadari kehadiran Hanna di belakangnya, namun dua orang yang terlihat seperti pegawainya menatap ke arah Hanna dan tersenyum, dan, ketika mereka hendak mengeluarkan kata - kata, dari kejauhan Hanna mengisyaratkan agar mereka menutup mulutnya. Hanna mengacungkan telunjuknya pada bibirnya dan mendekat ke arah mereka mengendap - endap.


Hanna duduk di salah satu kursi di hadapan mereka.


" Boleh aku duduk disini ?" bisik Hanna.


" Tentu saja, kenalkan aku Reino, dia Sita, kami pegawai mister Im " bisik pria bernama Reino.


" Aku Hanna " bisik Hanna kembali.


" Kami sudah tahu, mbak lapar ? mau ku bawakan makanan atau mau bikin kopi ?" bisik Reino.


" Tidak usah, kalian lanjutkan saja, aku tidak mau mengganggu, ayo lanjutkan jangan hiraukan aku... " bisik Hanna memberi isyarat lewat tangannya.


Mereka berdua tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya seperti yang Hanna perintahkan.


Hanna yang baru pertama kali melihat Siwan seserius ini saat sedang bekerja merasa kagum, kharisma yang terpancar dari pria berusia matang itu terlihat sungguh mempesona saat ia tengah menekuni pekerjaan di bidang yang sesuai dengan keterampilannnya.


Hanna mulai mengeluarkan hpnya dari saku celana kerjanya, dan memotret Siwan beberapa jepretan tanpa sepengetahuan si objeknya.


Kedua pegawai Siwan kembali tersenyum melihat tingkah Hanna.


Hanna yang menyadari sedang di perhatikan oleh mereka pun tersipu malu, " aku baru kali ini melihatnya serius bekerja, maklum, dia sangat misterius selama ini.. " bisik Hanna lalu tersenyum.


" Mbak, boleh kutanya sesuatu ?" bisik Sita.


Hanna menganggukkan kepalanya.


" Sudah berapa lama pacaran sama mister Im ?" tanya Sita.


" Owh... sekitar 2 tahun lebih " jawab Hanna sambil mengacungkan dua jarinya.


Mereka berdua nampak terkejut.


" Oh... jadi wanita yang membuat mister Im galau ternyata mbak Hanna " ucap Reino dengan suara pelan.


Hanna hanya tersenyum, namun ujung bibir atasnya terangkat.


" Memangnya dia kenapa ?" tanya Hanna menunjuk Siwan di belakang dengan jempolnya.


" Jadi, beberapa bulan ke belakang mister Im... bla bla bla... " ucap Reino dan bersahutan dengan Sita bergiliran menceritakan tentang Siwan beberapa bulan lalu yang di landa kegalauan.


" Ekhem.... " Siwan secara tiba - tiba sudah berada di belakang Hanna.


Reino dan Sita nampak terkejut karena tidak menyadari kehadiran Siwan di dekat mereka saking fokusnya bergosip.


" Ahjussi... hehe, sudah selesai ?" tanya Hanna.


" Kalian sudah selesai ?" tanya Siwan menatap tajam kedua pegawainya.


" Belum mister, sedikit lagi, aku lanjutkan sekarang !" tegas Reino, dan Sita langsung kembali fokus pada pekerjaan mereka, raut wajah mereka seperti orang yang tertekan karena ketahuan menggosipkan atasannya.


Hanna langsung mencoba menyelamatkan situasi mereka.


Hanna berdiri dari kursinya " Ahjussi, kau masih sibuk kan, ayo kutemani, siapa tahu ada yang bisa ku bantu... " Hanna menarik Siwan yang matanya terus memasang mode galak di balik kacamatanya seperti tatapan elang yang hendak menerkam mangsanya.


Kini Siwan dan Hanna sudah berada di depan meja gambar teknik yang sedari tadi Siwan kerjakan dengan begitu seriusnya.


" Kau mau membantuku ?" tanya Siwan " bagaimana ?" sambung Siwan.


" Aku bantu pijat saja ya, aku orang awam, tidak paham harus bantu apa, melihat gambar ini saja membuat kepalaku jadi pusing, hehehe... " Hanna benar - benar terlihat seperti orang bodoh kali ini.


" Hahaha... kemarilah " Siwan menarik Hanna ke dalam pelukannya " peluk aku, sumber energiku, tambah kembali energiku yang sudah hampir habis ini " sambung Siwan.


" Ahjussi, aku malu, mereka melihat kita " ucap Hanna yang berada di dalam kungkungan Siwan.


" Kalian tidak melihat apa - apa kan ?" teriak Siwan.


" Tidak bos, santai saja, mata kami tertutup " jawab Reino setengah berteriak karena jaraknya lumayan jauh.


" Ish... dasar, cepat selesaikan pekerjaanmu, aku akan setia menunggumu " ucap Hanna.


" Baiklah, duduk disini, di dekatku, jangan bergosip " seru Siwan.


Hanna pun menuruti perintah Siwan " siap boss " ucapnya, lalu duduk di kursi yang Siwan ambil dari salah satu kursi yang ada di sekitarnya.


Hanna duduk dengan cara terbalik, dadanya ia rapatkan pada sandaran kursi dan melipatkan kedua tangan di ujung atas sandarannya sebagai penahan kepalanya.


" Kau lapar ?" tanya Siwan tanpa menatap Hanna, tangannya kembali fokus membuat sketsa gambar di papan tulis meja tekniknya.


" Belum, aku masih bisa menunggu, kau fokus saja " ucap Hanna.


" Eh, ahjussi, aku penasaran, bli Aji kemana ? biasanya dia selalu tidak jauh darimu kemana - mana " tanya Hanna.


" Dia sedang cuti, dia pulang kampung bersama ibunya " jawab Siwan.


" Oh... kemana ? kupikir dia warga asli Bali "


" Dia memang lahir di Bali, tapi ayah ibunya dari Solo, mereka pindah ke Bali saat Aji masih di dalam kandungan " Siwan menjelaskan dengan perlahan. Meskipun tangan dan matanya fokus menatap papan tulis di depannya, namun mulut dan telinganya masih bisa berkata - kata dan mendengarkan ucapan Hanna di sampingnya.


Pukul 16.45 wita...


" Done... huh... " Siwan menghembuskan nafasnya dengan kasar.


" Apanya yang selesai ?" Hanna melihat hasil kerja Siwan yang menurut dirinya orang awam hanya berupa denah dan angka - angka di sekelilingnya.


" Kau tidak akan mengerti, sudahlah, ayo kita pulang, seandainya kau tidak datang kemari, pekerjaanku sudah selesai sejak tadi sore " ucap Siwan.


" Tuh kan, ahjussi menyalahkanku, aku mengganggu mu kan ?" Hanna mulai kembali cemberut.


" Hihi... sedikit, tapi aku senang kau mau menungguku, jangan marah ya... " ucap Siwan yang sedang membereskan kertas di hadapannya.


" Aku pulang ya... " teriak Siwan pada kedua pegawainya.


" Oke bos, selamat malam mingguan " jawab Reino.


" Ayo kita ke atas dulu, aku harus menyimpan ini dulu dan mengambil barangku " ajak Siwan.


Hanna pun bangkit dan melangkah bersamanya menuju lantai 3.


" Ahjussi, apa setiap hari kau dan pegawaimu memakai pakaian seperti ini ?" tanya Hanna.


" Tidak, ini hanya pakaian khusus di hari sabtu, setiap harinya kita bebas mau memakai baju seperti apa, asalkan sopan, itu saja, baju ini aku yang pilihkan model dan warnanya loh, bagus tidak ?" Siwan mengangkat bagian kerah t-shirt yang di pakainya saat itu. T-shirt berkerah dengan warna earth tone perpaduan antara terracotta dan nude dengan logo nama studio mereka di bagian punggungnya.


" Biasa saja " jawab Hanna dengan datarnya.


Siwan yang sedang tersenyum semringah langsung berwajah datar pula.


Dari lantai 3, mereka langsung turun ke lantai 1, disana Hanna masih melihat ada beberapa pegawai lain juga yang sedang sibuk dengan layar laptopnya.


" Aku pulang ya... " teriak Siwan pada pegawainya itu.


" Yo mister, hati - hati di jalan " sahut salah seorang pegawainya.


Hanna dan Siwan berjalan menuju mobil Siwan yang terparkir di sudut halaman area studio.


" Ahjussi, kenapa mereka belum pulang ?" tanya Hanna.


" Mereka tim desaign home interior, kalau sedang kebanjiran job kadang mereka lembur di studio, bahkan tidak pulang " jawab Siwan.


" Memangnya boleh ?" tanya Hanna yang sudah berada di depan pintu mobilnya.


" Tentu saja, aku juga sering tidur di studio kalau sedang banyak pekerjaan " jawab Siwan mengedipkan sebelah matanya.


Kini mereka berdua sudah berada di perjalanan menuju suatu lokasi resto untuk makan malam sebelum pulang ke kediaman Siwan.


" Ahjussi, ternyata kau juga pandai menggambar, kulihat hasil desainmu sangat bagus " ucap Hanna yang kini mereka sedang menunggu pesanan makanan tiba. Ketika di ruangan kerja pribadi Siwan tadi, tanpa sengaja Hanna melihat beberapa hasil sketsa gambar Siwan di buku sketch yang ada di meja dekat sofa.


" Aku hanya bisa menggambar rumah, gedung tinggi atau bangunan, aku tidak sepandai mantan pacarmu yang pergi ke Amerika " jawab Siwan.


" Hih... siapa ? Sammy maksudnya ? dia temanku ahjussi " ucap Hanna.


" Iya, dia, pria yang melukismu dan hasilnya kai pajang di kamarmu dulu " sahut Siwan dengan nada kesal.


" Lagipula dia sekarang di Italia bukan di Amerika " timpal Hanna.


" Oh... jadi kau masih sering berkomunikasi dengannya ?" tanya Siwan.


" Tidak, aku hanya tahu dari grup SMA ku, itu saja " jawab Hanna.


Siwan tetap saja merasa cemburu pada pria yang di bilangnya mantan pacar kekasihnya yang sudah pergi jauh. Itu karena hasil lukisan wajah Hanna masih menggangtung dengan rapih di posisinya semula di kamar lama Hanna berada. Dia tidak merubah sama sekali posisi dan letak barang yang ada di rumah itu barang seinchi pun.


Selesai makan, setelah beristirahat sebentar, mereka melanjutkan kembali perjalanan pulang menuju kediaman Siwan.


" Ahjussi, apa rumah itu masih ada ?" tanya Hanna.


Dengan cepat Siwan langsung tahu apa yang di maksudkan oleh Hanna.


" Rumahmu ? tentu saja, semua masih berada di posisinya, aku kadang pulang kesana, dan menunggumu disana, tapi kau tak pernah datang " jawab Siwan yang sedang fokus menyetir mobilnya.


Mendengar Siwan mengatakan hal itu, entah mengapa dada Hanna seperti ada yang menghantam, meski tidak keras, namun sakit rasanya, mengetahui bahwa Siwan masih begitu menghargai kenangan mereka bersama. Rumah yang menjadi saksi bisu kisah mereka berdua, tawa dan canda ria, romantisme, bahkan pertengkaran pun pernah menghiasi rumah itu.


Lalu tiba - tiba....


" Ahjussi, malam ini, ayo kita pulang kesana !" seru Hanna.


Siwan sempat terkejut dan menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


" Kau serius ? apa kau tidak takut aku akan melakukan hal serupa dihari kepergianmu ?" tanya Siwan, menatap Hanna dengan tajam.


" Aku percaya padamu, ahjussi !" jawabnya.


Dan, beberapa menit kemudian kini Hanna dan Siwan sudah berada di halaman rumah Siwan yang sempat Hanna tinggali beberapa waktu yang lalu.


Saat turun dari mobil, mata Hanna berkeliling menelaah tiap sudut luar rumah dari kiri ke kanan, atas ke bawah, rumah yang menjadi saksi bisu hilangnya hal berharga dalam dirinya. Begitu pula saat masuk ke dalam rumah, Hanna seperti sedang melakukan room tour menjelajah setiap ruangan yang ada di dalam sana.


" Ahjussi, semuanya terlihat sangat terawat, kau sering membersihkannya sendiri ?" tanya Hanna.


" Hehe... tidak juga, tim kebersihan datang kemari seminggu 2 kali, Aji atau Bram yang menemani mereka jadi ku pastikan tidak ada yang berani mengambil semua benda yang ada disini " jawab Siwan.


Dan, ketika masuk ke dalam kamarnya, Hanna tiba - tiba meneteskan air mata. Seprai dan bedcover yang terpasang di kasurnya pun masih sama seperti saat dia pergi meninggalkan rumah ini beberapa bulan yang lalu.


" Kau tidak pernah menggantinya ?" tunjuk Hanna pada ranjangnya kali ini.


" Hih... bisa gatal - gatal badanku nanti, tentu saja sering di ganti, hanya saja mungkin kebetulan kali ini seprai ini yang sedang terpasang di atas kasurnya " jawab Siwan.


" Aku mau mandi duluan ya, badanku sudah lengket " ucap Siwan, dan mengambil slah satu handuk yang berada di dalam lemari.


Siwan keluar dari kamar meninggalkan Hanna yang kini sedang duduk di tepi ranjang.


" Apa setelah semua berakhir rumah ini akan tetap seperti ini ?" batin Hanna menggumam.