
Ramadhan tiba ramdhan tiba ramadhan tiba
Marhaban ya ramadhan marhaban ya ramadhan....
Lagu tersebut lebih sering terdengar dan terngiang - ngiang di telinga karena saat ini bulan ramadhan sudah di depan mata, iklan orson, kue kaleng, dan sarung sudah mulai berwara - wiri di layar televisi milik kita semua.
Dan, hari ini, di kalender novel bergenre campuran ini, merupakan tanggal 1 ramadhan yaitu hari kamis tanggal 17 mei 2018.
Hanna yang sedang duduk di kursi ruang kerjanya nampak terlihat lesu.
Dia menopang wajahnya dengan sebelah tangannya, sedangkan satu tangannya lagi terlihat seperti memainkan sebuah ballpoint yang entah ia sadari atau tidak. Karena Hanna terlihat seperti sedang melamun saat itu.
Tok tok tok...
Pintu ruang kerjanya pun di ketuk, seseorang masuk ke dalam ruangan Hanna.
"Kak, hellow... !" Rindy mengetuk meja kerja Hanna untuk menyadarkan saudaranya itu.
"Eh... iya, ada apa Rin ?" tanya Hanna.
Rindy duduk di kursi depan Hanna.
"Kak Hanna kenapa ? kelihatan pucat gitu, kak Hanna sakit ?" tanya Rindy.
"Ah, masa sih," Hanna melihat wajahnya di cermin kecil yang ada di atas mejanya.
"Hari pertama puasa kebanyakan orang biasanya gitu sih, gak aneh, apalagi kak Hanna kan masih menyusui Hwan," ucap Rindy.
"I-iya Rin, kayaknya gitu sih !" jawab Hanna.
"Yaudah kak, ini aku mau kasih laporan buat stock barang di gudang, udah aku chek ulang semua seri yang tersisa, terus sisa gantungan produksi kemarin belum di kirim lagi dari konveksinya, coba kak Hanna telepon deh mas Remon, ini soalnya stok di gudang seri ini sedikit lagi, orderan baju muslim makin kesini makin banyak, apalagi nanti kita mau ngadain flashsale, maximal stock barang harus udah ada dua minggu sebelum acara puncak !"
Ucapan Rindy seketika menyadarkan Hanna.
"Duh, iya, aku lagi sibuk gini, ngapain juga mikirin hal yang gak penting sih !" gumam Hanna.
"Oke Rin, nanti aku langsung chek ke konveksiannya aja, aku pulang jam 2 aja ya, habis itu langsung ke rumah, kamu sama yang lainnya juga pulang jam 3 aja jangan telat, hari pertama buka puasa kalian pasti mau bukber dama keluarga atau pacarnya kan !"
"Oke, siyap kak ! laksanakan," Rindy pun keluar dari ruang kerja Hanna.
Saat itu, waktu masih menunjukkan pukul 13.00 wib, masih ada waktu satu jam lagi sebelum Hanna pergi dari kantornya yang merupakan ruko sewaan di daerah perbatasan kota dan kabupaten Bandung.
Hanna pun kembali fokus pada pekerjaannya, ia sibuk menelepon beberapa orang yang menjadi mitra bisnisnya.
Dan, ketika ia tengah kembali bergelut dengan layar laptopnya, seseorang mengetuk pintu ruangan kerja Hanna kembali.
"Masuk !" ucap Hanna.
Dan, seorang wanita masuk ke dalam, mendekat pada Hanna.
Dia adalah Elsa, masih karyawan Hanna di kantornya.
"Ada apa, El ?" tanya Hanna, menatap Elsa sesaat, lalu kembali pada layar laptopnya.
"Emh, ini mbak, aku mau kasihin paket aja, baru nyampe barusan !" jawab Elsa.
"Oke, taruh aja di atas meja ya, makasih !" ucap Hanna.
Elsa terlihat heran, dengan ekspresi wajah Hanna hari ini, terlebih lagi padanya, ia seolah tidak ingin berlama - lama menatap wajahnya sejak beberapa hari yang lalu.
...***...
Dua hari kemudian...
Hanna yang sudah siap dengan stelan kerjanya, tengah berpamitan pada ibunya dan Hwan tentunya.
"Sayangku, maafin bubu ya, hari ini bubu pulang malam, baik - baik ya di rumah sama nenek, love you so much baby... !" Hanna menciumi pipi Hwan sampai Hwan sendiri merasa kesal oleh tingkah laku ibunya.
"Ish... udah atuh, nanti anakmu jadi bau !" ucap bu Hani yang sedang menggendong Hwan.
Dan, sepersekian detik pun datanglah ojeg online menjemput Hanna untuk mengantarkannya ke kantornya.
Hari ini, Hanna sengaja tidak pergi ke kantor menggunakan motornya karena pulang kerja nanti, dia akan di jemput oleh Rayhan, mereka akan pergi bukber berdua di malam minggu.
Hanna sengaja menerima ajakan Rayhan karena ia memang ingin bertemu dengannya, ada hal yang sangat mengganggunya dan ingin ia tanyakan pada Rayhan secepatnya.
Sore harinya....
Pukul 17.10 wib, Hanna dan timnya yang sudah bersiap untuk pulang tengah berkerumun di depan gerbang kantor mereka. Ada yang langsung pulang dengan kendaraan masing - masing, dan ada pula yang menunggu jemputan seperti Hanna.
"Tumben A Rey telat, biasanya dia selalu ontime !" batin Hanna menggumam.
"Mbak, lagi nunggu ojeg ?"
Tiba - tiba suara seseorang membuyarkan lamunannya.
"Eh, Elsa, belum pulang ?" Hanna malah balik bertanya.
"Iya mbak, sebentar lagi," jawab Elsa.
Dan, tidak lama kemudian mobil Rayhan sampai di halaman kantor, ia membunyikan klakson mobilnya dan membuka jendela pintu mobilnya, dan tersenyum pada Hanna dan Elsa.
"Eh, El, duluan ya,!" Hanna pun melangkahkan kakinya menuju mobil Rayhan dan masuk ke dalamnya.
Saat Hanna sudah duduk manis di dalam mobil Rey, kedua bola matanya malah fokus menatap keluar lewat jendela, menatap Elsa yang masih belum beranjak dari posisinya dan sedang memperhatikan Hanna dan Rey yang berinteraksi di dalam mobil.
"Han, maaf ya aku telat, tadi ban bocor,!" ucap Rayhan.
"Owh, oke, santai aja !" jawab Hanna.
Sebelum Rayhan menyalakan kembali mesin mobilnya, ia melihat sabuk pengaman Hanna masih belum terpasang, dan, Rayhan pun mendekat pada Hanna, terlihat seolah ingin menciumnya ataupun memeluknya jika terlihat dari luar, orang - orang pasti akan salah sangka pada mereka, namun, tidak lama kemudian Rayhan menarik sabuk pengaman yang ada di sisi kiri Hanna dan memasangkannya dengan benar.
Hanna merasa terkejut, jujur saja, saat itu Rayhan berhasil membuat dadanya berdebar, ia menatap Rayhan sesaat, lalu kembali menatap Elsa dari kejauhan yang masih memperhatikan mereka berdua.
"Perasaan macam apa ini?" gumam Hanna sambil menyentuh dadanya.
"Nanti di ciduk polisi kalo gak di pasang seatbeltnya !" tegas Rayhan, lalu mulai menyalakan mesin mobilnya.
Hanna hanya tersenyum kaku, dia tidak berkomentar apapun, lalu meluruskan pandangannya ke depan.
Sesampainya di lokasi resto yang jaraknya tidak terlalu jauh, mereka duduk di pojokan dengan kapasitas kursi hanya untuk dua orang saja.
Suasana sekitar sudah nampak ramai oleh para pengunjung yang hendak berbuka puasa.
Sambil menunggu menu pesanan mereka tiba, Hanna pun mulai melayangkan pertanyaan pada Rayhan yang membuatnya gelisah selama beberapa hari ke belakang ini.
"Emh... A Rey, boleh aku tanya sesuatu gak ?" tanya Hanna.
"Silahkan, bertanya itu, GRATIS,!" Rayhan menekankan kata gratis persis seperti yang sering Hanna katakan saat ada orang yanh ingin bertanya padanya.
"Bentar dulu, tiga hari sebelum puasa, emh... !" Rayhan mencoba mengingat kembali apa yang terjadi hari itu.
"Owh... iya, aku ingat,!" ucap Rayhan.
"Terus ?" tanya Hanna.
"Terus apa ?" Rayhan malah balik bertanya, seolah ingin menjahili Hanna yang raut wajahnya terlihat sangat penasaran.
"Ish... tau ah, !" Hanna jadi kesal di permainkan oleh Rayhan.
Dan Rayhan pun tertawa lepas melihat Hanna cemeberut.
"Kalau memang mereka memiliki hubungan spesial, tapi tadi Rayhan kok biasa aja ya, padahal dia juga lihat ada Elsa di sampingku, !" gumam Hanna, saat Rayhan tengah tertawa.
"Maksudmu, aku dan Elsa, benarkan ?" tanya Rayhan.
"Hemh.. !" jawab Hanna dengan ketus.
"Kamu cemburu ya ? gak rela ya lihat aku dekat sama Elsa, ayo ngaku ?"
"Bukan begitu masalahnya A, kalaupun memang ada hubungan spesial diantara kalian, aku tidak masalah, tapi kenapa kau tidak mau memberitahuku secara langsung, katanya kau sudah menganggapku sebagai adikmu, tapi kelakuanmu, sungguh memalukan, bagaimana kalau ada orang lain yang melihatnya selain aku di kantor,!" ucap Hanna.
"Jadi, kamu takut reputasiku hancur gara - gara kelakuanku dengan Elsa yang tidak pantas itu, atau karena takut suasana di kantormu tercemar karena kelakuanku dengan Elsa yang berbuat Asusila disana ?" tanya Rayhan.
"Bukan begitu, tidak seperti itu juga, pikiranmu terlalu berlebihan, terserah kalian mau melakukan apapun saat berduaan, tapi jangan sampai di lihat orang lain, gossip di kantor itu cepat sekali menyebar, seperti membakar hangus satu pentul korek api dalam sekejap, !" ucap Hanna.
"Oke, jadi intinya apa ? kau cemburu atau tidak ? kalau memang aku dan Elsa punya hubungan spesial !"
"Sudah ku katakan aku tidak masalah, itu hak mu, kehidupan pribadimu aku tidak mau ikut campur, aku hanya tidak mau kau dapat pasangan yang salah, jangan terburu - buru, itu saja, !"
"Haish... sungguh mengecewakan !" gumam Rayhan.
"Maaf, tapi aku dan Elsa tidak ada hubungan spesial apapun, saat itu aku memang berbicara dengannya di kantormu, tapi kami hanya membicarakan hal yang tidak penting namun takut di dengar oleh orang lain, jadi aku membisikkan sesuatu ke telinganya, itu saja,! jelas Rayhan.
"Iya, iya, aku percaya,! tapi, ucapanku tolong di pikirkan lagi, aku tidak mau kau gegabah saat mencari pasangan hidup, aku akan merasa sakit hati kalau kau di perlakukan tidak baik oleh pasanganmu, karena apa, karena kau kakakku, paham !!" tegas Hanna.
"Iya - iya, sudahlah, makanan kita sudah datang," Rayhan mengalihkan pandangan pada seorang waitress yang menghampiri meja mereka.
Dan, tidak lama kemudian adzan maghrib pun berkumandang di wilayah sekitar, pertanda para umat muslim yang sedang berpuasa harus segera mengakhiri ibadah puasa mereka hari itu.
Saat sedang makan, Rayhan sesekali dia dan Hanna saling berpandangan dan tersenyum, namun, saat Hanna mengalihkan pandangannya, seketika raut wajah Rayhan berubah datar.
Faktanya...
Hari itu, tiga hari sebelum ibadah puasa di mulai, Rayhan memang datang ke kantor Hanna untuk mengantarkan makan siang sekaligus makan bersama Hanna.
Seperti biasa, saat makan siang, selain di dalam ruangan kerjanya, Hanna kadang mengajaknya makan di balkon lantai dua kantor mereka karena suasana sejuk dan rindang di sekitarnya selalu menjadi view dan spot yang menarik untuknya berselfi ria.
Saat keduanya selesai makan, mereka mengobrol dan bercanda tawa seperti biasanya, dan saat Rayhan menoleh ke samping jendela menuju ke dalam ruang yang sering menjadi tempat pemotretan itu, ia melihat seseorang berdiri di balik rak gantungan cukup tinggi dan tertutup oleh dress yang menggantung di atasnya, sehingga membuat pandangannya begitu samar untuk melihat siapa orang itu, dan anehnya lagi ia melihat hp orang itu seolah sedang merekam dirinya dan Hanna.
Rayhan pun pamit ingin ke toilet sebentar pada Hanna, dan kebetulan toilet hanya ada di lantai 1, Rayhan pun turun ke bawah, dan tentu saja orang yang merekam mereka sudah pergi karena ia melihat Rayhan beranjak dari kursinya.
Di dekat toilet, kebetulan orang yang di curigai Rayhan ada disana, karena ia mengenali warna sweater yang di kenakan oleh si pelaku.
"Elsa, bisa bicara sebentar ?" tanya Rayhan.
"Ada apa kak Rey ?" tanya Elsa, dengan wajah gugup.
Rayhan memojokkan Elsa hingga mundur beberapa langkah dan ia terpojok di salah satu sudut rak lemari yang ada disana.
"Pinjam hpmu," pinta Rayhan.
"Mau apa kak ?" Elsa malah kembali bertanya.
"Berikan sekarang, atau aku akan melaporkanmu pada Hanna, !" ucap Rayhan.
Elsa terpaksa memberikan hpnya pada Rayhan meskipun enggan, karena ia takut di laporkan pada Hanna.
Rayhan langsung menyentuh layar hp Elsa.
"Apa pola sandinya ?" tanya Rayhan sambil melayangkan hp Elsa ke depan wajah pemiliknya.
Elsa pun menyentuh layar hpnya dan membuat pola untuk membuka kunci hpnya.
Setelah layar kunci terbuka, Rayhan langsung melihat galeri hp Elsa. Dan, alangkah terkejutnya dia, karena galerinya penuh dengan foto Hanna saat sendiri, saat bersama dengannya, dengan tim kantor bahkan ada juga foto Hwan.
"Siapa yang menyuruhmu ?" tanya Rayhan.
"I-itu, bukan urusanmu !" Elsa mulai meninggikan suaranya, dan hendak merampas hpnya.
Rayhan mengangkat tangannya ke atas, Elsa merasa kesulitan meraih hpnya karena tinggi badan Rayhan lebih unggul darinya.
"Kembalikan kak Rey !!" tegas Elsa dengan tatapan tajam.
Elsa hampir jatuh namun di tarik oleh Rayhan dan pada akhirnya ia malah jatuh ke dalam pelukannya.
Dan, saat itulah, Hanna melihat kejadian tersebut.
Hanna yang merasa di tinggalkan terlalu lama oleh Rayhan pun berniat menyusulnya setelah membereskan meja dari sisa makan siang mereka.
Saat melihat kejadian itu, Hanna kembali bersembunyi dengan wajah terkejut. Namun ia kembali mengintip mereka karena merasa penasaran.
"Elsa, Rayhan, mereka sedang apa ?" bisik Hanna.
Karena jarak mereka terlalu jauh, Hanna tidak bisa mendengar percakapan mereka.
Untung saja saat itu merupakan jam makan siang, biasanya karyawan di kantornya istirahat makan siang di cafe terdekat, warteg yang ada di sekitar, ataupun taman belakang karena sering ada pedagang kaki lima yang nongkrong berjualan disana.
Saat kembali mengintip keduanya, Hanna melihat kini Rayhan sedang berbisik di telinga Rayhan.
"Ya ampun, mereka mau berciuman ?" Hanna menutup wajahnya dengan telapak tangannya, namun kemudian membuka dua jarinya untuk mengintip.
Dan, ia melihat Rayhan berjalan mendekat ke arahnya dan menjauh dari Elsa.
Hanna buru - buru berlari sambil berjinjit supaya tidak terdengar suara sepatu miliknya. Hanna berlari menuju ruang kerjanya namun tidak menutup pintunya.
Rayhan berjalan menuju tangga lantai dua, namun saat ia melihat pintu ruang kantor Hanna terbuka, ia mundur dan berbalik arah menuju ruang kantor Hanna.
"Kau disini rupanya, di atas sudah kau bereskan ?" tanya Rayhan yang kemudian duduk di sofa ruang kerja Hanna.
"Ah, iya, sudah ku bereskan, emh... kau kenapa lama sekali?" tanya Hanna.
"Iya maaf, aku tadi sakit perut, hehe... !" jawab Rayhan.
"Bohong, kau berbohong !!" gumam Hanna.